Markus 14 (MAD2T*Mlm*21 Jan*Tahun 1)

Markus 14

Penjelasan Singkat
Petrus menyangkal Kristus

Isi Pasal
Rencana melawan Yesus. Yesus diurapi oleh Maria. Paskah terakhir. Perjamuan malam Tuhan dilaksanakan. Pengalaman getsemani. Penyangkalan Petrus. Yesus diserahkan kepada para pemuka.

Judul Perikop
Rencana untuk membunuh Yesus (14:1-2)
Yesus diurapi (14:3-9)
Yudas mengkhianati Yesus (14:10-11)
Yesus makan Paskah dengan murid-murid-Nya (14:12-21)
Penetapan Perjamuan Malam (14:22-25)
Petrus akan menyangkal Yesus (14:26-31)
Di taman Getsemani (14:32-42)
Yesus ditangkap (14:43-52)
Yesus di hadapan Mahkamah Agama (14:53-65)
Petrus menyangkal Yesus (14:66-72)

Tafsiran: Dalam masyarakat kita mengenal ada banyak cara untuk menyatakan kasih kepada orang yang kita kasihi. Bacaan hari ini memberikan gambaran mengenai cara yang dilakukan oleh seorang perempuan kepada Yesus. Perempuan itu mewujudkan kasihnya dengan membawa sebuah buli-buli berisi minyak Narwastu murni yang mahal harganya dan mencurahkannya di atas kepala Yesus. Baginya minyak Narwastu itu adalah miliknya yang berharga, yang ia persembahkan kepada Yesus sebelum kematian-Nya.

Namun, perbuatan kasih itu bukan tanpa halangan dan kritik. Yudas, yang tamak itu mengkritik tindakan perempuan itu dengan dalih memberi kepada orang miskin. Namun, jauh di dalam hatinya ada maksud hendak mengambil uang itu bagi dirinya (Yoh. 12:6). Yesus menolak saran Yudas itu, karena saran itu membungkus ketamakan Yudas. Yesus menolak upaya memanipulasi atau memperalat kemiskinan sesama demi kepentingan sendiri.

Di sini ada dua hal penting, pertama, memberikan yang terbaik. Baik kepada Tuhan maupun sesama sebagai wujud kasih kita. Kedua, upaya manipulasi kemiskinan demi kepentingan diri. Kedua tindakan ini bisa kita lihat dalam masyarakat kita. Terutama dalam menghadapi krisis multidimensi ini, ada bantuan yang diberikan sebagai wujud cinta kasih terhadap sesama, tetapi di pihak lain ada orang tertentu yang memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkaya diri dengan dalih melayani orang miskin. Tindakan yang disebut terakhir ini sudah tentu Tuhan tolak. Tuhan menghendaki pelayanan yang tulus. Pertanyaan bagi kita apakah kita mau melayani sesama kita dengan tulus ikhlas seperti yang dilakukan oleh perempuan ini?

Renungkan: Melayani sesama dengan jujur dan tulus iklas merupakan wujud dari cinta kasih kita sesuai dengan perintah Tuhan. "Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri".

Perayaan Roti Tidak Beragi mengingatkan karya penebusan Allah bagi bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (Kel. 12). Dalam merayakannya, keluarga-keluarga Yahudi akan mempersiapkan perjamuan makan dengan liturgi yang disusun untuk mengingat momen penebusan itu. Dalam liturgi, biasanya akan ada pembacaan Mazmur 113-118 serta sesi tanya jawab antara ayah dengan anak sulung laki-laki tentang berbagai elemen dalam perjamuan tersebut. Seperti itu juga yang akan dilakukan Yesus dan para murid-Nya.

Dalam merayakan Paskah, Yesus bersama para murid mempersiapkan acara perjamuan makan (Markus 14:12-16). Petrus dan Yohanes diminta Yesus untuk mempersiapkan tempat (Mrk. 14:12; band. Luk. 22:8). Seorang pembawa kendi dipakai Tuhan untuk menunjukkan jalan menuju rumah yang akan dipakai untuk tempat perjamuan makan Paskah itu (Markus 14:13). Lalu sang pemilik rumah dipakai Tuhan untuk menyediakan rumahnya (Markus 14:14-15). Yesus, kedua murid, pembawa kendi, dan pemilik rumah punya peran di dalam acara perjamuan Paskah di malam itu.

