Matius 13 (MAD2T*Pagi*07 Jan*Tahun 1)
Matius 13
Penjelasan Singkat
Perumpamaan tentang Penabur
Isi Pasal
Misteri Kerajaan Surga. Penabur benih, lalang dan gandum, biji sesawi, ragi, harta terpendam, mutiara, pukat.
Judul Perikop
Perumpamaan tentang seorang penabur (13:1-23)
Perumpamaan tentang lalang di antara gandum (13:24-30)
Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi (13:31-35)
Penjelasan perumpamaan tentang lalang di antara gandum (13:36-43)
Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga (13:44-46)
Perumpamaan tentang pukat (13:47-52)
Yesus ditolak di Nazaret (13:53-58)
Tafsiran: Hati adalah tempat kita mempertimbangkan pilihan, mengambil keputusan, mereka-reka kebaikan atau kejahatan. Hati adalah cerminan keberadaan diri kita secara sederhana. Dalam satu kesempatan hati adalah tempat untuk iman, tetapi dalam kesempatan lainnya hati juga dapat meniadakan Tuhan. Sedemikian pentingnya hati, sampai-sampai firman Tuhan memerintahkan kita untuk memeliharanya lebih dari harta karun.
Tak ada lagi kebaikan. Kesimpulan Daud yaitu bahwa tak ada yang berbuat baik, sungguh mengejutkan. Mustahil kalau di dunia ini sudah tidak ada lagi yang dapat berbuat baik. Bagaimana dengan orang yang bermental terpuji? Memang benar, Pemazmur tidak menyangkal adanya orang-orang yang berbudi luhur, namun ternyata perhatian Pemazmur lebih mendasar. Dua hal yang Pemazmur soroti tajam. Pertama, kebanggaan dan keinginan membangkitkan kemurtadan; Kedua, dalam hal mencari Allah, tak seorang pun memiliki dorongan tulus murni. Betapa parah dan bobroknya kondisi iman manusia dalam dosa.
Fatal akibatnya. Kemurtadan mendatangkan akibat fatal. Daud menggambarkan bahwa kejatuhan yang mengenaskan dialami oleh orang yang melakukan kejahatan. Orang yang membiarkan dirinya hidup tanpa Allah, akan mengalami kemerosotan drastis dan tragis secara mental dan spiritual. Karena itu bukan lagi hal yang luar biasa bila kini masih menyaksikan banyak orang terserang goncangan jiwa yang menghancurkan kehidupannya. Hal demikian tidak akan dialami oleh orang beriman. Kehidupan mereka dipenuhi oleh sorak-sorai dan damai sejahtera.
Renungkan: Ibadah pada hakikatnya ialah memperkokoh sikap iman kepada Allah, meneguhkan hati dan merayakan kemuliaan Allah bersama umat-Nya. Periksa kembali semangat ibadah kita, sungguhkan kita beribadah dalam sikap hati berkenan pada-Nya?
Orang yang suka berkebun tentu tahu bagaimana gemasnya melihat tanaman liar lain yang tiba-tiba tumbuh di antara tanaman yang disukai. Selain mengganggu mata, tanaman liar juga menghisap sari makanan yang seharusnya hanya untuk konsumsi tanaman yang sedang dipelihara. Biasanya orang akan segera mencabut tanaman liar itu.
Namun perumpamaan Yesus menyebutkan hal berbeda. Seseorang yang menabur benih gandum di ladangnya kemudian mengetahui bahwa ada tumbuhan lain yang terselip di antaranya (ayat 27). Ia tahu bahwa musuhlah yang menebarkan benih lalang itu. Ketika hambanya mengusulkan untuk mencabut lalang itu, dia melarang. Mengapa? Ia tidak mau gandum ikut tercabut. Maka ia membiarkan kedua tanaman itu tumbuh bersama.
