Lukas 9 (MAD2T*Pagi*27 Jan*Tahun 1)

Lukas 9

Penjelasan Singkat
Cara Memperoleh Hidup Kekal

Isi Pasal
Dua belas rasul diutus untuk mengajar dan mereka kembali. 5000 orang diberi makan. Pengakuan Petrus tentang Kristus. Transfigurasi. Murid-murid yang tidak berkuasa dan iblis menunggangi seorang anak laki-laki. Teguran Yesus terhadap sektarianisme/kepicikan. Ujian pemuridan.

Judul Perikop
Yesus mengutus kedua belas murid (9:1-6)
Herodes dan Yesus (9:7-9)
Yesus memberi makan lima ribu orang (9:10-17)
Pengakuan Petrus (9:18-21)
Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia (9:22-27)
Yesus dimuliakan di atas gunung (9:28-36)
Yesus mengusir roh dari seorang anak yang sakit (9:37-43)
Pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus (9:43-45)
Siapa yang terbesar di antara para murid (9:46-48)
Seorang yang bukan murid Yesus mengusir setan (9:49-50)
Yesus dan orang Samaria (9:51-56)
Hal mengikut Yesus (9:57-62)

Tafsiran: Seperti murid-murid sekolah yang harus menjalani ujian setelah belajar beberapa waktu lamanya, seperti itulah murid-murid Yesus pada waktu itu. Tiba saat mereka harus dilatih untuk melayani, seperti yang telah dilakukan dan diajarkan oleh Yesus, Guru mereka.

Murid-murid memang harus dipersiapkan sebab akan tiba saat mereka sendiri turun melayani, yaitu saat Yesus tidak bersama mereka lagi secara fisik, yakni saat Dia kembali kepada Bapa. Sebab itu Yesus melepas mereka pergi tanpa diri-Nya untuk memberitakan kabar baik bahwa kerajaan Allah telah datang, dan juga untuk menyembuhkan. Namun Yesus telah terlebih dahulu memperlengkapi mereka dengan kuasa atas setan-setan dan atas segala penyakit, karena kuasa itulah yang akan memampukan mereka melayani.

Akan tetapi, mereka tidak diizinkan membawa bekal dan perlengkapan untuk bepergian. Dalam hal ini mereka tidak boleh mengkhawatirkan kebutuhan pribadi mereka. Mereka harus percaya bahwa Tuhan akan menyediakan apa yang mereka butuhkan, melalui orang yang menyambut pemberitaan mereka. Mereka juga harus mengimani bahwa kuasa Injil bekerja melalui pemberitaan dan mukjizat yang mereka lakukan. Selain latihan iman, perjalanan itu juga merupakan latihan iman. Pada saat itu mereka harus jadi murid yang taat pada perintah Guru mereka. Ya, jika mereka tidak beriman bagaimana mungkin mereka mengajar orang beriman? Jika mereka tak mampu jadi murid, bagaimana bisa mereka mendorong orang lain menjadi murid Tuhan?

Sebagai murid Tuhan masa kini, latihan beriman dan memercayakan diri pada Tuhan, juga tertuju pada kita. Dalam kondisi normal, memercayai Tuhan adalah ide yang indah. Namun dalam kondisi tanpa sumber-sumber yang biasa kita pakai untuk memenuhi kebutuhan kita, maka memercayakan diri pada Tuhan bisa jadi latihan iman yang luar biasa. Bila Anda sedang mengalami ujian semacam itu, maka beriman pada Tuhan adalah jalan satu-satunya. Niscaya Tuhan memampukan dan memberi kuasa untuk menghadapinya.

Bukan cuma Herodes yang mencari Yesus. Orang banyak pun mencari Dia. Inilah respons mereka terhadap pemberitaan Kerajaan Allah.

Kelaparan rohani mereka demikian dahsyat, sehingga mereka terus mengikut Yesus. Mereka ingin menikmati penggenapan janji Perjanjian Lama akan kehadiran Kerajaan Allah melalui Yesus (sebagai antisipasi atas pengakuan Petrus pada Luk. 9:20). Namun, Ia tidak hanya peduli dengan kelaparan rohani yang menimpa kaum papa Israel yang menderita di bawah penjajahan Romawi. Ia memberikan kesembuhan fisik bagi mereka yang sakit. Dan ketika para murid memohon agar Yesus menyuruh orang banyak mencari makan sendiri, Ia justru menyuruh para murid memberi mereka makan! Ketika mereka tidak sanggup, barulah Yesus bertindak.

