Lukas 20 (MAD2T*Mlm*01 Feb*Tahun 1)

Lukas 20

Penjelasan Singkat
Perumpamaan tentang kebun anggur

Isi Pasal
Otoritas Yesus dipertanyakan. Perumpamaan tentang kebun anggur. Pertanyaan tentang uang pajak. Jawaban kepada orang-orang Saduki tentang kebangkitan. Yesus mempertanyakan ahli-ahli Taurat.

Judul Perikop
Pertanyaan mengenai kuasa Yesus (20:1-8)
Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur (20:9-19)
Tentang membayar pajak kepada Kaisar (20:20-26)
Pertanyaan orang Saduki tentang kebangkitan (20:27-40)
Hubungan antara Yesus dan Daud (20:41-44)
Yesus menasihatkan supaya waspada terhadap ahli-ahli Taurat (20:45-47)

Tafsiran: Otoritas bisa diartikan sebagai kekuasaan atau hak untuk bertindak. Otoritas inilah yang dipertanyakan oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat serta tua-tua agama kepada Yesus tentang penyucian Bait Allah (Lukas 20:2) yang Yesus lakukan sebelumnya. Menurut mereka, Yesus sudah campur tangan terlalu jauh dalam kehidupan beragama orang Yahudi. Hanya orang yang merasa punya otoritas tinggilah yang berani melakukan itu. Karena dalam tradisi keagamaan mereka, hanya para pemimpin agamalah yang memiliki otoritas satu-satunya dalam segala urusan mengenai Bait Suci. Itulah sebabnya mereka mau menjebak Yesus melalui pertanyaan tentang otoritas itu. Mereka bahkan ingin jawaban Yesus menjatuhkan diri-Nya sendiri di depan khalayak pendukung-Nya. Namun mereka salah duga.

Yesus membaca hati dan situasi. Ia membalikkan pertanyaan mereka dengan pertanyaan mengenai otoritas Yohanes Pembaptis (Lukas 20:4). Mereka sadar benar bahwa mereka harus berhati-hati terhadap jawaban yang akan mereka berikan. Bisa menjadi dilema! Jika mereka katakan Yohanes Pembaptis adalah utusan Allah, tentu akan muncul pertanyaan mengapa mereka tidak mempercayai dia (Lukas 20:5). Tetapi jika mereka menjawab bahwa Yohanes bukan utusan Allah, melainkan bertindak atas otoritasnya sendiri, jelas ada risiko besar! Mereka bisa dilempari batu, karena banyak orang yang yakin bahwa Yohanes adalah seorang nabi (Lukas 20:6). Tersudut oleh pertanyaan itu, mereka memilih jawaban 'tidak tahu' (Lukas 20:7). Berhubung mereka tidak mau menjawab, Yesus pun menolak untuk menjawab (Lukas 20:8). Yesus menolak memberi penjelasan lebih jauh sebab para pemimpin agama tidak menanggapi terang yang sebenarnya sudah mereka lihat. Mereka tidak mau terbuka! Harga diri mereka bisa jatuh! Akibatnya mereka tinggal terus dalam kegelapan itu.

Seperti itu jugakah sikap kita terhadap Yesus? Kiranya kita tidak mempertahankan sikap yang salah! Mintalah Dia untuk menyatakan terang-Nya dan mengubah hati Anda!

Bagi telinga para imam, ahli Taurat dan tua-tua Yahudi, perumpamaan Yesus ini mudah ditebak ke mana arah tujuannya. Perumpamaan kebun anggur ini menegaskan bahwa yang empunya hak, kuasa dan sebagai Pemilik adalah Tuhan Allah. Namun, para penggarap itu bertindak seolah-olah merekalah si pemilik kebun anggur itu. Itu sebabnya mereka menganiaya para hamba yaitu para nabi yang diutus Pemilik yang sah (ayat 11-12). Hingga pada akhirnya Sang Pemilik berinisiatif untuk mengutus Anak-Nya sendiri dengan harapan para penggarap itu menghormati Dia sebagai Pewaris. Tetapi para penggarap tetap merencanakan pembunuhan terhadap Sang Anak, ahli waris yang berhak atas pemilikan itu (ayat 13-16). Sesungguhnya melalui perumpamaan kebun anggur ini, Yesus sedang menubuat-kan kepada mereka peristiwa penyaliban-Nya sendiri (ayat 14-15).

