Lukas 19 (MAD2T*Pagi*01 Feb*Tahun 1)
Lukas 19
Penjelasan Singkat
Zakheus dipanggil
Isi Pasal
Pertobatan Zakheus. Perumpamaan tentang uang mina. Masuk dengan dielu-elukan. Yesus meratapi Yerusalem. Penyucian bait Allah.
Judul Perikop
Zakheus (19:1-10)
Perumpamaan tentang uang mina (19:11-27)
Yesus dielu-elukan di Yerusalem (19:28-44)
Yesus menyucikan Bait Allah (19:45-48)
Tafsiran: Jika dalam kasus orang Yerikho yang buta lalu oleh dorongan Roh Kudus orang tersebut berinisiatif menyapa Yesus lebih dahulu, dalam perikop kali ini Yesuslah yang berinisiatif memanggil orang berdosa untuk menyadari keberdosaannya dan bertobat. Inilah yang terjadi pada diri Zakheus.
Namun, melihat respons Zakheus, dapat dipastikan bahwa Roh Kudus sudah bekerja lebih dahulu pada diri Zakheus. Itu sebabnya, ketika Yesus memanggil Zakheus dan menyatakan keharusan dan keinginan-Nya menumpang di rumahnya, Zakheus segera menerima dengan sukacita (ayat 6). Bahkan, Zakheus segera menyatakan tekadnya untuk memperbaiki apa yang salah yang telah diperbuatnya, khususnya dalam kaitan dengan pekerjaan cukainya (ayat 8). Inikah yang disebut pertobatan sejati?
Melalui responsnya terhadap tawaran Yesus, dapat dikatakan bahwa Zakheus sedang mengalami pertobatan sejati. Ia menyadari bahwa perbuatannya baik dengan mencurangi orang-orang yang berhutang pajak pada kerajaan Romawi dengan cara memeras mereka untuk membayar pajak lebih banyak daripada jumlah yang seharusnya, maupun dengan tidak mempedulikan orang-orang miskin adalah dosa. Ia sadar akan status dan kondisi hidupnya sebagai orang berdosa. Namun, ia segera mengambil keputusan yang bukan hanya slogan iman belaka melainkan perbuatan nyata sebagai bayar harga atas semua kerugian yang telah diderita orang lain oleh perbuatan dosanya.
Yesus pun tidak segan-segan memuji Zakheus sebagai 'anak Abraham' (ayat 9). Bagi Yesus, respons Zakheus membuktikan bahwa ia beriman, sehingga layak digolongkan sebagai anak Abraham (Bapa kaum beriman).
Renungkan: Pertobatan sejati adalah respons positif iman terhadap anugerah keselamatan Allah di dalam Yesus! Dapatkah Anda menunjukkan bukti pertobatan sejati Anda?
Seorang pekerja wajib melaporkan hasil kerjanya. Ini merupakan pertanggungjawaban atas pekerjaan yang telah dipercayakan kepadanya.
Begitu pula dengan tiga hamba yang dipercaya untuk melipatgandakan mina sebelum tuan mereka bepergian. Saat kembali, si tuan meminta pertanggungjawaban atas hasil kerja mereka (Lukas 19:15). Hamba pertama menghasilkan sepuluh mina dari satu mina yang dipercayakan (Lukas 19:16). Prestasi yang luar biasa! Tidak heran bila ia menerima penghargaan atas kesetiaannya, yakni kesempatan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar lagi (Lukas 19:17). Hamba kedua menghasilkan lima mina (Lukas 19:18). Hasil yang juga baik! Ia pun menerima penghargaan yang sebanding dengan hasil kerjanya (Lukas 19:19). Tetapi hamba ketiga datang dan mengembalikan satu mina yang telah diberikan padanya (Lukas 19:20). Ternyata ia melalaikan tugas itu! Ia menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan padanya. Alasan untuk mengelak dari tanggung jawab merupakan pengingkaran terhadap otoritas tuannya (Lukas 19:21). Padahal banyak cara untuk mengupayakan agar mina itu bisa dilipatgandakan (Lukas 19:23). Maka sebagai konsekuensi, apa yang ada padanya akan diambil dan ia pun akan dihukum (Lukas 19:27)! Melalui perumpamaan ini Yesus ingin menyatakan kepada para pengikut-Nya agar mereka giat melayani Dia di dalam waktu yang sementara ini. Akan tiba saatnya Dia pergi, akan tiba saatnya pula Ia kembali dan meminta pertanggungjawaban. Perumpamaan ini juga merupakan peringatan bagi orang Yahudi tentang pahitnya konsekuensi penolakan terhadap Yesus. Karena itu mereka harus bertobat sebelum Yesus datang untuk menghukum mereka!
