Matius 21 (MAD2T*Pagi*11 Jan*Tahun 1)

Matius 21

Penjelasan Singkat
Pohon Ara dikutuk

Isi Pasal
Masuk dengan dielu-elukan. Penyucian Bait Allah yang kedua oleh Yesus. Pohon ara dikutuk. Otoritas Yesus diragukan. Perumpamaan tentang dua anak di kebun anggur. Perumpamaan tentang tuan yang meminta hasil dari kebun anggurnya.

Judul Perikop
Yesus dielu-elukan di Yerusalem (21:1-11)
Yesus menyucikan Bait Allah (21:12-17)
Yesus mengutuk pohon ara (21:18-22)
Pertanyaan mengenai kuasa Yesus (21:23-27)
Perumpamaan tentang dua orang anak (21:28-32)
Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur (21:33-46)

Tafsiran: Mengapa orang banyak menyambut Yesus masuk ke Yerusalem dengan begitu gempar (ayat 8-10)? Apakah karena ikut-ikutan orang lain dalam mengelu-elukan Sang Mesias, walau tidak mengerti apa-apa?

Dari perspektif orang banyak sepertinya ya. Mereka tidak beda dengan kedua orang buta di perikop sebelum ini, yang menyebut Yesus sebagai Anak Daud (ayat 9, Mat. 20:30,31). Kutipan dari Mazmur 118:25-26 ini memang tepat ditujukan kepada Yesus. Hosana berarti Selamatkan kami sekarang. Yesus dielu-elukan sebagai Sang Anak Daud yaitu sosok Mesias, "yang datang dalam nama TUHAN" untuk menyelamatkan umat-Nya. Sayangnya mereka mempunyai pengertian yang salah terhadap Mesias. Bagi mereka, Mesias adalah raja mereka secara fisik yang akan datang untuk membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Mereka menyebut Yesus juga sebagai nabi yang datang dari Nazaret (ayat 11).

Namun dari perspektif Tuhan Yesus, jelas Dia sengaja mendemonstrasikan Diri-Nya sebagai Mesias dengan karakter dan tujuan yang berbeda. Perhatikan, Yesus menunggang seekor keledai muda. Ini sesuai dengan nubuat dari Nabi Zakharia (Za. 9:9). Keledai merupakan simbol perdamaian juga kesederhanaan, kelemahlembutan, dan kerendahhatian. Yesus tidak menunggang seekor kuda yang adalah lambang kekuatan dan kuasa. Bahkan Yesus tidak menunggangi sang induk keledai, melainkan anaknya (ayat 7). Demonstrasi Yesus ini hendak menegaskan kemesiasan-Nya yang bersifat rohani. Ia datang sebagai Raja damai untuk membebaskan umat manusia dari belenggu perbudakan dosa dan dari konsekuensi hukuman Allah.

Kenalkah Anda sungguh-sungguh akan Yesus? Atau selama ini Anda hanya ikut-ikutan ke gereja, berdoa, terlibat dalam berbagai kegiatan ibadah gerejani tanpa memahami siapa yang Anda sembah? Sudahkah Anda percaya dan menerima Yesus sebagai Raja damai dalam hidup Anda? Sudahkah Anda berdamai dengan Allah?

Philip Yancey dalam bukunya "Bukan Yesus yang saya kenal" mengatakan bahwa semakin banyak ia mempelajari Yesus, semakin sukar ia mengetahui siapa sebenarnya sosok Yesus itu. Yesus seringkali hanya digambarkan sebagai Pribadi yang penuh kasih dan kelemah-lembutan. Namun Kitab Suci memberikan gambaran yang utuh tentang Yesus sebagai pribadi yang tegas tetapi juga penuh kasih.

Ketegasan Yesus ditunjukkan dengan kemarahan-Nya, saat melihat para pedagang menyalahgunakan tempat ibadah dan memeras umat. Para imam menolak binatang kurban yang tidak dibeli di Bait Allah, sehingga para pendatang yang ingin mempersembahkan kurban, harus membeli binatang kurban di Bait Allah yang harganya sudah dinaikkan berlipat ganda. Juga, uang asing dinyatakan tidak berlaku, sehingga para pendatang harus menukarkan uangnya terlebih dahulu. Dari penukaran uang ini, mereka juga mengambil untung.Tepatlah kalau Yesus menyebut mereka sebagai penjahat.Ketegasan Yesus juga ditunjukkan dengan pengutukan pohon ara, sebagai simbol penghakiman Tuhan bagi para pemimpin agama yang dari luarnya terlihat bagus dan rapi, tetapi di dalamnya rusak dan tidak berbuah.

