Lukas 8 (MAD2T*Mlm*26 Jan*Tahun 1)
Lukas 8
Penjelasan Singkat
anak perempuan Yairus dibangkitkan
Isi Pasal
Yesus mengajar dan menyembuhkan di Galilea. Perumpamaan tentang penabur, pelita. Meredakan angin ribut. Setan diusir dari seseorang di Gedara. Menyembuhkan seorang perempuan. Membangkitkan anak Yairus.
Judul Perikop
Perempuan-perempuan yang melayani Yesus (8:1-3)
Perumpamaan tentang seorang penabur (8:4-15)
Perumpamaan tentang pelita (8:16-18)
Yesus dan sanak saudara-Nya (8:19-21)
Angin ribut diredakan (8:22-25)
Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa (8:26-39)
Yesus membangkitkan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan (8:40-56)
Tafsiran: "Ikut arus" dipakai juga sebagai istilah bagi orang yang cari aman dengan tidak mau menentukan sikap sendiri. Seolah dengan bersikap demikian, ia tidak akan dituntut pertanggungjawaban. Namun orang yang pernah mengalami kuasa Tuhan atau mendengar suara Tuhan tidak bisa bersikap seperti itu. Harus ada respons pribadi!
Perempuan-perempuan yang bersama Yesus pada waktu itu adalah orang-orang yang telah mengalami kuasa Yesus. Respons mereka terhadap Yesus dinyatakan dengan melayani rombongan-Nya yang sedang berada dalam perjalanan pelayanan (Lukas 8:1-3).
Lalu melalui perumpamaan seorang penabur, Yesus mengungkapkan bahwa respons orang terhadap firman-Nya tidaklah sama. Yang dimaksud adalah bagaimana orang memberi kesempatan kepada benih firman untuk bertumbuh dan berbuah dalam hidupnya. Akan terbukti kemudian bahwa dalam hati beberapa orang benih firman tidak pernah mendapat kesempatan untuk berkecambah (Lukas 8:5, 12). Di hati orang yang lain pertumbuhan benih firman terhalang karena mereka tidak dapat tabah serta mudah goyah oleh pencobaan (Lukas 8:6, 13). Ada juga hati orang yang dipenuhi kekuatiran atau kekayaan dan kenikmatan hidup. Akibatnya, benih firman Tuhan terhimpit (Lukas 8:7, 14) padahal sebelumnya ada potensi untuk berbuah. Meskipun demikian, masih ada orang yang merespons firman Tuhan lalu menaatinya. Ia tekun, karena itu imannya bertumbuh dan menghasilkan buah (Lukas 8:8, 15).
Kalau diminta memilih maka kita tentu ingin memiliki respons yang positif dari hati yang baik dan iman yang berbuah. Tetapi respons semacam itu bukan terjadi begitu saja tanpa melewati tantangan atau pencobaan. Justru karena memiliki ketahanan dan keteguhan iman dalam menghadapi semua itu maka iman jadi bertumbuh serta berbuah.
Renungkan: Respons kita terhadap Tuhan teruji melalui semua kesulitan dan kesenangan hidup yang kita alami agar iman kita bertumbuh dan berbuah.
Perkataan Yesus bagaikan pelita yang diletakkan di atas kaki dian (Lukas 8:16). Tujuannya, untuk menyatakan kebenaran Allah, bukan untuk menyembunyikannya. Selain itu, terang juga menyatakan dosa. Karena kedua fungsi ini, tidak ada orang yang bisa bersikap netral. Entahkah menjadi taat dan semakin dekat dengan Tuhan atau menolak, dan itu berarti menipu diri sendiri. Namun jika kita mendengarkan firman dengan saksama dan menyelidikinya maka kita akan menerima lebih banyak. Jika kita mendengarkan secara dangkal, apa yang kita kira kita miliki malah akan diambil (Lukas 8:18).
Yesus juga menjelaskan bahwa kunci relasi dengan Dia bukan didasarkan pada hubungan kekeluargaan atau hak istimewa lainnya, melainkan ketaatan pada firman Allah (Lukas 8:19-21). Dalam hal ini, Yesus bukannya tidak mengakui ikatan keluarga atau kewajiban bagi keluarga. Namun hak istimewa untuk dekat dengan Yesus terbuka bagi setiap orang yang taat pada-Nya.
Selanjutnya, kisah pelayaran Yesus dengan murid-murid-Nya
ke seberang danau akan menjadi kisah ketiadaan iman para murid. Taufan yang membuat perahu kemasukan air mengakibatkan para murid ketakutan (Lukas 8:23). Yesus bangun dari tidur lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu. Dalam sekejap, angin dan air pun berhenti mengamuk. Tindakan menenangkan air dan angin yang dilakukan oleh Yesus mengejutkan para murid, bahkan lebih mengejutkan dibandingkan taufan itu sendiri (Lukas 8:25). Yesus tidak mengkritik kemampuan para murid dalam berlayar di tengah taufan, tetapi Ia menegur mereka karena kurangnya iman. Itu berarti para murid tidak mengakui Dia sebagai Anak Allah dan Pencipta alam semesta ini.
Bagi pengikut Kristus masa kini pun, iman sama pentingnya. Hanya oleh iman kita diselamatkan dari dosa kita. Di dalam iman pula kita hidup dan apa yang tidak berdasarkan iman adalah dosa. Namun perhatikanlah, iman tidak serta merta membuat kita lepas dari badai kehidupan karena melalui badai itulah, Tuhan justru ingin melihat iman kita. Ingatlah, tanpa iman tidak mungkin kita menyenangkan hati Allah.
