Lukas 10 (MAD2T*Mlm*27 Jan*Tahun 1)

Lukas 10

Penjelasan Singkat
Ketujuh puluh murid diutus

Isi Pasal
70 murid diutus. Yesus memberitahukan penghakiman atas beberapa kota. Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik. Marta dan Maria menjamu Yesus.

Judul Perikop
Yesus mengutus tujuh puluh murid (10:1-12)
Yesus mengecam beberapa kota (10:13-16)
Kembalinya ketujuh puluh murid (10:17-20)
Ucapan syukur dan bahagia (10:21-24)
Orang Samaria yang murah hati (10:25-37)
Maria dan Marta (10:38-42)

Tafsiran: Banyak orang beranggapan bahwa tugas memberitakan kabar baik adalah tugas segolongan orang yang “ahli”. Dalam pengertian bahwa orang-orang tersebut sudah diperlengkapi dengan berbagai pengetahuan dan dididik secara khusus. Buktinya para murid Yesus, yang sebagian besar tidak terpelajar diutus Tuhan untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah.

Tindakan Yesus ini memberikan suatu pelajaran penting buat kita yaitu bahwa: pertama, pelayanan tidak dibatasi hanya untuk kalangan para ahli seperti para pendeta saja, majelis saja, atau segelintir orang saja. Tiap orang yang menjadi pengikut-Nya dipanggil-Nya untuk menjadi utusan-Nya (ayat 1). Kedua, prinsip ini juga membuka mata warga gereja, khususnya para pejabat gereja yaitu bahwa dalam gereja Tuhan tidak boleh ada pembagian golongan antara awam dan pejabat Gereja. Semua warga gereja yang sungguh beriman adalah umat Allah yang adalah warga Kerajaan Allah. Kita semua berkehormatan untuk ikut serta mewartakan Injil Kerajaan Allah kepada dunia ini.

Berita penting lainnya yang diangkat dalam perikop ini selain pemberita Injil adalah berita yang harus disebarluaskan kepada orang lain, yaitu bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Tugas para pemberita Injil adalah menganjurkan agar orang menerima kasih karunia Allah, beriman kepada Kristus, bertobat, dan diselamatkan. Suatu tugas yang berat dan amat mulia diemban oleh setiap pemberita Injil, setiap orang yang beriman kepada Kristus. Kita semua harus langsung terjun ke dalam arena peperangan rohani. Tetapi kita tidak perlu takut sebab sejak semula Tuhan mengingatkan kita untuk bergantung kepada-Nya saja, bukan kepada hal-hal yang biasa manusia andalkan.

Renungkan: Diterima atau ditolak adalah hal biasa. Yang penting setia mewartakan kebenaran dan sedia menerima konsekuensinya.

Sukacita bisa muncul karena berbagai sebab. Ada sukacita yang muncul sebab berhasil menyelesaikan dengan baik tugas yang telah dipercayakan. Ada juga yang menyertai sukacita itu dengan rasa bangga yang tidak tepat.

Para murid telah menyelesaikan misi yang dipercayakan pada mereka (Lukas 10:17). Mereka mengalami euforia (perasaan gembira yang berlebihan) karena menurut mereka hasilnya luar biasa! Mereka dapat mengalahkan setan-setan! Padahal sebelumnya murid-murid lain gagal melakukannya (Luk. 9:37-43a). Itu artinya mereka memiliki otoritas yang lebih besar di dalam nama Tuhan Yesus, dan mereka bersukacita karena hal itu! Tetapi menurut Yesus, sukacita mereka tidak pada tempatnya. Melayani Allah memang merupakan hak istimewa dan memiliki kuasa Allah untuk mengusir Iblis dapat dianggap sebagai keajaiban. Yesus memang melihat bahwa apa yang telah mereka lakukan merupakan kekalahan Iblis (Lukas 10:18) dan digenapinya janji mesianis, yakni kemenangan Kristus atas kuasa kegelapan. Namun alasan terbesar untuk bersukacita seharusnya adalah karena mereka memiliki hidup yang kekal! Yang utama bukan bersukacita karena telah mampu mengusir Iblis, tetapi lebih baik bersukacita karena telah memiliki keselamatan. Sebab sukacita orang percaya bukan terutama terletak pada kehancuran Iblis tetapi pada fakta bahwa orang percaya telah menjadi milik Allah dan nama mereka telah tercatat di surga (Lukas 10:20).

Ini jugalah yang menjadi sukacita Yesus, yakni bahwa Allah menyatakan diri dan karya-Nya kepada para murid. Itu sebabnya para murid harus bersukacita karena banyak orang di masa silam yang ingin mengalami karya keselamatan Allah seperti yang telah dialami murid-murid namun mereka tidak memiliki kesempatan itu.

