KPR 4 (MAD2T*Pagi*18 Feb*Tahun 1)
Kisah Para Rasul 4
Penjelasan Singkat
Petrus dan Yohanes dipenjara
Isi Pasal
Penganiayaan yang pertama. Petrus dihadapkan ke Mahkamah Agama. Berkhotbah di dalam nama Yesus dilarang. Orang Kristen sekali lagi dipenuhi oleh Roh Kudus. Keadaan Gereja di Yerusalem.
Judul Perikop
Petrus dan Yohanes di hadapan Mahkamah Agama (4:1-22)
Doa jemaat (4:23-31)
Cara hidup jemaat (4:32-37)
Tafsiran: Hasil khotbah Petrus menghasilkan dua respons yang bertolak belakang. Ada sekitar 2.000 orang Yahudi yang percaya kepada Yesus sehingga jemaat bertambah menjadi sekitar 5.000 orang laki-laki. Sebaliknya para pemimpin agama Yahudi menolak dengan penuh amarah dan berusaha untuk menghentikan pemberitaan tentang kebangkitan Yesus. Berita ini bertentangan dengan doktrin orang Saduki bahwa tidak ada kebangkitan tubuh (Kis. 23:6-8). Sebab itu mereka menangkap dan memenjarakan Petrus dan Yohanes. Namun itu tidak menghambat 2.000 orang tersebut untuk percaya dan bersekutu dengan orang percaya di Yerusalem.
Petrus dan Yohanes menghadapi sidang Sanhedrin, yang sebelumnya telah menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus (lihat Luk. 22:63-71). Petrus, yang pernah ketakutan dan menyangkal Yesus, tampil penuh keberanian dan dengan kuasa Roh Kudus menjawab dua pertanyaan dari Sanhedrin menyangkut sumber kuasa dan atas nama siapakah mereka bertindak. Ia mengemukakan bahwa dalam nama Yesuslah mukjizat terjadi. Sanhedrin tidak dapat menyangkal kesaksian Petrus. Bahkan Petrus menunjukkan dosa mereka karena membunuh Yesus, Mesias mereka. Namun Allah telah membangkitkan Dia. Sebab itu Yesus Kristus hidup dan sekarang bekerja di dalam dan melalui jemaat-Nya dengan Roh Kudus-Nya. Mereka bagaikan para tukang bangunan yang menolak dan membuang Yesus sebagai batu dasar yang penting (Kisah Para Rasul 4:11; Mzm 118:22). Namun Yesus adalah batu penjuru yang berharga bagi bangunan umat Allah, dan menjadi pokok keselamatan satu-satunya bagi mereka yang mau bertobat dan percaya kepada Dia (Kisah Para Rasul 4:12). Hanya dalam nama Yesus, orang percaya akan sembuh dari penyakit dosa dan diselamatkan.
Kita harus meneladani para murid, yang dengan berani menyatakan kebenaran dan dengan kuasa Roh Kudus bersaksi bahwa Yesus adalah Juruselamat manusia satu-satunya. Biarlah hambatan, penganiayaan, ancaman, penjara, dan kematian sekalipun tidak menghalangi kita.
Bagaimana kesaksian Kristen bekerja menyatakan kuasa Allah? Melalui kesaksian faktual, keberanian menyatakan kesaksian itu, dan kuasa Roh Kudus yang menyertai.