Kehadiran dan karya Yesus ternyata dapat menimbulkan rasa takut. Yang aneh, rasa takut itu muncul juga pada diri setan-setan, yang biasanya ditakuti manusia. Manusia pun bisa takut pada dampak karya dan kuasa Yesus. Kedengarannya aneh, tetapi itulah yang terjadi.
Setan-setan yang merasuki diri seorang Gerasa membuat orang itu hidup liar seperti hewan. Ia tidak berpakaian, tinggal di pekuburan, dirantai dan dibelenggu, juga pergi ke tempat-tempat sunyi (27, 29). Setan-setan itu juga memampukan dia untuk memutuskan semua ikatan. Ketika melihat Yesus, setan-setan mengenali identitas-Nya. Mereka tahu siapa Yesus. Itu sebabnya mereka sangat ketakutan kalau-kalau Yesus melakukan sesuatu atas mereka (28, 31). Namun bagi Yesus, jiwa manusia jauh lebih berharga. Dia tidak mengizinkan setan mana pun menguasai manusia. Sebab itulah Dia datang ke dunia, yaitu untuk membebaskan manusia dari ikatan dengan kuasa jahat. Maka Yesus pun mengusir mereka dari orang Gerasa itu.
Pulihnya si orang Gerasa dari kerasukan, ternyata memunculkan ketakutan di pihak lain. Orang banyak yang mendengar kisah itu lalu penasaran dan mendatangi Yesus. Di situ mereka melihat orang yang semula kerasukan itu sudah pulih. Bukannya senang, mereka malah merasa takut (35, 37). Akibatnya mereka mengusir Yesus keluar dari daerah mereka.
Sungguh tragis bila orang lebih takut pada apa yang akan Yesus lakukan dalam hidup mereka dibanding dengan apa yang setan lakukan. Ada yang khawatir bila Yesus mengubah banyak hal dalam diri mereka, atau meminta mereka memutuskan ikatan dengan berbagai hal yang sudah menjadi bagian hidup mereka. Buat orang semacam itu, adalah lebih baik bila Yesus menjauh dari hidup mereka. Mereka tak mau Yesus intervensi dan mengutak-atik hidup mereka.
Adakah rasa takut semacam itu dalam diri Anda? Atau sudahkah Anda membuka diri Anda seluas-luasnya pada karya Yesus, meskipun untuk itu Anda harus bayar harga dengan meninggalkan semua yang tidak Dia perkenan? Kiranya Tuhan memampukan kita.
Berita tentang Yesus dan apa yang dilakukan-Nya mendorong banyak orang dengan berbagai kepentingan, datang kepada-Nya. Yairus, pemimpin rumah ibadat adalah salah seorang yang menghampiri dan memohon pertolongan Yesus untuk menyembuhkan anak perempuan tunggalnya yang sakit keras. Namun, perjalanan menuju rumah Yairus tertunda oleh peristiwa yang melibatkan seorang wanita penderita penyakit pendarahan selama 12 tahun. Wanita yang tersisih dan dianggap najis oleh masyarakat karena penyakit yang dideritanya itu, secara sembunyi-sembunyi menyentuh jumbai jubah Yesus dengan harapan memperoleh kesembuhan. Timbul kesan bahwa wanita itu percaya pada hal-hal magis. Tapi Yesus sama sekali tidak menangkap kesan itu, sebab kuasa yang menyembuhkan itu tidak bergantung pada atribut yang dipakai-Nya. Kuasa-Nya sepenuhnya berada di bawah kontrol-Nya. Selanjutnya Yesus menyuruh wanita itu menyatakan diri agar Dia dapat menuntaskan proses kesembuhan dengan memulihkan harga diri, harkat dan martabatnya.
Bagaimana dengan tujuan Yesus mengunjungi anak perempuan Yairus yang sedang kritis? Penundaan kedatangan Yesus, ternyata meluluhlantakkan harapan Yairus agar anaknya memperoleh kesembuhan. Tapi keterlambatan ini tidak menunda maksud kedatangan Yesus, bahkan sebaliknya, ia dapat menyatakan kuasa kebangkitan-Nya kepada anak Yairus.
Kedua kisah ini mengungkapkan kepada kita beberapa hal: (Lukas 8:1) Kuasa Yesus tidak terdapat dalam atribut-atribut yang dipakai-Nya atau benda-benda yang berhubungan dengan-Nya. Kuasa yang mampu menyembuhkan itu adalah mutlak bersumber dari diri-Nya. (Lukas 8:2) Waktu dan maut bertekuk lutut kepada-Nya. Manusia menganggap bahwa untuk menyembuhkan penyakit pendarahan menahun saja sulit, apalagi untuk menghidupkan kembali anak perempuan Yairus yang telah meninggal dunia. Akan tetapi bagi Yesus sesuatu yang dianggap terlambat atau mustahil dapat di pulihkan-Nya kembali.
Renungkan: Kuasa Yesus bukan terletak pada benda atau atribut yang pernah dipakai-Nya. Kuasa-Nya terletak pada diri-Nya. Bila kita ingin mengalami kuasa-Nya, kita harus datang kepada Dia, bukan melalui segala benda yang dianggap memiliki kuasa-Nya secara magis.