Markus 9 (MAD2T*Pagi*19 Jan*Tahun 1)
Markus 9
Penjelasan Singkat
Yesus bertransfigurasi
Isi Pasal
Transfigurasi. Murid-murid yang tidak punya kuasa dan Kristus yang maha kuasa mengusir setan. Perselisihan tentang siapa yang terbesar. Kemarahan Yesus atas sektarianisme. Peringatan khidmat tentang neraka.
Judul Perikop
Yesus dimuliakan di atas gunung (9:2-13)
Yesus mengusir roh dari seorang anak yang bisu (9:14-29)
Pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus (9:30-32)
Siapa yang terbesar di antara para murid (9:33-37)
Seorang yang bukan murid Yesus mengusir setan (9:38-41)
Siapa yang menyesatkan orangTentang garam (9:42-50)
Tafsiran: Meski sebelumnya Petrus telah mengakui Yesus sebagai Mesias, ia kemudian menolak perkataan Yesus bahwa Mesias akan menderita dan mati dibunuh. Bagi Petrus, itu tidak sesuai dengan gambaran mengenai Mesias yang ada dalam benaknya. Akan tetapi, apa yang telah Allah tetapkan, itulah yang akan terjadi. Penolakan Petrus tidak akan mengubah misi yang diemban oleh Mesias.
Namun di dalam kasih karunia-Nya, Allah memberi kesempatan kepada mereka untuk melihat transfigurasi (perubahan rupa) Yesus (ayat 2-3). Saat transfigurasi, terdengar suara yang memberikan konfirmasi tentang identitas Yesus sebagai Anak Allah (ayat 7). Ini menegaskan pernyataan yang terdengar pada saat Yesus dibaptis (Mrk. 1:11). Konfirmasi ini juga menyatakan kemuliaan Kristus melebihi Musa dan Elia (band. Ul. 18:15; Mzm. 2:7; Yes. 42:1). Sebagai Anak Allah, kuasa dan otoritas-Nya mengatasi para nabi.
Suara surgawi itu juga memerintahkan para murid agar mendengarkan Yesus. Perintah itu seolah menyatakan bahwa sampai saat itu para murid tidak mau mendengarkan Yesus (ingat saat Petrus menegur Yesus, Mrk. 8:32). Selain itu, konfimasi tersebut ingin meyakinkan para murid bahwa meski orang Yahudi menolak Yesus dan tentara Roma akan mengeksekusi Yesus, Ia tetap berkenan di hati Allah (band. Mrk. 1:11). Diskusi selanjutnya yang terjadi saat mereka turun gunung, juga memberikan klarifikasi pada para murid bahwa kemesiasan Yesus selaras dengan nubuat para nabi dalam PL. Maka sudah seharusnya murid-murid Yesus tidak meragukan keberadaan Yesus sebagai Mesias. Lalu bagaimana respons para murid seharusnya kepada Sang Mesias? Dengarkan Dia! Artinya: percaya dan taati Dia.
Keinginan agar Tuhan berkarya sesuai kehendak diri bukan hanya dimiliki Petrus. Kita pun kadangkala demikian. Namun perintah Allah untuk mendengarkan Yesus juga tertuju pada kita. Bukan kita yang mengatur Tuhan, tetapi kita-lah yang harus mendengar suara-Nya dan menaati Dia.
Salah konsep bisa menyebabkan salah bertindak. Maka penting sekali memiliki konsep yang benar untuk mendasari setiap sikap dan tindakan kita.
Para murid sebelumnya telah menerima kuasa untuk mengusir setan (Mrk. 3:14-15). Mereka pun telah berhasil melakukannya (Mrk. 6:6b-13). Namun seolah ilmu yang cukup dipelajari sekali untuk selamanya, mereka mengira bahwa kuasa itu akan tetap ada pada mereka. Dengan anggapan demikian, mereka berusaha mengusir setan yang menguasai seorang anak hingga dia bisu. Lalu apa yang terjadi? Mereka gagal (ayat 17-18). Kenapa? Pertanyaan Yesus menyiratkan bahwa mereka kurang beriman (ayat 19). Kebersamaan mereka dengan Yesus selama itu ternyata tidak menumbuhkan iman dan pemahaman mereka. Padahal kedekatan dengan Yesus itulah yang membuat si ayah membawa anaknya untuk disembuhkan para murid.
Selanjutnya Yesus menjelaskan bahwa mereka kurang berdoa (ayat 28-29). Tampaknya para murid mengandalkan kemampuan diri dalam melakukan mukjizat sehingga mereka tidak bergantung pada Allah. Padahal kuasa untuk melakukan mukjizat mengharuskan para murid memelihara hubungan secara konstan dengan Pribadi yang memberikan mereka kuasa. Dan hubungan itu terpelihara melalui doa.
