Roma 15 (MAD2T*Pagi*22 Maret*Tahun 1)
Roma 15
Penjelasan Singkat
Maksud dari Kitab Suci
Isi Pasal
Orang percaya Yahudi dan bukan Yahudi dalam satu keselamatan. Paulus berbicara tentang pelayanan-Nya dan perjalanan berikutnya.
Judul Perikop
Orang yang lemah dan orang yang kuat (15:1-13)
Paulus menjelaskan dasar-dasar tulisannya (15:14-21)
Harapan Paulus untuk datang ke Roma (15:22-33)
Tafsiran: Paulus meminta kita untuk meneladani Yesus dalam hal lebih memperhatikan sesama dibandingkan memperhatikan diri sendiri (Roma 15:3). Permintaan Paulus ini berkenaan dengan kewajiban kita sebagai orang yang dianggap kuat (Roma 15:1). Kita diminta untuk menanggung kelemahan orang yang lemah dengan cara memperhatikan mereka dan mendukung mereka agar tidak jatuh ke dalam pencobaan. Kita yang kuat diharuskan untuk memperhatikan dan menerima mereka yang lemah agar iman mereka dibangun.
Paulus menggunakan istilah "kuat" dan "lemah" untuk menggambarkan keadaan rohani orang percaya. Istilah "kuat" menunjuk pada iman orang yang telah dewasa dalam Kristus sehingga peka terhadap masalah orang lain. Orang yang "kuat" adalah orang yang memahami kebebasan rohani mereka di dalam Kristus dan tidak mau lagi diperbudak aturan hukum Taurat. Mereka yang kuat adalah mereka yang peka pada hati nurani yang telah diterangi oleh firman Allah, lebih dari ketaatan mereka akan ritual dan tradisi hukum Taurat.
Istilah "lemah" mengacu pada orang percaya yang imannya belum dewasa, yaitu yang masih percaya pada ritual dan tradisi hukum Taurat. Mereka merasa berkewajiban untuk mematuhi aturan dan tradisi hukum Taurat tentang apa yang boleh mereka makan dan minum dan kapan mereka harus beribadah. Mereka yang lemah iman berkeyakinan bahwa orang Kristen yang dewasa rohani menghidupi kekristenannya dengan cara mengikuti aturan ketat dan seringkali menghakimi sesama yang tidak sejalan dengan pandangan mereka.
Nasihat ini mengingatkan kita yang merasa kuat iman agar peka terhadap pergumulan saudara seiman kita yang lemah. Kita harus membantu mereka, misalnya dengan cara mendampingi atau mendoakan ketika mereka jatuh atau dalam pencobaan. Hendaknya kita menjadi panutan, bukan celaan bagi mereka yang lemah! Tentu kita berkerinduan agar orang yang lemah iman suatu saat menjadi kuat juga. Maka marilah kita belajar peka serta memberi perhatian dan dukungan kepada saudara-saudara seiman kita.
Mungkin ada jemaat Roma yang mempersoalkan surat Paulus, dengan nada kurang simpatik, "Mengapa Paulus begitu nyinyir dalam suratnya kepada kita?" "Lihat, begitu panjang ia membeberkan ajarannya. Tak kurang panjangnya pula nasihat-nasihat moralnya. Memangnya, siapa sih Paulus itu? Apa urusannya dengan kita? Apa kita kekurangan pengajar yang berhikmat?"
Paulus memang tidak mempunyai andil secara langsung dalam mendirikan jemaat di Roma. Namun sebagai rasul Kristus (Roma 1:1; 15:16), ia memiliki otoritas untuk mengajar dan menasihati mereka. Sama seperti jemaat lainnya, jemaat Roma, juga mempunyai masalah yang sangat serius, yaitu hubungan antara orang-orang Kristen Yahudi dengan orang-orang Kristen nonYahudi di dalam jemaat. Justru Paulus menyatakan bahwa ia mengemban tugas sebagai pelayan atau rasul Kristus bagi bangsa-bangsa lain. Tugasnya memberitakan Injil (Roma 15:16,19) dan memimpin bangsa-bangsa lain kepada Kristus (Roma 15:18). Kerasulan Paulus diteguhkan dengan tanda-tanda (Roma 15:19; bnd. 2Kor. 12:12) yang menunjukkan bahwa Kristus sendirilah sesungguhnya yang mengerjakan itu semua melalui dirinya. Paulus berbesar hati atas panggilan kerasulannya karena ia dikaruniai kehormatan memberitakan Injil di tempat-tempat yang belum mendengar Injil (Rm. 15:20-21). Dengan menegaskan kerasulan-Nya, Paulus menyatakan kerinduannya bersekutu dengan mereka, sehingga mereka boleh mendukung rencana pelayanannya ke Spanyol (Roma 15:24).
Teladan Paulus yang patut kita ikuti adalah hak dan kewajiban tidak dicampuradukkan. Ia berhak didengar, namun ia tidak memaksa. Ia berkewajiban menginjili orang nonYahudi, ia melibatkan jemaat Roma untuk mendukung pelayanan mulia ini.
Renungkan: Kasih memungkinkan kita untuk saling peduli dan memperhatikan keadaan saudara-saudara seiman. Kasih mendorong kita untuk bersekutu dan saling berbagi berkat.
Injil yang utuh tidak hanya berbicara iman dan keselamatan jiwa melainkan juga pemenuhan kebutuhan hidup secara jasmaniah. Semangat penginjilan Paulus memang diarahkan untuk keselamatan jiwa orang-orang nonYahudi sesuai dengan panggilannya. Namun kepeduliannya kepada sesama saudara seiman yang sedang kesulitan ekonomi juga tinggi. Paulus rindu, sebelum ia berkunjung ke Roma dalam rangka penginjilan ke Spanyol ia boleh menjadi saluran berkat jasmani bagi jemaat di Yerusalem. Berkat itu berupa persembahan uang dari jemaat di Makedonia dan di Akhaya, yaitu dari jemaat nonYahudi (Roma 15:26).
Adanya persembahan yang dilakukan oleh jemaat-jemaat nonYahudi kepada jemaat-jemaat Yahudi itu menunjukkan adanya persekutuan sejati umat Tuhan yang tidak memandang suku, bangsa, bahasa, dll. Oleh karena itu, Paulus juga mau melibatkan jemaat Roma dalam persekutuan ini dengan meminta dukungan doa mereka bagi perjalanan pelayanan diakonianya ini (Roma 15:30). Ada dua hal yang ingin dicapai Paulus. Pertama, agar jemaat Roma belajar makna persembahan dan persekutuan sejati. Kedua, melalui dukungan doa jemaat di Roma, Paulus mengharapkan pelayanannya diterima dengan baik oleh jemaat di Yerusalem. Juga agar ia terhindar dari orang-orang Yahudi nonkristen yang tidak senang terhadap diri dan pelayanannya, yang berupaya menghalangi bahkan menyingkirkannya (Roma 15:31).
Kita perlu belajar menggalang persekutuan yang melampaui batasan-batasan yang diciptakan dunia berdosa ini. Orang Kristen tidak boleh membeda-bedakan diri karena denominasi, suku, bahasa, status sosial, dll. Kasih Tuhan harus dinyatakan kepada semua orang. Persekutuan sejati yang diwujudkan melalui kasih itu akan menjadi kesaksian yang indah di mata orang dunia.
Nyanyikanlah: "Ku tak pandang dari g'reja mana, asalkan berdiri atas firman-Nya, engkaulah saudara-saudariku, marilah kita bekerja sama."