Markus 10 (MAD2T*Mlm*19 Jan*Tahun 1)
Markus 10
Penjelasan Singkat
Anak-anak dibawa kepada Kristus
Isi Pasal
Ketetapan Yesus tentang perceraian. Berkat atas anak-anak kecil. Orang muda yang kaya. Keinginan Yakobus dan Yohanes untuk menjadi yang terbesar. Bartimeus dapat melihat.
Judul Perikop
Perceraian (10:1-12)
Yesus memberkati anak-anak (10:13-16)
Orang kaya sukar masuk Kerajaan Allah (10:17-27)
Upah mengikut Yesus (10:28-31)
Pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus (10:32-34)
Permintaan Yakobus dan YohanesBukan memerintah melainkan melayani (10:35-45)
Yesus menyembuhkan Bartimeus (10:46-52)
Tafsiran: Salah satu topik penting yang terus dibicarakan dan diperdebatkan di kalangan Kristen adalah perceraian. Dari dulu, gereja menggumuli bagaimana mengatasi persoalan ini. Namun, persoalan ini semakin pelik dan sulit dicarikan titik temunya karena masing-masing gereja memiliki persepsi sendiri. Bagaimana Alkitab memandang hal ini?
Dengan tujuan hendak menguji apakah Yesus sepandangan dengan Musa, orang Farisi bertanya tentang perceraian. Namun usaha pengujian ini menjadi sia-sia karena ternyata Yesus justru balik bertanya mengenai apa yang Musa perintahkan. Kemungkinan besar, Yesus sudah tahu maksud orang-orang Farisi yang ingin mengadunya dengan pandangan Musa. Tetapi, orang-orang Farisi itu tidak menjawab apa yang diperintahkan tetapi apa yang diperbolehkan Musa. Memang, menurut Ulangan 24:1, Musa memperbolehkan perceraian dengan syarat ada surat perceraian. Yesus tidak menyangkal hal itu, tetapi ketentuan itu diberikan bukan berdasarkan perintah Allah, yang diberikan sejak awal penciptaan, tetapi untuk memuaskan kedegilan hati orang-orang zaman itu.
Yesus menjelaskan dua hal penting tentang cita-cita Allah menciptakan laki-laki dan perempuan (lih. Kej. 1:27 dan 2:24). Pertama, pernikahan adalah rencana Allah. Di dalamnya laki-laki dan perempuan hidup dalam suatu persekutuan yang tak terpisahkan, saling berbagi, saling mengisi, saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan harus berlangsung seumur hidup. Kedua, laki-laki harus meninggalkan ayah dan ibunya untuk menjadi "satu daging" dengan istrinya. Artinya, mereka berada dalam persekutuan hidup yang utuh dan permanen. Karena itu tidak mungkin dipisahkan, bahkan dengan alasan apa pun!
Renungkan: Pernikahan Anda dengan istri atau suami Anda adalah cita-cita Allah untuk Anda. Karena itu peliharalah perkawinan Anda sebagai bentuk syukur Anda kepada Allah.
Mengapa para murid marah kepada orang tua yang hendak membawa anak-anak mereka untuk dijamah Yesus? Bisa jadi karena para murid ini merasa terganggu dengan interupsi anak-anak saat sedang asyik-asyiknya mendapatkan pengajaran Yesus mengenai perceraian. Akan tetapi, alasan mendasar para murid mungkin berkaitan dengan tradisi Yahudi. Orang Yahudi menganggap anak-anak memang tak ada harganya. Anak-anak tidak layak menjadi anggota Kerajaan Allah. Maka mereka pun tidak pantas untuk mengganggu Yesus.
