Lukas 6 (MAD2T*Mlm*25 Jan*Tahun 1)

Lukas 6

Penjelasan Singkat
Dua belas rasul dipilih

Isi Pasal
Yesus dan hari Sabat. Menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya. Memilih dua belas rasul. Khotbah di bukit. Perumpamaan tentang rumah yang dibangun di atas batu.

Judul Perikop
Murid-murid memetik gandum pada hari Sabat (6:1-5)
Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat (6:6-11)
Yesus memanggil kedua belas rasul (6:12-16)
Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang (6:17-19)
Ucapan bahagia dan peringatan (6:20-26)
Kasihilah musuhmu (6:27-36)
Hal menghakimi (6:37-42)
Pohon dan buahnya (6:43-45)
Dua macam dasar (6:46-49)

Tafsiran: Pada masa hidup Yesus, ajaran ahli Taurat tentang hukum keempat, "Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat" (Kel. 20:8-11), difokuskan pada larangan melakukan berbagai kegiatan yang mereka artikan sebagai "bekerja". Ada 39 kelompok kegiatan yang mereka tetapkan sebagai "melakukan pekerjaan," misalnya: menabur benih, menuai, membuat roti, membuat simpul benang, melepaskan simpul, menulis dua huruf, menyalakan api, memadamkan api, atau memindahkan suatu benda dari satu tempat ke tempat lain. Setiap kelompok ini masih dirinci lagi sampai detail. Akhirnya, yang mereka utamakan bukan lagi memahami makna dan tujuan Sabat sebagai hari perhentian serta pemulihan jasmani dan rohani umat Allah, melainkan ketaatan kepada peraturan tersebut. Rasa syukur dan sukacita yang seharusnya mengiring hari Sabat sebagai anugerah Allah bagi umat-Nya, telah diganti dengan beban kewajiban menaati berbagai larangan dan ajang mencari kesalahan.

Yesus mengoreksi konsep keliru ini dengan menyatakan bahwa Dialah "Tuhan atas hari Sabat" (Lukas 6:5). Dia, yang diurapi dan diutus Roh Allah, adalah satu-satunya yang mampu meluruskan makna Sabat sesuai dengan tujuan dan maksud Bapa-Nya. Yesus membuktikan kebenaran pernyataan-Nya itu dengan memperlihatkan kuasa-Nya dalam penyembuhan orang yang mati tangan kanannya (Lukas 6:6-10).

Lukas memakai kata "pulihlah" untuk "sembuhlah" (Lukas 6:10). Kata ini dipakai dalam Perjanjian Lama untuk pemulihan umat Israel setelah menjalani hukuman atas dosa mereka. Dengan menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, Yesus mewujudkan makna dan tujuan Sabat, yakni pemulihan umat Allah kepada keutuhan mereka lahir dan batin sebagai bagian dari ciptaan Allah yang indah. Menghormati Sabat diterapkan oleh Yesus dalam tindakan "berbuat baik dan menyelamatkan nyawa" mereka yang perlu ditolong (Lukas 6:9).

Renungkan: Kiranya kita secara konkret menghayati Sabat sebagai pemulihan diri kita maupun dengan sesama kita.

Seorang teolog terkenal bernama Dietrich Bonhoeffer pernah berkata, "Christianity without discipleship is always Christianity without Christ" (kekristenan tanpa pemuridan adalah kekristenan tanpa Kristus).

Di dalam perintah-Nya yang tertulis dalam Injil Matius, yang diucapkan sebelum Dia terangkat ke sorga, Yesus berkata, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku...". Jelas, pemuridan bukan pilihan melainkan keharusan. Perintah ini sendiri sering disebut sebagai amanat agung.

