KPR 9 (MAD2T*Pagi*23 Feb*Tahun 1)
Kisah Para Rasul 9
Penjelasan Singkat
Pertobatan Saulus
Isi Pasal
Perubahan dari Saulus menjadi Paulus. Paulus mengajar dan mengunjungi Yerusalem dan kembali ke Tarsus. Petrus menyembuhkan Eneas. Tabita dibangkitkan dari kematian.
Judul Perikop
Saulus bertobat (9:1-19)
Saulus dalam lingkungan saudara-saudara (9:19-31)
Petrus menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Dorkas (9:32-43)
Tafsiran: Monster ganas, barangkali itulah istilah tepat untuk melukiskan seorang Saulus sebelum ia bertemu Yesus. Betapa tidak, Alkitab melukiskan bagaimana Saulus memasuki rumah demi rumah, menyeret orang-orang percaya, dan memenjarakan mereka (Kis. 8:3). Alkitab melukiskan betapa Saulus dengan semangat berkobar-kobar serta didukung oleh surat kuasa dari Imam Besar, pergi untuk menangkap dan membunuh setiap orang yang mengikuti Jalan Tuhan (Kis. 9:1, 2). Sungguh ganas dan mengerikan!
Saulus boleh saja punya semangat, punya rencana, dan dukungan Imam Besar, tetapi rencana tinggal rencana ketika ia kemudian bertemu dengan Imam Besar dan Pemilik Kuasa yang sesungguhnya. Segala sesuatu yang ia rencanakan pupus dengan segera. Di hadapan Yesus, Saulus terkapar di tanah dan tidak berdaya. Jangankan mencari dan menangkap orang-orang percaya, melihat pun ia tidak dapat (Kisah Para Rasul 9:8-9).
Kisah selanjutnya, sungguh di luar penalaran kita, bahkan Ananias pun semula ragu bahwa Saulus telah bertobat. Namun Yesus telah memerintahkan Ananias untuk melayani Saulus, membaptis dia, dan membawanya ke dalam lingkungan orang percaya lainnya. Dalam sekali perjumpaan, melalui firman Yesus yang penuh kuasa, seorang monster yang ganas kemudian berubah menjadi seorang laki-laki biasa yang lemah dan butuh pertolongan. Di kemudian hari Saulus bahkan berubah menjadi salah satu tokoh Kristen yang paling gigih dalam memberitakan Injil Tuhan Yesus sampai akhir hayatnya.
Dari pertobatan Saulus ini kita belajar betapa keselamatan di dalam Yesus Kristus sungguh-sungguh merupakan suatu anugerah dari Tuhan. Ketika tidak ada orang yang berani mendekati Saulus karena kekejamannya, Allah sendiri bertindak. Seperti Saulus, kita pun bukan orang yang layak di hadapan Tuhan, tetapi kita pun telah mengalami perjumpaan dan menerima Firman itu sehingga kita menjadi orang percaya. Sudahkah kita bersyukur atas anugerah keselamatan yang Tuhan beri? Maukah kita taat pada pimpinan Yesus, Tuhan kita?
Pertemuan Saulus dengan Yesus, yang telah bangkit, menghasilkan transformasi radikal di dalam diri Saulus. Salah satu bukti pertobatan Saulus adalah ia menggabungkan diri dengan jemaat di Damsyik (ayat 19b). Saulus, yang tadinya berhasrat membinasakan para pengikut Kristus, kemudian tinggal dalam persekutuan dengan mereka. Tak heran bila banyak jemaat yang mencurigai kehadirannya (ayat 21). Bukan hanya di Damsyik, jemaat di Yerusalem pun tidak mudah menerima Saulus (ayat 26). Sebab setahu mereka, Saulus dulu mengejar-ngejar untuk membinasakan mereka. Bagaimana mungkin Saulus berubah seratus delapan puluh derajat? Pemikiran maupun tingkah lakunya berubah. Saulus yang dulu 'menganiaya' Yesus, kemudian malah membuktikan bahwa Yesuslah Tuhan (ayat 20, 22). Ia sungguh-sungguh telah bertobat. Pemahaman dan komitmennya juga bertumbuh. Ia kemudian mempunyai murid-murid (ayat 25).
