Markus 3 (MAD2T*Pagi*16 Jan*Tahun 1)
Markus 3
Penjelasan Singkat
Para Rasul dipilih
Isi Pasal
Yesus menyembuhkan orang mati sebelah tangannya di hari Sabat. Banyak orang disembuhkan. Dua belas murid dipilih. Dosa yang tidak bisa diampuni.
Judul Perikop
Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat (3:1-6)
Yesus menyembuhkan banyak orang (3:7-12)
Yesus memanggil kedua belas rasul (3:13-19)
Yesus dan Beelzebul (3:20-30)
Yesus dan sanak saudara-Nya (3:31-35)
Tafsiran: Sikap Yesus dan murid-murid-Nya yang kontroversial membuat para pemimpin agama mencari-cari titik lemah Yesus yang memungkinkan mereka menggugat Dia atas pelanggaran yang Dia lakukan.
Ketika ada orang yang tangannya lumpuh sebelah di rumah ibadat, bukan belas kasihan yang ada dalam benak orang-orang Farisi (Markus 3:1-2). Mereka malah mengamat-amati Yesus, untuk melihat apakah Yesus akan melanggar Sabat dengan menyembuhkan orang itu.
Mengapa orang dilarang menyembuhkan pada hari Sabat? Aturan yang dibuat oleh para pemimpin agama menyebutkan bahwa menyembuhkan termasuk dalam kategori bekerja, sementara bekerja dilarang pada hari Sabat. Penyembuhan hanya boleh dilakukan jika orang sedang sekarat. Maka menurut orang Farisi, orang yang tangannya lumpuh sebelah tidak perlu disembuhkan pada hari Sabat. Toh dia sudah hidup bertahun-tahun lamanya di dalam kelumpuhan itu. Namun Yesus membukakan bahwa tradisi legalistik telah menghancurkan pikiran dan rasa kemanusiaan mereka (Markus 3:4). Bagaimana mungkin orang tega membiarkan orang lain tetap sakit, padahal di situ ada Orang yang dapat menyembuhkan? Dan sikap tega itu dipelihara hanya karena lebih mengutamakan tradisi! Tentu saja sikap ini mengundang amarah Yesus (Markus 3:5). Orang-orang Farisi itu begitu degil. Malah kemudian mereka berkoalisi dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Yesus! Padahal orang Herodian adalah musuh orang Farisi. Tentu koalisi ini tidak akan lahir bila tujuannya adalah untuk menolong orang. Namun untuk membunuh Yesus, orang Farisi rela berkompromi.
Di sini kita melihat bahwa penekanan yang berlebihan pada hukum dan tradisi bisa menghancurkan kasih dan kepedulian pada sesama. Prioritas pada pelaksanaan hukum secara kaku dapat menggerus kasih dan peri kemanusiaan. Mari kita lihat ulang berbagai peraturan yang ada dalam gereja kita, adakah semua itu membuat orang merasa dipedulikan atau justru membuat orang merasa takut untuk masuk ke dalam?
Setelah beberapa kali kita melihat lokasi pelayanan Yesus di rumah dan di sinagoge, kali ini pelayanan Yesus berlangsung di tepi danau. Di situ Yesus menyembuhkan banyak orang dari berbagai tempat. Orang-orang yang datang kepada-Nya tidak hanya minta untuk disembuhkan dari penyakit, tetapi juga minta dibebaskan dari roh jahat. Lokasi pendengar yang demikian luas mencerminkan popularitas Yesus. Bahkan roh jahat pun mengenal Yesus sebagai Anak Allah. Tetapi, Yesus melarang mereka bersaksi karena Yesus ingin agar orang banyak mengenal-Nya sebagai Anak Allah melalui perkataan dan perbuatan-Nya. Bukan melalui kesaksian setan dan roh-roh jahat, Yesus menjadi orang terkenal, dan menjadi topik pembicaraan di mana-mana. Tidak heran jika pemimpin agama Yahudi berusaha membunuh-Nya.
Selanjutnya, Yesus berinisiatif memilih dari antara orang banyak 12 orang untuk ditetapkan menjadi rasul. Meskipun mereka yang dipilih-Nya berasal dari berbagai latar belakang, tetapi kebanyakan adalah orang "biasa". Empat dari mereka adalah nelayan, Matius adalah pemungut cukai, Simon orang Zelot adalah seorang pejuang kemerdekaan bangsa Yahudi. Memang tidak mudah bekerja dan hidup bersama dengan orang-orang yang berbeda latar belakang, karena itu Yesus tidak pernah memaksa murid-murid untuk tetap mengikut-Nya. Yesus tidak menginginkan keikutsertaan paksa, tetapi kesukarelaan. Mereka yang dipilih-Nya melakukan dua tugas, pertama, untuk menyertai-Nya dalam tugas pelayanan. Kedua, memberitakan Injil. Tugas ini berat, namun Tuhan memperlengkapi mereka dengan kuasa yang besar. Kuasa yang melampaui kuasa setan-setan dan roh-roh jahat.