Melalui perumpamaan ini, Yesus mengajarkan bahwa di antara komunitas orang beriman, terselip orang-orang yang tidak percaya Kristus. Walau demikian kita tidak bisa mengamat-amati sekeliling kita untuk mencari siapa yang kiranya termasuk golongan gandum dan siapa yang termasuk golongan lalang. Kita tak akan tahu siapa yang diselamatkan dan siapa yang tidak. Hanya Allah yang tahu. Hanya Dia yang kemudian dapat memisahkan gandum dari lalang, memisahkan yang diselamatkan dan yang tidak. Sementara itu Ia akan membiarkan orang yang beriman dan yang tidak, hidup bersama-sama sampai tiba waktu dilakukan seleksi.
Namun mungkinkah gandum dapat tumbuh dengan baik dalam suasana yang tidak kondusif seperti itu? Melalui ilustrasi ragi (ayat 33) kita bisa melihat bahwa Tuhan bekerja dengan kuasa yang tidak terlihat oleh mata manusia. Sama seperti ragi yang mengembangkan adonan dengan cara yang tidak terlihat oleh mata. Maka bila Anda memang beriman, tak perlu khawatir akan terlindas oleh kaum lalang. Tetaplah pelihara iman Anda dan setialah. Selebihnya, Allah yang akan mengerjakan pertumbuhan dalam iman Anda sampai Kristus datang untuk memisahkan kita dari kaum lalang.
Mencari sebuah nilai. Nilai suatu benda dapat terletak pada benda itu sendiri atau ada faktor lain di luar benda tersebut yang membuatnya berarti. Sebagai contoh: sebuah cincin emas sangat berarti karena nilai dirinya sendiri; berbeda halnya dengan sebuah cincin imitasi, akan berarti bagi seorang gadis karena cincin tersebut adalah pemberian sang kekasih hati. Cincin emas murni tidak akan luntur nilainya ditelan zaman, namun cincin imitasi mungkin akan berubah tidak bernilai karena kekasih hati sang gadis telah pergi meninggalkannya.
Yesus menekankan betapa bernilainya hal Kerajaan Sorga melalui 2 gambaran: (ayat 1) harta yang terpendam di ladang. Ketika orang menemukan harta terpendam ini, ia sangat bersukacita karena menemukan sesuatu yang sangat bernilai. Maka segala miliknya yang lain menjadi tidak berarti dibandingkan harta tersebut. Ia rela menjual segala miliknya demi mendapatkan harta yang terpendam itu. (ayat 2) seorang pedagang sengaja mencari mutiara karena ia tahu betapa berharganya mutiara itu. Maka setelah ia menemukan mutiara yang dicarinya, ia segera menjual segala miliknya untuk membeli mutiara tersebut. Kedua perumpamaan ini menggambarkan betapa bernilainya hal Kerajaan Sorga, namun tidak setiap orang yang mendengarnya mengerti hal ini. Seorang yang menyadari betapa bernilainya hal Kerajaan Sorga, dengan sukacita akan meninggalkan apa pun dalam dunia ini asalkan mendapatkan kebahagiaan sejati dalam Kerajaan Sorga. Adakah sesuatu yang lebih bernilai dalam hidup Anda sehingga menghalangi untuk mendapatkan Kerajaan Sorga? Sebagai penutup, Yesus kembali mengingatkan tentang kesudahan zaman dimana akan terjadi pemisahan antara orang benar dan orang fasik. Bila tiba akhir zaman maka tidak ada lagi kesempatan bagi orang fasik untuk menyesali keadaannya, karena semuanya sudah terlambat. Ini pun menjadi peringatan bagi kita bahwa kesempatan ini sangat terbatas.
Renungkan: Nilai apakah yang sedang kita cari? Seperti orang yang menemukan harta terpendam dan seperti seorang yang mencari mutiara, ataukah seperti orang-orang yang menolak Yesus karena mencari kebenaran berdasarkan hikmat manusia? Hikmat manusia tidak dapat menembus nilai kekekalan yang dimiliki Yesus. Seorang yang mau membuka hatinya bagi kebenaran-Nya, akan menggali nilai kekekalan di dalam Diri-Nya.