Kita kerap dibutakan oleh kedahsyatan sisi mukjizat dari peristiwa ini (sisa dua belas bakul!) dan lalai memperhatikan aspek sosial dari nas ini. Walau firman Allah adalah yang utama, manusia tetap butuh roti. Orang-orang Galilea yang dilayani Yesus waktu itu hidup dalam kondisi berkekurangan. Hidup sebagai orang yang takut akan Tuhan kerap berimplikasi jadi orang miskin dan lapar (lih. Luk. 6:20-21). Yesus datang bukan hanya untuk 'mengenyangkan' jiwa dengan 'makanan' rohani bergizi, tetapi untuk menebus kita secara utuh sebagai bagian dari penggenapan rencana keselamatan-Nya.

Gereja adalah tubuh Kristus, yang dipanggil untuk menyatakan Kabar Baik tentang kehadiran Kerajaan Allah di dunia. Kita bukan cuma hasil dari misi Kristus, tetapi juga mitra-Nya dalam misi ini. Kelaparan yang terjadi di Galilea waktu itu terjadi juga di negeri kita. Karena itu, demi kemuliaan-Nya, jawaban kita atas pertanyaan Tuhan seharusnya lebih dari lima roti dan dua ikan.

Renungkan: Kapan terakhir kali pelayanan dan respons syukur kita dinikmati oleh saudara kita yang lapar?

Sudah berapa lamakah kita menjadi orang percaya? Apakah selama ini kita telah sungguh-sungguh mengenal siapa Yesus, sehingga kita dapat memberikan jawaban yang benar dan tepat ketika orang bertanya tentang Yesus?

Pada bagian ini kita membaca tentang Yesus yang mengajukan pertanyaan kepada murid-murid-Nya: "Kata orang banyak siapakah Aku?" Para murid memberikan banyak alternatif jawaban kepada Yesus (Lukas 9:19). Kembali Yesus bertanya kepada para murid. Kali ini lebih spesifik: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" (Lukas 9:20a). Bila sebelumnya banyak murid yang berlomba menjawab, kali ini hanya Petrus yang memberikan jawaban kepada Yesus (Lukas 9:20b).

Pertanyaan Yesus kepada murid-murid mengenai siapa diri-Nya, berhubungan erat dengan apa yang Dia sampaikan setelah itu. Yesus memberitahu tentang segala sesuatu yang akan menimpa diri-Nya (Lukas 9:22-27). Dengan kata lain, Yesus memberikan dasar atau alasan bagi semua hal yang akan Dia alami, yakni karena Dia adalah Mesias dari Allah, seperti yang dikatakan oleh Petrus.

Penolakan dan aniaya yang akan dijalani oleh Yesus merupakan "konsekuensi" dari eksistensi-Nya sebagai Mesias. Banyak orang yang menolak hal ini, termasuk para tua-tua dan ahli-ahli Taurat (Lukas 9:22) karena mereka menciptakan konsep Mesias berdasarkan pandangan mereka sendiri. Apa yang dialami Yesus juga akan dialami oleh para murid dan pengikut-pengikut-Nya (Lukas 9:23-24). Keyakinan yang kuat tentang siapa Yesus, akan menjadi kekuatan bagi murid-murid Yesus untuk bertahan dalam penderitaan dan aniaya yang harus mereka tanggung kelak.

Lalu bagaimana dengan kita selaku pengikut Kristus saat ini? Sudah jelaskah bagi kita siapakah Yesus Kristus, yang kita sebut sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam setiap pengakuan iman kita? Kiranya kita tidak meragukan kebenaran bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Dengan meyakini hal itu, dengan mengenal Dia semakin dalam dari hari ke sehari melalui persekutuan pribadi dengan Dia, kita akan siap membayar harga dalam perjalanan kita mengikut Dia dengan memikul salib.

Untuk siapakah peristiwa pemuliaan Tuhan Yesus ditujukan? Untuk Yesus yang sudah jelas akan panggilan-Nya untuk menderita dan mati sebelum bangkit kembali? Atau untuk para murid, yang dipanggil untuk pikul salib?

