Markus 13 (MAD2T*Pagi*21 Jan*Tahun 1)
Markus 13
Penjelasan Singkat
Pemberitahuan keruntuhan Bait Suci
Isi Pasal
Yang terjadi di zaman sekarang – puncaknya dalam kesengsaraan dan kedatangan Kristus yang kedua. Perumpamaan tentang pohon ara.
Judul Perikop
Bait Allah akan diruntuhkan (13:1-2)
Permulaan penderitaan (13:3-13)
Siksaan yang berat dan Mesias-mesias palsu (13:14-23)
Kedatangan Anak ManusiaPerumpamaan tentang pohon ara (13:24-32)
Nasihat supaya berjaga-jaga (13:33-37)
Hubungan antara Yesus dan Daud (13:35-37)
Tafsiran: Bait Allah di zaman Yesus merupakan bangunan yang didirikan oleh Zerubabel dan Ezra. Bangunan ini direnovasi dengan megah oleh Herodes pada tahun 20-19 sM. Kemegahan Bait Allah membuat setiap mata terkagum-kagum. Bukan karena luas Bait Allah, melainkan lapisan lempengan emas yang menghiasi seluruh bangunan tersebut. Saat cahaya matahari menyinari bangunan itu, Bait Allah memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Inilah yang menjadi kebanggaan orang-orang Yahudi.
Ketika Yesus melihat kemegahan bangunan Bait Allah, Ia menubuatkan kehancuran Bait Allah (Markus 13:1-2). Ucapan Yesus ditafsir oleh para murid-Nya sebagai tanda akhir zaman (Markus 13:3-4). Yesus tidak melihat peristiwa itu sebagai akhir zaman, melainkan sebagai ciri-ciri zaman akhir. Pertama, munculnya banyak penyesat yang memakai namaNya dan mengaku dirinya sebagai juruselamat (Markus 13:6). Kedua, perang ada di mana-mana (7a, 8a). Ketiga, kelaparan dan gempa bumi akan menimpa umat manusia (8b). Keempat, Injil akan diberitakan dan didengar oleh semua bangsa (Markus 13:10). Jika semua ini terjadi, hal itu merupakan suatu permulaan kesengsaraan datangnya zaman baru, yaitu langit dan bumi baru (8c). Tetapi Yesus menghibur para murid untuk tidak kuatir karena cepat lambat momen itu akan datang (7b).
Selain itu, Yesus juga memperingatkan para muridNya untuk mawas diri terhadap Ajaran sesat yang merajalela (Markus 13:5) dan penderitaan yang akan dialami oleh mereka karena nama-Nya (Markus 13:9). Walau mereka menderita, dibenci, dan dibunuh, Yesus memberi jaminan bahwa Roh Allah akan senantiasa menyertai hidup mereka. Bahkan Allah
akan mengaruniakan hikmat-Nya pada mulut mereka untuk menyaksikan Kristus bagi orang banyak (Markus 13:11-13a; band. Kis. 7). Lebih dari itu, Yesus berjanji bahwa setiap orang yang mempertahankan iman kepada Kristus dan rela mati demi keyakinan yang dipercayainya, maka hidup kekal menjadi upah mereka (Markus 13:13b).
Renungkan: Pertahankanlah iman kepada Kristus berapa pun harganya, maka hidup kekal jadi milik kita. [TG]
Bagian 13:14-23 khusus menubuatkan apa yang telah terjadi di Yerusalem antara 66-70 M. Saat itu orang Yahudi memberontak melawan Roma, yang berakhir pada penghancuran Yerusalem pada tahun 70 M oleh pasukan Romawi. Perintah Yesus pada nas ini adalah: lari bila melihat kekejian yang tak terkatakan hadir di Bait Allah (ayat 14). "Pembinasa keji" di sini tidak menunjuk kepada kehadiran Roma di sana, tetapi kepada kaum zelot yang menguasai Bait Allah dan melakukan hal-hal cemar di sana pada + 67-68 M. Sedemikian parahnya tindakan mereka, sehingga mantan Imam Besar Ananus sambil menangis berkata: "Seandainya saya mati ketimbang hidup melihat Bait Allah dipenuhi kekejian seperti ini dan ruang-ruang kudusnya dipenuhi oleh kaki para pembunuh." Juga muncul beberapa orang yang dianggap sebagai Mesias. Menurut tradisi gereja, karena inilah orang Kristen di Yerusalem dan Yudea mengungsi ke daerah Pella di pegunungan, mengikuti kata- kata Yesus, dan luput dari malapetaka 70 M.
Mengapa para murid harus lari? Supaya mereka tidak terkena penghukuman. Sebenarnya, penghukuman itu tidak ditujukan kepada para murid. Jemaat-jemaat mula-mula di Yerusalem dan Yudea memberikan sebuah teladan, ketika mereka tetap mengingat nubuat Yesus ini dan peka terhadap apa yang terjadi. Inilah salah satu bentuk dari sikap berjaga-jaga dan waspada dalam ketaatan kepada Yesus Kristus.
Renungkan: Ketidaktaatan kepada Allah adalah kekonyolan sejarah, baik sejarah pribadi maupun sejarah pada skala makro.
Kedua kata ini bisa diucapkan dengan berbagai ekspresi dan intonasi. Baik dalam intonasi gemetar penuh ketakutan ataupun intonasi kegembiraan yang luar biasa. Frase yang sama, dengan intonasi yang berbeda memberitahukan pesan yang berbeda pula.
Yesus mengajarkan kedatangan Anak Manusia dalam nas ini dalam "intonasi" yang berbeda. Jika sebelumnya dalam Injil Markus kedatangan Sang Anak Manusia bermakna penghakiman yang menakutkan karena diberitakan bagi mereka yang belum percaya, bahkan menolak Yesus, kini kedatangan Sang Anak Manusia adalah sesuatu yang menjadi pengharapan dan dinantikan oleh Kristen. Saat itu adalah saat di mana orang-orang pilihan dikumpulkan (ayat 27). Sekali lagi, Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya (dulu dan sekarang!) untuk terus berjaga-jaga (ayat 28-31, 33- 37). Artinya, berjaga-jaga jangan sampai masing-masing pengikut Kristus sedang lalai tidak mengerjakan tugasnya pada saat Tuhan datang (ayat 36). Dengan melakukan tugas panggilan pelayanannya dengan sungguh-sungguh, seorang murid sedang memenuhi perintah Tuhannya untuk berjaga-jaga.
Dari sini ada sesuatu hal yang perlu dipertanyakan: adakah Kristen sedang berjaga-jaga? Ataukah terlena? (bdk. dengan Mrk. 14:37- 40). Pertanyaan ini penting untuk kita tanyakan pada diri kita sendiri setiap hari dari kehidupan kita. Berjaga-jaga bukanlah mencari-cari tahu dengan perhitungan spekulatif kapan Yesus datang. Yesus tegas menyatakan tidak seorangpun yang tahu, perlu tahu, dan dapat tahu kapan waktunya. Penentuan waktunya adalah rencana Allah Bapa (ayat 32). Tugas kita adalah berjaga-jaga dan melayani Allah dalam kehidupan kita dengan sungguh-sungguh.
Renungkan: Kristen yang terlena adalah Kristen yang tidak mengharapkan dan tidak menduga jika seandainya Yesus Kristus datang hari ini, kini dan di sini.