Lukas 11 (MAD2T*Pagi*28 Jan*Tahun 1)

Lukas 11

Penjelasan Singkat
Setan yang membuat bisu diusir

Isi Pasal
Pengajaran Yesus tentang doa. Yesus dituduh mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dan tanggapan-Nya. Kutukan ditimpakan atas orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Judul Perikop
Hal berdoa (11:1-13)
Yesus dan Beelzebul (11:14-23)
Kembalinya roh jahat (11:24-26)
Siapa yang berbahagia (11:27-28)
Tanda Yunus (11:29-32)
Pelita tubuh (11:33-36)
Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat (11:37-54)

Tafsiran: Berdoa merupakan suatu langkah yang sederhana. Namun memliki dampak yang besar. Sayangnya tidak sedikit orang Kristen yang mengabaikan hal ini. Sehingga banyak orang percaya yang pesimis terhadap doa, sehingga enggan berdoa.

Yesus merespons permintaan para murid agar diajarkan berdoa dengan memberikan doa yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami. Melaluinya, kita belajar unsur-unsur mendasar dari doa yang benar. Pertama, doa berisikan pujian kepada Allah (Lukas 11:2). Hal yang sering diabaikan atau mungkin tidak diketahui oleh orang percaya, yaitu memberikan pujian kepada Allah melalui doa. Sering doa hanya dipahami sebagai ungkapan keluh kesah hati semata, atau hanya sebagai sarana untuk menyampaikan daftar pergumulan dan keinginan kita. Ungkapan pujian dan syukur dalam doa menunjukkan kesadaran kita akan siapa Tuhan, siapa kita.

Kedua, doa juga berisikan permohonan (Lukas 11:3). "Berikanlah kami...yang secukupnya." Tuhan mengajar kita agar meminta kepada-Nya sesuai dengan kebutuhan, bukan untuk dihambur-hamburkan. Ia menjamin bahwa ketika kita meminta maka Ia akan memberikan sesuai dengan kehendak-Nya (Lukas 11:9-10). Ketiga, doa juga berisikan ungkapan pertobatan (Lukas 11:4). Dalam doa kita mengakui pelanggaran dan dosa kita, tanpa perantara dan langsung kepada Allah. Bagian ini menuntut kejujuran dan keterbukaan kita pada-nya, sehingga dengan begitu Ia akan mengalirkan kasih dan pengampunan-Nya pada kita.

Keempat, berdoalah seolah kita sedang berbicara pada seorang sahabat (Lukas 11:5-8). Tanpa mengurangi penghormatan kita pada Allah, Tuhan mengajar kita untuk berdoa seperti sedang berdialog dengan sahabat kita, ada kedekatan, keakraban dan tanpa kecanggungan. Kelima, berdoa seperti seorang anak kepada bapaknya (Lukas 11:11-13). Hubungan itu tentu memiliki ikatan emosional yang tinggi. Seorang bapak pasti berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Demikian pula dengan Allah Bapa tentu juga akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Mari berdoa!

Tidak ada orang yang dalam hidupnya mau dengan sukarela menjadi hamba dan diperbudak oleh orang lain. Setiap orang ingin merdeka dan memiliki kehidupan sendiri tanpa harus diatur oleh orang lain.

Demikianlah kehidupan kita sebagai orang percaya. Sebelum kita dimerdekakan oleh Kristus, kita sesungguhnya adalah hamba dari dosa dan kuasa setan. Setan dan Kristus memiliki kuasa yang saling bertentangan: kuasa setan membelenggu sementara kuasa Kristus membebaskan. Oleh sebab itu salah besar ketika sebagian orang berpikir bahwa Yesus memakai kuasa Beelzebul untuk mengusir setan dari orang-orang yang kerasukan (Lukas 11:15). Yesus menegaskan bahwa kedatangan-Nya, yang mengusir setan dengan kuasa Allah, adalah tanda telah datangnya Kerajaan Allah (Lukas 11:20).

Yesus mewartakan bahwa keselamatan dan kuasa-Nya membebaskan mereka yang terbelenggu oleh kuasa setan. Namun demikian belum tiba saatnya setan dan semua pengikutnya dihentikan dari aktivitasnya yang mengganggu dan merusak hidup manusia. Dalam hal ini orang percaya perlu hati-hati. Karena kehidupan rohani yang kosong akan menjadi sasaran empuk bagi si jahat untuk kembali dan mengobrak-abrik lagi kehidupan yang kosong itu.

Dalam ayat 24-26, Yesus memberikan gambaran yang jelas mengenai hal ini. Keadaan rohani seseorang diumpamakan sebagai rumah yang kosong setelah dibersihkan dari kuasa gelap yang menghuni rumah itu sebelumnya. Akan tetapi karena rumah tersebut dibiarkan begitu saja, tanpa diisi apa-apa, maka setan yang sebelumnya telah diusir pergi kemudian kembali datang, bahkan mengajak tujuh setan lainnya. Dapat dibayangkan bagaimana keadaan rumah itu tatkala setan-setan tersebut kembali.

Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita membiarkan kehidupan rohani kita kosong, hampa tanpa adanya hubungan dengan Tuhan, Pemilik hidup kita. Karena itu isilah dengan perenungan firman Tuhan dan persekutuan yang erat dengan Tuhan hari demi hari. Itulah yang akan menjadi benteng kita yang kuat dalam menghadapi musuh iman kita.

Yesus menolak pandangan bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang berhubungan dengan kemestian kehidupan seperti hubungan darah, dll (ay. 27). Menurut Yesus, kebahagiaan didapat ketika orang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya (ay. 28). Artinya cara orang menyikapi firman dan karya Allah dalam hiduplah yang membuat bahagia, bukan terletak pada keberadaan yang dijalani.

Bila orang percaya pada Allah dan firman-Nya maka Dia akan percaya bahwa Yesuslah Mesias yang diutus Allah. Bila demikian maka orang tidak perlu meminta tanda lagi untuk membuktikan bahwa Yesus sungguh-sungguh Mesias. Jika mereka masih juga meminta tanda, itu berarti firman Allah dirasa tidak cukup kuat, atau dengan kata lain mereka tidak percaya pada firman Allah! Maka bagi Yesus, ketidakpercayaan mereka adalah jahat (Lukas 11:29). Bila orang Niniwe saja percaya pada pemberitaan Yunus, dan ratu dari Selatan mencari hikmat dari Salomo, mengapa begitu sulit bagi mereka untuk percaya pada Yesus yang lebih dari Salomo maupun Yunus? (Lukas 11:29-32). Padahal Yesus telah melakukan berbagai mukjizat di depan mata mereka, namun mereka masih saja gagal untuk sampai pada kesimpulan yang benar tentang Yesus! Tentu saja masalahnya bukan terletak pada Yesus atau pekerjaan-pekerjaan yang Dia lakukan, tetapi pada kemampuan mereka untuk melihat terang Kristus.

Meskipun kemampuan itu dari Allah juga datangnya, bukan berarti manusia tidak punya tanggung jawab untuk percaya. Namun ia hanya bisa percaya bila ia dimampukan untuk melihat kebenaran Allah (bdk. Ef. 1:17). Jika kita beriman kepada Kristus, itu karena firman Tuhan menyalakan terang dalam hidup kita dan memperlihatkan dosa-dosa kita. Oleh sebab itu, kita harus meminta agar Allah "membuka mata kita" saat kita datang pada firman-Nya, supaya kita dapat melihat karya-Nya bagi kita (Maz. 119:18). Firman Tuhan akan membuka mata kita untuk melihat hidup kita sebagaimana adanya (Ibr. 4:12-13).

Pembacaan firman Tuhan hari ini mencacat satu bagian yang menarik, yaitu Yesus terlibat dalam perdebatan dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Keduanya mendapatkan kecaman keras Tuhan Yesus, yaitu munafik!

Pertama, Yesus menegur kemunafikan orang farisi (Lukas 11:39-40, 44). Orang Farisi ini sangat menekankan hal yang bersifat lahiriah. Mereka sangat senang jaim (jaga image), hal ini semata untuk membangun opini bahwa mereka baik, berperilaku sesuai hukum. Padahal hati mereka penuh dengan kebusukan dan ketamakan. Kemunafikan mereka juga terlihat dari menaati peraturan hanya secara lahiriah, namun esensinya diabaikan, yaitu mereka mengabaikan keadilan dan kasih Allah, dan mengabaikan sesama manusia (Lukas 11:42). Lebih lagi, tindakan mereka semata untuk mendapat pujian. Mereka begitu mempedulikan penilaian manusia terhadap apa yang mereka kerjakan.

Ternyata, yang tersinggung bukan hanya orang farisi, tetapi juga para ahli Taurat (Lukas 11:45). Maka kritikan pedas Yesus pun ditujukan kepada mereka. Hampir sama dengan teguran kepada orang Farisi. Mereka pun munafik, yaitu mengajarkan kebenaran Taurat dengan beban-beban peraturan yang tidak masuk akal, yang mereka sendiri tidak mau melakukannya (Lukas 11:46). Pada saat yang sama, mereka menolak kebenaran firman Tuhan yang esensial, seperti yang diajarkan para nabi. Ironis ini diungkapkan dengan nenek moyang membunuh nabi, mereka membangun kuburannya! Kemunafikan mereka menyesatkan para pengikut mereka (Lukas 11:52).

Apa yang dapat kita pelajari dari bagian ini? Pesan apa yang dapat menjadi perenungan kita? Hal ini menjadi peringatan bagi kita orang percaya, dalam kehidupan kerohanian kita ini Tuhan tidak senang dengan kepura-puraan dan kemunafikan. Ia ingin kita juga seimbang terhdap kehendak Tuhan serta berlaku wajar dan sederhana, tidak sombong. Tuhan menginginkan kita menjadi manusia rohani yang berkenan kepada Allah Bapa, dan juga mengasihi sesama dengan murni.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)