Markus 12 (MAD2T*Mlm*20 Jan*Tahun 1)

Markus 12

Penjelasan Singkat
Janda dan 2 peser miliknya

Isi Pasal
Perumpamaan tentang pemilik yang meminta hasil dari kebun anggurnya. Pertanyaan tentang membayar pajak. Jawaban Yesus kepada orang-orang Saduki. Hukum yang terutama. Persembahan yang sedikit sekali dari janda.

Judul Perikop
Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur (12:1-12)
Tentang membayar pajak kepada Kaisar (12:13-17)
Pertanyaan orang Saduki tentang kebangkitan (12:18-27)
Hukum yang terutama (12:28-34)
Yesus menasihatkan supaya hati-hati terhadap ahli-ahli Taurat (12:38-40)
Persembahan seorang janda miskin (12:41-44)

Tafsiran: "Berani karena benar" tentu bukan slogan yang asing. Namun di zaman yang sinis ini, kita melihat bahwa orang lebih banyak "Berani karena salah". Kepentingan diri lebih patut diutamakan, bagaimana pun cara mencapainya. Bahkan bagi sebagian orang, untung karena berbuat salah lebih sedap ketimbang keuntungan yang diraih secara lurus dan benar.

Para pemimpin agama (Mrk. 11:27) tak bisa menyangkal bahwa Yohanes Pembaptis dan juga Yesus datang "dari sorga" (Mrk. 11:31). Perumpamaan yang disampaikan Yesus di perikop ini pun benar, karena memang merangkumkan karya Allah di dalam Israel dan interaksi-Nya dengan para pemimpin umat yang tidak setia kepada-Nya serta tidak jujur di hadapan umat yang mestinya mereka layani. Tak hanya itu, perumpamaan ini pun secara pedas menjawab pertanyaan mereka di Mrk. 11:28: Yesus datang dari Allah sendiri. Mereka mestinya tersindir dan meminta ampun kepada Allah. Namun mereka justru tersinggung, dan mulai "berusaha untuk menangkap Yesus" (Markus 12:12).

Perumpamaan ini menggarisbawahi kesabaran sekaligus ketegasan Allah menghukum dosa serta kekurangajaran para pemimpin Israel yang melanggar kepercayaan dan bahkan membunuh si "ahli waris." Peningkatan permusuhan para pemimpin agama justru menegaskan nubuat Yesus tentang masa sengsara-Nya (Mrk. 8:31; 9:31; 10:33) dan tentang kemuliaan ajaib yang mengikuti masa sengsara itu: kebangkitan-Nya, yang tadinya dibuang, tetapi kemudian menempati tempat terhormat sebagai Sang Batu Penjuru.

"Keberanian" para pemimpin Yahudi merupakan pelajaran yang bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, kita mesti meniru teladan Yesus yang berani mengkritik dan memvonis "keberanian" para pemimpin Yahudi di dalam melawan Allah. Di saat para pemimpin yang jahat makin "berani" menolak Allah, kita pun mestinya makin berani menyatakan kebenaran dan keadilan Allah. Di sisi lain, kita sekali lagi memperoleh janji Allah bahwa dosa yang dilakukan para pemimpin niscaya akan dijatuhi hukuman setimpal.

Kaum Farisi biasanya alergi membayar pajak kepada penjajah Romawi, dan menganggap mereka yang patuh sebagai pengkhianat atau bahkan penyembah berhala. Sebaliknya, kaum Herodian justru menganggap setoran pajak kepada penguasa Romawi sebagai keharusan. Walaupun begitu, mereka bekerja sama untuk menjebak Yesus di dalam posisi serba salah: jika Ia menjawab "Ya, " itu berarti Yesus adalah pengkhianat, bahkan mendukung penyembahan berhala; jika "Tidak, " Yesus pantas ditangkap pihak berwajib sebagai provokator.

Namun Yesus mengetahui kemunafikan mereka (Markus 12:15). Tindakan-Nya yang meminta sekeping uang dinar justru meningkatkan posisi Yesus di hadapan para pendengar-Nya: Yesus tak membawa uang dan tak bergantung pada uang yang berlogo gambar Kaisar (Markus 12:15b-16). Tak hanya itu, jawaban Yesus atas pertanyaan jebakan tadi juga tak seperti yang mereka harapkan. Yesus tak berkata "Ya" atau "Tidak", tetapi memberikan prinsip yang mesti dijabarkan oleh orang yang mau mengikuti perkataan-Nya. Mereka mesti menjabarkan mana yang menjadi hak Allah dan mana hak Kaisar (Markus 12:17). Kaisar Romawi tak hanya menuntut kepatuhan total. Ia tak hanya menjadi Pontifex Maximus, imam tertinggi agama Romawi, tetapi untuk orang non-Yahudi, kaisar juga adalah dewa yang menuntut penyembahan. Kata-kata Yesus menempatkan Kaisar dan Allah bersisian, dan di posisi ini orang Kristen mesti tahu siapa yang mesti didahulukan, yaitu Allah! Tak hanya itu, prinsip Yesus ini membongkar lebih dalam kemunafikan kaum Herodian dan Farisi ini karena mereka sebenarnya lebih peduli pada posisi politis masing-masing ketimbang kebenaran Allah.

