Lukas 15 (MAD2T*Pagi*30 Jan*Tahun 1)
Lukas 15
Penjelasan Singkat
Anak yang Hilang
Isi Pasal
Perumpamaan tentang domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang.
Judul Perikop
Perumpamaan tentang domba yang hilang (15:1-7)
Perumpamaan tentang dirham yang hilang (15:8-10)
Perumpamaan tentang anak yang hilang (15:11-32)
Tafsiran: Di akhir pasal 14 Yesus berkata, "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" (Luk. 14:35). Kemudian Lukas 15 ini dimulai dengan pemberitahuan bahwa para pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia (Lukas 15:1). Namun, orang-orang Farisi dan guru-guru agama justru mengeluhkan hal itu (Lukas 15:2). Sebab itu, Yesus mengisahkan tiga perumpamaan, tetapi perumpamaan yang ketiga memiliki penekanan yang berbeda.
Perumpamaan pertama tentang domba yang hilang (Lukas 15:4-6). Seekor anjing yang tersesat bisa saja menemukan jalan pulang, tetapi seekor domba tidak demikian. Tersesat sendirian membuat si domba terancam bahaya dari predator yang mengincarnya. Perumpamaan kedua tentang perempuan yang kehilangan salah satu dari sepuluh dirham yang dia miliki (Lukas 15:8-9). Kedua perumpamaan ini menekankan hilangnya milik yang berharga. Lalu si pemilik berinisiatif untuk mencari dengan cermat sampai ia menemukan miliknya yang hilang itu. Setelah yang hilang ditemukan, si pemilik bersukacita dan mengajak sahabat-sahabat mereka untuk bersukacita bersamanya.
Jika orang bisa begitu bersukacita atas ditemukannya miliknya yang sebelumnya hilang, Yesus menjelaskan bahwa surga pun bersukacita ketika ada seorang pendosa yang bertobat (Lukas 15:7, 10). Ini tidak sejalan dengan sikap orang Farisi yang mengeluhkan sikap Yesus dalam menyambut orang berdosa yang mendatangi Dia. Mengapa mereka tidak mau bersukacita dengan orang berdosa yang bertobat? Itulah yang dijawab oleh perumpamaan yang ketiga, yang akan kita baca besok.
Jika satu dirham dan seekor domba begitu berharga sehingga pemiliknya berupaya keras untuk mencari dan menemukannya, betapa lebih berharganya orang berdosa yang mau bertobat. Jika surga bersukacita atas pertobatan seorang berdosa, maka mencari serta menemukan "domba yang tersesat" dan "koin yang hilang" seharusnya menjadi bagian kita juga, murid-murid Kristus di masa kini.
Perumpamaan ini merupakan rangkaian dengan dua kisah sebelumnya. Masa itu, orang Farisi dan ahli Taurat heran melihat keberadaan orang-orang berdosa di sekitar Yesus, yang ikut mendengarkan pengajaran-Nya (Lukas 15:1-2). Maka Yesus menyampaikan kisah ini.
Ada kontras antara sikap si bapak dan si anak sulung dalam menyambut kembalinya si anak bungsu. Sang bapak begitu antusias. Gambaran bahwa si bapak telah mengenali si bungsu walau masih jauh (Lukas 15:20), seolah memperlihatkan bahwa si bapak selalu menanti-nantikan si bungsu. Ia sering menengok ke jalan, karena berharap si bungsu suatu saat ingat pulang. Tak heran, ketika si bungsu pulang, ia berlari, lalu memeluk dan mencium anaknya itu (Lukas 15:20). Penantiannya terjawab. Ia tidak peduli si bungsu datang compang-camping dan bukan dalam gemerlap kesuksesan di perantauan. Si bapak tidak menolak si bungsu, meski datang dalam keadaan miskin dan memalukan.
Justru sikap si bapak yang aktif menyambut, mendorong respons pertobatan si bungsu (Lukas 15:21). Bapak pun menerima dan memulihkan (Lukas 15:22-24). Namun bagaimana sikap si sulung menyambut kepulangan adiknya? Ia marah karena ayahnya berpesta atas kepulangan orang yang sulit dia sebut sebagai adik.
Biasanya kita melihat diri sebagai si bungsu yang cari kesenangan, lalu jatuh ke jurang sengsara. Namun pernahkah menyorot diri kita sebagai anak sulung, yang merasa selalu taat dan benar? Itulah masalah orang Farisi, yang disorot Yesus. Mereka memandang orang lain berdosa, dan ukuran kekudusan adalah tidak berteman dengan pendosa. Padahal Yesus sering berada bersama orang berdosa.
Konsep semacam itu dapat membuat kita tidak menjangkau yang terhilang. Kita akan dijauhi oleh mereka karena kita sendiri telah menjauhi mereka. Jika kita memahami anugerah Allah, kita akan menyambut yang terhilang seperti Allah menyambut mereka. Kita juga sebelumnya berdosa, hanya kemudian kita menerima kasih karunia Allah. Maka marilah kita memiliki pikiran Kristus yang menerima setiap pendosa, seperti Dia juga telah menerima kita.