Markus 7 (MAD2T*Pagi*18 Jan*Tahun 1)

Markus 7

Penjelasan Singkat
Perempuan Siro-Fenisia

Isi Pasal
Yesus menegur orang-orang Farisi. Menyembuhkan anak perempuan Siro-Fenisia dan orang yang tuli dan bisu.

Judul Perikop
Perintah Allah dan adat istiadat Yahudi (7:1-23)
Perempuan Siro-Fenisia yang percaya (7:24-30)
Yesus menyembuhkan seorang tuli (7:31-37)

Tafsiran: Beberapa suku di Indonesia sangat meninggikan tradisi sehingga urusan dengan Tuhan pun dapat dikesampingkan atau diabaikan.

Orang-orang Yahudi sangat meninggikan tradisi (menunjuk pada sekumpulan perintah dan ajaran tidak tertulis para rabi yang terkenal pada masa lalu, kumpulan 613 peraturan sebagai pedoman bagi setiap aspek kehidupan). Tradisi ini mereka campur adukkan dengan ibadah. Mereka sudah tidak dapat membedakan yang mana berotoritas ilahi. Ketika melihat para murid Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan, mereka menganggap hal itu najis. Hal ini berbeda dengan kebiasaan mereka yang selalu melakukan pembersihan secara lahiriah.

Sebenarnya, ada motif terselubung dibalik kedatangan mereka dari Yerusalem ke tempat Yesus. Mereka datang untuk mencari kesalahan Yesus (Markus 7:1-5). Karena itu Yesus secara keras menegur mereka. Demi kemunafikan, mereka rela mengabaikan perintah Allah (Markus 7:6-8). Selain itu, orang Yahudi juga mengabaikan pemeliharaan terhadap orangtua. Mereka berpikir kalau sudah mempersembahkan kurban kepada Allah, maka tidak perlu memerhatikan orangtuanya (Markus 7:9-13). Mereka menggantikan kemurnian moral dengan hal-hal seremonial. Yesus menjelaskan bahwa makanan yang masuk dari luar tidak mencemari hati. Kenajisan sesungguhnya terdapat di hati yang dikeluarkan melalui perkataan dan tindakan jahat (Markus 7:14-23).

Tuhan tahu kejahatan yang ada dalam hati seseorang, meski ditutupi dengan sikap atau perkataan baik. Seseorang bisa terlihat benar dari luar, tetapi hatinya belum tentu mengasihi Allah. Tradisi dan adat istiadat tidak salah seluruhnya. Tetapi kebenaran TUHAN jauh melampaui tradisi dan adat istiadat manusia. Adat istiadat dan tradisi seharusnya didasarkan pada Firman Allah. Allah ingin hati kita mendekat kepada-Nya. Dengan demikian, hati kita akan terisi hal-hal yang mengutamakan Tuhan.

Tuhan harus lebih dihormati dan ditaati melampaui semua aturan lahiriah. Utamakan Tuhan, taati perintah-Nya, dan jalin persekutuan yang erat dengan-Nya! [TNT]

Yesus menarik diri dari kerumunan. Ia pergi ke Tirus untuk menyendiri, masuk ke dalam sebuah rumah, dan tak mau diganggu. Sebenarnya dalam waktu-waktu melayani Tuhan, sama seperti Yesus, kita pun perlu mengambil waktu beristirahat. Mengasihi diri sendiri tidak selalu sama dengan egoisme. Jika kita gagal mengasihi diri sendiri, kita pun akan gagal mengasihi orang lain (Mat. 22:39).

Orang-orang Yahudi telah berkeras hati menolak Yesus. Maka, para pembaca Markus yang nonyahudi akan tertarik membaca bagian ini. Jelaslah bahwa wanita yang datang kepada Yesus berada di luar sistem Yahudi. Kesohoran Yesus membawanya datang -- kasih seorang ibu kepada anak yang kuat, melawan segala halangan sekalipun.

Yesus kelihatannya dengan kasar menolak untuk menerima permintaan sang ibu. Kemungkinan ini disebabkan karena pada waktu itu juga banyak pembuat mukjizat dan banyak orang mencari Yesus bukan untuk mendengarkan pengajaran-Nya dan tunduk kepada otoritas- Nya, melainkan hanya karena ingin disembuhkan. Yesus dengan demikian ingin menguji mengapa sang ibu datang kepada-Nya.

Yesus memakai istilah "anjing", suatu penghinaan yang besar di dunia Mediterania pada waktu itu. Wanita Samaria itu bersedia diumpamakan seperti anak anjing yang menerima remah-remah yang jatuh dari meja tuannya -- demi anaknya, dan tentu karena kepercayaannya yang sungguh bahwa Yesus bisa menyembuhkan. Kerendahhatiannya dan kepercayaannya tidak sia-sia. Ia mendapatkan apa yang dipohonkannya dengan amat sangat -- suatu kontras dengan orang-orang Farisi yang bebal dan sombong.

Renungkan: Ada tiga hal yang harus orang Kristen pelajari dalam kehidupan ini: [1] kerendahan hati, [2] kerendahan hati, [3] kerendahan hati.

Alangkah tidak enaknya menjadi seorang yang tuli. Tidak ada seorang pun yang dapat melihat kesulitan kita. Jika kita menderita buta atau lumpuh, orang lain bisa melihat kesulitan kita dan segera memberikan pertolongan. Namun jika tuli, bagaimana orang bisa tahu bahwa kita butuh pertolongan?

Biasanya orang tuli akan bisu juga karena ia tidak terlatih untuk mendengar kata-kata. Orang tuli yang dipertemukan dengan Yesus menderita gagap juga. Yesus menangani orang ini secara khusus, berbeda dari cara penyembuhan yang biasa Dia lakukan. Orang itu dipisahkan dari orang banyak. Lalu Yesus memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, kemudian Ia meludah, dan meraba lidah orang itu. Selanjutnya Yesus menengadah ke langit dan berkata "Efata!" (ayat 33). Ia menengadah ke langit agar orang itu mengerti bahwa kuasa untuk menyembuhkan datang dari Allah. Mukjizat pun terjadi: telinga orang itu bisa mendengar dan mulutnya bisa bicara. Tentu ia merasa senang. Namun Yesus melarang dia menceritakan hal itu. Akan tetapi, mana mungkin dia diam. Sudah sekian lama ia tidak lancar berbicara.

Yesus bukan hanya menyembuhkan cacat bisu dan tuli secara jasmani. Bukan hanya telinga dan lidahnya jadi terbuka, tetapi hatinya pun jadi terbuka pada Yesus. Ini terlihat dari kesaksiannya pada orang banyak. Mulutnya tidak henti-hentinya membicarakan kuasa dan karya Yesus yang dia alami. Tak heran bila orang banyak pun menjadi takjub (ayat 37). Terjadilah apa yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya, "Pada waktu itu..... telinga orang-orang tuli akan dibuka..... dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai" (Yes. 35:4-6). Dengan menampilkan kisah penyembuhan ini, Markus ingin pembacanya tahu bahwa Mesias sudah hadir di dunia.

Semua itu dimulai karena ada orang yang bersedia membawa dia kepada Yesus. Bagaimana dengan kita? Terpikirkah oleh kita untuk membawa seseorang pada Yesus? Jangan merasa tak berpengharapan dulu. Percayalah pada Yesus.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)