Markus 2 (MAD2T*Mlm*15 Jan*Tahun 1)

Markus 2

Penjelasan Singkat
Matius dipanggil

Isi Pasal
Kesembuhan orang yang lumpuh. Panggilan atas Matius. Perumpamaan tentang kain dan kantong anggur. Yesus, Tuhan atas hari Sabat.

Judul Perikop
Orang lumpuh disembuhkan (2:1-12)
Lewi pemungut cukai mengikut Yesus (2:13-17)
Hal berpuasa (2:18-22)
Murid-murid memetik gandum pada hari Sabat (2:23-28)

Tafsiran: Di tengah lilitan berbagai masalah hidup, banyak orang yang kehilangan pengharapan. Akibatnya ada yang terjerumus pergaulan bebas, obat-obatan, atau kejahatan lain. Bagaimana sikap kita seharusnya terhadap mereka?

Teks Alkitab memperlihatkan begitu banyak orang yang datang menemui Yesus, ketika Ia datang kembali ke kota mereka (ayat 1; lih. 1:21). Mereka ingin mendengar pengajaran-Nya yang penuh kuasa. Mereka juga ingin melihat Dia melakukan mukjizat (ayat 1:22, 27). Bagaimana respons Yesus? Ia memberitakan Injil kepada mereka (ayat 2).

Tiba-tiba ada gangguan. Empat orang datang menggotong seorang yang lumpuh (ayat 3). Mereka mengharapkan Yesus menyembuhkan teman mereka. Namun kerumunan orang menghalangi mereka. Menyerah? Jangan. Yesus sudah di depan mata! Bila si lumpuh bisa dihadirkan di depan Yesus, tentu ia akan disembuhkan. Lalu bagaimana caranya? Dengan semangat pantang menyerah, mereka naik ke atap rumah dan membongkar (ayat 4). Berhasilkah usaha mereka? Ya. Si lumpuh diturunkan di depan Yesus. Iman kawan-kawan si lumpuh menyebabkan Yesus merespons lebih dari yang mereka harapkan. Ia bukan hanya menyembuhkan si lumpuh (ayat 11), melainkan juga mengampuni dosanya.

Iman keempat orang itu sungguh luar biasa. Bukan hanya percaya secara pasif, tetapi ada tindakan aktif yang menyatakan keyakinan mereka pada kuasa Yesus dalam menyembuhkan penyakit. Iman mereka berperan besar dalam hidup si lumpuh sehingga dia dapat berjalan dan menikmati hidup dalam pengampunan Tuhan.

Bagaimanakah peranan kita bagi hidup orang-orang di sekitar kita? Bagi ayah dan ibu yang sudah berusia lanjut, bagi tetangga yang membutuhkan perhatian, bagi rekan yang perlu pertolongan, dan seterusnya. Di awal tahun ini mari kita pikirkan suatu tindakan yang dapat menjadi berkat bagi mereka. Sesuatu yang memungkinkan mereka mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus.

Bagaimana sikap kita terhadap orang yang kita anggap jahat? Seandainya ada tetangga kita yang mantan narapidana kembali ke rumahnya, bagaimana kira-kira sikap kita dan lingkungan kita terhadap dia? Mungkin sebagian besar akan menjauhi dia. Bahkan berprasangka buruk terhadap dia. Lalu apakah Allah juga menjauhi dia?

Perikop hari ini menunjukkan hal yang berbeda. Yesus memanggil Lewi, si pemungut cukai, untuk mengikut Dia. Ini menimbulkan tanda tanya besar dalam benak ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi. Apalagi Yesus bukan hanya memanggil Lewi, tetapi ikut makan juga di rumahnya bersama pemungut cukai lain dan orang-orang berdosa (ayat 14-15). Bagi orang-orang Farisi yang setia memelihara Hukum Taurat, pemungut cukai serta orang-orang berdosa adalah kelompok yang harus dijauhi. Tak layak untuk didekati sebab para pemungut cukai bekerja untuk pemerintahan Romawi yang dianggap kafir. Maka mereka pun dianggap menjadi najis. Apalagi mereka bekerja dengan tamak. Orang-orang berdosa juga harus dijauhi karena mengingkari Hukum Taurat dan melanggar peraturan Farisi. Namun bagi Yesus, para pemungut cukai dan orang-orang berdosa harus dirangkul masuk ke dalam Kerajaan Allah. Orang-orang tersebut bagai orang sakit yang harus disembuhkan. Dan itulah tujuan utama kedatangan Yesus, yaitu untuk memanggil orang berdosa supaya bertobat. Dengan demikian kehadiran Kerajaan Allah menjadi nyata bagi kaum yang tersisih (ayat 17).

Sebagai pengikut Kristus, bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang dikucilkan? Sebagai gereja, apakah kita sudah peka dan membuka mata hati bagi orang-orang yang disingkirkan? Ataukah gereja yang telah mengalami penerimaan Allah bersikap tak peduli dan sibuk membangun diri hingga bak menara gading? Atau malah terjun sebagai pemain baru dan ikut mengucilkan orang-orang yang dipinggirkan? Kiranya Tuhan menolong kita untuk memiliki hati seperti Dia: melihat bahwa orang berdosa memerlukan Kristus.

