KPR 2 (MAD2T*Pagi*16 Feb*Tahun 1)

Kisah Para Rasul 2

Penjelasan Singkat
Khotbah Petrus

Isi Pasal
Datangnya Roh Kudus di hari Pentakosta. Injil diberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi. Khotbah besar Petrus tentang Kristus yang bangkit, dan pertobatan orang-orang.

Judul Perikop
Pentakosta (2:1-13)
Khotbah Petrus (2:14-40)
Cara hidup jemaat yang pertama (2:41-47)

Tafsiran: Dalam Kisah Para Rasul 1:8, Tuhan Yesus telah berkata bahwa Roh Kudus akan turun ke atas para murid dan mereka akan menerima kuasa. Perkataan itu digenapi pada Hari Pentakosta, yang jatuh pada hari kelima puluh setelah Paskah.

Pada waktu itu orang percaya berkumpul di suatu tempat. Pada saat itu terdengar suara angin keras dan terlihat lidah-lidah seperti nyala api yang hinggap pada mereka (Kisah Para Rasul 2:2-3). Orang-orang Yahudi yang tinggal di Yerusalem mungkin berasal dari wilayah diaspora yaitu wilayah di luar Palestina, yang kemudian kembali dan menetap di Yerusalem (daerah asal mereka sebelumnya dapat kita lihat di ayat 9-10). Pada hari itu, penduduk Yerusalem mendengar bunyi yang menarik perhatian mereka. Lalu mereka bersama-sama menyelidiki apa yang terjadi (Kisah Para Rasul 2:5-6). Ketika menemukan sumber suara, mereka takjub karena menemukan orang-orang Galilea berbicara dalam bahasa yang digunakan di wilayah-wilayah diaspora, tempat mereka tinggal sebelumnya (Kisah Para Rasul 2:6-12).

Peristiwa itu kemudian membuat sebagian orang mengaitkan Pentakosta dengan bahasa roh atau bahasa lidah. Padahal kalau kita mengingat kembali perkataan Yesus, maka Pentakosta seharusnya dikaitkan dengan kuasa yang akan memampukan para murid memberitakan Injil ke seluruh dunia. Hari Pentakosta di dalam PL disebut sebagai hari raya Tujuh Minggu, yaitu hari raya panen (Ul. 16:10; Kel. 34:22). Maka hari raya Pentakosta dapat dikaitkan dengan masa panen di ladang dunia karena jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Allah melalui penginjilan. Kita tahu bahwa setelah turunnya Roh Kudus, ada tiga ribu orang yang "dipanen" bagi Allah, dipindahkan dari kegelapan dan maut ke dalam Kerajaan Allah yang kekal (Kis. 2:14-41).

Kiranya hari Pentakosta ini menjadi saat bagi kita untuk merenungkan, apa yang sudah kita lakukan untuk membuat terjadinya panen jiwa-jiwa bagi Kristus, Penebus kita.

Ketika banyak orang menyangka bahwa para rasul itu mabuk (ay. 13), Petrus tampil dan menyanggah tuduhan mereka. Dengan pimpinan Roh Kudus, Petrus berkhotbah tentang penggenapan nubuat Allah dengan perantaraan nabi Yoel yaitu Allah akan mencurahkan Roh-Nya atas semua manusia. Petrus menegaskan bahwa berita Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berpusat pada Yesus Kristus. Demi kebenaran, Petrus bersaksi dengan suara lantang dan tegas. Ejekan-ejekan kepada para pengikut Kristus masih terus mendengung di sekitar kita. Reaksi sedemikian hanya menunjukkan kebutaan rohani seseorang. Sepatutnyalah hati kita justru terdorong untuk menyaksikan dengan berani tentang Yesus Kristus, Juruselamat kita.

Dasar-dasar kesaksian. Kesaksian Petrus mengacu pada beberapa hal penting. Pertama, tentang apa yang difirmankan Tuhan. Kedua, tentang keMesiasan Yesus. Ketiga, berita Injil yang berpusat pada Yesus Kristus. Yang pertama dan kedua berkait dengan apa yang diketahuinya, yang ketiga, berhubungan dengan pangalamannya sendiri. Itu sebabnya Petrus berani berkata, bahwa "kami semua adalah saksi" (ay. 32). Dari Petrus, kita belajar tentang dasar-dasar kesaksian Kristen.

Renungkan: Mempelajari firman-Nya penting; tetapi pengalaman pribadi bersama Yesus merupakan hal yang terpenting.

Sebuah topan tidak dapat dikatakan sebuah topan, bila tidak menimbulkan kerusakan apapun pada kota yang dilandanya. Tidak hanya pada saat ia melanda, tetapi juga satu jam, satu hari, bahkan satu minggu setelah topan itu mengamuk, dampaknya masih terasa.

Demikian pula Roh Kudus. Untuk meneruskan penggambaran dengan angin tadi, Roh Kudus bukanlah angin sepoi yang terasa saat ini namun tak diingat lagi kemudian. Kata-kata yang diucapkan Petrus dan rekan-rekannya berdampak nyata, dan Roh Kudus pun juga bekerja di antara para pendengar mereka (ayat 37). Mereka pun memutuskan untuk menerima Injil dan memberi diri dibaptis (ayat 41). Tidak hanya itu, para-para petobat baru inipun dengan tekun bertumbuh dalam pengajaran dan persekutuan (ayat 42). Dalam komunitas mereka, para rasul pun mengerjakan mukjizat dan tanda karena kuasa Roh (ayat 43). Satu dampak penting lain dari kehadiran Roh Kudus dalam hati mereka adalah gaya hidup mereka yang komunal (saling membagi harta milik, ay. 44). Gaya hidup ini bukanlah pola baku yang harus ditiru mentah-mentah, tetapi hanya satu dari banyak alternatif. Yang penting untuk diperhatikan adalah perubahan kehidupan yang terjadi dan menjadi kesaksian bagi orang banyak di sana: kesatuan dan kesehatian antara para petobat baru dan para pengikut Yesus. Berbagi hak milik, apalagi saat jemaat mulai dikucilkan dari masyarakat luas, adalah ekspresi kasih persaudaraan yang dahsyat. Semua ini patut menjadi teladan bagi kehidupan berjemaat kita. Sudah cukup lama kita di Indonesia ini mengaku diri Kristen. Sayangnya, kehidupan dari banyak jemaat tidak menampakkan tanda-tanda dilanda "badai" Roh Kudus: pertobatan dari dosa yang nyata, kasih persaudaraan, kedewasaan iman, dan kesaksian Injil yang hidup.

Renungkan: Kehadiran Roh Kudus dalam suatu jemaat harus terlihat pada kehidupan nyata di antara anggota-anggotanya.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)