Namun, Tuhan Yesus segera menegur sikap dan pandangan yang keliru dari para murid. Pertama, Allah mengasihi anak-anak sama seperti Ia mengasihi orang dewasa. Anak-anak pun memerlukan Tuhan Yesus dalam hidup mereka. Menghalang-halangi anak-anak untuk datang kepada Tuhan Yesus adalah dosa! Kedua, anak-anak melambangkan kepolosan, keterusterangan, dan kebergantungan. Seperti seorang anak percaya saja apa yang dikatakan dan diajarkan orang dewasa kepadanya, demikian seharusnya iman orang dewasa kepada Allah. Seperti seorang anak yang spontan berseru kepada orang tuanya saat membutuhkan pertolongan, demikian semestinya doa kita kepada Tuhan. Seorang anak menyadari dirinya lemah dan tergantung kepada orang tuanya. Apakah Anda dan saya memiliki ketergantungan seperti itu kepada Tuhan Yesus? Tak heran kalau Yesus berkata, tanpa memiliki sikap seperti seorang anak kecil, tidak mungkin orang dewasa bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah. Serius sekali? Memang demikian! Orang dewasa sering kali sudah dipenuhi dengan berbagai prasangka untuk dapat membuka diri apa adanya menerima anugerah Allah.
Mari tanggalkan semua keraguan kita dan kenakan kerendahan hati serta ketulusan untuk menyambut Allah di dalam Tuhan Yesus. Kalau perlu belajarlah dari anak-anak yang ada di sekeliling kita. Perhatikan dan tiru kepolosan mereka dalam memercayai Tuhan. Hati-hati kalau ada anak-anak yang tidak tulus, jangan-jangan mereka meniru kita yang dewasa dan munafik!
Bila dipandang dari perspektif manusia, keberadaan orang kaya itu pasti mengundang decak kagum orang-orang sekitarnya. Bayangkan saja, orang itu tidak hanya kaya harta duniawi tetapi juga kaya harta surgawi. Bagaimana keberadaan orang tersebut menurut perspektif Yesus? Sungguh di luar dugaan, karena ternyata Yesus mengasihaninya (ayat 21). Menurut Yesus ada satu hal yang tidak dimiliki orang kaya itu, dan satu hal itulah yang justru merupakan hal sentral untuk menjawab pertanyaannya.
Untuk melengkapi kekurangan tersebut Yesus memerintahkan orang kaya itu memberi sebagai bukti bahwa ia mengasihi Allah dan sesamanya (ayat 21b). Melalui perintah ini Yesus ingin menunjukkan bahwa segala kepatuhan kepada Allah harus diwujudkan dalam tindakan konkret, yaitu mengikut Yesus. Dalam mengikut Yesus ada satu pola hidup radikal yang harus ditempuh oleh para pengikut-Nya yaitu rela meninggalkan segala sesuatu, dan hidup di bawah kontrol Allah. Ternyata orang tersebut tidak sanggup mengikuti perintah Yesus. Dia lebih mementingkan harta daripada Allah.
Mampukah harta memberikan kehidupan kekal? Jangankan hidup kekal, kesehatan atau kebahagiaan saja pun tak mampu diberikan oleh harta! Ada dua hal penting yang harus pengikut sejati Kristus camkan. Pertama, barangsiapa mengerti dan memahami perintah Allah ia akan rela meninggalkan segala sesuatu karena dan demi Kristus. Kedua, barangsiapa tidak mengikut Yesus membuktikan bahwa ia tidak dapat memahami perintah Allah, walaupun semua perintah itu telah dilakukannya sejak masa mudanya.
Renungkan: Letak kekayaan dan kesukaan sejati dari orang yang hidupnya tidak terikat pada harta adalah berserah penuh pada Yesus.
Kedudukan dan kemewahan telah menjadi ukuran keberhasilan seseorang. Tak heran jika banyak orang berusaha memperolehnya meski harus menjatuhkan orang lain.
