1 Yoh 2 (MAD2T*Mlm*15 Mei*Tahun 1)
1 Yohanes 2
Penjelasan Singkat
Kristus pengantara kita
Isi Pasal
Pembelaan Kristus untuk orang percaya. Ujian persekutuan, ketaatan, dan kasih. Peringatan terhadap keduniawian dan kepalsuan.
Judul Perikop
Kristus pengantara kita (2:1-6)
Perintah yang baru (2:7-17)
Antikristus (2:18-27)
Anak-anak Allah (2:28--3:10)
Tafsiran: Bila seseorang mengklaim bahwa dirinya mengenal Allah, tentu tutur kata dan perilakunya harus sesuai dengan firman Allah (ayat 3). Akan tetapi bila seseorang mengklaim hal yang sama, tetapi tutur katanya penuh kemesuman dan tipu muslihat, maka orang tersebut tidak hanya mendustai dirinya, tetapi juga mendustai Allah (ayat 4).
Penjelasan Yohanes mengenai hal ini harus disikapi dengan sangat serius baik oleh jemaat saat itu maupun kita di masa kini. Hal penting yang harus diperhatikan ialah bahwa mengenal Allah bukan soal perasaan religius atau soal meditasi pribadi. Mengenal Allah adalah soal ketaatan pada firman-Nya. Itu berarti setiap orang yang mengklaim diri mengenal Allah harus membuktikan bahwa dalam dirinya terdapat kebenaran dan kasih Allah yang sempurna (ayat 4,5). Meskipun demikian, manusia tetap manusia berdosa. Akan tetapi, sebagai orang berdosa yang telah berdamai dengan Allah, berdasarkan klaimnya, ia sekarang menghidupkan firman Allah dalam dirinya setiap hari dan di mana saja. Memiliki kasih sempurna berarti hidup sesuai dengan firman Allah dan Tuhan Yesus adalah teladan yang telah mendemonstrasikan kepada kita bahwa hidup yang taat melakukan firman Allah adalah keharusan umat percaya.
Jika kita ingin hidup sempurna, hidupkanlah firman Allah dalam hidup kita. Hiduplah seperti Tuhan Yesus hidup. Inilah yang harus dilakukan orang-orang percaya. Inilah hidup yang mewujudkan kasih sempurna. Jika kita mengklaim percaya pada Yesus tetapi tidak hidup sebagaimana Yesus menjalani kehidupan-Nya, maka kita adalah pendusta. Dusta pada Allah dan pada diri kita sendiri. Orang atau masyarakat di sekitar kita mengetahui bahwa kita mengenal Allah jika kita hidup seperti Kristus hidup. Bukan dari klaim-klaim yang kita katakan orang mengetahui kita mengenal Allah.
Renungkan: Hayatilah Tuhan Yesus melalui dan dalam perkataan dan perbuatan Anda.
Ketika terang bersinar, secara otomatis gelap terusir pergi. Ketika terang Allah datang, maka kegelapan dosa semestinya tidak lagi bertakhta di dalam hati manusia (ayat 8).
Sebagaimana ketaatan dan sikap kita terhadap dosa menjadi salah satu tanda kedekatan kita dengan Allah, begitu pula hubungan kita dengan sesama umat Allah. Mengasihi saudara seiman adalah bukti bahwa orang tinggal di dalam terang (ayat 10). Mungkin saja kita memiliki pengalaman buruk dalam kebersamaan dengan saudara seiman. Mungkin kita pernah disakiti dan terluka oleh sikap mereka. Bahkan kita merasa luka itu terasa lebih sakit karena disebabkan oleh saudara seiman. Ini tidak mengherankan karena kita memang berharap lebih banyak dari saudara seiman. Maka muncullah pikiran dalam diri kita bahwa mengikut Yesus akan lebih mudah seandainya tidak menyangkut masalah hubungan dengan sesama Kristen. Apa pun yang menghalangi kita, perintah ini tetap berlaku! Jika saudara seiman tidak saling mengasihi, jangan katakan bahwa kasih Allah ada di dalam mereka! Mengasihi orang yang mengasihi kita, bukan perkara sulit. Kasih kita justru akan dibuktikan ketika kita mengasihi saudara seiman yang menimbulkan luka di dalam hati kita.
Lalu apa yang Alkitab katakan tentang orang yang membenci saudara seiman? Ia hidup dalam kegelapan (ayat 9, 11)! Kegelapan membutakan mata hatinya sehingga ia tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap terhadap saudara seiman. Bila tidak ada sikap saling peduli, kita perlu mempertanyakan adanya kasih. Sebab kasih jelas akan terlihat melalui sikap saling menghargai, saling membangun, dsb.
