Lukas 16 (MAD2T*Mlm*30 Jan* Tahun 1)

Lukas 16

Penjelasan Singkat
Pelayan/Bendahara yang tidak jujur

Isi Pasal
Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. Yesus memberi jawab kepada orang-orang Farisi. Orang yang kaya dan Lazarus di dunia roh.

Judul Perikop
Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (16:1-9)
Setia dalam perkara yang kecilNasihat (16:10-18)
Orang kaya dan Lazarus yang miskin (16:19-31)

Tafsiran: Pertanggungjawaban adalah hal yang harus dilakukan bila kita dipercaya untuk melakukan sesuatu. Laporan pertanggungjawaban akan memperlihatkan apakah kita bisa dipercaya dan berhasil melaksanakan tugas tersebut.

Perumpamaan ini berkisah tentang bendahara yang menyalahgunakan harta tuannya yang dipercayakan kepada dia. Sang tuan yang kemudian mengetahui ulah si bendahara, menuntut pertanggungjawaban (Lukas 16:1-2). Si bendahara yang sadar betul kesalahannya, tahu bahwa ia tidak akan lolos. Namun ia tidak mau kehilangan masa depan. Ia memanfaatkan posisi yang masih dia pegang untuk menyelamatkan dirinya (Lukas 16:4-7).

Mungkin sebagian dari antara kita akan geleng-geleng kepala melihat kelakuan si bendahara. Namun Yesus memberikan penilaian positif bagi si bendahara. Mengapa? Si bendahara tahu bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban, dan ia tahu konsekuensinya. Maka ia memikirkan antisipasinya secara serius.

Melalui perumpamaan bendahara, Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki dan menginvestasikannya bagi kekekalan agar siap memberi pertanggungjawaban kelak kepada Sang Tuan (Lukas 16:9). Sebab itu murid Tuhan harus bisa dipercaya atas segala sumber daya yang Tuhan percayakan kepada mereka, betapa pun kecilnya (Lukas 16:10-12).

Bila seorang bendahara yang tidak jujur tahu memanfaatkan apa yang dia miliki, yaitu waktu yang tersisa, dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan masa depannya, maka murid Tuhan seharusnya berhikmat memaksimalkan manfaat segala miliknya. Dan manfaat yang dimaksimalkan itu tentu saja bukan untuk kepentingan diri kita semata-mata, melainkan harus dilihat dari perspektif kekekalan.

Bila kita memiliki sesuatu berarti kita bertanggung jawab atas milik kita itu. Pemanfaatannya merupakan ujian bagi karakter kita. Orang yang dapat dipercaya atas hal kecil, dapat dipercaya pula atas hal besar. Orang yang tidak jujur atas hal kecil, biasanya sulit jujur pula atas hal besar. Termasuk yang manakah Anda?

Orang Farisi selalu merasa diri lebih baik dibandingkan sesamanya. Mereka adalah pemimpin agama sehingga selalu ada di rumah ibadah. Mereka mempelajari Hukum Taurat dan kitab nabi-nabi. Mereka mengira bahwa mereka akan masuk surga karena hal-hal itu. Maka Yesus membuka mata mereka melalui perumpamaan orang kaya dan Lazarus.

Si orang kaya menikmati hal-hal terbaik dalam hidupnya. Ia memiliki pakaian mahal dan bersukaria dalam kemewahan (Lukas 16:19). Berbeda dengan Lazarus, pengemis yang badannya penuh borok, yang berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu (Lukas 16:20-21). Namun keadaan menjadi terbalik ketika keduanya meninggal dunia. Lazarus duduk di pangkuan Abraham, sementara si orang kaya justru menderita sengsara di alam maut (Lukas 16:22-23).

Kalau kita perhatikan, tidak ada keterangan mengenai dosa atau kejahatan si orang kaya. Lalu mengapa ia menderita di alam maut? Apakah ia salah karena kekayaannya? Jelas tidak. Abraham pun kaya. Namun masalahnya, si orang kaya hidup hanya bagi kesenangannya sendiri dan di dalam kesementaraan waktu. Ia tampaknya hidup tanpa memiliki perspektif kekekalan, mengenai adanya kehidupan setelah kematian. Seharusnya, ia bisa memanfaatkan mamon, yaitu uang yang dia miliki, untuk menjalin persahabatan yang membuat dia diterima di surga (lihat Luk. 16:9). Padahal kesempatan untuk itu ada setiap hari karena ia melewati Lazarus saat keluar masuk rumahnya. Sayang, si orang kaya tidak memanfaatkan hartanya untuk melayani orang yang membutuhkan. Ini adalah bukti nyata bahwa imannya hanya sebatas pengakuan di bibir saja. Ia tidak menunjukkan pertobatan dari pementingan dirinya sendiri.

Seperti yang Yesus katakan sebelumnya, manusia tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Ketika Allah menjadi Tuan kita, maka harta akan kita gunakan untuk melayani Dia. Namun ketika harta menjadi tuan kita, Allah akan kita manfaatkan untuk membuat kita kaya, dengan segala doa dan persembahan kita. Maka pilihlah: hartakah yang jadi tuanmu atau Tuhan yang menjadi hartamu?

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)