Lukas menegaskan sikap penolakan dan ketidakpercayaan para imam, ahli Taurat dan para tua-tua Yahudi, melalui kutipan Yesus dari Mazmur 118:22, yang menunjukkan pemberontakan dan penolakan para penggarap yang jahat ini. Para pemimpin agama menolak Yesus, tetapi kelak Yesus yang menetapkan nasib mereka. Yesus dinubuatkan sebagai "Batu Penjuru" (ayat 17-18). Hal itu berarti bahwa kelak para penggarap yang bertindak sebagai "pemilik dan penguasa" akan dihakimi dan dihukum. Para pemimpin agama Yahudi merencanakan pembunuhan terhadap Yesus, tapi itu bukan rencana Allah Sang Pemilik. Rencana jahat itu sesungguhnya adalah sikap memberontak melawan Sang Pemilik (ayat 19).

Tujuan dari perumpamaan ini adalah supaya para pemimpin agama menyadari bahwa mereka hanya dipercayakan untuk mengelola umat Tuhan (kebun anggur), dan bukan pemiliknya.

Renungkan: Setiap pemimpin gereja harus sadar bahwa dirinya hanyalah pengelola umat Tuhan termasuk mengelola aktivitas gerejani umat bukan pemiliknya.

Mendekati batas waktu pembayaran pajak, biasanya akan membuat pemerintah kita aktif mengadakan kampanye bayar pajak di mana-mana. Memang banyak orang yang tidak suka membayar pajak, bahkan akan berusaha menghindarinya bila memungkinkan.

Orang Yahudi juga tidak suka membayar pajak yang diwajibkan pemerintah Roma karena dianggap sebagai tanda tunduk pada Roma. Di sini pajak bisa menjadi isu politik yang sensitif. Inilah yang ingin dipakai ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala untuk menjebak Yesus (Lukas 20:20). Jika Yesus setuju pajak, mereka bisa membalikkan opini publik dengan menyamakan Dia dengan para pemungut cukai yang tidak disukai rakyat. Namun jika Dia tidak setuju pajak, mereka dapat mengadukan Dia ke pemerintah dengan tuduhan subversif. Maka dengan memakai orang suruhan, mereka menanyakan tentang keharusan membayar pajak kepada Kaisar Roma (Lukas 20:22). Lalu Yesus meminta mereka untuk memperlihatkan mata uang yang mereka bawa (Lukas 20:24).

Fakta bahwa mereka memakai mata uang dengan gambar dan tulisan Kaisar menunjukkan bahwa mereka berada di bawah kekuasaan Roma. Maka Yesus menyuruh mereka untuk memberikan pada Kaisar apa yang wajib mereka berikan pada dia, namun tunduk pada Allah dengan memberi yang wajib mereka berikan kepada Allah (Lukas 20:25). Pemerintah memang menjalankan fungsinya dengan pajak yang dikutip dari rakyat. Tetapi kehadiran pemerintah jangan sampai meniadakan kesetiaan terhadap Allah dan bukan juga menjadi alasan untuk tidak setia kepada Allah. Begitu pula sebaliknya. Jawaban Yesus ini membuat mereka terdiam. Upaya mereka untuk menjebak Dia pun gagal (Lukas 20:26).

Dari zaman ke zaman orang percaya juga sering diperhadapkan pada pilihan antara loyalitas absolut pada Allah atau loyalitas pada pemerintah yang menolak supremasi Allah. Sebagai orang percaya, jangan sampai kita tidak menaati Allah untuk mematuhi otoritas dunia.

Banyak pertanyaan-pertanyaan sulit yang kita jumpai dalam kehidupan ini. Terutama pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan dunia yang akan datang, yaitu dunia setelah kematian manusia. Suatu misteri yang sulit diungkap, tetapi pemikiran tentang dunia itu ada dalam tiap agama di dunia ini.