Hal ini dialami oleh murid-murid Yesus karena tidak paham bahwa kemuliaan-Nya harus melalui jalan salib. Di tengah kecemasan dan ketakutan para murid (ayat 1), Yesus memberitahukan untuk ketiga kalinya bahwa Ia harus menempuh jalan salib yaitu jalan penderitaan. Ia akan diserahkan Allah (lihat Kis. 2:23) ke dalam tangan manusia (Mrk. 9:30). Mereka adalah para pemimpin Yahudi dan orang Romawi yang tidak mengenal Allah (ayat 33). Namun cerita tidak berakhir sampai di situ saja. Ia akan bangkit pada hari yang ketiga. Namun murid Tuhan salah memahami pemberitahuan ini. Mereka menganggap Yesus akan menegakkan kerajaan mesianik di sana. Oleh karena itu mereka meminta kedudukan yang tertinggi dalam kerajaan-Nya (ayat 37). Yesus dengan lemah lembut menunjukkan jalan salib penuh penderitaan, yang akan Dia lalui (ayat 38). Meski mereka akan mengalami penderitaan, seperti Guru mereka, tetapi Yesus tidak berhak untuk memberikan kedudukan kepada mereka (ayat 39-40). Allah akan menyediakan bagi orang yang berkenan kepada-Nya (lih. Why. 11:8; 22:12).
Murid-murid lain tidak berbeda. Mereka juga menginginkan kedudukan (ayat 41; lihat Mrk. 9:34). Yesus mengingatkan mereka agar tidak seperti para pemerintah tirani (ayat 42). Sebaliknya mereka harus jadi pemimpin yang menjadi hamba bagi orang lain, seperti teladan Yesus (ayat 43-44). Ia bukan hanya melayani mereka, tetapi juga memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (ayat 44). Inilah paradigma baru tentang pemimpin pelayan dan kemuliaan melalui jalan salib yang harus dipahami dan diterapkan oleh murid-murid-Nya.
Jadi tidak ada kemuliaan tanpa jalan salib dan tidak ada kehormatan tanpa melayani orang lain. Kita yang mau menjadi besar dan terkemuka harus mempunyai hati yang melayani dan mau berkorban. Jangan mementingkan diri sendiri, melainkan layanilah sesama dengan rendah hati.
Seorang pengemis buta yang tidak berharga di mata masyarakat, tetapi ia mengenal Yesus dengan tepat. Dia memanggil Yesus dengan sebutan Anak Daud. Sebutan ini merupakan salah satu konsep perjanjian Allah dengan Israel. (Markus 10:46-48). Dalam masyarakat Yahudi, seseorang yang dipandang tidak terpelajar dan rendah ternyata memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam. Pengemis buta yang bernama Bartimeus tidak minta sedekah dari Yesus, melainkan ia memohon belas kasihan melalui Anak Daud yang telah dijanjikan (Yes. 35:5). Seruan minta tolongnya telah menggangu khalayak ramai yang ada di sekitar Yesus. Mereka menegurnya agar diam Orang-orang lain merasa terganggu (Markus 10:48). Banyak orang berpikir bahwa Yesus tidak peduli dengan orang seperti itu.
Tampaknya keyakinan orang buta ini terhadap Yesus sangat besar. Ketika Yesus memanggilnya, dia tidak merasa ragu atau takut (Markus 10:49-50). Yesus melihat imannya sehingga menanyakan keinginannya. Tanpa ragu pengemis buta ini menyebut Yesus dengan panggilan "Rabuni" yang artinya "Guruku" bahwa dirinya ingin dapat melihat. Yesus mengabulkan permintaannya dan matanya pun celik. Kemudian orang ini mengikuti Yesus (Markus 10:49-52).
Bagi Tuhan, pengenalan mendalam akan diri-Nya jauh lebih penting daripada penampilan luar seseorang yang terkesan religius. Yesus sangat peduli dan mau menolong mereka yang rela memercayakan hidup kepada- Nya. Karena itu, orang yang sungguh beriman tidak perlu ragu dan takut saat datang di hadirat-Nya. Tuhan mengerti keinginan mereka dan akan memberikan sesuai yang mereka butuhkan. Hal ini menjadi peringatan bagi orang- orang Kristen agar memiliki iman yang teguh dalam Tuhan. Selain itu, Tuhan tidak senang apabila kita menghalangi orang lain untuk beriman dan mengandalkan Tuhan. Tuhan lebih senang apabila umat-Nya saling tolong menolong sebagai tubuh Kristus.
Iman yang menyelamatkan adalah yang sungguh-sungguh mengenal dan percaya kepada Tuhan dan janji-Nya! [TNT]