Lukas 5 (MAD2T*Pagi*25 Jan*Tahun 1)
Lukas 5
Penjelasan Singkat
Penjalaan ikan yang ajaib*
Isi Pasal
Penangkapan ikan yang ajaib. Menyembuhkan orang sakit kusta dan lumpuh. Panggilan atas Matius. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dijawab. Perumpamaan tentang pakaian dan kantong anggur.
Judul Perikop
Penjala ikan menjadi penjala manusia (5:1-11)
Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta (5:12-16)
Orang lumpuh disembuhkan (5:17-26)
Lewi pemungut cukai mengikut Yesus (5:27-32)
Hal berpuasa (5:33-39)
Tafsiran: Pernahkah Anda melihat seorang pemancing sedang memancing ikan? Pemancing ikan adalah orang yang tekun, rela menanti berjam-jam demi tertangkapnya seekor ikan.
Simon Petrus dan rekan-rekannya adalah nelayan sejati. Mereka bekerja keras sepanjang malam untuk menangkap ikan. Sayang mereka tidak menghasilkan apa-apa (Lukas 5:5). Sebab itu perintah Yesus agar mereka kembali menjala sebenarnya mendapat tanggapan yang tidak terlalu positif dari Petrus. Malam adalah waktu terbaik untuk menangkap ikan, lalu kenapa harus menjala di siang hari bila pada malam hari saja mereka tidak mendapat ikan? Sementara yang mengusulkan adalah anak seorang tukang kayu! Mana mungkin Ia lebih tahu tentang penangkapan ikan dibandingkan seorang nelayan yang sudah berpengalaman di bidangnya? Namun ketika Petrus akhirnya menuruti juga perkataan Yesus, dia melihat keajaiban. Ikan menjejali jala hingga hampir robek! Bahkan butuh bantuan perahu lain untuk menampung ikan-ikan tersebut (Lukas 5:7).
Petrus pun langsung bersujud di kaki Yesus (Lukas 5:8). Bila sebelumnya Petrus menyebut Yesus sebagai Guru, saat itu dia menyebut Yesus sebagai Tuhan. Petrus juga menyadari kerendahannya di hadapan Yesus. Ini merupakan lompatan besar dalam pengenalannya akan kebesaran kuasa Yesus. Semula ia mengira dirinya adalah nelayan handal, tetapi kemudian ia melihat kuasa Yesus alam, atas danau dan ikan. Kesadaran ini menjadi titik balik yang menghasilkan keputusan besar dalam hidup Petrus. Ia mengikut Yesus dan arah hidupnya pun berubah.
Kesadaran akan kemahakuasaan Tuhan dan ketidakmampuan diri akan membuat orang datang kepada Tuhan. Maka bila kegagalan sedang menerpa Anda secara beruntun, sehingga Anda seolah merasa tidak mampu berdiri lagi, mungkin itulah saat Anda harus datang pada Allah. Jangan keraskan hati dan menganggap bahwa Anda cukup mampu menyelesaikan masalah Anda. Rendahkan hati dan persilakan Dia untuk menyatakan kuasa dan karya-Nya dalam hidup Anda. Niscaya kasih karunia-Nya akan turun atas Anda.
Mukjizat memberikan kesaksian tentang Yesus, tentang kuasa dan anugerah-Nya kepada manusia. Seorang yang berpenyakit kusta dan seorang yang lumpuh mengalami kuasa dan anugerah Yesus itu.
Seorang yang tubuhnya dipenuhi dengan kusta, tersungkur di kaki Yesus ketika Ia mendatangi sebuah kota (Lukas 5:12). Permohonannya untuk sembuh menunjukkan pemahamannya akan kuasa Yesus. Pemahaman itu pula yang membuat dia sadar bahwa jika dia tidak sembuh pun, itu bukan karena Yesus tidak berkuasa. Karena itu dia berkata, "...jika Tuan mau...". Namun, tidak ada orang yang berada di luar jangkauan kasih sayang Yesus. Yesus menjamah orang itu dan saat itu juga orang itu sembuh dari kustanya (Lukas 5:13).
