Lukas 12 (MAD2T*Mlm*28 Jan*Tahun 1)

Lukas 12

Penjelasan Singkat
Ketamakan harus dihindari

Isi Pasal
Yesus memperingatkan tentang ragi orang-orang Farisi. Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Perumpamaan tentang kedatangan yang kedua. Perumpamaan tentang pengurus rumah dan hamba-hambanya. Kristus, yang memisahkan manusia.

Judul Perikop
Pengajaran khusus bagi murid-murid (12:1-12)
Orang kaya yang bodoh (12:13-21)
Hal kekuatiran (12:22-34)
Kewaspadaan (12:35-48)
Yesus membawa pemisahan (12:49-53)
Menilai zaman (12:54-59)

Tafsiran: Mengapa Tuhan Yesus mengumpamakan kemunafikan orang Farisi sama seperti ragi? Karena sifat munafik itu seperti ragi yang gampang menulari dan pada akhirnya merusak karakter orang lain. Sebagai pemimpin agama yang memiliki otoritas mudah sekali bagi mereka untuk menyalahgunakan otoritas itu, dengan menipu para pengikutnya, dan pada akhirnya para pengikut itu pun ikut-ikutan bertindak munafik.

Tuhan Yesus mengingatkan para murid bahwa kemunafikan, suatu waktu akan terbongkar (Lukas 12:2-3). Apa yang ditutupi oleh manusia, akan dibuka oleh Allah yang melihat ke dalam hati. Maka, hukuman berat akan menimpa mereka yang karena kemunafikannya menyesatkan orang lain, dan menjadikan orang lain itu sama dengan mereka, yaitu munafik! Bahkan Yesus dengan keras menyatakan sikap menyesatkan orang lain dari kebenaran tidak beda dengan menghujat Roh Kudus (Lukas 12:10). Menghujat Roh Kudus di sini harus dimengerti sebagai menolak menerima pengajaran dari Sang Sumber dan Sang Pengajar Kebenaran sehingga memalsukan kebenaran dan pada akhirnya menyesatkan orang lain dengan kebenaran yang palsu tersebut.

Tuhan Yesus mengingatkan para murid agar jangan takut kepada para pemimpin sedemikian yang seolah memiliki kuasa untuk mengucilkan bahkan membunuh mereka (Lukas 12:4). Tuhan sendiri yang akan menghakimi mereka (Lukas 12:5). Tuhan sendiri menjanjikan akan melindungi murid-murid-Nya dari para pemimpin seperti itu, bahkan akan memberi hikmat pada saatnya untuk menghadapi tuduhan mereka (Lukas 12:11-12).

Peringatan Tuhan Yesus ditujukan kepada para murid, berarti juga kepada kita sekalian. Bisa jadi kita pun tertular kemunafikan orang Farisi, yang mementingkan penampilan dan prestise semata. Bisa jadi kita melakukan hal tersebut karena takut dikucilkan, atau bahkan mendapat aniaya. Ingat, bila kita terseret kepada kemunafikan, bukan hanya diri kita yang dirugikan. Orang-orang yang ada di sekeliling kita, yang memercayai kita sebagai murid-murid Tuhan pun akan ikut tersandung.

Ketamakan bukan hanya masalah orang yang berkuasa. Orang miskin dan tidak memiliki kuasa juga bisa salah dalam menyikapi harta karunia Tuhan dalam hidupnya. Ketamakan orang berkuasa menimbulkan tindak korupsi, ketamakan orang miskin menghalalkan pencurian. Semuanya didasari sikap hidup yang mengandalkan harta lebih daripada percaya kepada Tuhan. Berlawanan dengan sikap hidup demikian, Tuhan Yesus mengajar orang beriman untuk percaya pada pemeliharaan Allah di dalam hidup.

Tantangan Tuhan Yesus agar orang menjual segala milik dan memberikan sedekah (Lukas 12:33) adalah jawaban radikal agar orang bisa lepas dari belenggu harta yang menghalangi orang mendapatkan Kerajaan Allah yang kekal. Di sisi lain itu adalah berita sukacita karena bagi orang miskin Kerajaan Allah itu telah diberikan (Lukas 12:32). Contoh burung gagak, bunga bakung dan rumput liar di padang menunjukkan bagaimana alam ciptaan sudah diperlengkapi dengan segala kecukupan dan keindahan untuk kelestarian kehidupannya. Ketamakan manusia yang menimbun kekayaan menimbulkan distribusi yang tidak merata, ketidakadilan, iri hati, dan sekalipun kaya disebut bodoh. Dalam nas ini kebodohan itu dinampakkan dalam masalah pembagian warisan (Lukas 12:13), yang memperlihatkan adanya keinginan untuk memiliki lebih daripada yang dibutuhkan. Pesan ini terasa lebih berbicara pada zaman itu karena adanya ketimpangan sosial di antara orang miskin dan tertindas oleh penjajahan Romawi yang merupakan kelompok mayoritas, dan kalangan kaya yang berkolusi dengan penguasa dan agamawan.

