Matius 20 (MAD2T*Mlm*10 Jan*Tahun 1)
Matius 20
Penjelasan Singkat
Pekerja-pekerja di kebun anggur
Isi Pasal
Perumpamaan tentang pekerja upahan di kebun anggur. Kematian dan kebangkitan Yesus diberitahukan. Permintaan ambisius dari Yakobus dan Yohanes. Menyembuhkan dua orang buta.
Judul Perikop
Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur (20:1-16)
Pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus (20:17-19)
Permintaan ibu Yakobus dan YohanesBukan memerintah melainkan melayani (20:20-28)
Yesus menyembuhkan dua orang buta (20:29-34)
Tafsiran: Orang tua yang punya anak lebih dari satu anak tahu situasi ini: salah satu anak protes dan menilai sang orangtua tidak adil karena merasa saudaranya menerima "lebih" dari apa yang dia terima. Entah "lebih" itu dipahami dalam arti lebih banyak, lebih bundar, lebih baru, dst. Motivasinya pun beragam. Bisa saja si anak sebenarnya merasa bosan, butuh perhatian, atau iri. Namun bisa juga si anak memang merasa diperlakukan tidak adil. Untuk kasus ini, mau tak mau orangtua mesti dengan sabar menjelaskan arti keadilan di dalam pemberian tersebut.
Perumpamaan hari ini mengandaikan Kerajaan Surga dengan tindakan seorang "tuan rumah yang pagi-pagi benar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya" (Matius 20:1). Yang digarisbawahi dari tindakan sang "tuan rumah" ada dua hal. Pertama, tindakan memberikan upah harian yang sama kepada para pekerjanya, dari yang bekerja sejak pagi hingga yang baru bekerja pada jam lima sore, mengilustrasikan kemurahan hati Allah di tengah kekayaan dan kekuasaan-Nya: sang tuan rumah memberikan nafkah yang cukup untuk penghidupan sehari-hari, terlepas dari berapa lama mereka bekerja. Kedua, keluhan buruh yang bekerja sejak pagi menggarisbawahi keadilan Allah: sang tuan rumah tak melanggar hak siapapun, karena semua pekerja sama-sama mendapatkan upah yang memadai untuk sehari kerja. Artinya, di dalam komunitas yang menyatakan kehendak Allah, 'upah' orang percaya didasarkan pada kemurahan hati dan keadilan Allah, bukan atas prakarsa manusia. Karena itu perkataan Yesus di ayat 16 "yang terakhir akan menjadi yang terdahulu ..." mengulangi Mat. 19:30 dan menegaskan bahwa Kerajaan Allah akan membalikkan penilaian manusia.
Nas ini memperingatkan kita untuk tidak menerapkan prinsip penilaian dunia ke dalam kehidupan berjemaat. Di mata Allah, pendeta jemaat besar di kota tidak lebih tinggi dari guru sekolah minggu di jemaat desa. Di mata Pemilik Kerajaan Sorga, semua berharga, semua penerima anugerah kemurahan dan keadilan-Nya. Nas ini juga mengajak kita merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama, serta tidak menganggap diri sendiri lebih tinggi dari sesama.
Mengapa Yesus sampai tiga kali memberitahukan penderitaan yang harus Ia tanggung di Yerusalem (Mat. 16:21; 17:22-23; dan 20:17-19)? Di Mat. 16:21 dan Mat. 17:22-23, Yesus hanya memberitahukan secara ringkas apa yang akan terjadi pada-Nya. Baru pada Mat. 20:17-19, Yesus menjelaskan lebih rinci apa yang akan terjadi. Ada dua hal yang selalu disebut, yaitu Yesus akan dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
Ada dua alasan mengapa Yesus mengungkapkan hal tersebut. Pertama, sebentar lagi mereka akan tiba di Yerusalem. Berarti waktunya tidak lama lagi. Para murid pasti akan terguncang. Pemberitahuan ini mempersiapkan mereka: Guru mereka akan dibunuh, tetapi Ia akan bangkit kembali! Kedua, Yesus hendak mengajarkan mereka arti melayani sebenarnya. Melayani artinya memberi diri untuk kepentingan orang lain. Yesus memberi diri-Nya untuk dianiaya dan dibunuh agar pengampunan dosa boleh terjadi bagi banyak orang (ayat 28). Ini teladan yang Yesus ajarkan agar para murid sadar dari sikap yang keliru selama ini, yaitu berlomba menjadi yang terbesar di antara mereka. Baik kedua bersaudara Zebedeus dengan ibu mereka (ayat 20-21) maupun murid-murid lainnya (ayat 24) perlu menyadari bahwa mengikut Yesus adalah melayani dengan meneladani pelayanan Yesus. Mereka akan menerima cawan penderitaan Yesus (ayat 23), yaitu oleh karena Yesus mereka pun akan dibenci, ditolak, bahkan bisa jadi dibunuh.
Sebelum bisa melayani ke luar, memberi diri untuk kepentingan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, para murid perlu belajar melayani sesama mereka. Omong kosong melayani orang dunia, kalau di gereja kita masih memperebutkan posisi, kehormatan, dan kuasa. Adanya persaingan seperti itu menunjukkan bahwa hawa nafsu duniawilah yang sedang menguasai gereja (ayat 25), bukan Roh Kudus yang mempersatukan dan memberi damai sejahtera. Jujurlah memeriksa diri sendiri, bukan menuding orang lain. Sedang melayanikah kita di gereja kita masing-masing?
Kisah penutup perjalanan Yesus menuju Yerusalem ini memberikan kepada kita beberapa pelajaran penting. Pertama, di tengah pergumulan Yesus naik ke Yerusalem untuk menderita, hati-Nya tetap penuh belas kasih pada penderitaan orang lain (ayat 34). Yesus fokus pada tujuan-Nya melayani untuk keselamatan manusia. Kedua orang buta ini memerlukan pelayanan-Nya.
Kedua, kedua orang buta ini juga memiliki fokus iman kepada Yesus yang tidak tergoyahkan oleh teguran orang banyak yang menyuruh mereka diam. Konsep siapa Yesus bagi mereka mungkin sama salahnya dengan pengharapan Yahudi akan Mesias politik. Seruan mereka, "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami" (ayat 30, 31) menunjukkan hal tersebut. Di sini kita belajar, Tuhan menerima iman awal mereka yang polos dan kurang tepat secara teologis dan memberkati mereka dengan kesembuhan.
Ketiga, Matius menaruh perikop ini segera sesudah perikop para murid memperebutkan posisi di samping Yesus untuk mengontraskan "buta" rohani mereka dengan "celik" rohani dua orang buta tersebut. Fokus para murid bukan pada Yesus, melainkan pada diri sendiri. Sebaliknya fokus orang buta itu pada Yesus. Pada saat yang sama orang banyak yang mengiring Yesus pun "buta" rohani juga. Merekalah yang menghalang-halangi kedua orang buta tersebut bertemu Yesus.
Jangan kita merasa hebat hanya karena memiliki pengetahuan iman yang benar, doktrin yang solid, dan teologi yang akurat. Yang harus kita periksa dalam diri kita apakah fokus kita pada Tuhan Yesus atau pada diri sendiri. Jangan sampai Tuhan mempermalukan kita dengan orang-orang yang mungkin secara doktrinal tidak tepat, yang iman mereka lebih dikendalikan pengalaman mereka, bukan kebenaran firman namun, hidup mereka sangat fokus pada Tuhan. Mereka harus bertumbuh dalam kebenaran, tetapi kita harus belajar memfokuskan iman kita pada Tuhan!