Markus 11 (MAD2T*Pagi*20 Jan*Tahun 1)

Markus 11

Penjelasan Singkat
Pohon Ara yang tidak berbuah

Isi Pasal
Perkenalan resmi tentang Yesus sebagai Raja. Pohon ara yang tandus. Menyucikan Bait Allah. Doa iman. Otoritas Yesus dipertanyakan.

Judul Perikop
Yesus dielu-elukan di Yerusalem (11:1-11)
Yesus mengutuk pohon ara (11:12-14)
Yesus menyucikan Bait Allah (11:15-19)
Pohon ara yang sudah keringNasihat Yesus tentang doa (11:20-26)
Pertanyaan mengenai kuasa Yesus (11:27-33)

Tafsiran: Biasanya acara penyambutan seorang kepala negara dilakukan seremonial yang sangat istimewa. Belum lagi ditambah pasukan pengamanan presiden sampai berlapis-lapis. Mobil yang menjemput presiden pun sudah dipasang anti-peluru dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan untuk keselamatan kepala negara.

Berbeda dengan Yesus masuk ke kota Yerusalem hanya ditemani oleh para murid-Nya. Ia tidak datang dengan ratusan kuda perang dan ribuan pasukan terlatih. Ia datang dengan cara sederhana dengan mengendarai seekor keledai muda yang belum pernah ditunggangi oleh siapapun (Markus 11:2). Keledai ini diperoleh Yesus tertambat di pinggir jalan tanpa ada pemiliknya (Markus 11:3-6). Sewaktu masuk menuju ke Yerusalem, Yesus tidak memakai jubah perang. Keledainya pun hanya dialasi dengan pakaian salah satu murid-Nya (Markus 11:7).

Tentu kedatangan-Nya ke Yerusalem bukan untuk mengobarkan rasa nasionalisme orang Yahudi berperang melawan penjajahan bangsa Romawi. Yesus datang dengan bendera cinta kasih dan kedamaian. Walau Ia adalah Juruselamat dunia, tetapi tujuan dan fokus hidup-Nya tidak pernah bergeser dari kehendak dan rencana Bapa Surgawi. Ia datang untuk menyelamatkan orang berdosa dengan cara memberikan dirinya mati di kayu salib.

Tetapi yang terjadi justru salah penafsiran. Penduduk Yerusalem menyanjung Yesus sebagai Sang Pembebas bangsa Yahudi dengan cara menghamparkan pakaian mereka dan menyebarkan ranting-ranting hijau (Markus 11:8). Seruan mereka memperlihatkan antusiasme bahwa raja bangsa Yahudi telah datang dan akan melepaskan mereka dari belenggu penjajahan serta mengembalikan kejayaan Daud di masa lampau (Markus 11:9-10). Mereka lupa bahwa konsep kerajaan yang diusung Yesus adalah kerajaan yang bersifat rohaniah.

Perang yang diserukan Yesus bukan bersifat politik, melainkan bersifat rohani melawan penguasa angkasa, para penghulu dan roh-roh jahat. Memerangi kuasa si jahat sama artinya menghadirkan kerajaan Allah di bumi. [TG]

Apa yang diharapkan dari sebuah pohon buah? Tentu buahnya. Kita tidak akan mengharapkan semaraknya bunga-bunga dari sebuah pohon buah. Kesukaan melihat bunga di pohon buah adalah karena munculnya harapan bahwa suatu saat bunga itu akan menjelma menjadi buah.

Melihat daun-daun sebuah pohon ara, Yesus berharap menemukan buahnya. Memang saat itu belum musim panen buah ara, tetapi seharusnya sudah ada bakal buah. Bila tidak ada bakal buah berarti pohon itu memang tidak akan berbuah. Lalu apa gunanya? Maka Yesus menjadikan pohon itu sebagai media untuk mengajar murid-murid-Nya. Pohon itu merupakan gambaran tentang ketidakpercayaan orang Israel. Tuhan memang terus mencari buah iman dalam hidup orang Israel saat itu (band. Yer. 8:13; Hos. 9:10; Mi. 7:1). Secara tampak luar, kerohanian orang Israel memang mengesankan. Namun seperti rimbunnya daun pada sebuah pohon buah, kelihatan indah tapi bukan itu yang diharapkan. Tidak ada buah iman yang tampak. Ini munafik namanya.

Tidak adanya buah iman diperlihatkan oleh para pemimpin agama Yahudi yang bertugas mengelola Bait Allah. Mereka tidak mengawasi penggunaan Bait Allah dengan benar, bahkan ikut terlibat dalam penyalahgunaannya. Akibatnya kekhusukan ibadah berganti dengan riuh aktivitas pasar, yang penuh kecurangan karena didorong oleh keinginan mencari keuntungan. Padahal Bait Allah adalah rumah doa dan bukan sarang penyamun. Itulah sebabnya Yesus kemudian menyucikan Bait Allah.