Alasan berikut adalah, karena Yesus sendiri telah melakukan pemuridan semasa pelayanan-Nya di dunia. Ia memilih beberapa orang untuk dijadikan murid selama Ia melayani di dunia. Begitu pentingnya murid dan pemuridan itu sehingga proses pemilihan didahului dengan doa semalaman (Lukas 6:12). Orang-orang yang akan Dia pilih jadi murid adalah orang-orang yang bukan hanya akan mempelajari mata pelajaran tertentu, melainkan mereka akan mengikuti Dia kemana pun Dia pergi. Mereka akan berada dalam relasi yang dekat dengan Dia. Merekalah yang akan menjadi fondasi dari kelompok orang-orang pilihan Tuhan yang baru. Mereka juga yang kelak akan melanjutkan pelayanan-Nya setelah Ia meninggalkan dunia ini. Orang-orang itu kelak akan menyebarluaskan ajaran Kristus ke seluruh penjuru dunia. Melihat tugas berat dan mulia yang akan mereka pikul kemudian, tak heran bila Yesus menghabiskan waktu semalaman untuk berdoa. Yesus merasa perlu menyelidiki dan mengetahui kehendak Bapa dalam hal itu. Dia tidak ingin memilih hanya berdasarkan pertimbangan dan kehendak-Nya sendiri saja.

Pemuridan penting juga bagi gereja masa kini. Dengan pemuridan, warga gereja diajar bagaimana harus hidup sebagai pengikut Kristus. Dengan pemuridan, orang percaya tahu bahwa dia hidup saleh bukan agar dirinya masuk surga. Dia pun harus sadar bahwa dia harus berbagi kabar baik dengan dunia hingga orang lain dapat mendengar dan menerima anugerah Kristus yang mulia itu. Sehingga makin banyak orang yang bersedia jadi murid-Nya.

Hanya di dalam Injil Lukas kita jumpai ucapan bahagia bagi yang "miskin" dan langsung diikuti peringatan tajam bagi yang "kaya." Hidup si miskin, yang diwarnai kelaparan, kesedihan, dan dicela "karena Kristus," kelak diwarnai kepuasan dan tawa (Lukas 6:20-23). Sebaliknya, hidup si kaya, yang ditandai dengan kekenyangan, tawa ria dan pujian, kelak ditandai dengan kelaparan dan tangis (Lukas 6:24-26).

Melalui ajaran ini Yesus membuat pendengarnya tersentak dari kebiasaan cara berpikir dan pola hidup duniawi, yang berbeda drastis dengan prinsip dan pola hidup Kerajaan Allah. Dalam pola hidup dunia, yang kaya bahagia dan yang miskin tersingkir. Tidak demikian halnya di dalam Kerajaan Allah. Di sini Injil diberitakan kepada "orang miskin" (Lukas 4:18-19). Kaya-miskin di dalam Injil Lukas bukan sekadar ukuran ekonomi. Termasuk golongan "miskin" adalah orang-orang yang tersingkir dari masyarakat, baik karena alasan ekonomi maupun bukan: yang cacat tubuh atau jiwa, penderita kusta, pemungut cukai, pelacur. Ucapan bahagia berisi kata-kata pengharapan dan penghiburan bagi mereka, dan bagi siapa saja yang menerima pelayanan Yesus. Mereka semua dirangkul dan dipulihkan, jasmani dan rohani.

Kepada yang kaya Yesus pada dasarnya mengingatkan akan bahaya kekayaan, bahwa ia senantiasa menghadirkan godaan untuk menemukan pegangan hidup dan rasa aman di luar Tuhan (bdk. 8:14; 12:13-21). Kekayaan juga cenderung menimbulkan ketidakpedulian terhadap kebutuhan sesama (bdk. 16:19-31; 18:22). Yesus tidak mengecam kekayaan; Ia sendiri menerima dukungan bagi pelayanan-Nya dari murid-murid yang kaya (bdk. 8:1-3; 23:50-56a). Kekayaan itu sendiri tidak jahat, tetapi harus diwaspadai karena ia dapat menguasai kita jika ia tidak dikuasai dan dikendalikan. Inilah inti peringatan Yesus.

Renungkan: Rencana penebusan Allah di dalam Kristus menjangkau semua lapisan masyarakat, miskin maupun kaya.

Sekali lagi mereka yang "mendengarkan" Yesus (Lukas 6:27; bdk. 6:18, 45-49) dikejutkan dan ditantang untuk menganut pola hidup dan peri laku yang mencerminkan nilai-nilai kerajaan Allah yang ditandai oleh sikap radikal, "mengasihi musuh" (Lukas 6:27a; 32; 35a). Sikap ini diwujudkan dalam dua tindakan konkret. Yang pertama ialah "berbuat baik" -- bukan secara pasif melainkan secara proaktif di tengah serangan dan permusuhan terhadap kita: berbuat baik, memberkati, mendoakan, memberikan pipi yang lain, bahkan jubah dengan bajunya juga (Lukas 6:27b-29; 33; 35b).