Di dalam kehidupan sebagai warga negara, kita dipanggil untuk menjabarkan kewajiban kita kepada Allah dan kepada pemerintah. Idealnya, kita mesti taat kepada pemerintah karena itu bagian dari ketaatan kepada Allah. Namun jika terjadi pertentangan di antara keduanya, kita memperoleh peluang untuk taat karena betapa pun besarnya tekanan pemerintah, kita harus lebih siap untuk taat kepada Allah.

Perselisihan masalah doktrinal yang trivial dan mengalihkan perhatian dari hal yang utama! Kaum Saduki yang mayoritas terdiri dari kaum imam hanya mengakui otoritas kelima kitab Taurat, dan tidak mau menerima ajaran-ajaran yang mereka anggap tidak ada di Taurat seperti kebangkitan orang mati. Setelah orang mati, manusia masuk ke dalam sheol, titik.

Doktrin inilah yang mereka ingin pertahankan di hadapan Yesus, dengan suatu pertanyaan yang cukup cerdas dan dalam. Jawaban Yesus menunjukkan bahwa yang sesungguhnya berarti adalah Allah yang hidup, yang berkuasa atas manusia yang tetap ada, yang kelak akan dibangkitkan. Itulah implikasi dari pernyataan Allah yang berulang-ulang bahwa "Akulah Allah Abraham, Ishak dan Yakub" jauh setelah ketiga tokoh tersebut meninggal.

Dari kata-kata Yesus, dapat disimpulkan bahwa orang-orang Saduki ini jatuh ke dalam tiga kesalahan, dan ini patut menjadi peringatan bagi kita. Pertama, mereka menilai Yesus hanya dari ukuran doktrinal golongan mereka semata, tanpa mau melihat karya Allah melalui-Nya. Ini sebabnya Yesus menyatakan bahwa mereka tidak mengerti "kuasa Allah." Kedua, mereka tidak sungguh-sungguh mengerti Alkitab. Mereka ternyata tidak merenungkan dan memeriksa ulang pengajaran mereka berdasarkan firman. Ketiga, mereka tampaknya dengan aktif berupaya membuktikan "kesesatan" golongan umat lain yang tidak sependapat dengan pemahaman/doktrin mereka. Pertanyaan mereka kepada Yesus menunjukkan hal ini. Keaktifan ini ironis, karena berdasarkan nas sebelumnya (ayat 12:6-7), mereka sedang menguji ke- "ortodoks"-an Anak Kekasih Allah sendiri.

Renungkan: Salah satu hal paling berbahaya adalah mereka yang jauh dari kebenaran, tetapi yakin bahwa hanya dirinya yang paling benar.

Percakapan Yesus dengan kaum Saduki tentang konsep kebangkitan tubuh menarik perhatian banyak orang. Perdebatan dilakukan di tengah keramaian. Para pemimpin agama dan pemuka adat juga hadir di sana. Upaya untuk menjebak Yesus mengalami kegagalan total. Hikmat yang keluar dari mulut Yesus tanpa disadari memberikan pencerahan rohani kepada orang banyak. Salah satunya adalah seorang ahli Taurat yang sedang menyimak secara serius argumentasi Yesus dengan golongan Saduki.

Ahli Taurat ini menemukan fakta bahwa semua pertanyaan yang diajukan oleh kaum agamawan Yahudi, mulai dari soal pajak sampai hari kebangkitan, dijawab dengan tepat dan benar oleh Yesus (Markus 12:28a). Namun ia masih terlihat sedikit bingung. Hal ini terlihat dari pertanyaannya soal hukum yang terutama (Markus 12:28b). Baginya, aturan hukum Taurat sangat banyak dan semuanya itu harus dilakukan oleh bangsa Israel. Belum lagi ditambah segala macam ritual keagamaan Yahudi, seperti korban bakaran.

Dari sekian banyak aturan dan ritual, ia ingin mengetahui dari mulut Yesus hukum yang mana dianggap paling utama? Bagi Yesus hanya ada dua hukum, yaitu mengasihi Allah dan sesama (Markus 12:29-31). Keduanya ini adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Artinya, jika seseorang mencintai Allah, maka mengasihi sesama merupakan wujud konkret dari cintanya kepada Allah. Jawaban dan penjelasan Yesus ini membuka mata rohani ahli Taurat tersebut sehingga ia menyadari bahwa semua aturan dan ritual keagamaan berporos pada dua hukum tersebut (Markus 12:32-33). Dengan kata lain, jika seseorang hanya menjalani aturan yang berlaku tanpa ada kasih terhadap sesama, maka apa yang dilakukannya hanyalah kesia-siaan dan persembahannya tidak akan berkenan kepada Allah. Di sini, Yesus memuji ahli Taurat tersebut sebab pemahamannya itu membawa dirinya semakin dekat dengan karya keselamatan Allah dalam Kristus (Markus 12:34).