Dalam rangkaian pelayanan yang hendak diselesaikan Yesus, segolongan orang Saduki mendatangi Dia dan melontarkan suatu pertanyaan. Golongan Saduki adalah golongan dari bangsa Yahudi yang tidak memercayai adanya kebangkitan.

Yesus menjawab mereka dengan memaparkan bahwa kehidupan dunia sekarang ini berbeda dengan kehidupan dunia yang akan datang, yaitu dunia setelah kebangkitan. Jika di dunia, anak manusia kawin dan dikawinkan, tidak demikian dengan dunia kekal. Sebagaimana pemikiran manusia dalam kehidupan dunia ini tidak boleh disamakan dengan pemikiran pada dunia setelah kebangkitan. Pemikiran manusia yang sudah jatuh dalam dosa sangat terbatas dalam dunia sekarang ini. Jadi bagaimana mungkin dunia yang terbatas memahami keberadaan dunia kekal? Maka perlu percaya dahulu akan adanya kebangkitan, baru dapat memikirkannya. Lalu Yesus melanjutkan bahwa Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Meskipun mereka sudah mati secara fisik, tetapi mereka tetap hidup di hadapan Allah. Maka sebutan itu tetap ada pada Allah. Mengacu pada kutipan Musa (Kel. 3), itulah Allah yang sama, yang menjumpai Musa waktu dipanggil.

Allah yang sama adalah Allah yang disembah oleh kita, orang percaya yang hidup dizaman ini. Memercayai Allah membuat kita tahu bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian. Kehidupan kekal itu sama sekali berbeda dengan kehidupan duniawi yang kita hidupi sekarang ini. Maka jangan terjebak pada filosofi dunia tentang dunia kekal. Lebih baik percaya terlebih dahulu kepada Kristus yang kekal, maka kita akan memahami kekekalan dalam pengertian yang benar, karena Dialah Kekekalan itu sendiri dan dari Dialah kekekalan kita berasal.

Pencitraan diri selalu diminati setiap insan. Dimana pun dan kapan pun, seseorang selalu ingin tampil baik di muka orang lainnya. Media massa tak pernah lepas mewartakan topik ini, entah dalam diri seorang figur publik atau orang awam sekalipun. Kadangkala pencitraan diri tidak lagi memperhatikan karakter asli diri yang bersangkutan. Yang nyata bisa saja bertolak belakang dari pencitraan yang dimunculkan.

Para ahli Taurat adalah orang-orang yang pandai dalam hukum Taurat. Mereka piawai dalam menafsirkan hukum Taurat sekaligus mengajarkannya kepada bangsa Yahudi. Betapa penting kedudukan dan jabatan mereka di tengah bangsa itu. Namun apa yang sebenarnya terjadi pada hidup mereka? Mereka tak lain adalah para penentang Yesus dan firman-Nya. Meskipun mereka mengikuti Dia, tetapi hati mereka sebaliknya. Demikian juga, mereka tahu dan mengakui bahwa ajaran Yesus benar, tetapi mereka sulit menerimanya.

Kali ini Yesus secara terang-terangan kepada murid-muridNya untuk waspada terhadap ahli-ahli Taurat. Setelah sekian lama mereka mengikuti "pelayanan’ Yesus, toh mereka tidak berubah. Mereka tetap mempertahankan pencitraan diri mereka sebagai pejabat agama. Dengan detail Yesus mengungkapkan apa yang mereka lakukan: suka berjalan memakai jubah panjang, suka menerima penghormatan di pasar, suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, menelan rumah janda-janda, juga mengelabui orang dengan doa yang panjang-panjang (Lukas 20:46-47). Dicantumkan juga, bahwa mereka meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang dan membangun makam nabi-nabi (Luk. 11:46-47).

Kita perlu waspada, agar tidak tertipu oleh performa yang sangat bagus, tetapi akhirnya akan menyesatkan, yang merekayasa kesalehan untuk menipu dan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Yesus telah menegaskan akhir hidup orang-orang seperti ini. Jangan sampai hal yang sama terjadi juga kepada kita. Mari kita mengutamakan ketulusan.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)