Lukas 2 (MAD2T*Mlm*23 Jan*Tahun 1)

Lukas 2

Penjelasan Singkat
Kristus disunat

Isi Pasal
Kelahiran Yesus. Penyembahan-Nya oleh para gembala. Pemujaan dan nubuat Simon dan Hana.Kembali ke Nazaret. Yesus dan orang tua-Nya pada perayaan Paskah.

Judul Perikop
Kelahiran Yesus (2:1-7)
Gembala-gembala (2:8-20)
Yesus disunat dan diserahkan kepada Tuhan -- Simeon dan Hana (2:21-40)
Yesus pada umur dua belas tahun dalam Bait Allah (2:41-52)

Tafsiran: Peristiwa Natal akan tenggelam dalam keheningan malam kota kecil Betlehem, seandainya malaikat Tuhan tidak datang untuk mengumandangkan berita sukacita, “Kristus Tuhan sudah lahir di kota Daud.”

Nyanyian malaikat merupakan tanda bahwa kemuliaan Allah menaungi isi dunia, direpresentasikan oleh para gembala di padang rumput. Memang dunia ini ibarat padang rumput dengan para gembala serta domba-domba mereka di malam hari. Tenang, hening dan hanyut, dan hampir tidak ada kehidupan! Ketika terang ilahi bersinar melingkupi semuanya, tidak hanya para gembala yang tersentak dari lamunannya, dunia pun menggeliat terbangun oleh berita sukacita yang datang dari tempat yang mahatinggi.

Dunia yang hanyut oleh ketiadaan pengharapan, tersentak oleh pernyataan sorgawi: “Kemuliaan bagi Allah di tempat mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Pernyataan ini membukakan harapan, bahwa bagi dunia yang hampa diberikan damai sejahtera. Damai sejahtera itu selain merupakan perwujudan kemuliaan Allah, juga merupakan penggenapan janji Allah, yaitu bahwa damai diberikan kepada umat yang memperkenankan hati-Nya. Mereka yang memperkenankan hati Allah adalah mereka yang menerima Dia, cahaya kemuliaan Allah, yang lahir di kandang hina.

Renungkan: Kemuliaan Allahlah yang mendatangkan damai sejahtera di bumi. Apakah Anda sudah menerima Sang Cahaya Kemuliaan Allah dalam hidup Anda?

Bagi masyarakat pada waktu itu, gembala dianggap sebagai pekerja kasar yang hina. Pekerjaan sebagai gembala mengharuskan orang untuk pergi dari rumah dalam jangka waktu panjang. Karena itu mereka tidak memiliki waktu untuk pergi ke bait suci guna menjalankan aturan agama, misalnya penyucian diri. Mereka juga dianggap tidak bisa dipercaya dan karena itu tidak diizinkan untuk menjadi saksi di ruang pengadilan. Namun para gembala inilah yang dipilih Allah untuk mendengar berita sukacita dari malaikat Allah.

Keajaiban tiada tara itu membuat para gembala bergegas mencari bayi yang terbungkus kain lampin dan terbaring di dalam palungan (Lukas 2:15-16, bdk. 12). Tak terlintas sedikit pun dalam benak mereka keraguan akan perkataan sang malaikat, meskipun tanda yang dikatakan malaikat cukup aneh. Walaupun mereka gembala, mungkin belum pernah terdengar adanya bayi yang dibaringkan di dalam palungan. Benar saja, perkataan malaikat terbukti benar adanya. Dan itulah yang mereka nyatakan dalam kesaksian mereka hingga semua orang yang mendengarnya menjadi heran (Lukas 2:17-18). Pertemuan dengan Kristus memang terlalu indah untuk didiamkan begitu saja atau untuk disimpan sendirian. Kita tentu akan menginginkan agar orang lain mengalaminya juga, karena begitu ajaib anugerah keselamatan itu dan begitu besar sukacita yang menyertainya.

Ketika mereka kembali menemui ternak gembalaan mereka, mereka pergi dalam sukacita baru yang memenuhi hati mereka karena apa yang mereka telah dengar dan lihat. Hidup mereka tentu tidak akan pernah sama lagi dengan hidup sebelum mereka menemui Yesus. Mereka memang tetap menjadi gembala. Mereka mungkin tetap dipinggirkan oleh masyarakat di sekitar mereka. Mungkin juga tetap tak ada tempat bagi mereka dalam kehidupan beragama. Namun mereka telah bertemu dengan Sang Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, dan itu mengubah segalanya. Sudahkah Anda bertemu dengan Kristus secara pribadi? Bila belum, datanglah kepada-Nya. Bila sudah, bagikanlah kisah indah itu.