Meski berhadapan dengan para pemuka agama, Petrus dan Yohanes tidak merasa takut menyatakan kebenaran yang mereka imani. Dengan yakin Petrus memberikan argumentasi tentang kuasa Yesus yang telah memampukan mereka menyembuhkan orang lumpuh (Kis. 4:8-12). Begitu lancar Petrus mengemukakan pokok-pokok imannya, sehingga Mahkamah Agama tampaknya semula menganggap Petrus dan Yohanes adalah orang-orang yang terdidik secara khusus dalam pengetahuan agama. Maka ketika mengetahui bahwa Petrus dan Yohanes adalah orang biasa yang tidak terpelajar, Mahkamah Agama merasa heran dengan kemampuan Petrus menjabarkan semua itu (ayat 13). Namun saksi hidup, yaitu orang lumpuh yang telah disembuhkan dan berdiri di dekat kedua rasul itu, membuat mereka tidak dapat memberikan sanggahan (band. Luk. 21:15). Yang mereka bisa lakukan hanyalah mengancam Petrus dan Yohanes untuk tidak mengkhotbahkan Yesus sebagai sumber mukjizat kesembuhan tersebut. Terhadap ancaman para pemimpin agama Yahudi, sikap Petrus dan Yohanes jelas dan tegas. Mereka menolak tunduk di bawah ancaman karena mereka telah berkomitmen untuk setia mutlak kepada Allah (ayat 19). Tepat seperti yang pernah dikatakan mengenai teolog Skotlandia, John Knox "Ia begitu takut kepada Allah, sehingga ia tidak pernah merasa takut kepada manusia siapapun juga".
Keberanian berdiri tegak memberi kesaksian tentang Tuhan Yesus dengan risiko apapun adalah buah dari kuasa Roh Kudus dalam hidup orang percaya. Justru semakin kuat tekanan kepada iman Kristen, kesaksian iman pun semakin tampak dan berdampak dahsyat. Sebab itu jangan pernah takut kalau Anda harus memberi pertanggungjawaban iman kepada siapapun. Nyatakan iman Anda dengan berani dan lihat bagaimana Roh Kudus berkarya melalui kesaksian itu.
Rasul-rasul dan jemaat mula-mula ketika mendengar kabar bahwa Petrus dan Yohanes mengalami intimidasi, bersehati mendukung mereka dalam doa kepada Allah yang berkuasa, Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya (Kisah Para Rasul 4:23-24). Mereka menyadari bahwa hanya Allah satu-satunya sumber pertolongan mereka. Mereka berdoa berlandaskan firman Tuhan (Mzm. 2:1-2) dan menyadari bahwa apa yang Yesus sendiri alami akan mereka alami juga, karena seorang murid tidak akan lebih daripada gurunya (Luk. 6:40). Mereka tidak berdoa agar situasi berubah, kesaksian mereka lancar, atau ancaman musuh-musuh lenyap, tetapi agar Allah melaksanakan kehendak-Nya di dalam dan melalui mereka (Kisah Para Rasul 4:28). Untuk itu mereka meminta Tuhan memberikan keberanian untuk memanfaatkan setiap kesempatan untuk memberitakan Injil. Mereka juga meminta kuasa Roh Kudus untuk melakukan tanda dan mukjizat di dalam nama Yesus. Maka Tuhan pun menjawab doa mereka yang tulus dan penuh kesehatian (Kisah Para Rasul 4:31, 33).
Mereka bukan hanya bersatu dalam doa ketika menghadapi ancaman, melainkan juga dalam persekutuan yang berlandaskan kasih. Mereka mewujudnyatakan iman mereka dalam perbuatan dengan mengasihi dan rela berkurban bagi saudara seiman. Itulah sebabnya mereka, seperti Barnabas (Kisah Para Rasul 4:36-37), menganggap harta milik pribadi sebagai milik bersama, bukan sebaliknya. Mereka tidak mementingkan diri sendiri, melainkan rela dan tulus menjual dan mempersembahkan harta bendanya untuk berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Rasul-rasul pun membagi-bagi berdasarkan prinsip keadilan (Kisah Para Rasul 4:34-35; 2:44-45). Tidak heran, hidup mereka penuh kasih karunia Allah yang berlimpah-limpah sehingga tidak seorang pun yang berkekurangan.
Hidup yang berdasarkan iman adalah hidup yang benar. Hidup yang berdasarkan iman harus nyata di dalam ibadah kepada Tuhan. Dan hidup yang berdasarkan iman adalah hidup yang diwujudnyatakan dalam kasih kepada sesama, bukan hanya waktu Paskah dan Natal, tetapi sehari-hari pun kita perlu terlibat menolong sesama.