Di antara kisah tersebut, ada dua kisah yang menunjukkan kasih-Nya. Yesus menyembuhkan orang sakit (Matius 21:14) dan kesabaran-Nya terhadap kegagalan para murid dalam mengerti pengajaran-Nya. Dari komentar para murid mengenai pengutukan pohon ara (Matius 21:20), kita tahu bahwa mereka gagal mengerti arti simbol tersebut. Yesus bisa saja mengatakan bahwa mereka tidak perlu memedulikan pohon ara itu, karena hanya tindakan simbolis untuk menyatakan bagaimana imam-imam besar kelihatan hebat, tetapi sebetulnya tidak berbuah. Namun, Yesus menanggapi dengan memberi penjelasan lengkap akan doa dan percaya (Matius 21:21).

Bersyukurlah untuk ketegasan dan kasih-Nya.Ketegasan-Nya membuat kita semakin peka terhadap kehendak-Nya. Kasih-Nya membuat kita tidak pernah merasa sendiri dan diterima apa adanya.

Orang yang mencari kebenaran tentu akan banyak bertanya. Ia akan mencari jawab yang boleh memuaskan pikirannya, hatinya, dan akhirnya memutuskan untuk menerima atau menolak kebenaran itu.

Pertanyaan para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi tentang asal muasal kuasa Tuhan Yesus adalah pertanyaan masuk di akal. Tuhan Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan mereka karena Ia mau menguji ketulusan mereka, apakah mereka bertanya karena mau percaya atau sedang mencari jalan menjebak Dia. Maka Ia balik bertanya.

Pertanyaan Tuhan Yesus kepada para pemimpin Yahudi ini (ayat 25a) ternyata tidak bisa mereka jawab. Lebih tepatnya mereka tidak mau menjawab. Mereka menghadapi dilema. Di satu sisi orang banyak mengagungkan Yohanes Pembaptis sebagai nabi (ayat 26). Kalau mereka menjawab baptisan Yohanes bukan dari surga, orang banyak akan kecewa dan meninggalkan mereka. Sebaliknya, kalau mereka mengakui baptisan Yohanes berasal dari surga maka jawaban itu menuding balik kepada mereka (ayat 25b). Kemunafikan mereka akan terbongkar. Jadi, mereka lebih baik menjawab, "Kami tidak tahu." (ayat 27a)

Sikap para pemimpin agama ini begitu munafik! Mereka mendengar, melihat, dan menyaksikan kebenaran di depan mereka. Namun, mereka menolak untuk memercayai-Nya. Mereka lebih memikirkan keselamatan status mereka daripada keselamatan rohani, yaitu dibenarkan oleh Tuhan Yesus.

Hari ini banyak orang yang hanya mencari selamat sendiri, bukan mencari kebenaran. Mereka tidak bersedia menanggung konsekuensi percaya dan menerima kebenaran karena hal itu bisa berarti kehilangan popularitas, karir, dan kenyamanan hidup. Terhadap orang-orang yang demikian, jawaban Tuhan Yesus kepada para pemimpin agama di atas memang sepantasnya: "Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu"(ayat 27b).

Renungkan: Bila kita tidak sungguh-sungguh percaya, maka ketidakpercayaan itu sudah menghakimi kita!

Berulang kali Tuhan menegur orang Yahudi dan para pemimpinnya yang lamban mengakui Yesus sebagai kebenaran. Kini dua perumpamaan yang Tuhan ucapkan, sekaligus menyindir dan menegur keras kelambanan dan kedegilan hati mereka. Dalam perumpamaan dua orang anak, Tuhan menegur sikap keagamaan mereka yang hanya sebatas bibir. Justru orang kafir yang tidak terikat perjanjian Allah ternyata lebih responsif terhadap Yesus. Rupanya mereka itulah yang dalam bagian sebelumnya disebut Yesus sebagai yang terkemudian yang akan menjadi yang terdahulu.

Lamban akhirnya keras hati. Dalam perumpamaan kedua Tuhan bicara lebih tegas. Kini bukan lagi sindiran tetapi peringatan keras. Akan jadi buruk sekali keadaan mereka yang terus saja lamban menerima kebenaran Yesus. Karena dasar dari sikap lamban tersebut adalah penolakan, maka penolakan itu kelak akan memuncak dalam permusuhan. Tentu saja hanya kerugian besar dan kehancuran dahsyat akan menjadi bagian mereka yang menolak dan memusuhi Yesus (ayat 43, 44).

Renungkan: Orang yang telah mendengar tetapi menolak untuk taat kepada panggilan Allah, akan menjadi bebal.

Doa: Tolong kami untuk tanggap dan taat pada tiap kebenaran-Mu, Tuhan Yesus.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)