Markus 5 (MAD2T*Pagi*17 Jan*Tahun 1)
Markus 5
Penjelasan Singkat
Kristus menyembuhkan sakit pendarahan
Isi Pasal
Orang gila di Gedara. Perempuan yang sakit pendarahan disembuhkan. Anak Yairus dibangkitkan dari kematian.
Judul Perikop
Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa (5:1-20)
Yesus membangkitkan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan (5:21-43)
Tafsiran: Ini bukan pertama kalinya Markus menceritakan kisah Yesus mengusir roh jahat. Namun ada sesuatu yang berbeda dalam kisah yang terjadi di Gerasa ini dibanding kisah-kisah sebelumnya.
Markus menggambarkan bahwa orang yang kerasukan setan ini memiliki kekuatan fisik yang begitu besar (Markus 5:3-4), tetapi keadaan lainnya sungguh menyedihkan (Markus 5:5). Sungguh mengenaskan keadaan orang yang dikendalikan oleh roh jahat. Orang lain pun mungkin jadi ketakutan bila melihat dia.
Tidak dikisahkan bagaimana orang itu sampai kerasukan roh-roh jahat. Namun interaksi di antara roh-roh jahat dengan Yesus memperlihatkan bahwa mereka tahu siapa Yesus dan mereka takut kepada Dia (Markus 5:7). Roh-roh jahat itu memahami otoritas Yesus, sehingga tidak berani bertindak tanpa seizin Yesus (Markus 5:10-13). Maka atas perkenan Yesus, roh-roh jahat itu berpindah dari orang yang kerasukan itu ke kawanan babi yang berjumlah dua ribu ekor. Akibatnya babi-babi itu terjun ke dalam danau dan mati lemas di sana. Kita bisa melihat bagaimana misi roh-roh jahat yang sebenarnya, yaitu membunuh dan menghancurkan (bdk. Yoh. 10:10). Sama seperti yang mereka telah lakukan kepada orang yang kerasukan.
Namun fakta itu kiranya tidak menyurutkan iman kita. Karena fakta bahwa Iblis dapat menjadikan manusia sebagai tawanannya bukanlah fakta yang penting. Fakta yang terpenting, yang menguatkan iman kita, adalah bahwa tidak ada kuasa apa pun di kolong langit ini yang bisa melampaui kuasa Tuhan kita, Yesus Kristus. Ia Maha Kuasa sehingga dapat mematahkan kuasa apa pun yang membelenggu manusia. Tuhan kita tidak menginginkan manusia, yang telah Dia ciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, dibelenggu oleh kuasa-kuasa kejahatan. Fakta ini bagaikan benteng teguh yang menguatkan iman kita.
Sebagai pengikut Kristus, kiranya fakta ini tidak membuat kita mudah menyerah kalah pada si jahat yang senantiasa berusaha menguasai dan mengecoh kita. Gunakan kuasa Kristus dan nyatakanlah dengan tegas bahwa hanya dalam nama Yesus Kristus ada kemenangan atas si Iblis. Haleluya!
Sungguh ironis! Orang-orang Gerasa lebih merasa terancam ketika orang yang kerasukan itu sudah dipulihkan oleh Yesus daripada ketika ia masih kerasukan (Markus 5:15). Entah apa yang menyebabkan mereka takut. Mungkin mereka takut kalau-kalau keberadaan Yesus akan membuat penduduk wilayah itu mengalami kerugian yang lebih besar lagi. Tampaknya mereka lebih menyayangkan tewasnya babi-babi mereka ketimbang kesembuhan orang yang dipulihkan Yesus itu. Sungguh tragis, karena orang lebih takut pada apa yang Yesus lakukan di dalam kehidupan mereka dibanding apa yang roh-roh jahat itu lakukan. Itu sebabnya mereka lalu mendesak Yesus agar segera meninggalkan wilayah mereka (Markus 5:17).
Lalu bagaimana dengan orang yang dipulihkan itu? Menyadari karya Yesus di dalam hidupnya, muncul kerinduan dalam diri orang itu untuk mengikut Yesus (Markus 5:18). Namun Yesus tidak memperbolehkan dia ikut, karena ada suatu tugas yang dipercayakan kepada orang itu yaitu agar dia memberitakan suatu kabar baik, yaitu tentang belas kasihan Tuhan di dalam hidupnya. Karya Tuhan telah begitu nyata dia alami, Tuhan telah mengubah dia secara radikal, dari tawanan Legion dimerdekakan menjadi pengikut Kristus (Markus 5:19-20). Sungguh menakjubkan!
Kisah ini mengajar kita bahwa tidak ada keadaan orang yang melampaui batas pengharapan kita. Orang ini adalah contohnya. Siapa yang pernah berharap bahwa orang ini bisa pulih? Keluarganya pun mungkin tidak pernah memimpikan hal ini. Namun Tuhan melakukan perubahan radikal di dalam hidupnya. Tuhan pun dapat melakukan perubahan dalam hidup Anda atau orang yang Anda kasihi.