Pada malam itu, Yesus menyebutkan satu orang lain lagi yang berperan ironis. Orang tersebut adalah orang yang nantinya akan menyerahkan Yesus (Markus 14:18). Orang ini disebut berperan ironis karena ia salah satu dari para murid (Markus 14:20) yang makan bersama dengan Yesus malam itu (Markus 14:18), bahkan mencelupkan roti dalam satu pinggan dengan Yesus (Markus 14:20). Dialah Yudas Iskariot. Jika Yohanes, Petrus, pembawa kendi, dan pemilik rumah meresponi Paskah dengan ketaatan kepada Tuhan, namun Yudas meresponinya dengan pengkhianatan. Kedekatannya dengan sang Penebus tidak membuatnya memahami lebih mendalam siapa sang Guru Agung itu. Pengalamannya bersama sang Juruselamat tidak membuatnya menjadi lebih peka dan taat, malahan berkhianat. Kiranya bukan demikian yang terjadi dalam kerohanian kita.

Renungkan: Ketika kita semakin dekat dengan sang Juruselamat, maka kita seharusnya semakin taat dan hormat kepada-Nya. [MF]

Dalam perjamuan makan Paskah, elemen-elemen penting yang perlu dijelaskan oleh kepala keluarga Yahudi adalah roti tidak beragi dan darah anak domba yang disembelih. Roti tidak beragi mengingatkan orang Israel akan ketetapan yang diberikan Tuhan di mana mereka harus makan roti tidak beragi selama tujuh hari lamanya (Kel. 12:15, 17-20). Kemudian penyembelihan anak domba yang tak bercacat mengingatkan pada peristiwa tulah kesepuluh di kitab Keluaran. Dengan darah anak domba yang dibubuhkan di pintu-pintu rumah orang Israel, maka anak-anak sulung laki-laki mereka diampuni dan diselamatkan dari kengerian murka Allah dalam tulah kesepuluh (Lih. Kel. 12:24-28). Itulah sebabnya darah itu disebut dengan darah perjanjian (Mrk. 14:24).

Pada bacaan hari ini, Yesus bukan hanya menjelaskan makna dari tubuh dan darah anak domba yang disembelih, tetapi juga menunjuk kepada diri-Nya. Roti tidak beragi menjadi lambang tubuh Kristus (Markus 14:22) yang dikorbankan bagi manusia berdosa. Anggur dalam cawan yang Ia berikan kepada para murid melambangkan darah Kristus yang tercurah demi keselamatan umat manusia. Kata "tubuh-Ku" (Markus 14:22) dan "darah-Ku" (Markus 14:24) itu juga mempertegas kematian seperti apa yang akan Ia alami, yaitu kematian dalam penderitaan pengorbanan. Sebagaimana anak domba di Keluaran disembelih sehingga umat Israel di Mesir diselamatkan dari kematian anak sulung mereka, demikian pula Anak Domba Allah disalib sehingga manusia berdosa diselamatkan dari kematian kekal.

Ucapan Yesus dalam perjamuan Paskah tersebut menjadi acuan prosesi Perjamuan Kudus yang kita adakan di gereja. Tujuannya, untuk mengingatkan kita akan pengorbanan tubuh dan darah Yesus yang Ia curahkan demi menebus dosa kita. Tubuh dan darah Kristus telah Ia korbankan bagi kita. Lalu apa respon kita?

Renungkan: Kiranya bukan hanya pada momen Perjamuan Kudus kita mengenang kematian dan pengorbanan-Nya di kayu salib. Biarlah di sepanjang hidup, kita senantiasa mengenang cinta kasih dan pengorbanan Kristus. [MF]

Belum lagi pulih perasaan mereka terhadap berita pengkhianatan salah seorang dari mereka, Yesus menyampaikan berita lain lagi. Dikatakan bahwa mereka semua akan guncang imannya, karena tanpa perlawanan sedikitpun Yesus menyerahkan diri untuk ditangkap. Mestinya, jika murid-murid itu bijak, mereka bisa bertanya kepada Yesus bagaimana mengatasinya. Tetapi yang terjadi adalah lain, tanpa berpikir panjang dan tampaknya mengandalkan kekuatan diri sendiri, Petrus tampil dan berjanji bahwa dirinya tidak akan terguncang. Keberanian Petrus ditanggapi Yesus dengan peringatan bahwa sebelum ayam berkokok dua kali, Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali. Memang, Petrus tampil untuk membela Yesus. Tetapi keberaniannya ini justru merupakan awal dari kelemahannya. Karena ia mengandalkan kekuatan dirinya sendiri. Penderitaan Yesus dalam saat-saat menjelang kematian-Nya merupakan ujian iman. Apakah para murid siap menerima fakta bahwa Mesias harus mati?

Mengikut Yesus bukan sekadar janji atau pengakuan. Kecenderungan untuk cepat mengaku dan membuat janji dengan Tuhan hanya akan membuat orang Kristen tersandung dan jatuh. Karena pengakuan seperti ini ternyata bertumpu pada kekuatan atau kemampuan diri sendiri, bukan pada kekuatan Allah.