Yang kedua ialah "memberi" atau "meminjamkan" dengan ikhlas "tanpa mengharapkan balasan" (Lukas 6:30; 34; 35c; 38). Inilah implikasi dari ucapan bahagia: pengikut Yesus dipanggil untuk membentuk suatu umat, warga Kerajaan Allah, yang ciri utamanya ialah tidak memperlakukan orang lain (khususnya mereka yang "membenci, mengucilkan, mencela dan menjelekkan" kita) sebagai musuh. Yang Yesus minta dari murid-murid-Nya ialah menerima nilai-nilai yang memutarbalikkan tata cara dunia sosial mereka.

Pola hidup dan perilaku ini haruslah berakar pada karakter Allah sebagai Bapa yang murah hati (Lukas 6:36), termasuk kepada mereka "yang tidak tahu berterima kasih dan jahat" (Lukas 6:35). Orang-orang semacam ini lazim kita pandang sebagai "musuh." Kemurahan hati Allah itu harus kita terjemahkan pula dalam tindakan tidak menghakimi tetapi mengampuni, tidak menonjolkan kesalehan sendiri dengan menekankan kekurangan orang lain (Lukas 6:37; 41-42). Kemurahan hati Allah yang berlimpah diibaratkan seperti pedagang di pasar yang tidak pelit, melainkan mengisi takaran atau timbangannya penuh-penuh, bahkan meluap ke luar (Lukas 6:38). Demikianlah cara Allah Bapa memperlakukan anak-anak-Nya, yang dalam peri laku mereka terhadap sesama meneladani karakter-Nya.

Renungkan: Sama seperti Allah dengan murah hati meng-anugerahkan pengampunan dan penebusan dari dosa di dalam Kristus, demikianlah hendaknya anak-anak-Nya.

Rangkaian pengajaran Yesus kepada para murid-Nya ditutup dengan dorongan untuk menghasilkan buah sebagai tanda kesejatian kemuridan mereka. Tak ada cara lain untuk menunjukkan kesejatian itu kecuali hidup yang bisa dilihat, sebagai kesaksian benar akan Kristus, dan dirasakan, sebagai perwujudan nyata kasih Kristiani.

Yang baik selalu melahirkan yang baik pula (Lukas 6:43-44), ini prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar. Sungguh menyedihkan dan terbukti palsu kalau mulut mengatakan hal-hal manis, tetapi hati penuh kedengkian dan kejahatan. Paling-paling hanya sesaat kesaksian palsu itu bertahan. Ketika tekanan datang, segera kelihatan belangnya.

Ilustrasi yang Yesus pakai di akhir rangkaian pengajaran-Nya ini sungguh tepat untuk membongkar kepalsuan yang ada dan meneguhkan kesejatian murid Tuhan. Hanya murid Tuhan sejati, yang fondasi kehidupannya dibangun berdasar pada firman Tuhan, yang akan bertahan menghadapi badai kehidupan (Lukas 6:47-48). Sebaliknya, seseorang yang mengaku murid Tuhan, yang mulut bibirnya menyebut-nyebut Tuhan, akan terbukti kepalsuannya melalui dua hal. Pertama, ia tidak melakukan firman Tuhan. Lain mulut dengan perbuatan. Mengapa demikian? Karena firman Tuhan tidak ada dalam kehidupannya. Fondasi hidupnya bukan firman Tuhan, melainkan pada kekosongan atau hal-hal lain yang tidak benar. Akibatnya, kedua, ketika badai kehidupan menerpa dirinya, bangunan hidupnya dan kesaksian palsunya, akan roboh dan rusak berat.

Hal pertama yang harus Anda evaluasi dalam hidup ini, adalah bukan penampilan Anda sudah Kristen atau belum. Yang utama adalah apakah Kristus dan firman-Nya menjadi dasar hidup Anda. Ingat kemuridan Anda sejati atau palsu, akan terbukti saat kesulitan menerpa hidup Anda.

Camkan: Jangan tunggu sampai hidup Anda hancur-hancuran. Segera jadikan Kristus dan firman-Nya fondasi hidup Anda!

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)