Namun perlu kita catat bahwa bukan doa itu sendiri yang membuat para murid memiliki kuasa. Doa bukanlah mantera. Doa adalah disiplin rohani yang membawa orang semakin dekat pada Allah. Doa merupakan ekspresi dari ketergantungan total kepada Allah. Seorang hamba Tuhan bernama Warren Wiersbe berkata bahwa otoritas yang Yesus berikan pada para murid hanya efektif jika dilakukan dengan iman. Dan iman bertumbuh melalui disiplin rohani.
Jelas bahwa kegagalan para murid berakar dari perspektif mereka yang terbatas. Mereka tidak memahami keterbatasan mereka dan ketidakterbatasan kuasa Tuhan. Lalu bagaimana relasi doa dan kuasa dalam pelayanan kita?
Kehidupan Kristus adalah kehidupan yang taat kepada Bapa. Ia dipanggil untuk menderita, namun menuju kemuliaan. Kembali Yesus mengulangi skenario penderitaan-Nya. Dikatakan bahwa Ia akan diserahkan ke dalam tangan manusia (ayat 32). Yesus akan menjadi tidak berdaya, namun Ia rela menjadi hamba Allah yang menderita demi perkenanan Bapa-Nya.
Ketika para murid bertengkar tentang siapa yang terbesar, Yesus sadar bahwa mereka masih belum mengerti misi-Nya. Maka, Yesus menekankan kembali bahwa yang penting adalah mengasihi sesama manusia, dan kalau perlu menderita, menyangkal diri. Para murid perlu belajar menerima kerendahan karena itulah jalan Allah bagi misi keselamatan umat manusia. Bila mereka tidak mau menerima fakta ini, maka akan sulit bagi mereka diajak untuk juga menjadi hamba-hamba yang menderita, seperti Yesus Kristus.
Lalu kita masih melihat kedegilan para murid ketika mereka mengajukan komplain mengenai ada orang di luar kelompok mereka yang berhasil mengusir setan. Jelaslah bahwa orang tersebut juga orang percaya karena tidak mungkin ia bisa mengusir setan tanpa hubungan pribadi dengan Kristus. Para murid iri karena mereka tidak berhasil sebelumnya.
Renungkan: Mengasihi Allah menuntut seseorang untuk melepaskan kebanggaan diri dan gengsi bila diperlukan.
Tuhan tidak menghendaki umat-Nya melakukan dosa. Karena itu bila ada orang yang menyebabkan orang lain berdosa, maka ia harus menerima ganjaran (ayat 42). Bahkan bila salah satu anggota tubuh kita menyebabkan kita berbuat dosa, Tuhan menyuruh kita untuk membuangnya. Terdengar ekstrim? Memang. Namun Tuhan tidak akan memberikan perintah tanpa suatu sebab.
Selanjutnya mari kita berpikir, apakah dengan memutilasi diri maka kita langsung dapat mengontrol dosa? Sesungguhnya dosa adalah masalah hati. Jika kita memotong tangan kanan, masih ada tangan kiri yang dapat melakukan dosa. Dan jika kita memotong semua anggota tubuh, masih ada pikiran dan hati yang dapat berbuat dosa. Maka kita melihat bahwa sesungguhnya yang Tuhan inginkan adalah keaktifan kita melawan segala sesuatu yang akan menjauhkan kita dari Tuhan. Sebab pencobaan datang melalui tangan dengan apa yang kita lakukan, melalui kaki dengan tujuan kita pergi, dan melalui mata dengan apa yang kita lihat. Aktif melawan dosa sangat perlu kita lakukan karena bila tidak, nerakalah yang akan menjadi bagian kita (ayat 47). Untuk itu murid Tuhan perlu melatih diri agar tidak kehilangan upah imannya.
Dalam kehidupan sebagai murid Tuhan, kita tidak akan lepas dari ujian-ujian yang diberikan Allah. Ujian itu bagai garam pada makanan yang akan memberi rasa serta mencegah pembusukan (band. Yak. 1:2-4). Namun jika garam menjadi tawar, maka hasil yang diinginkan tak akan tercapai. Begitu pula jika kita tidak memandang penting ujian dari Allah, kita bisa menjadi kebal sehingga ujian itu tidak lagi mendatangkan manfaat bagi kita.
Maka bagi kita yang telah memiliki anugerah yang menyelamatkan, berdoalah senantiasa agar kita tidak jatuh ke dalam dosa. Hiduplah dalam damai dan kasih dengan orang lain. Jangan mencari hal-hal besar, tetapi hiduplah dalam kerendahan hati. Semua hal ini kelihatan sederhana, tetapi akan mendatangkan upah bagi kita.