Kisah orang kerasukan roh-roh jahat yang kemudian dimerdekakan oleh Kristus juga memperlihatkan nilai hidup seseorang di mata-Nya. Orang yang tadinya diabaikan oleh orang-orang di sekitarnya, bahkan dihindari karena dianggap menakutkan, kemudian dipakai Tuhan untuk memberitakan kabar baik mengenai karya-Nya. Kiranya ini mengajar kita untuk melayani orang-orang yang dianggap tidak bernilai oleh masyarakat.
Masyarakat Yahudi menganggap perempuan adalah masyarakat kelas dua. Bagi perempuan normal (=sehat) keadaan ini sudah merupakan siksaan, apalagi bagi perempuan yang menderita sakit pendarahan selama dua belas tahun. Direndahkan, dianggap najis dan dikucilkan dari masyarakat karena setiap orang yang menyentuhnya juga menjadi najis.
Markus mengisahkan kepada jemaat saat itu, juga kita saat ini, bagaimana Yesus mendobrak tradisi itu. Yesus membiarkan diri-Nya disentuh oleh perempuan yang dianggap najis dan dikucilkan setelah perempuan itu berhasil menerobos kerumunan orang banyak hanya untuk menyentuh jubah-Nya. Ajaibnya, perempuan itu menjadi sembuh. Tidak ada seorang pun yang menyadari peristiwa ajaib tersebut -- selain Yesus dan perempuan itu -- kalau Yesus tidak mengklarifikasinya. Dalam klarifikasi itu Yesus menyatakan sekaligus menegaskan bahwa perempuan yang mereka anggap "najis" itu telah menjadi tahir, suci sehingga harus diterima di ingkungan sosialnya; dan bahwa kesembuhan itu terjadi karena ia beriman kepada Yesus. Dengan imannya perempuan itu tidak menyerah pada kendala yang dihadapinya untuk memperoleh jamahan kuasa Allah.
Melalui peristiwa ini Markus mengajak jemaat, juga kita untuk melihat tiga hal: pertama, bahwa perempuan bukan masyarakat kelas dua, yang dapat diperlakukan seenaknya. Yesus melakukan ini sebagai upaya mendobrak tradisi waktu itu. Kedua, bahwa diri-Nya adalah Mesias. Dialah yang berkuasa atas segala penyakit. Ketiga, kesembuhan dan keselamatan dikerjakan oleh Firman dan iman kepada Yesus Kristus, Sang Juruselamat.
Renungkan: Yesus bisa memakai berbagai cara untuk menolong kita mengatasi berbagai pergumulan hidup, selama kita percaya dan berkeyakinan sungguh pada kuasa-Nya.
Mungkin Anda pernah merasakan bahwa Tuhan begitu lama menjawab permohonan Anda. Bisa jadi Anda malah mengira bahwa jawaban-Nya bagi Anda adalah "Tidak". Namun bisa jadi Tuhan memang menunda jawaban-Nya untuk maksud melatih iman kita.
Yairus, kepala rumah ibadat, ternyata percaya pada kuasa Yesus. Ketika anaknya sakit, ia datang kepada Yesus lalu memohon agar Yesus menyembuhkan anaknya (Markus 5:21-23). Namun di tengah jalan, terjadilah peristiwa yang menghambat perjalanan Yesus. Kalau kita membaca ayat 25-34, kita tentu bisa mengira-ngira bahwa peristiwa itu memakan waktu yang tidak sebentar. Jadi kita bisa bayangkan betapa resah dan cemasnya hati Yairus selama peristiwa itu berlangsung, bila mengingat anaknya yang sedang sekarat.
Benar saja. Di akhir peristiwa itu, datanglah orang yang berkata bahwa anak Yairus sudah mati (Markus 5:35). Orang itu pun mengusulkan untuk tidak lagi merepotkan Yesus. Namun kematian bukan merupakan kekalahan bagi Yesus. Kematian bukanlah jalan buntu bagi Yesus. Yesus meminta dua hal dari Yairus, yaitu "Jangan takut, percaya saja" (Markus 5:36). Yairus harus berhenti dari rasa takutnya, karena takut dan percaya tidak bisa berjalan seiring. Apa yang harus Yairus percayai? Perkataan Yesus. Semua orang akan berkata bahwa tidak ada harapan bagi Yairus, tetapi perkataan Yesus membawa pengharapan.
Orang-orang yang meratapi dan menangisi kematian anak Yairus kemudian menjadi tertawa ketika Yesus mengatakan bahwa anak Yairus tidak mati, melainkan tidur (Markus 5:38-39). Yesus kemudian membuktikan perkataan-Nya. Dengan disaksikan oleh Yairus dan istrinya, juga ketiga murid-Nya yaitu Petrus, Yakobus, Yohanes (Markus 5:37, 40), Yesus memerintahkan anak itu untuk bangun (Markus 5:41). Anak itu pun bangun dan berjalan (Markus 5:42).
Kadang-kadang Tuhan membiarkan kita berada dalam situasi yang membuat kita nyaris kehilangan pengharapan untuk menyatakan bahwa Dia ada dan berkuasa. Dalam situasi demikian, mintalah kekuatan agar Anda dapat melangkah maju dalam iman.