Matius 7 (MAD2T*Pagi*04Jan*Tahun 1)

Matius 7

Penjelasan Singkat
Teguran terhadap penghakiman yang terburu-buru

Isi Pasal
Khotbah di bukit, dilanjutkan. Dorongan untuk berdoa. Dua macam jalan. Peringatan terhadap ajaran sesat. Bahayanya pernyataan tanpa iman. Dua macam dasar.

Judul Perikop
Hal menghakimi (7:1-5)
Hal yang kudus dan berharga (7:6-6)
Hal pengabulan doa (7:7-11)
Jalan yang benar (7:12-14)
Hal pengajaran yang sesat (7:15-23)
Dua macam dasar (7:24-27)
Kesan pendengar (7:28-29)

Tafsiran: Relasi dengan sesama sering kali bergantung pada ukuran yang kita kenakan pada orang lain atau sebaliknya, apa yang orang lain ukur dari diri kita. Sering kali ukuran itu berkaitan dengan apa yang dimiliki dan dihasilkan orang itu.

Matius menuliskan pengajaran Yesus dalam hal menghakimi berkaitan dengan apa yang dihasilkan oleh orang yang tidak memiliki karakter surgawi, yaitu orang yang di luar Kristus. Ukuran yang ia pakai adalah dirinya sendiri yang berdosa. Ia tidak dapat melihat dalam terang Kristus apa yang menjadi kekurangan dirinya sendiri. Seseorang yang tidak memiliki Kristus tidak akan dapat melihat dengan ?jelas? kesalahan dirinya sendiri, apalagi kesalahan orang lain (Matius 7:5). Maka, penghakimannya itu pasti salah dan ngawur.

Yesus mengajar lebih lanjut untuk ?tidak melemparkan mutiaramu kepada babi? (Matius 7:6). Babi menggambarkan orang yang karena tidak memiliki Kristus, tidak pula memiliki kepekaan akan apa yang mulia dan tidak mulia. Sikap menghakimi orang lain adalah sikap yang tidak mulia. Maka, ?sia-sia?-lah mengajari orang tersebut dengan hal yang mulia, ia pasti menolaknya.

Yesus meneruskan dengan nasihat kepada anak-anak Tuhan untuk berdoa (Matius 7:7-11). Ketika kita sadar bahwa kepekaan kita akan hal yang mulia itu belum terbangun, kita dengan iman meminta hal tersebut pada Allah. Bapa di surga melebihi orang tua di dunia ini, Ia akan memberikan karakter yang mulia bagi setiap anak-Nya yang memintanya.

Perintah negatif ?jangan menghakimi? diubah menjadi perintah positif. ?Lakukan perbuatan baik kepada sesama!? (Matius 7:12). Inisiatif memberikan yang terbaik harus dimulai dari kita, yang sudah menerima anugerah karakter surgawi.

Kita harus terus menerus memberi diri diubah oleh Kristus sehingga karakter surgawi terbentuk dalam hidup kita. Semakin kita mengenal Kristus dan nilai-nilai mulia-Nya dalam hidup kita, semakin kita memancarkan nilai-nilai mulia itu. Nilai-nilai itu membuat kita tidak mudah menghakimi orang lain, sebaliknya kita akan selalu memberikan yang terbaik buat mereka.

Pilihan yang bukan pilihan. Khotbah di Bukit diakhiri dengan 4 peringatan yang masing-masing terdiri dari 2 pilihan yang sangat kontras yaitu 2 jalan, 2 pohon, 2 klaim, dan 2 pembangun. Peringatan itu merupakan panggilan untuk berkomitmen kepada ajaran-Nya sebab pengikut Kristus bukanlah mereka yang hanya takjub kepada ajaran-Nya (ayat 28-29). Pilihan apa yang kita miliki?

Ada 2 jalan yang tersedia bagi manusia. Jalan bagi pengikut Kristus adalah sempit: terbatas dan tidak bebas, karena merupakan jalan yang penuh dengan tantangan dan penderitaan. Jalan yang tidak populer karena mengikat kebebasan Kristen untuk menuruti kehendaknya. Namun jalan itu bukan akhir dari segalanya sebab di ujungnya tersedia pahala. Buah adalah lambang dari karya transformasi Allah di dalam kehidupan orang percaya (Yes. 5:1-7; Gal. 5:22-23). Produk dari hubungan yang `rahasia' antara Kristen dengan Allah haruslah kasat mata yaitu buah yang manis. Buah ini meliputi apa yang dikerjakan dan apa yang dikatakan. Yang perlu diperhatikan, Yesus berbicara tentang mengenali nabi palsu dan bukan memerintahkan Kristen untuk menguji apakah buah yang dihasilkan oleh saudara seimannya adalah baik. Alasannya adalah seperti pohon, Kristen membutuhkan waktu untuk menghasilkan buah yang baik.

Tidak hanya nabi palsu, pengikut Kristus yang palsu pun ada. Faktor yang menentukan palsu atau tidaknya pengikut Kristus adalah ketaatannya kepada kehendak Bapa di surga dan bukan mukjizat yang dilakukan. Mengapa? Mukjizat dapat dikerjakan oleh iblis sedangkan ketaatan kepada Allah hanya Yesuslah yang dapat melakukannya. Inilah yang seharusnya diteladani oleh para pengikut-Nya.

Mana yang akan Anda pilih dalam menjalani kehidupan di dunia ini? Jalan sempit atau lebar? Berbuah baik atau tidak? Melakukan kehendak Bapa atau tidak? Namun sesungguhnya ini bukan pilihan sebab selain masing-masing mempunyai konsekuensi dalam kekekalan, melakukan apa yang Kristus ajarkan adalah satu-satunya batu karang yang teguh dan merupakan satu-satunya cara membangun fondasi yang akan menopang dan memampukan kita untuk tetap bertahan hingga akhir zaman (Yes. 28:16-17; Yeh. 13:10-13).

Renungkan: Karena itu marilah kita menyatakan seluruh Khotbah di Bukit dalam kehidupan praktis sehari- hari.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)