Renungkan: Dalam persekutuan dengan Dia, kita dimampukan untuk menghadapi guncangan-guncangan itu.

Apa yang membuat Yesus memiliki keberanian untuk menghadapi penderitaan yang berat, bahkan untuk menyerahkan nyawa-Nya? Beratnya penderitaan itu digambarkan melalui pergumulan Yesus di dalam doa, sampai tiga kali Ia mengucapkan doa yang sama. Karena itu Ia juga merasa takut dan gentar (Markus 14:33), bahkan sangat sedih. Kesedihan yang mendalam terungkap melalui perkataan "..seperti mau mati rasanya.." (Markus 14:34). Apa yang Ia lakukan untuk menghadapi kegentaran dan kesedihan itu?

Yesus berdoa! Ia merebahkan diri ke tanah dan meminta Bapa untuk mengambil cawan penderitaan yang harus Dia hadapi. Ia tahu bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, walaupun bukan segala sesuatu merupakan kehendak Allah (Markus 14:36). Karena itu Ia menyampaikan permohonan sekaligus menyerahkan diri-Nya dengan penuh ketaatan pada kehendak Bapa. Ia memohon agar Ia sendiri melakukan apa yang dikehendaki Allah, sekali pun itu berarti kematian. Ketergantungan total dan bersandar penuh pada kehendak Allah inilah yang menjadi sumber keberanian Yesus untuk menyerahkan nyawa-Nya.

Hal ini berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh para murid. Dalam perikop sebelumnya kita tahu bahwa mereka lebih yakin pada kekuatan diri sendiri. Sayangnya, ketika Yesus meminta mereka untuk menemani Dia berdoa dan berjaga-jaga, mereka tidak sanggup menunjukkan kekuatan mereka. Mereka jatuh tertidur (Markus 14:37, 40, 41). Hal ini membuktikan bahwa apa yang dikatakan Yesus adalah benar, roh memang penurut tetapi daging lemah (Markus 14:38).

Hanya dengan bersandar kepada Allah manusia dapat menghadapi penderitaan maupun ujian iman lainnya. Semakin berat penderitaan yang kita hadapi, hendaknya makin kuat kita berpegangan pada Tuhan. Mari kita sampaikan seluruh beban penderitaan kita kepada-Nya dan serahkan juga diri kita dengan penuh ketaatan. Hanya dengan mengandalkan Tuhan, kita akan berani menyangkal diri kita dan tetap percaya pada Tuhan dalam ketaatan kita kepada-Nya.

Masa-masa kritis dan sulit terkadang bisa menjadi momen berharga bagi kita untuk mengetahui siapa orang yang sungguh-sungguh setia dan yang tidak. Itulah yang Yesus alami.

Setelah Yesus menyelesaikan doa di taman Getsemani (Markus 14:43), datanglah sekelompok orang untuk menangkap Dia (Markus 14:43-46). Salah seorang di antara mereka adalah Yudas (Markus 14:43), yang notabene merupakan salah seorang dari murid Yesus sendiri. Murid-Nya sendiri berani menjual-Nya. Hal yang lebih ironis lagi, pada saat Yesus ditangkap, para murid lain pun melarikan diri dan meninggalkan Dia (Markus 14:50). Tindakan para murid sangat bertentangan dengan ucapan mereka bersama Petrus pada perikop sebelumnya, yaitu: mereka tidak akan menyangkal Dia (Mrk. 14:31). Tragis bukan? Ketika Yesus ditangkap, para murid yang pernah berjanji setia kepada-Nya justru lari meninggalkan-Nya. Ketika ada murid-Nya yang datang mendekati-Nya, justru orang itu adalah orang yang berkhianat kepada-Nya dengan membawa orang-orang yang menginginkan kematian-Nya (Markus 14:44-46).

Di tengah suasana mencekam itu, firman Tuhan mencatat satu peristiwa yang menarik, yaitu tentang putusnya telinga dari hamba Imam Besar (Markus 14:47). Markus memang tidak mencatat bagaimana kelanjutan dari peristiwa ini. Namun Lukas mencatat bahwa Yesus menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya (Luk. 22:51). Meski Yesus tahu bahwa orang itu adalah salah seorang yang akan menangkapnya, namun fakta itu tidak menghalanginya untuk berbuat kebaikan dan menyembuhkan dia.

Dalam kesulitan hidup, mampukah kita berbuat baik kepada orang lain? Bersediakah kita menolong orang yang menganiaya kita? Mungkin hal itu tidak mudah. Tetapi Yesus meminta kita untuk mengasihi musuh kita dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (Mat. 5:44). Ia bukan sekadar memberi perintah, tetapi juga teladan.