Yusuf dan Maria menjalankan tanggung jawab sebagai orang-tua di hadapan Tuhan (Lukas 2:21-24). Tanggung jawab ini mengungkapkan makna iman serta kepatuhan orang-tua atas apa yang telah difirmankan dan ditetapkan Tuhan. Kelalaian banyak dilakukan orang-tua Kristen pada masa kini. Tanggung jawab terhadap anak hanya diterapkan sebatas pemenuhan kebutuhan lahiriah. Model seperti ini jelas mengabaikan kebutuhan spiritual anak-anaknya.

Kebutuhan spiritual lebih utama daripada kebutuhan lahiriah. Sejak kecil anak harus diperkenalkan kepada Yesus, agar ia menyerahkan hidupnya kepada-Nya. Sangatlah keliru bila dikatakan bahwa anak belum tahu apa-apa. Orang-tua bertanggungjawab membawa anak ke gereja dan mendorongnya untuk beribadah kepada Tuhan.

Persiapan dan penghiburan Allah. Kejadian di Bait Allah mempertegas fakta sejarah tentang kelahiran Yesus. Dilihat dari sisi empat orang yang terkait yaitu Yusuf, Maria, Simeon, dan Hana, peristiwa itu mempunyai makna yang lain. Bagi Simeon dan Hana peristiwa itu merupakan penghiburan luar biasa yang Allah sediakan di hari tua mereka, karena diizinkan melihat penggenapan janji keselamatan dari Allah. Bagi Yusuf dan Maria peristiwa itu merupakan persiapan yang Allah lakukan, agar mereka siap menghadapi masa-masa sulit di masa mendatang.

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang tua Yesus? Tentu tidak mudah. Mungkin begitu pula yang dirasakan Yusuf dan Maria.

Perjanjian Lama menyatakan bahwa seorang laki-laki Yahudi harus menghadap hadirat Tuhan sebanyak tiga kali dalam setahun, yaitu pada hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya Tujuh Minggu, dan hari raya Pondok Daud (Ul. 16:16). Pada masa Yesus, orang-orang yang tinggal jauh dari Yerusalem biasanya menghadiri satu hari raya saja.

Pada waktu itu, Yusuf dan Maria harus melakukan perjalanan sekitar 80 mil jauhnya ke Yerusalem untuk merayakan Paskah (Lukas 2:41). Saat itu Yesus pergi bersama mereka. Kita tidak tahu apakah ini perjalanan pertama Yesus atau bukan, tetapi pasti menyenangkan pergi ke kota besar untuk sebuah perayaan. Sesudah perayaan selesai dan mereka dalam perjalanan pulang, barulah Yusuf dan Maria menyadari bahwa Yesus tidak ada bersama mereka (Lukas 2:44-45). Jika Anda pernah merasakan kehilangan anak, Anda akan tahu kepanikan yang muncul. Pikiran Anda akan dipenuhi dengan bayangan terburuk, bahwa ia diculik, bahwa ia mengalami kecelakaan, dan bayangan lain yang berujung buruk, yaitu tidak akan bertemu lagi dengan anak itu untuk selamanya. Maka bayangkanlah perasaan Maria saat menemui Yesus di Bait Allah, mungkin campuran antara rasa lega sekaligus jengkel dan marah. Respons Yesus kemudian tidak dapat dipahami oleh Yusuf dan Maria. Namun kisah ini dan khususnya jawaban Yesus memperlihatkan bagian hidupnya sebagai manusia dan sebagai Anak Allah yang menggenapi kehendak Bapa. Dan bagi Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, adalah penting untuk bertumbuh secara manusia, baik fisik maupun kerohanian (Lukas 2:40), dalam rangka mempersiapkan diri untuk pelayanan-Nya delapan belas tahun kemudian.

Jika begitu lama proses yang harus dilalui Yesus sebelum melayani, mengapa kita suka melakukan sesuatu tanpa proses? Misalnya, kita ingin segera melayani tanpa mau belajar lebih dahulu. Mengakhiri tahun ini, mari bertekad untuk menjadi murid yang tekun dalam proses belajar dari Sang Guru.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)