Selanjutnya, seorang lumpuh bisa tiba di depan Yesus karena beberapa orang memiliki pengharapan agar si lumpuh disembuhkan oleh Yesus (Lukas 5:18). Namun, itu tidak mudah karena rumah tempat Yesus mengajar dipadati begitu banyak orang sehingga tidak ada celah bagi rombongan si lumpuh untuk menerobos masuk. Pantang menyerah, para pengusung berusaha masuk melalui atap. Ini sulit dan berisiko tinggi! Orang-orang yang berkerumun pasti merasa tegang menyaksikan si lumpuh diturunkan perlahan-lahan dari atap. Lalu ketika si lumpuh tiba di dekat Yesus, mereka tentu berharap segera terjadi mukjizat. Namun Yesus justru berbicara tentang pengampunan dosa, hingga membuat orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mengernyitkan kening (Lukas 5:21). Baru setelah itu, Yesus menyembuhkan si lumpuh (Lukas 5:24-25). Itulah respons Yesus terhadap iman teman-teman si lumpuh. Dan bila dibandingkan dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat maka kita akan melihat suatu kontras. Teman si lumpuh percaya kepada Yesus sementara orang Farisi dan ahli Taurat bersikap skeptis. Teman si lumpuh berjuang begitu keras untuk mengatasi segala rintangan guna memperhadapkan teman mereka, si lumpuh, kepada Yesus. Namun orang Farisi dan ahli agama justru merintangi orang untuk datang kepada Yesus. Anda termasuk yang mana?
Ada anggapan bahwa orang harus benar-benar memisahkan diri dari orang berdosa bila ingin hidup kudus. Namun tidak demikian menurut Yesus.
Yesus memanggil Lewi untuk mengikuti Dia (Lukas 5:27). Respons Lewi begitu total, ia berdiri, meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus (Lukas 5:28). Tampaknya, mengikut Yesus merupakan keputusan besar bagi diri Lewi pada waktu itu, sehingga perlu dirayakan dengan mengundang teman-temannya, sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain (Lukas 5:29). Melihat hal itu, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut (Lukas 5:30). Komitmen mereka untuk melaksanakan Taurat membuat mereka takut berelasi dengan orang-orang yang dianggap berdosa. Bukan hanya itu. Mereka juga akan mengkritik orang yang bergaul dengan orang berdosa. Maka Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai dokter yang dibutuhkan orang sakit, bukan orang sehat (Lukas 5:31-32). Yesus datang untuk melayani mereka yang berdosa dan membutuhkan pertobatan. Jadi ketika para pemungut cukai dan para pendosa datang meminta disembuhkan, Yesus -Sang Dokter Agung- tidak akan menolak mereka.
Ternyata bukan hanya masalah makan dengan orang berdosa saja yang mengganggu pikiran orang Farisi dan ahli Taurat. Ritual kehidupan saleh seperti berpuasa dan berdoa dipersoalkan juga karena orang Farisi dan ahli Taurat melihat bahwa murid-murid Yesus tidak melakukan hal ini. Dengan mengambil gambaran diri-Nya sebagai mempelai, Yesus berkata bahwa sahabat mempelai tidak akan berpuasa pada waktu sang mempelai ada, karena saat itu justru merupakan saat bersukacita (Lukas 5:34-35). Lebih jauh, Yesus berbicara tentang kontras antara yang lama dan baru. Yang lama berisi pengajaran tentang hukum Taurat dan yang baru adalah pengajaran-Nya sebagai yang menggenapi Taurat dan yang membangun suatu perjanjian yang baru.
Maka di dalam Yesus, kita tidak mengorbankan sukacita dalam mengikuti dan melayani Dia. Karena sukacita sejati kita temukan saat kita diampuni-Nya lalu bersekutu dengan-Nya.