Titus 3 (MAD2T*Pagi*28 April*Tahun 1)
Titus 3
Penjelasan Singkat
Paulus memberi petunjuk apa yang boleh diajarkan dan apa yan
Isi Pasal
Perintah lebih lanjut mengenai tugas pastoral seorang pekerja yang sejati
Judul Perikop
Pesan-pesan penutup (3:1-14)
Salam (3:15-15)
Tafsiran; Menerima anugerah keselamatan berarti berakhirnya hidup dalam kegelapan dan dimulainya hidup dalam terang. Hidup dalam kegelapan berarti hidup berlawanan dengan kehendak Allah, diperbudak dosa, dan memiliki hubungan yang tidak selaras dengan orang lain (ayat 3). Namun ketika mengalami pertemuan dengan Kristus dan menjadi percaya, maka kegelapan menjadi sirna karena terbitnya terang Tuhan. Roh Kudus mengerjakan pembaruan di dalam hidup orang percaya (ayat 4-7). Maka di dalam terang pembaruan itu, orang yang percaya kepada Tuhan seharusnya menunjukkan buah melalui perbuatan baik (ayat 8).
Perbuatan baik apa yang harus dilakukan orang percaya? Paulus memberikan dua contoh. Pertama, dalam keberadaan sebagai warga negara. Orang percaya harus menjadi warga negara yang baik dengan bersikap tunduk kepada pemerintah (ayat 1). Tunduk berarti taat. Contohnya: taat membayar pajak atau mematuhi hukum yang berlaku. Kita tentu akan dengan senang hati tunduk bila melihat pemerintah yang adil dan bekerja keras memakmurkan rakyat. Namun apa yang kita temui? Kinerja dan aparat yang korup, tidak adil, dan sewenang-wenang. Kita merasa tak rela mematuhi pemerintah yang seperti itu. Malah mungkin terlintas di benak kita untuk melancarkan protes dengan mengadakan 'demo'. Mengajukan kritik kepada pemerintah jelas bukan hal yang salah bila pemerintah memang menyimpang dari kebenaran. Namun kita tetap harus menunjukkan sikap tunduk dalam berbagai aspek yang semestinya kita lakukan sebagai warganegara. Kedua, dalam hubungan dengan orang lain. Orang Kristen harus menunjukkan sikap dan tingkah laku sebagai pembawa damai (ayat 2).
Keduanya tidak mudah, karena terkadang harus mengorbankan kepentingan dan harga diri. Akan tetapi, itulah yang harus lahir dan ada di dalam diri kita karena keselamatan seharusnya menghadirkan dampak dalam hubungan dengan pemerintah dan sesama.
Seorang gembala jemaat bertugas membina iman jemaat. Namun ada saja kemungkinan si gembala harus menghadapi orang yang senang berdebat. Orang semacam ini bukan sedang mencari jawaban atas pergumulan imannya. Biasanya ia hanya senang cari-cari masalah. Menurut Paulus, ini harus dihindari (ayat 9). Meski sanggup mempertahankan iman, tak ada guna buang-buang waktu karena yang dicari bukanlah kebenaran. Jadi jangan sampai terjebak pada debat kusir. Itu tidak membuat Injil dikenal orang. Perdebatan tak akan membuat iman seseorang bertumbuh. Juga jangan sampai orang merasa diri saleh hanya karena ia sibuk mendiskusikan masalah iman. Kekristenan tak hanya berhenti sampai wacana, melainkan harus mewujud dalam tindakan. Bukan berarti tak ada tempat untuk mendiskusikan iman, tetapi iman yang tidak berakhir pada sebuah tindakan adalah sia-sia. Mendiskusikan iman bukan ditujukan untuk membuktikan pendapat atau memenangkan argumen.
Ada lagi kelompok orang yang sering menyusahkan hamba Tuhan, yaitu bidat. Bidat adalah penyesatan ajaran yang berpotensi memecah belah gereja. Sebenarnya penganjur dan pengikut bidat harus segera dijauhi karena mereka tidak menghargai kebenaran. Namun Paulus masih memberikan kemungkinan pertobatan, karena itu para pengikut bidat tetap harus diberi peringatan dan dibimbing (ayat 10). Mungkin dengan nasihat hamba Tuhan, mereka akan sadar dan berbalik ke jalan yang benar. Akan tetapi, bila mereka tidak menghiraukan peringatan atau nasihat, tetapi tetap sesat maka mereka tak perlu dihiraukan lagi. Sia-sia saja memberikan nasihat kepada orang-orang semacam itu. Mereka malah bisa menularkan kesesatan kepada jemaat.
Terjebak pada kesesatan apalagi mengajarkan kesesatan adalah hal yang harus kita hindari. Filter untuk mengenali kesesatan adalah firman Tuhan. Maka tak ada jalan lain untuk menghindari kesesatan selain dari mengenali kebenaran itu sendiri. Karena itu bacalah Alkitab dan pelajarilah.