Bagi kita sekarang ini pun kedua pelajaran itu berlaku. Kerjakanlah dengan giat apa yang Tuhan telah percayakan pada kita dalam hidup ini. Sekecil apapun karunia yang kita terima dari Dia, harus digunakan semaksimal mungkin atau kita akan kehilangan apa yang sudah kita miliki. Dan jangan pernah menolak Dia karena hukuman akan menanti kita!
Akhirnya perjalanan Yesus hampir mencapai garis akhir. Ia sudah semakin dekat ke Yerusalem. Ia tidak hanya mengetahui apa yang akan terjadi di depan-Nya, tetapi juga mengetahui bahwa sebentar lagi misi yang diemban-Nya sebagai Mesias akan mencapai puncaknya.
Maka tiba waktu bagi Yesus untuk menyatakan Kemesiasan-Nya secara frontal. Sesuai dengan nubuat Zakharia (Zak. 9:9-10), Mesias sebagai raja akan masuk ke Yerusalem dengan mengendarai keledai muda. Pernyataan frontal ini diperlukan agar terbuka pula semua sikap yang selama ini mungkin tersembunyi, sehingga jelas siapa kawan, siapa lawan.
Sambutan gempita dari para murid dan pengikut Yesus yang begitu luar biasa menunjukkan bahwa masyarakat menerima kehadiran Mesias. Dengan mengutip Mazmur 118:26 yang biasa dikumandangkan pada perayaan Pondok Daun para murid menyambut 'Dia yang datang dalam nama Tuhan' menuju takhta kerajaan di Yerusalem (Luk. 19:38). Sambutan yang gegap gempita itu segera mendapatkan protes dari orang-orang Farisi. Namun, Yesus menolak protes mereka dan menegaskan bahwa batu akan bersorak bila suara manusia dibungkam (ayat 40)!
Jelaslah bagi kita kini: siapa kawan, siapa lawan! Orang Farisi dan kelompok yang selama ini menentang Yesus, yang sekaligus mewakili kelompok orang banyak (terbukti kelak merekalah yang menyalibkan Yesus), dan warga Yerusalem sendirilah yang akan bangkit menentang Yesus.
Untuk itulah Yesus meratapi Yerusalem (ayat 41-44). Oleh karena mereka menolak Mesias maka mereka akan mengalami penghukuman dahsyat. Yesus sekaligus menubuatkan penghancuran kota Yerusalem yang akan terjadi empat puluhan tahun kemudian.
Renungkan: Sekali waktu kelak, semua lutut akan bertelut, semua lidah akan mengaku, Yesus itu Tuhan.
Sungguh kontras sukacita para murid yang sedang mengelu-elukan Yesus (Lukas 19:37), bila dibandingkan dengan tangis Yesus saat Ia melihat Yerusalem. Ia menangis karena Israel tidak tahu tentang apa yang bisa mendatangkan damai sejahtera bagi mereka (Lukas 19:41).
Sebenarnya Israel percaya bahwa Mesiaslah yang akan membawa damai sejahtera dan memulihkan kerajaan Israel. Namun mereka beranggapan bahwa itu akan tercapai saat Roma, yang waktu itu menguasai mereka, dikalahkan dalam peperangan yang dipimpin oleh Mesias. Tidak heran bila mereka menolak Yesus, meskipun Ia Mesias sejati, karena Ia tidak sesuai dengan gambaran Mesias dalam benak mereka. Padahal melalui kedatangan Yesuslah, Allah melawat umat-Nya. Artinya menolak Yesus sama dengan menolak Allah. Tidak heran bila penolakan mereka kemudian berakibat serius: Yerusalem akan hancur di tangan Roma!
Penolakan juga dilakukan oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat setelah Yesus menunjukkan otoritas-Nya dalam pengusiran pedagang di Bait Allah (Lukas 19:45-46). Bukannya menjadikan Bait Allah sebagai rumah doa, para pemimpin agama malah menjadikannya sebagai tempat komersial demi keuntungan pribadi. Maka seperti menyiramkan bensin ke api, tindakan Yesus membangkitkan amarah mereka. Akibat-nya mereka bermaksud membinasakan Dia (Lukas 19:47) sebelum Dia lebih membahayakan posisi mereka, meskipun belum diketahui caranya (Lukas 19:48).
Dengan menolak Yesus, Israel memilih murka Allah. Terbukti, empat puluh tahun setelah dinubuatkan, kehancuran Yerusalem terjadi. Hal yang sama pun dapat terjadi pada kita. Jika kita menolak Yesus, artinya kita menolak lawatan Allah atas kita. Itu berarti kita harus siap menerima murka Allah! Itukah yang kita inginkan? Bukankah lebih baik bila kita menyambut Allah yang melawat kita melalui Kristus? Kiranya Tuhan membuat kita peka terhadap tanda lawatan-Nya dan menolong kita untuk responsif.