Pengakuan Petrus yang mewakili para murid bahwa Tuhan Yesus ialah Mesias, tidak serta merta berarti mereka mengerti misi Mesianik Yesus yang harus menderita dan bahkan bahwa mereka pun harus siap memikul salib. Justru di tengah ketidakmengertian itulah pemuliaan Yesus menjadi peneguhan bagi mereka bahwa Dia memang Mesias yang dijanjikan Allah sejak Perjanjian Lama.

Musa, pemberi hukum Taurat dan Elia, sang nabi mewakili dua bagian utama dari Alkitab Perjanjian Lama (bdk. Luk. 24:44). Kehadiran mereka bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus mengenai misi-Nya ke Yerusalem dalam penglihatan yang dilihat oleh Petrus, Yohanes, dan Yakobus merupakan peneguhan bagi ketiganya atas apa yang Yesus sudah beritahukan kepada mereka, bahwa Mesias memang harus ke Yerusalem untuk mati di sana bagi keselamatan.

Mereka belum mengerti dengan benar bahwa tujuan penglihatan itu ialah untuk menguatkan mereka. Petrus malah mengusulkan untuk membuat kemah bagi ketiga tokoh utama itu (Lukas 9:33). Kemah mengingatkan kita akan hari raya pondok daun, saat umat Israel tinggal di kemah untuk merayakan berkat Tuhan melalui keberhasilan panen (Ul. 16:13-15). Petrus merasa bahwa penglihatan itu begitu bagus, sehingga kalau boleh berlama-lama menikmati suasana ?surgawi? tersebut. Suara Allah, "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia" (Lukas 9:35) yang menyadarkan mereka bahwa penglihatan ini untuk mengingatkan mereka agar taat kepada Tuhan Yesus.

Momen seperti pemuliaan Kristus penting dalam perjalanan pemuridan kita. Saat langkah menjadi berat karena tantangan yang dihadapi, maka merasakan persekutuan dan kehadiran Sang Ilahi menjadi penguat asa dan semangat. Tentu, tidak boleh lama-lama apalagi terlena. Masih ada tugas menanti.

Semua orang mendambakan pengalaman sensasi surgawi seperti yang dialami ketiga murid terdekat Yesus. Pengalaman itu paling sedikit membuat percaya diri naik, bahwa Tuhan mereka ialah Mesias sejati. Semangat dan ketekunan pelayanan seharusnya meningkat oleh karena momen sesaat seperti itu.

Pengalaman sensasi surgawi itu tidak dialami oleh para murid lainnya. Mereka justru menghadapi kenyataan pahit kegagalan menjadi berkat buat orang-orang yang sudah menaruh percaya kepada Yesus. Mengapa para murid gagal, padahal pasti sudah berupaya menirukan apa yang Guru mereka telah ajarkan dan teladankan? Teguran Yesus jelas ditujukan kepada mereka yang kurang sungguh-sungguh percaya dan bersandar pada kuasa-Nya (Lukas 9:41). Orang tua ini justru beriman kepada Yesus, dan Yesus bertindak seturut iman mereka dengan menyembuhkan anak itu.

Yang menarik dari kisah ini ialah, saat orang banyak merasa takjub akan kebesaran Allah yang didemonstrasikan Yesus, Yesus sekali lagi memberitahu para murid-Nya akan penolakan dan penderitaan yang akan Ia alami di depan (Lukas 9:44). Demonstrasi kuasa Ilahi yang Yesus perbuat tidak serta membuat orang yang menyaksikannya percaya. Kelak, orang-orang seperti itulah yang akan menyerahkan Dia untuk disalib. Yesus mengingatkan para murid agar jangan terjebak dengan demonstrasi kuasa iman yang pasti mereka bisa alami kalau mereka sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Tugas mereka jauh lebih besar daripada menyatakan kuasa kesembuhan ilahi. Tugas mereka ialah mewartakan karya keselamatan yang dilakukan Kristus lewat kematian dan kebangkitan-Nya (bdk. 1Kor. 15:1-4).

Sebagai murid, kita juga harus menyadari bahwa taat dan percaya kepada Yesus bukan hanya berarti akan mengalami kuasa-Nya yang sanggup membuat mukjizat yang memberkati sesama. Akan tetapi juga berarti sedia taat kepada Tuhan yang sudah menderita di salib, dan siap pula untuk ikut menderita bersama dan demi Dia. Siapkah Anda?