Bagi orang Yahudi berpuasa sudah merupakan tradisi. Farisi memiliki kebiasaan berpuasa 2 kali seminggu (Luk. 18:12). Ada beberapa alasan untuk berpuasa. Selain puasa merupakan ungkapan kesedihan (ayat 13; 2Samuel 1:12), puasa juga dilakukan untuk menyatakan pertobatan (ayat 6). Ketika melihat murid-murid Yesus tidak berpuasa, murid-murid Yohanes dan orang Farisi menjadi heran. Mereka ingin tahu alasannya. Yesus menjawab dengan menjelaskan dua sifat menonjol murid- murid-Nya, yaitu bahwa menjadi murid Yesus berarti bersukacita dan hidup dalam suasana yang sama sekali baru.

Pertama, sukacita. Suasana perkawinan dipakai untuk melukiskan sukacita kedatangan-Nya. Makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa kedatangan Yesus membawa sukacita. Karena dosa telah diampuni; permusuhan dengan Allah telah berakhir. Melalui kedatangan Yesus, manusia dan Allah telah didamaikan. Ini adalah sumber sukacita dalam hidup orang beriman.

Kedua, suasana baru. Kedatangan Yesus juga membawa suasana baru. Suasana yang sama sekali berbeda dengan yang lama. Suasana baru apa yang dibawa Yesus? Pertama, jika orang Farisi membenci dosa dan orang berdosa, Yesus justru bersekutu dengan orang-orang berdosa. Yesus membenci dosa, namun mengasihi orang berdosa. Kedua, bagi orang Farisi puasa adalah status rohani dan kesalehan yang membedakannya dengan orang lain (Luk. 18:12). Tetapi, bagi Yesus puasa adalah untuk Allah, bukan untuk manusia (Mat. 6:18).

Ketiga, bagi Farisi manusia untuk sabat. Bagi Yesus sabat untuk manusia.

Yesus tidak menentang apalagi menghilangkan puasa (ayat 20, bdk. Mat. 4:2). Bahkan tradisi berpuasa dilanjutkan gereja Kristen purba (lih. Kis. 13:2-3; 14:23). Yesus meluruskan penghayatan maknanya.

Renungkan: Tanpa perubahan moral puasa sia-sia. Tanpa transformasi hidup puasa menghina Allah (Yes. 58:3-6).

Kita diperhadapkan pada kontras antara format religi yang kaku dan suka cita hidup yang ditemukan di dalam Yesus.

Yesus dan murid-murid-Nya dianggap tidak menghargai hari Sabat karena memetik gandum pada hari itu (Markus 2:23-24). Bagi orang Yahudi, hari Sabat adalah sakral karena sesuai hukum Tuhan. Namun para pemimpin agama menambah-nambahi Taurat dengan berbagai aturan yang derajatnya dianggap sama dengan firman Tuhan. Sehingga hari Sabat tidak lagi menjadi hari perayaan atas anugerah Tuhan, melainkan menjadi sebuah belenggu religi yang merampok sukacita umat.

Padahal perbuatan murid-murid Yesus memetik bulir gandum sama sekali tidak menyalahi Taurat (bdk. Ul. 23:25). Namun aturan tambahan buatan para pemimpin agama itu justru bertentangan dengan taurat yang sebenarnya berderajat lebih tinggi. Anehnya, para pemimpin agama justru lebih kuat berpegang pada aturan buatan manusia!

Melalui kisah Daud, Yesus mengajarkan bahwa bagi Tuhan manusia lebih penting dibandingkan dengan berbagai aturan (Markus 2:25-26). Maka Sabat dibuat untuk kepentingan manusia dan bukan sebaliknya. Tuhan memberikan hari Sabat agar manusia bisa berhenti dari rutinitas pekerjaan yang telah dilalui sehari-hari lalu beristirahat serta beribadah kepada Tuhan. Karena itu hari Sabat tidak pernah dimaksudkan untuk melarang orang mengerjakan hal-hal yang menunjukkan kebaikan dan kemurahan kepada sesamanya. Hari Sabat seharusnya juga menjadi hari yang dipenuhi dengan kasih dan anugerah.

Kefanatikan orang Farisi terhadap tradisi agama kiranya membuat kita mengkaji ulang tradisi keagamaan yang masih kita berlakukan. Perhatikanlah apakah tradisi keagamaan atau aturan gereja dibuat dan dilakukan dengan maksud agar orang menikmati sukacita dalam relasi dengan Tuhan dan sesama? Atau justru membuat orang menjadi orang saleh yang terlalu serius dan tidak bisa menikmati sukacita kemerdekaan di dalam Tuhan? Bila kita terbuka mengevaluasi hal ini, Tuhan pasti berbicara agar kita dapat menikmati sukacita di dalam Tuhan.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)