Renungkan: Landasan perbuatan baik tidak ditujukan untuk diri sendiri, melainkan dipersembahkan untuk kemuliaan Allah. [MF]

Semangat para imam kepala, tua-tua, dan ahli-ahli Taurat untuk menangkap dan menghukum mati Yesus kini semakin menggelora (Markus 14:53). Tetapi persoalannya, mereka tidak punya bukti yang cukup kuat untuk menghukum Dia. Mereka mencari-cari kesalahan Yesus tetapi tidak memperolehnya (Markus 14:55). Saksi-saksi palsu diajukan untuk menentang Yesus, namun kesaksian mereka saling tidak bersesuaian (Markus 14:56-59). Meski demikian, suara mayoritas begitu kuat sehingga satu kalimat pengakuan dari Yesus tentang diri-Nya justru menjadi senjata memvonis mati diri Yesus (Markus 14:62-64).

Tanpa pikir panjang lagi, para imam kepala, tua-tua, ahli Taurat, dan Imam Besar memutuskan hukuman mati bagi Yesus (Markus 14:64). Bahkan beberapa orang melakukan penganiayaan fisik terhadap Dia (Markus 14:65). Yesus hanya diam. Catatan Markus memang tidak menjelaskan mengapa Yesus diam. Tetapi dalam kitab Yesaya menyebutkan bahwa Mesias adalah hamba Tuhan yang menderita. Salah satu penderitaan yang akan dialami Mesias adalah membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulut-Nya (Yes. 53:7). Pada bagian lain, Yesaya juga menyebutkan tentang ketaatan hamba Tuhan itu yang memberikan diri dianiaya, dinodai, dan diludahi (Yes. 50:6). Artinya, diamnya Yesus bukan karena Ia takut menjawab pelbagai tuduhan orang-orang yang menganiayaNya. Diamnya Yesus karena Ia taat menggenapkan kebenaran nubuat firman Tuhan tentang diri-Nya yang adalah Mesias, sang Juruselamat.

Sering kali sulit bagi kita untuk diam. Hal ini terutama ketika kita dihakimi dan dituduh sembarangan. Ketika pembelaan tidak ada gunanya, ketika suara mayoritas bergema kuat untuk menjatuhkan kita, ada kalanya berdiam lebih mampu menyingkapkan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Renungkan: Diam mungkin tidak bisa menenangkan gemuruh tuduhan dan penghakiman suara mayoritas. Setidaknya, diam dapat menenangkan gejolak kemarahan dalam hati kita. Berdiam dan ketahuilah, Dialah Tuhan, Allah Pembela kita. [MF]

Masih hangat di hati kita ucapan Petrus "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau" (Mrk. 14:31). Tetapi pada malam yang sama, hanya selang beberapa jam, di hadapan pengadilan agama Yahudi Petrus menyangkal bahkan bersumpah bahwa ia sama sekali tidak mengenal Yesus. Petrus memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri daripada menderita bersama Kristus.

Petrus tidak siap untuk menerima kenyataan bahwa Yesus harus menderita. Selain itu, sikap Yesus menyerahkan diri tanpa suatu perlawanan apa pun membuat Petrus yang dijuluki batu karang itu hancur berantakan. Petrus yang gagah berani itu tiba-tiba menjadi seorang penakut. Kokok ayam mengingatkan Petrus akan perkataan Yesus, ia menangis. Suatu tangisan penyesalan.

Mungkin kita mengatakan bahwa Petrus tidak memiliki pendirian yang teguh. Ia mudah berubah-ubah. Perubahan sikap yang demikian tidak hanya dialami oleh Petrus tetapi juga dialami oleh orang beriman dalam perjalanan mengikut Yesus. Ada orang yang mengikut Yesus dengan pemahaman yang keliru. Ada orang yang mengikut Yesus dengan harapan bahwa hidupnya senang dan selalu sukses. Kedua hal tersebut merupakan pemicu bagi ketidak-siapan umat Tuhan mengalami penderitaan. Artinya, orang dengan pemahaman seperti itu melupakan konsekuensi menjadi pengikut Yesus yaitu bukan hanya senang tetapi juga harus rela menderita. Tuhan menghendaki agar umat-Nya memiliki sikap iman yang teguh dalam menghadapi berbagai tantangan, pencobaan dan penderitaan. Kalaupun karena kelemahan umat Tuhan jatuh, Ia mengangkat umat- Nya dari kejatuhan sebab tangan Tuhan selalu terulur untuk mengangkat umat-Nya kembali.

Renungkan: Menjadi seorang murid harus memiliki pendirian dan iman yang teguh, apalagi dalam menghadapi tantangan dan cobaan.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)