Adalah mudah bagi kebanyakan orang untuk menempatkan "pelayanan" dan "hidup benar" di atas kasih kepada tubuh Kristus. Kita dapat melakukan segala sesuatu dan mempercayai segala kebenaran, tetapi jika kita tidak mengasihi saudara seiman maka semuanya sia-sia. Kita memang harus melayani dan kita memang harus hidup benar, tetapi kita harus melakukan semuanya di dalam kasih.
Yohanes memperingatkan jemaat-jemaat akan kehadiran antikristus. Peringatan tersebut disampaikan Yohanes dengan gaya dan perhatian seorang bapak kepada anaknya (ayat 18).
Hal penting yang Yohanes lakukan adalah mengingatkan mereka akan ajaran Yesus yang telah mereka dengar dari para rasul (ayat 18). Ajaran tersebut terekam dalam Matius 24:24 “Sebab mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul pada akhir zaman”. Sebagai bukti bahwa jemaat telah hidup dalam waktu terakhir, Yohanes menunjuk pada kehadiran mesias palsu di dalam jemaat (ayat 18). Kehadiran anti-kristus di tengah-tengah jemaat menjadi tanda akhir zaman telah berlaku. Kedatangan Yesus yang pertama adalah tanda dimulainya akhir zaman, sehingga setiap orang Kristen yang hidup setelah kedatangan Yesus pertama, hidup dalam akhir zaman sewaktu-waktu Kristus akan datang kembali. Hadirnya antikristus di tengah-tengah jemaat merupakan peringatan agar jemaat bersiap-siap menyambut kedatangan Kristus kedua kali. Yohanes kuatir jemaat menjadi lengah dan tidak siap serta tidak hidup sesuai ajaran kitab suci ketika Yesus datang.
Yohanes juga menyatakan bahwa antikristus muncul dari dalam jemaat sendiri (ayat 19). Mereka dahulu pernah mengaku percaya pada Yesus, tetapi kemudian menyangkali Yesus sebagai Anak Allah. Yohanes menyatakan bahwa sebenarnya mereka tidak pernah menjadi murid Yesus (ayat 19), tidak pernah sungguh-sungguh menjadi bagian jemaat Kristus, dan tidak pernah percaya pada Yesus sehingga mereka tidak pernah menerima pengurapan Roh Kudus (ayat 20). Setiap orang yang percaya pada Yesus diurapi Roh Kudus. Akibat operasi Roh Kudus jemaat mengetahui kebenaran, sedang akibat urapan roh antikristus, manusia akan menghasilkan dusta (ayat 21).
Renungkan: Jangan terlalu yakin bahwa antikristus tidak pernah muncul dari dalam jemaat. Orang yang paling dekat dengan kita justru mungkin malah seorang antikristus.
Kemarin telah kita baca tentang hadirnya antikristus. Mereka berasal dari jemaat Kristen yang kemudian mundur meninggalkan persekutuan jemaat. Mereka ini adalah pendusta-pendusta (ayat 22). Ancaman pendusta tidak datang dari luar jemaat. Para pendusta ini menolak Yesus sebagai Mesias. Mereka lupa bahwa tidak mungkin mengenal Allah Bapa tanpa percaya pada Yesus (ayat 23-25). Akhir hidup seorang antikristus adalah kebinasaan. Mereka tidak memperoleh hidup kekal. Hidup kekal berarti memiliki persekutuan dengan Anak dan Bapa sekarang dan di sini. Persekutuan dengan Anak dan Bapa dimulai dengan pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Menyangkali fakta ini berarti seseorang telah menjadi antikristus.
Dalam ayat 26 Yohanes mengatakan bahwa para antikristus tidak keluar begitu saja dan meninggalkan persekutuan jemaat, tetapi terus berusaha menarik orang lain meninggalkan persekutuan jemaat. Yohanes mengingatkan jemaat untuk tidak sekadar sadar akan kehadiran antikristus di tengah-tengah mereka, tetapi juga harus lebih peka terhadap tujuan dan fungsi seorang antikristus. Antikristus memiliki tujuan menjadikan sebanyak mungkin jemaat Kristus sebagai antikristus.
Jemaat Kristus harus lebih mendengarkan suara Roh Kudus yang terus mengajarkan kebenaran kepada mereka (ayat 27). Jangan pernah meninggalkan persekutuan jemaat seperti yang dilakukan antikristus. Seorang antikristus yang tidak memiliki persekutuan dengan Yesus dan juga persekutuan jemaat akan malu berdiri di hadirat Kristus ketika Ia datang kedua kali (ayat 28). Seorang antikristus tidak lahir dari Allah, karena mereka tidak hidup dalam kebenaran, melainkan hidup dalam dusta dan tipu daya (ayat 29).
Renungkan: Waspadalah terhadap antikristus karena ia tidak melakukan perbuatan kebenaran, tetapi perbuatan-perbuatan yang menentang dan menolak Kristus.