Matius 6 (MAD2T*Mlm*03Jan*Tahun 1)
Matius 6
Penjelasan Singkat
Hal sedekah dan doa
Isi Pasal
Khotbah di bukit, dilanjutkan. Sekadar melakukan kewajiban dikutuk. Penyataan baru tentang doa (doa murid). Hal mengumpulkan harta. Obat untuk kekuatiran.
Judul Perikop
Hal memberi sedekah (6:1-4)
Hal berdoa (6:5-15)
Hal berpuasa (6:16-18)
Hal mengumpulkan harta (6:19-24)
Hal kekuatiran (6:25-34)
Tafsiran: Yesus bukan hanya memperhatikan kehidupan sehari-hari dalam relasi dengan sesama, kehidupan ibadah pun Dia soroti dengan tajam. Yesus menuding kebiasaan ibadah yang pada hakikatnya bukan ibadah, tetapi pertunjukan kesalehan di hadapan orang lain.
Tiga contoh kehidupan ibadah yang munafik yang dibongkar Yesus adalah sedekah, berdoa, dan berpuasa. Apa yang Yesus ajarkan mengenai ketiga hal ini? Pertama, ibadah tidak boleh didasarkan pada motivasi yang salah! Sedekah, berdoa, juga berpuasa tidak berarti apa-apa kalau bertujuan semata-mata untuk kepentingan diri sendiri (ayat 2, 5, 16). Seharusnya, sedekah adalah sikap ibadah yang mengakui bahwa Allah adalah sumber berkat, dan kita adalah penyalur berkat-Nya. Berdoa dan berpuasa semestinya dilakukan sebagai sarana untuk kita mendekatkan diri pada Tuhan.
Kedua, ibadah harus dilaksanakan untuk menyenangkan hati Allah. Dengan sedekah kita setuju akan kasih Allah kepada mereka yang tidak mampu. Doa yang Yesus ajarkan mengarahkan para murid untuk mengakui bahwa Allah adalah Bapa yang layak disembah (ayat 9). Dia sumber segala sesuatu, termasuk kebutuhan jasmani (ayat 11) dan rohani, yaitu pengampunan dosa (ayat 12). Puasa adalah sarana mendekatkan diri pada Tuhan agar lebih mengerti kehendak-Nya yang spesifik dalam hidup kita. Ketiga, cara beribadah juga harus benar. Doa bukan mantra, melainkan berbicara dengan rendah hati kepada Allah. Sebab itu pengulangan kata atau kalimat tertentu agar doa lebih manjur tentu sangat keliru (ayat 7).
Kita perlu belajar memeriksa ibadah kita di bawah terang firman Tuhan karena terlalu sering ibadah yang suci ternodai oleh motivasi kita yang ingin dikenal sebagai orang saleh, dermawan, dst. Padahal ibadah sejati membawa kita lebih rendah hati karena menyadari segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan. Ibadah sejati pasti berujung pada ucapan syukur dan kesediaan serta tindakan berbagi berkat Tuhan untuk sesama.
Para murid Yesus harus mengambil keputusan yang benar tentang bagaimana bersikap terhadap kebutuhan materiil. Jika tidak, beberapa ancaman terhadap kesetiaan kita kepada Tuhan akan terjadi.
Pertama, orang Kristen harus tahu membuat prioritas yang benar. Yang harus diprioritaskan adalah harta surgawi, bukan harta duniawi (ayat 19-20). Kita harus mengutamakan yang kekal dan menomorduakan yang sementara. Kedua, Yesus realistis sekali. Jika harta duniawi prioritas kita, hati kita pun akan tertambat kepada dunia ini (ayat 21). Harta harus ditempatkan sebagai hamba dan alat. Jika tidak, ia akan "melonjak" menjadi tuan, dan kita di "kudeta"nya ke kedudukan budak (ayat 24). Ketiga, salah prioritas dalam soal harta akan membuat kita kehilangan kesukaan dalam hidup ini. Hidup akan terbungkuk memikul beban kekuatiran tentang kebutuhan sehari-hari (ayat 25-31). Kehidupan Kristen seperti itu akan serendah kehidupan orang yang tidak mengenal Tuhan (ayat 32).
Yesus mengajak kita mengubah cara pandang kita tentang kebutuhan materi. Ia mengingatkan kita bahwa kebutuhan dalam hidup tidak sama dengan kehidupan itu sendiri. Makanan, pakaian, tempat tinggal, dan harta adalah penunjang kehidupan. Yang lebih penting untuk kita perhatikan dan yang menjadi kepentingan utama perhatian Tuhan adalah kehidupan kita. Kita diajak Yesus untuk menghargai hidup berdasarkan kasih dan perhatian-Nya, bukan berdasarkan apa yang kita makan, pakai, dan miliki.
Firman Tuhan ini menuntut kita membuat komitmen mutlak hanya kepada Tuhan saja. Dengan menempatkan Allah sungguh sebagai Tuhan, kita perlu belajar dari hari ke hari menundukkan perhatian kita kepada harta, makanan, dan pakaian ke bawah pemeliharaan dan pemerintahan Allah. Inti prinsip inilah maksud Tuhan: mendahulukan Kerajaan Allah dan memercayai bahwa Dia yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan materi kita (ayat 33).
Renungkan: Tuhan hartaku, atau Harta tuhanku?