Yang bingung ternyata bukan hanya para pengikut Kristus, orang-orang Yahudi pun tidak mengerti apa sesungguhnya yang terjadi pada diri Saulus (ayat 22). Maka agar situasi tetap aman terkendali, Saulus harus dibungkam. Mereka mungkin khawatir tak akan menang bila harus beradu argumentasi dengan dia. Maka jalan satu-satunya, Saulus harus dihabisi. Saulus yang dulu menganiaya dan membinasakan orang-orang yang percaya Yesus sekarang menjadi target maut karena perubahan pandangannya tentang Yesus. Sampai dua kali ia mengalami percobaan pembunuhan (ayat 23-24, 29).
Betapa kuat kuasa Yesus mengubah Saulus. Kuasa yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Saulus. Bila dulu ia mengejar-ngejar orang yang percaya Yesus, kini ia jadi dikejar-kejar karena imannya kepada Yesus. Maka jangan pernah meremehkan kuasa Tuhan untuk mengubah seseorang. Bila Anda masih mendoakan seseorang agar ia berubah dan mau menerima Tuhan, jangan pernah putus asa. Doakan terus agar Tuhan menyatakan kasih karunia-Nya pada orang yang sedang Anda doakan itu.
Ketika penganiayaan terjadi, para rasul memilih untuk tetap tinggal di Jerusalem (Kisah 8:1b). Setelah keadaan damai tercipta (Kisah 9:31), Petrus menggunakan waktu yang indah untuk berjalan keliling. Tujuannya tidak hanya untuk mengabarkan Injil, namun juga mengunjungi orang Kristen yang ada di Lida, serta mengajar dan menguatkan mereka. Ternyata kunjungan ini berdampak bagi pekabaran Injil yang lebih luas (Kisah 9:35,42). Salah satu kegiatan pelayanan yang sering terabaikan adalah visitasi (pelawatan). Banyak alasan dapat dikemukakan untuk mendukung hal pernyataan tersebut. Petrus sebagai rasul dan pemimpin gereja saat itu memberikan contoh yang baik. Petrus memperlihatkan bahwa pelawatan adalah salah satu bentuk pelayanan yang efektif. Melalui efektifitas pelayanan pelawatan, gereja akan menjumpai jemaat yang membutuhkan bimbingan dan pertolongan.
Berpusat pada Kristus. Pusat setiap gerak pelayanan Petrus adalah Yesus Kristus. Ada tiga bukti yang mendukung pemahaman ini: pertama, Petrus mencontoh apa yang pernah dilakukan Yesus dalam melakukan mukjizat (Kisah 9:34; 40 ); kedua, semua mukjizat itu dilakukan dalam nama Yesus "Yesus Kristus menyembuhkan engkau" (Kisah 9:34); lalu ia berlutut dan berdoa (Kisah 9:40); ketiga, mukjizat yang dikerjakan oleh Petrus hanya untuk memuliakan Yesus (Kisah 9:35, 42). Tanda-tanda mukjizat yang dilakukan oleh Petrus itu mempunyai tujuan untuk menguatkan dan mengilustrasikan berita keselamatan di dalam Yesus. Petrus juga ingin menunjukkan bahwa di dalam kematian dan kebangkitan-Nya, maut dan penyakit dipatahkan-Nya. Kesaksian keajaiban karya Kristus membawa orang mendengar berita Injil, melihat mukjizat dan menjadi percaya.
Mungkin kita tidak mempunyai karunia seperti Petrus untuk melakukan banyak mukjizat, namun prinsip "pelayanan berpusat pada Kristus" harus selalu kita pegang teguh.
Pola ini merupakan kunci mengapa Gereja mula-mula terus bertumbuh di tengah-tengah masa penderitaan dan di masa damai (ay. 31).