Syukuri: Bagi kita yang hidup di zaman ini pun dapat mengalami sukacita keselamatan seperti yang Yesus katakan, yaitu bagi kita yang percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat.

Kesombongan dan ingin pamer diri di hadapan Yesus tampaknya menguasai ahli Taurat dalam bacaan ini. Mungkin dia ingin menunjukkan bahwa keahliannya menguasai Taurat memperlihatkan kesalehan dan kedekatan hubungan-nya dengan Allah. Namun jawaban Yesus atas pertanyaan-nya yang kedua menohok ke dalam titik permasalahan yang sebenarnya bercokol di dalam dirinya.

Ada perbedaan besar antara dua pemimpin agama dengan si orang Samaria, yaitu dalam hal belas kasihan. Ketika dua orang pemimpin agama Yahudi melihat orang yang mengalami kerampokan itu, mereka justru berusaha menghindari dia. Seolah takut dilibatkan, takut terkena risiko, dan ada banyak ketakutan lain. Padahal keduanya adalah orang yang biasa mengajarkan perilaku yang baik sesuai ajaran agama. Namun orang Samaria, yang dianggap rendah oleh orang Yahudi, hatinya tergerak oleh rasa belas kasihan. Ia tidak memikirkan segala risiko maupun konsekwensi yang mungkin muncul bila ia menolong korban perampokan itu. Dan ini terlihat ketika ia sampai merogoh kocek demi perawatan korban perampokan itu.

Lalu apa yang ingin diajarkan Yesus kepada ahli Taurat itu melalui kisah orang Samaria? Perumpamaan yang Yesus sampaikan sesungguhnnya merupakan sebuah teguran bahwa yang berkenan di hadapan Tuhan bukanlah orang yang merasa diri menguasai Taurat, tetapi bagaimana dia hidup berdasarkan kebenaran itu sendiri. Sebab itu marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, sudah seberapa salehkah kita menurut diri kita sendiri? Seberapa aktifkah kita dalam kegiatan pelayanan kerohanian, baik di gereja atau pun di tempat lain? Seberapa rajinkah kita beribadah? Dan sudahkah semuanya itu terlihat dalam perilaku dan kehidupan kita sehari-hari? Melalui perumpamaan ini Tuhan ingin mengajarkan bahwa kasih kita kepada Allah akan terwujud melalui kasih kita kepada orang lain. Iman kita kepada Allah akan terlihat juga melalui bagaimana kita menjadi pelaku-pelaku kebenaran.

"Melayani Tuhan" jelas merupakan aktivitas yang mulia, apapun bentuknya. Oleh karena itu seharusnya dilakukan dengan sikap yang benar pula. Namun kadang kala orang mengalami disorientasi (kesamaran arah) sehingga tidak dapat bersikap sebagaimana seharusnya.

Inilah mungkin yang terjadi pada Marta. Kedatangan Yesus dan murid-murid membuat Marta merasa wajib menjadi tuan rumah yang baik. Tetapi Maria, saudaranya, tidak membantu. Dia malah duduk dengan tenangnya di kaki Yesus. Ini membuat Marta tidak dapat mengendalikan dirinya. Bagaimana mungkin Maria membebankan semua kerepotan itu di pundaknya saja, seolah-olah hanya dia yang berkewajiban mempersiapkan suguhan bagi para tamu? Marta juga menujukan kemarahannya pada Tuhan (Lukas 10:40). Namun respons Yesus menunjukkan bahwa Ia bukan tidak peduli pada Marta yang bersusah payah menjadi tuan rumah yang baik. Hanya saja Yesus melihat bahwa Maria yang duduk di kaki-Nya, yang menyambut Dia dengan tepat. Marta ditegur karena telah khawatir dan menyusahkan diri dengan hal-hal yang tidak hakiki (Lukas 10:41). Maria telah memilih yang terbaik (Lukas 10:42), yaitu membiarkan Tuhan melayaninya. Jika Marta disibukkan dengan pelayanannya kepada Yesus maka Maria disibukkan oleh pelayanan Yesus baginya. Inilah sikap yang dihargai oleh Yesus yaitu sikap seorang murid, yang mau belajar dan mau mendengar.

Sudahkah sikap sebagai murid juga menjadi sikap kita? Ketahuilah bahwa menjadi murid bukan berarti menyerahkan diri pada kesibukan pelayanan! Jangan sampai kita menempatkan sesuatu yang baik (pelayanan) lebih utama daripada yang terbaik yaitu berpaut pada Allah dengan belajar dan mendengar firman-Nya. Ingatlah bahwa kesibukan melayani Tuhan bukanlah alasan untuk tidak punya waktu merenungkan firman Tuhan.

Renungkan: Sebelum firman Tuhan melayani kita, tidak mungkin kita siap melayani Tuhan.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)