Renungkan: Orang Kristen dipilih Yesus dipilih untuk suatu tugas yang mulia, yaitu memberitakan Injil Kerajaan Allah. Tanyakan pada diri sendiri, sudahkah tugas tersebut Anda jalankan?
Mukjizat adalah suatu tindakan yang tidak dapat dipahami dan dipikirkan karena berada di luar kemampuan akal budi manusia. Dalam pelayanan- Nya, Yesus banyak melakukan mukjizat mengusir setan, roh jahat, dan menyembuhkan orang-orang (Mrk. 1: 21-2: 12, 3:1-12). Mukjizat yang Yesus lakukan di berbagai tempat membuat banyak orang datang untuk melihat-Nya. Saat Yesus memasuki rumah, banyak orang berkerumun sehingga mereka tidak dapat makan (Markus 3:20). Melihat hal itu, keluarga Yesus mengambil Dia sebab apa yang dikerjakan-Nya dianggap di luar batas kenormalan (Markus 3:21). Peristiwa yang Yesus kerjakan membuat para ahli Taurat yang datang dari Yerusalem juga menduga bahwa Yesus dirasuki setan, sebab Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul (Markus 3:22).
Yesus mengetahui apa yang dipikirkan para ahli Taurat. Ia menjawab mereka dengan perumpamaan yang sifatnya retoris, yaitu bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? (Markus 3:23). Hal itu akan membuat kerajaan mereka terpecah-pecah dan tidak bertahan (Markus 3:24). Hal ini sama dengan sebuah rumah tangga, jika terpecah-pecah, maka rumah tangga itu tidak akan bertahan (Markus 3:25). Demikianlah pula dengan Iblis, jikalau ia memberontak, maka ia akan terbagi-bagi, tidak bertahan, dan hancur (Markus 3:26).
Para ahli Taurat tidak percaya akan mukjizat yang dilakukan Yesus. Mereka meyakini bahwa hanya Allah dan orang-orang pilihan-Nya yang dapat melakukan mukjizat seperti nabi Allah. Mereka menyangkal kuasa yang Yesus miliki. Mereka tidak percaya bahwa Yesus melakukan mukjizat dengan kuasa Roh Kudus. Karena itu, Yesus memberi peringatan bahwa semua dosa dan penghujatan terhadap anak-anak manusia dapat diampuni (Markus 3:28). Tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus akan binasa (Markus 3:29).
Kita tidak boleh menolak Roh kudus, apalagi menghujat- Nya. Banyak mukjizat yang kita terima dari dari Tuhan adalah pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus adalah Roh yang memberi pengertian kepada kita. Tanpa Roh Kudus kita tidak dapat memiliki pengenalan akan Allah yang benar di dalam Kristus. [JH]
Orang Yahudi menjunjung tinggi nilai sebuah keluarga, yakni hubungan yang terbentuk karena adanya ikatan/pertalian darah di dalamnya. Kita pun, yang dibesarkan dalam budaya timur, memiliki pandangan demikian. Hubungan darah dianggap lebih kental dibanding hubungan lain.
Namun dalam bacaan hari ini, Yesus seolah merendahkan nilai hubungan keluarga (ayat 32-33). Benarkah? Tak sepenuhnya. Yang Yesus maksud, meski hubungan keluarga penting, tetapi tidak membuat orang secara otomatis mengenal Yesus. Kita perhatikan bahwa keluarga-Nya menganggap Dia tidak waras (Mrk. 2:31). Maka menurut Yesus, hubungan di antara orang-orang yang melakukan kehendak Allah bersifat abadi (ayat 35). Hubungan ini terdapat di antara orang-orang yang berorientasi pada Allah. Yaitu orang yang mengikut Dia, mendengar ajaran-Nya, dan mementingkan kehendak-Nya. Inilah basis fundamental keluarga Allah. Orang yang memiliki prioritas seperti itulah, yang disebut Yesus sebagai saudara-Nya laki-laki, saudara-Nya perempuan, dan ibu-Nya (ayat 35).
Tekanan utama terletak pada kata "melakukan" kehendak Allah. Jadi bukan hanya orang yang menyebut diri sebagai murid, yang secara otomatis akan menjadi anggota keluarga Allah. Yang benar-benar pas disebut murid ialah mereka yang konsekuen mengikut Dia dan sungguh-sungguh menjadi pelaku kehendak Allah.
Kita, yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus, harus bercermin dan introspeksi diri: sudahkah kita memprioritaskan kehendak Allah dalam hidup kita. Karena menjadi Kristen bukan sekadar menunjukkan identitas dengan pergi ke gereja setiap minggu dan hidup sebagai orang baik-baik. Menjadi Kristen berarti membiarkan Tuhan menduduki tempat pertama dalam hidup kita. Juga berarti memprioritaskan kehendak-Nya. Bahkan jika itu harus mengorbankan segala hasrat dan cita-cita kita. Memang tidak mudah. Namun Roh Kudus akan memberi kita kekuatan. Dan saat itulah kita akan menunjukkan kesejatian kita sebagai anggota keluarga Allah.