Iman yang hidup dan bertumbuh adalah iman yang berbuah. Buah ditunjukkan bukan melalui banyaknya keterlibatan kita dalam aktivitas kerohanian atau pelayanan. Buah yang menunjukkan pertumbuhan iman yang sehat terlihat melalui tindakan atau perilaku kita. Yaitu ketika kita mendahulukan Allah dan bukan kepentingan diri, ketika kita mendahulukan ibadah dan bukan keuntungan sendiri. Marilah kita periksa iman kita, sehatkah? Bertumbuhkah?

"Percayalah kepada Allah!" itulah perkataan Yesus ketika Petrus seolah takjub melihat pohon ara yang jadi mati akibat kutukan Yesus. Pohon ara itu memang jadi kering sampai ke akar-akarnya (Markus 11:20), padahal sebelumnya Yesus hanya berkata bahwa pohon itu tidak akan berbuah lagi (Mrk. 20:14). Tampaknya Yesus memang menginginkan, jika pohon itu memang tidak berbuah maka sebaiknya pohon itu tidak berdaun juga supaya tidak mengelabui orang.

Pohon ara itu merupakan gambaran orang Yahudi, yang tidak lagi menghasilkan buah dalam kehidupan persekutuan mereka dengan Allah. Mereka memang masih melakukan ibadah, tetapi hanya ritual saja, jadi bersifat kosong, kering, dan tak bermakna. Atau dengan kata lain, munafik!

Di dalam kondisi demikian Allah saja yang dapat menjadi sumber perubahan, meskipun perubahan itu seperti upaya memindahkan gunung. Namun murid Kristus yang sejati akan berdoa (Mat. 6:10). Dengan berdoa, ia dapat mengimani bahwa apa yang dia minta akan dikabulkan karena apa yang didoakan merupakan kehendak Allah. Ia tidak perlu meragukan kemampuan Allah untuk menjawab doa karena Allah mampu melakukan segala sesuatu, yang dianggap tidak mungkin sekalipun.

Akan tetapi, kurangnya iman bukan halangan satu-satunya bagi doa yang efektif. Orang percaya harus mengampuni sesama juga. Kesombongan atau kepahitan yang menyebabkan ketiadaan pengampunan dapat menghalangi doa juga. Bisa saja orang mengira bahwa tiadanya pengampunan merupakan ganjaran terhadap musuhnya. Hati yang keras dan tidak mau mengampuni dapat lebih tinggi dari gunung dan dapat menghalangi karya Allah dalam hidup orang tersebut. Jika kita tidak mau mengampuni maka Allah juga tidak akan mengampuni kita. Jika kita keras hati dan tidak mau mengampuni maka patut dipertanyakan apakah kita telah menerima pengampunan Allah dan menghargai pengampunan itu. Mengampuni saudara-saudara kita merupakan prakondisi agar kita mendapat pengampunan dari Bapa.

Penyucian Bait Allah yang Yesus lakukan (Mrk. 11:15-19) ternyata memancing reaksi imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua. Tindakan Yesus bagai menantang otoritas mereka. Itulah sebabnya mereka seperti orang kebakaran jenggot. Ingin rasanya mereka menangkap Yesus saat itu juga.

Akan tetapi, popularitas Yesus menahan mereka untuk bertindak demikian, setidaknya untuk saat itu. Yang mereka bisa lakukan hanyalah bertanya kepada Yesus tentang otoritas yang Dia miliki hingga berani melakukan pembersihan di Bait Allah (ayat 28). Mereka berharap bahwa jawaban Yesus dapat menjatuhkan reputasi-Nya dihadapan orang banyak. Dan itu bisa menjadi alasan bagi mereka untuk menangkap Dia. Namun Yesus membalikkan situasi. Untuk menelanjangi motivasi mereka yang sebenarnya, Yesus mengajukan pertanyaan tentang Yohanes Pembaptis. Pertanyaan yang membuat para pemimpin Yahudi itu terjebak dalam posisi sulit. Bila mereka mengakui otoritas Ilahi yang Yohanes miliki, itu justru akan melemahkan posisi mereka karena mereka tidak memercayai dia. Namun jika mereka tidak mengakui, maka mereka akan menerima penilaian buruk dari orang banyak. Serba salah. Satu-satunya jalan yang mereka anggap baik adalah menjawab 'tidak tahu'. Respons mereka terhadap jawaban Yesus mengemukakan fakta bahwa para pemimpin Yahudi itu bukan sedang mencari kebenaran. Mereka hanya ingin menangkap Yesus karena telah melangkahi otoritas mereka. Yesus tentu saja tahu bagaimana mengatasi keadaan.

Kisah tersebut merupakan contoh nyata tentang manusia yang tidak mau mengakui kebenaran karena kepentingan diri yang terancam. Gejala ini kita temui juga dalam berbagai situasi di sekitar kita. Masih banyak orang yang tidak rela membiarkan Yesus membongkar-bangkir hidupnya. Masih banyak orang yang terlalu khawatir membiarkan dirinya tersudut oleh kebenaran-kebenaran Yesus karena takut meninggalkan apa yang telah dimiliki dan dijalani. Termasuk orang seperti itu jugakah Anda?

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)