Matius 12 (MAD2T*Mlm*06 Jan*Tahun 1)

Matius 12

Penjelasan Singkat
Hujat terhadap Roh Kudus

Isi Pasal
Yesus menyatakan diri-Nya sendiri Tuhan atas hari Sabat yang bertentangan dengan orang-orang Farisi. Menyembuhkan orang yang lemah tangannya. Seorang yang kerasukan setan disembuhkan. Dosa yang tidak bisa diampuni. Kematian dan kebangkitan diberitahukan. Kurangnya reformasi-diri sendiri. Hubungan baru Yesus.

Judul Perikop
Murid-murid memetik gandum pada hari Sabat (12:1-8)
Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat (12:9-15)
Yesus Hamba Tuhan (12:15-21)
Yesus dan Beelzebul (12:22-37)
Tanda Yunus (12:38-42)
Kembalinya roh jahat (12:43-45)
Yesus dan sanak saudara-Nya (12:46-50)

Tafsiran: Orang Farisi punya daftar hukum yang dibuat berdasarkan aturan yang tertulis dalam Kitab Suci. Hukum itu dianggap sama derajatnya dengan Kitab Suci. Salah satunya adalah hukum Sabat. Orang dilarang bekerja pada hari Sabat.

Murid-murid Yesus dituduh melanggar Sabat karena bekerja (ayat 1-8). Padahal mereka hanya memetik gandum dan memakannya! Menjawab tuduhan itu, Yesus menceritakan kisah Daud saat melarikan diri dari Saul (1Sam. 21:1-6). Waktu la-par, Daud ke Rumah Allah dan menerima roti kudus dari imam Ahimelekh (bdk. Kel. 25:30; Im. 24:5-9). Sebenarnya roti itu hanya boleh dimakan oleh imam. Bersalahkan Ahimelekh dan Daud? Terbukti kemudian bahwa dengan memberi roti itu kepada Daud, Ahimelekh memenuhi maksud Allah.

Kisah kedua adalah para imam. Mereka bekerja, melayani umat, justru pada hari Sabat. Salahkah mereka? Allah yang menyuruh mereka! Salahkah Allahkah? Tentu tidak. Ia punya maksud tersendiri. Pernyataan Yesus bahwa Dia Tuhan atas Sabat menyatakan bahwa Dia punya otoritas atas Sabat.

Lalu Yesus menyembuhkan orang yang sebelah tangannya lumpuh pada hari Sabat itu juga. Agar orang Farisi paham, Yesus membandingkan dengan kisah domba yang jatuh ke lubang pada hari Sabat. Salahkah orang bila menolong domba itu? Dengan kisah itu, Yesus ingin mengajarkan bahwa makna Sabat bukan sekadar berhenti dari semua aktivitas melainkan bagaimana melakukan kehendak Allah di hari itu. Jika Sabat dirancang sebagai hari kudus, hari untuk beristirahat dan dipulihkan, hari perayaan kasih karunia Allah, bukankah memberi makan mereka yang lapar dan menyembuhkan orang yang sakit sesuai juga dengan makna Sabat?

Sebab itu mari kita bijak melihat maksud Allah dalam tiap hukum-Nya. Ingatlah bahwa Ia merancang hukum untuk kesejahteraan umat dan bukan sebaliknya. Maka jangan hanya bersikap keras dan menghakimi orang yang melakukan kesalahan. Melainkan bersikaplah seperti Yesus yang melayani dengan lemah lembut (ayat 19) dan penuh belas kasihan (ayat 20).

Tindakan Yesus menghindari orang Farisi yang berencana membunuh-Nya (ayat 15a) menurut Matius adalah penggenapan nubuat Yesaya (ayat 19). Yesus adalah Hamba yang dinubuatkan Yesaya. Roh Kudus ada pada Yesus (ayat 18, 28). Orang Farisi yang menjadi penentang Yesus tidak melihat identitas Yesus tersebut. Mereka tidak melihat pekerjaan Yesus sebagai manifestasi Roh Kudus. Mereka menuduh pekerjaan Yesus sebagai pekerjaan penghulu setan Beelzebul (ayat 24).