Renungkan: Pencerahan rohani dapat terjadi jika kita rela tunduk pada kebenaran Allah. [TG]

Perdebatan panjang antara Yesus dengan orang Farisi, Herodian, dan Saduki telah membuat banyak orang tercengang. Tidak sedikit pula yang takjub mendengar jawaban dan penjelasan Yesus. Ke mana saja Yesus mengajar, Ia selalu menjadi pusat perbantahan dan batu sandungan bagi para agamawan.

Sewaktu mengajar di Bait Allah, Yesus kembali mengkritisi pandangan para ahli Taurat tentang status Mesias yang diyakini mereka sebagai anak Daud (Markus 12:35). Pertanyaan Yesus tidak menunjukkan bahwa Ia menolak paham ahli Taurat. Yesus sedang mengajukan teka-teki kepada mereka tentang kaitan Daud dengan anak Allah. Ia ingin mengetahui bagaimana caranya mereka memahami konsep itu. Jika para ahli Taurat

memahami kebenaran Allah dengan benar, seharusnya mereka menerima ajaran Yesus dan status-Nya sebagai Mesias. Apabila mereka menolak Yesus sebagai anak Allah, mengapa para ahli Taurat mengajarkan kepada bangsa Israel bahwa Mesias yang akan datang disebut anak Daud.

Dengan mengutip Mzm 110:1, Yesus melakukan problematisasi status Daud yang lebih rendah dari status Mesias (Markus 12:36-37a). Dengan kata lain, jika Daud sedang berbicara mengenai kedatangan Mesias, bagaimana mungkin ia menyebut Mesias sebagai Tuhannya dan pada saat yang sama memberi gelar Mesias adalah anak Daud. Bukankah pengertian ini saling bertentangan satu sama lain? Di satu sisi, teka-teki yang Yesus berikan sulit dijawab oleh para ahli Taurat. Di sisi lain, pertanyaan Yesus memunculkan rasa keingintahuan orang banyak tentang ajaran Mesias adalah anak Daud (Markus 12:37b). Yesus sama sekali tidak memberi jawaban. Ia sengaja membiarkan pertanyaannya menjadi diskusi terbuka bagi semua orang.

Pada masa itu, mustahil bagi siapa pun dapat mengerti kaitan Daud dengan Mesias. Melalui terang Perjanjian Baru, seseorang dapat memahami bagaimana caranya Yesus disebut anak Daud secara silsilah dan sekaligus Mesias dari sisi ketuhanan-Nya.

Renungkan: Siapa dapat menyelami pikiran Allah? [TG]

Sungguh kontras gambaran dua figur dalam bacaan hari ini. Figur pertama adalah ahli-ahli Taurat. Mereka adalah gambaran pemimpin agama yang lebih suka bersikap sebagai tuan daripada sebagai hamba (ayat 38-39). Doa-doa mereka yang panjang mengesankan bahwa mereka adalah orang saleh. Mereka berpura-pura dekat dengan Allah, tetapi sesungguhnya mereka sedang mencari simpati orang lain. Mereka juga suka mencaplok harta janda-janda miskin.

Ini sangat kontras dengan figur kedua, yaitu seorang janda. Ia sangat miskin sehingga hanya bisa memberikan persembahan sebesar dua peser. Namun Yesus menghargai pemberian si janda. Mengapa? Karena walau ia hanya punya uang sejumlah dua peser, tetapi ia mau memberikan kedua-duanya. Padahal bisa saja ia menyimpan satu peser untuk dirinya sendiri, tak ada orang yang akan tahu. Namun bagi si janda, kemiskinan tidak menghalangi dia untuk mengungkapkan syukur dan penyerahan diri yang bulat kepada Tuhan. Iman dan cintanya kepada Tuhan utuh dan penuh.

Melalui tindakan si janda, Yesus mengajarkan bahwa nilai sebuah persembahan bukan ditentukan semata-mata oleh jumlah, melainkan oleh motivasi dan hati si pemberi. Inilah yang membuat persembahan si janda jadi bernilai. Ia melepaskan diri dari segala miliknya dan melupakan semua kebutuhannya untuk menyatakan bahwa ia dan semua miliknya adalah kepunyaan Tuhan (ayat 42-44). Melalui kisah si janda, Yesus bagai menantang anggapan bahwa memberi persembahan dalam jumlah banyak bisa dilakukan bila kita memiliki banyak uang. Si janda mematahkan anggapan itu. Ia hanya mempersembahkan sedikit uang, tetapi menurut Yesus ia mempersembahkan lebih banyak daripada semua orang (ayat 43).

Memberi persembahan merupakan kesempatan yang hanya ada selama kita hidup. Maka marilah kita memberi persembahan dengan mengingat bahwa Kristus yang tersalib telah memberikan nyawa-Nya bagi kita. Bagaimana mungkin kita tidak mau memberikan diri serta segala milik kita?

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)