Matius 10 (MAD2T*Mlm*05 Jan* Tahun 1)

Matius 10

Penjelasan Singkat
Kedua belas rasul diutus pergi

Isi Pasal
Dua belas rasul dipanggil dan diutus.

Judul Perikop
Yesus memanggil kedua belas rasul (10:1-4)
Yesus mengutus kedua belas rasul (10:5-15)
Penganiayaan yang akan datang dan pengakuan akan Yesus (10:16-33)
Yesus membawa pemisahanBagaimana mengikut Yesus (10:34--11:1)

Tafsiran: Yesus memanggil para murid-Nya bukan berdasarkan standar umum seperti memiliki gelar, prestise, jabatan, atau profesi tertentu. Ia memilih berdasarkan kehendak-Nya semata. Sebagian besar murid sebelum dipanggil sudah memiliki kehidupan yang mapan. Ada juragan ikan, bendahara, pekerja bea cukai dll. Namun ketika Yesus memanggil mereka "Ikutlah Aku", segera mereka meninggalkan pekerjaan dan keluarga dan menyertai pelayanan Yesus. Mereka ditetapkan menjadi duta Injil, untuk menyampaikan keselamatan kepada dunia (Matius 10:5).

Yesus membekali mereka dengan otoritas (Matius 10:1) untuk mengusir setan dan melenyapkan segala penyakit. Ia menentukan cara pelayanan mereka, yaitu pelayanan bersama dengan orang lain, bekerja bersama-sama, dan bersama-sama bekerja. Duta tidak sembarang pergi ke mana ia mau. Sasaran yang dituju sudah ditentukan oleh Sang Pengutus (Matius 10:6). Perintah kerja juga dirincikan detail yaitu menyatakan kuasa kerajaan surga secara nyata (Matius 10:7-8). Duta melakukan pekerjaan ke segala tempat bukan dalam rangka wisata, tetapi menggenapi tuntutan tugas mulia dari Yesus yaitu menyampaikan Injil Kerajaan Sorga (Matius 10:7). Model pelayanan mereka persis seperti model kerja Yesus.

Selain perintah, Yesus juga memberi larangan, yaitu agar tidak merepotkan diri dengan perbekalan (Matius 10:9-10). Yesus, Sang Pengutuslah yang memelihara hidup mereka (Matius 10:10b). Yesus bisa memakai si penerima Injil untuk memelihara hidup si duta Injil (Matius 10:11-13). Pemberitaan Injil tidak boleh terbengkalai karena kebutuhan ekonomi.

Alangkah indahnya bila setiap berita Injil yang disampaikan duta diterima oleh semua orang. Namun Yesus sudah mengingatkan bahwa akan ada yang menolak Injil (Matius 10:13, 14, menolak salam). Yang menolak akan menerima penghakiman yang lebih berat daripada penghukuman Sodom dan Gomora (Kej. 19).

Menjadi duta Injil bukan pilihan juga bukan berdasarkan kerelaan sebagai relawan. Menjadi duta Injil adalah panggilan mulia, tugas setiap orang yang sudah mengalami kuasa dari Raja kerajaan surga.

Sebelum diutus, Yesus terlebih dahulu mempersiapkan kondisi spiritual para murid-Nya. Sebagai prajurit Kristus mereka harus memiliki kecerdikan. Tanpa kecerdikan, domba yang lemah itu akan hancur di makan serigala. Harus memiliki keberanian yang luar biasa, karena akan berhadapan dengan lawan-lawan yang bukan tandingannya. Tuhan Yesus meneguhkan hati mereka. Dia berjanji akan memperlengkapi dengan kekuatan, kemampuan dan akan melindunginya. Mereka sangat berharga dimata Tuhan.

Kesetian yang mutlak. Mengingat tugas dan tantangan berat yang harus dihadapi, kesetiaan dan keberanian mutlak diperlukan. Saat kita menerima Yesus menjadi Tuhan dan Juruselamat, kita tidak membayar harga apapun. Namun ketika mulai mengikut Yesus ada harga yang harus dibayar. Dan, ketika kita mulai melayani Yesus, kita harus membayar segala-galanya. Tetapi itu tidak seberapa, jika dibandingkan dengan kehormatan yang dipikul para hamba-Nya kini dan kemuliaan yang kelak diberikan pada kita (Rm. 8:18)

Renungkan: Hidup hanyalah sekali, dan singkat. Apa yang kita lakukan bagi Tuhan Yesus tetap kekal sampai selama-lamanya!

Doa: Tuhanku Yesus, Kaulah harta terindah bagi hidupku.

Mengikut Yesus pasti ada konsekuensinya. Beberapa teman saya menyaksikan bahwa ketika mereka memutuskan untuk percaya Yesus, orang tua menjadi penentang nomor satu. Mereka harus memilih, diakui sebagai anak dan menyangkal Yesus atau sebaliknya. Bukan pilihan mudah.

Yesus tidak mengajar kita untuk memusuhi keluarga atau orang di sekeliling kita untuk disebut layak mengikut Dia. Itu ajaran salah dan ekstrim, yang menimbulkan kesalahpahaman bahwa kekristenan mengajarkan seseorang tidak menghormati orang tuanya. Yesus mengajarkan bahwa kita harus menempatkan Allah sebagai yang nomor satu dalam hidup kita. Semua yang lain, baik orang tua, istri/suami, keluarga, atau sahabat harus ditempatkan sesudah Dia.

Yesus juga mengajarkan bahwa setiap orang harus mengambil keputusan secara pribadi. Keputusan percaya Yesus tidak bisa kolektif. Maka dalam satu keluarga bisa terjadi perpecahan antara yang percaya dan yang menolak. Ingat pengajaran Yesus ini menyangkut situasi darurat ketika penganiayaan terhadap Kristen menjadi-jadi. Orang yang bimbang dan mendua hati atau menghitung untung rugi, tidak layak di hadapan Allah (ayat 37-38). Hanya orang yang berani menyerahkan hidup pada Allah yang akan beroleh hidup!

Puji syukur, ada penghiburan buat para murid. Ada orang-orang yang akan merespons positif terhadap pekabaran Injil. Pasti juga salah satunya ada di dalam keluarga mereka. Kita tahu bahwa semasa hidup Yesus di bumi ini, adik-adik-Nya menolak Dia. Namun setelah kebangkitan-Nya, paling sedikit Yakobus dan Yudas percaya dan menjadi pengikut-Nya yang setia, dan kesaksian mereka dicatat dalam Surat Yakobus dan Surat Yudas.

Ada konsekuensi mengikut Yesus, yaitu penolakan dari dunia ini, bahkan dari orang-orang terdekat. Namun kesaksian kita betapa pun sederhananya, akan membuahkan hasil yaitu orang-orang yang bertobat. Itulah upah kita, yaitu jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Kristus!

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)