Yesus menangkis tuduhan sesat itu. Kerajaan Allah sudah hadir. Kerajaan Iblis sulit bertahan jika warganya saling menyerang dan menghancurkan (ayat 25-26). Jika Farisi tidak menuduh murid-muridnya mengusir dengan kuasa Iblis (ayat 27), mengapa mereka sekarang menuduh Yesus dikuasai Iblis? Yesus mengusir setan hanya dengan perintah, bukan dengan ritual atau mantra atau teknik pengusiran. Yesus mengusir setan menandakan hadirnya Kerajaan Allah (ayat 28). Kuasa Yesus lebih kuat dan lebih besar sehingga Ia dapat mengusir setan. Yesus saja yang mampu membebaskan manusia dari kerajaan Iblis agar masuk ke dalam kerajaan Allah.

Hati orang Farisi sudah begitu keras sehingga sulit melihat kuasa Allah bekerja dalam diri Yesus. Sedikit pun tiada kecenderungan untuk terbuka terhadap apa yang Yesus lakukan. Hati mereka yang keras itulah yang membuat mereka melontarkan tuduhan yang bersifat hujatan. Perkataan merupakan cermin hati. Dari hati manusia mengalir perkataan baik atau jahat. Perkataan Farisi yang menghujat Yesus, pada akhir zaman harus mereka pertanggungjawabkan (ayat 36-37). Demikian pun kini, orang yang sudah melihat kuasa Yesus atau mendengar Injil-Nya dituntut untuk menyambut Dia. Bila tidak, proses pengerasan hati seperti yang dialami orang Farisi, akan terulang lagi.

Camkan: Yang merintangi orang mengalami keselamatan dari Yesus bukan Yesus kurang berkuasa, tetapi ketidakterbukaan hati kepada-Nya.

Dikasih hati minta jantung, mungkin begitulah gambaran orang Farisi. Mereka dan para ahli Taurat meminta tanda dari Yesus untuk meyakinkan mereka agar memercayai Dia. Namun benarkah mereka ingin percaya Yesus? Yesus tahu hati mereka. Mereka sudah melihat Yesus mengusir setan, tetapi mereka malah menuduh Dia melakukan mukjizat dengan kuasa Beelzebul. Jelas bahwa mereka bukan tertarik pada tanda, melainkan sedang mencari cara untuk mendiskreditkan Yesus. Maka tak ada kesempatan bagi mereka untuk diyakinkan karena permintaan mereka lahir dari hati yang tak mau percaya (ayat 39). Mereka telah menolak setiap tanda yang Yesus berikan. Tinggal satu tanda lagi yang akan diberikan kepada mereka, tetapi mereka masih harus menunggu. Itulah tanda Yunus yang akan mengkonfirmasi siapa Yesus sesungguhnya. Tanda itu hanya dapat dikenali setelah mereka menyalibkan Dia. Sama seperti Yunus ada di perut ikan selama tiga hari tiga malam, begitulah Mesias akan berada di dalam kubur tiga hari tiga malam sebelum Ia bangkit.

Lalu Yesus memberi peringatan terkait ketidakpercayaan mereka, yakni tentang iman orang Niniwe dan Ratu Sheba. Mereka bukan orang Yahudi yang percaya pada Allah. Namun orang Niniwe mau percaya pada perkataan Yunus dan Ratu Sheba mengagumi hikmat Salomo dan bersedia datang dari negeri yang jauh. Bukankah mereka seharusnya lebih percaya pada Yesus karena Dia lebih besar daripada Salomo?

Hasrat untuk melihat tanda/mukjizat juga masih besar di kalangan Kristen masa kini. Salahkah? Sebenarnya tidak, asal ditempatkan dalam porsi iman yang benar. Namun jangan sampai tanda menjadi syarat untuk beriman kepada Yesus. Iman yang menyelamatkan bukan didasarkan pada tanda melainkan pada firman Tuhan. Lalu apa yang harus kita lakukan bila kita telah ikut Kristus? Hiduplah dalam komitmen penuh untuk setia kepada Dia. Lakukan kehendak Allah (ayat 46-50). Dan ingatlah bahwa jika Anda mulai undur, si jahat akan berusaha menduduki hati Anda (ayat 43-45).

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)