Orientasi hidup yang mengandalkan Tuhan akan membuahkan sikap hidup yang berlawanan dari yang mengandalkan harta. Tuhan tahu bahwa kita memerlukan harta untuk hidup tetapi menghendaki agar kita mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu. Orientasi hidup yang mendahulukan keamanan hidup pada harta dan bukan kepada Allah dan Kerajaan-Nya adalah ketamakan dan kebodohan!

Apa bukti bahwa seseorang sungguh-sungguh anak Tuhan? Perikop sebelum ini membicarakan bahwa anak Tuhan sejati tidak terjebak pada materialisme, karena dia tahu hanya Allah yang menjadi Tuannya. Di perikop ini, anak Tuhan sejati adalah dia yang mengerti kehendak Tuannya dan selalu siap sedia melayani Dia.

Orang Kristen diilustrasikan sebagai seorang hamba yang tidak punya hak apa-apa karena dimiliki oleh Allah. Pemahaman yang benar akan kepemilikan Allah atas dirinya akan ditunjukkan dengan kesetiaan dan kesiap sediaan seorang hamba dalam melayani Tuannya setiap waktu. Apa hasil dari kesetiaan itu? Sungguh mengejutkan, Tuannya yang melihat sikap si hamba akan melayani si hamba untuk makan minum (Lukas 12:37). Pembalikan ini tentu bukan hal normal. Namun memang bagi anak Tuhan yang mengikut Tuhan dengan setia selalu ada hal yang luar biasa Tuhan lakukan untuk mereka.

Ilustrasi yang lain adalah seorang tuan rumah yang berjaga-jaga terhadap pencuri yang datang malam hari. Kedatangan Tuhan adalah misteri. Betapa pun anak Tuhan memahami Tuhan, tetap saja ada hal yang tidak terduga. Maka tidak ada cara lain selain selalu waspada dan berjaga-jaga. Apa hasil dari berjaga-jaga? Yesus kembali kepada ilustrasi yang pertama dan melengkapinya. Tuan rumah yang kaya dan punya banyak hamba akan menyerahkan penjagaan rumah kepada kepala para hamba. Bila kepala tersebut berjaga-jaga dengan benar, ia akan semakin dipercaya oleh tuannya, sehingga diberi tugas yang lebih penting lagi (Lukas 12:44). Jelas ilustrasi ini ditujukan kepada para pemimpin Kristen!

Perikop ini bicara mengenai berjaga-jaga menghadapi kedatangan Yesus kedua kali. Perikop ini juga bicara tentang sikap seorang anak Tuhan yang seharusnya dalam hidup ini. Dia adalah hamba, yang bertugas melayani dengan sigap dan setia. Apakah kita adalah anak Tuhan yang setia dan siap sedia melayani Dia? Setia pada perkara kecil, Tuhan akan berikan kepercayaan yang lebih besar! Jangan lupa, Tuhan menyebut kita berbahagia (Lukas 12:37, 38, 43).

Kedatangan Tuhan Yesus ada dua fase. Fase pertama sudah selesai, yaitu inkarnasi-Nya untuk penyelamatan manusia. Pada fase ini fokusnya pada penyelamatan, tetapi melalui penghakiman atas dosa. Api melambangkan penghakiman. Siapa yang dihakimi? Ternyata Yesus sendiri yang menjadi penanggung hukuman dosa manusia. Melalui kematian-Nya, orang yang percaya Yesus dilepaskan dari penghakiman. Namun mereka yang tidak percaya Yesus dengan sendirinya akan menghadapi fase kedua kedatangan Yesus sebagai Hakim yang adil.

Ayat 49-53 ditujukan kepada para murid, yaitu mereka yang memercayai karya salib Kristus sehingga beroleh pengampunan dosa. Dalam dunia ini mereka akan dibenci dan ditolak oleh dunia yang menolak dan membenci Yesus. Dan hal itu bisa terjadi justru di keluarga-keluarga (Lukas 12:52-53). Menyedihkan memang, tetapi itulah faktanya. Perikop ini mengingatkan para murid agar jangan sampai menyerah atau kompromi hanya karena tidak ingin dimusuhi atau dianiaya.

Sebaliknya pada ayat 54-59, Yesus mengarahkan pembicaraannya kepada orang banyak. Mereka yang belum memutuskan mau percaya Yesus atau menolak Dia, tidak akan bisa lama-lama dalam keadaan yang ambigu. Mereka harus memutuskan segera karena kalau Tuhan Yesus datang kembali kelak, kesempatan bertobat sudah habis. Ilustrasinya adalah, selama lawan belum pergi mengadukan perkaranya kepada hakim, masih ada kesempatan untuk berdamai (Lukas 12:58). Kapan waktunya? Sekarang ini! Kenapa tidak boleh ditunda? Karena tanda-tanda zaman sudah jelas (Lukas 12:54-56), Yesus akan segera datang kembali sebagai HAKIM.

Rangkaian pengajaran Tuhan Yesus di pasal-pasal ini jelas dengan tegas mengingatkan bahwa bermain-main dengan dosa dan menunda-nunda waktu pertobatan bisa berakibat fatal. Demikian juga seorang yang mengaku anak Tuhan, tetapi tidak serius hidup di dalam Tuhan, ia akan tidak berkenan kepada Tuhan. Mudah-mudahan Anda bukan keduanya!

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)