Perikop kita hari ini merupakan catatan terakhir pelayanan Tuhan Yesus di Galilea. Sadar waktu-Nya tidak lama lagi untuk mempersiapkan para murid-Nya, Yesus mulai menujukan arah perjalanan-Nya ke Yerusalem (Lukas 9:51). Para murid sudah dipersiapkan untuk itu (Lukas 9:22-27, 44-45). Sayangnya mereka belum sepenuhnya mengerti, apalagi memberi dukungan moral kepada Guru mereka! Mereka memiliki motivasi yang salah dalam mengikut Dia. Motivasi mereka bersifat egosentris.

Buktinya ialah mereka saling memperebutkan kedudukan untuk mendampingi Yesus. Yesus membandingkan mereka dengan seorang anak kecil, untuk menunjukkan bahwa orientasi yang egosentris tidak akan menghasilkan apa-apa. Sebaliknya, menyambut seorang anak kecil, berarti mengarahkan perhatian keluar dari diri sendiri. Sikap seperti inilah yang harus dibangunkan dalam diri seorang murid Tuhan.

Sikap eksklusif mereka dengan menolak orang lain yang mengusir roh jahat dalam nama Yesus merupakan contoh egosentrisme. Artinya, Yesus hanya untuk mereka, merekalah yang berhak mengatasnamakan diri-Nya untuk melakukan pelayanan. Pelayanan bukan demi Dia dan demi orang yang membutuhkannya, melainkan demi kemuliaan diri sendiri.

Sikap keras yang ditunjukkan Yohanes dan Yakobus terhadap penduduk satu kota di Samaria yang menolak menerima Yesus semakin memperjelas eksklusivisme para murid. Memang Yesus sendiri memberikan petunjuk kelak bagaimana bersikap ketika ada kota atau masyarakat yang menolak pemberitaan mereka (Lukas 10:10-12), akan tetapi tidak dalam bentuk penghukuman langsung melainkan peringatan keras.

Seperti para murid perlu belajar merendahkan diri dengan berfokus pada Kristus, belajar memurnikan motivasi mereka, demikian juga kita. Dunia selalu menggoda kita untuk fokus kepada diri sendiri, tetapi ingat kita sudah ditebus dari perbudakan dosa dan daya tarik dunia untuk mengabdikan diri pada Kristus. Dan demi Kristus, kepada sesama.

Kembali kita bertemu dengan pembentukan Tuhan bagi para pengikut-Nya. Misalnya, dalam pasal 9 ada suatu hal yang mengejutkan. Nama Nabi Elia disebutkan 3 kali (ay. 8, 19, 30). Permintaan Yakobus dan Yohanes dalam ay. 54 sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Elia (lht. 2Raj. 1:9-12). Memang mereka berdua menyaksikan Elia dan Musa datang kepada Yesus pada 9:28-36. Lalu, apa yang salah dengan inisiatif mereka? Mengapa Yesus justru menegur mereka?

Dua perikop yang kita renungkan hari ini, sama-sama menggarisbawahi hal mengikut Yesus, yang menuntut penyesuaian yang drastis dan radikal. Ini diejawantahkan dalam dua poin utama. Yang pertama, bukan nafsu menghukum dan membinasakan yang harus dijiwai seorang pemberita Kerajaan Allah, tetapi hasrat berkobar-kobar untuk memberitakan Kabar Baik-Nya. Karena misi itu sedemikian genting, si pemberita Kabar Baik harus merespons penolakan dengan menyerahkannya kepada Tuhan dan terus melaksanakan pelayanannya itu. Walau kita berada di pihak yang benar, kita tidak punya hak untuk membinasakan begitu saja yang bersalah. Kedua (Lukas 9:57-62), memberitakan Kabar Baik selalu mengandung implikasi. Di sini kita tidak boleh memahami hiperbola yang disampaikan Yesus secara harfiah. Pesan yang disampaikan Yesus adalah prioritas karya Kerajaan Allah selalu melampaui hal-hal lain betapa pun pentingnya. Contoh: kewajiban memberitakan Kabar Baik selalu lebih utama dari kewajiban keluarga (Lukas 9:59).

Nas ini tidak berarti kita tidak boleh menguburkan ayah kita (atau anggota keluarga lain) bila ia meninggal. Nas ini justru menantang kita bahwa mengikut Yesus tidak jarang akan membuat kita berlawanan dengan berbagai hal yang selama ini kita pahami sebagai "kewajiban keluarga." Para murid Yesus harus menata prioritas hubungannya.

Renungkan: "Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya" (Luk. 9:24).

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)