Lukas 22 (MAD2T*Mlm*02 Feb* Tahun 1)

Lukas 22

Penjelasan Singkat
Kristus menyerah diri untuk ditangkap

Isi Pasal
Yudas berunding untuk mengkhianati Yesus. Paskah terakhir. Perjamuan malam Tuhan dilaksanakan. Penyangkalan Petrus diramalkan. Penangkapan Yesus. Penyangkalan Petrus.

Judul Perikop
Rencana untuk membunuh Yesus (22:1-2)
Yudas mengkhianati Yesus (22:3-6)
Persiapan untuk makan Paskah (22:7-13)
Penetapan Perjamuan Malam (22:14-23)
Percakapan waktu Perjamuan Malam (22:24-38)
Di taman Getsemani (22:39-46)
Yesus ditangkap (22:47-53)
Petrus menyangkal Yesus (22:54-62)
Yesus di hadapan Mahkamah Agama (22:63-71)

Tafsiran: Perjamuan Paskah Yahudi dikenal dengan sebutan Seder Pesakh. Dalam perayaan ini, bangsa Yahudi makan roti tidak beragi dan sayur pahit. Roti dan sayur melambangkan dua hal, yaitu: Pertama, pahitnya penderitaan bangsa Israel karena penindasan orang Mesir. Kedua, pahitnya penderitaan bangsa Mesir ketika Allah mencabut nyawa semua anak sulung mereka (Kel. 12:1-15, 19-20). Cawan melambangkan dua hal. Pertama, penebusan Allah bagi umat Israel yang luput dari wabah kematian. Kedua, murka Allah bagi segenap tanah dan penduduk Mesir (Kel 12:14). Sebab itu, Paskah merupakan perayaan bagi keperkasaan Allah Israel yang harus dilakukan selamanya (Kel. 12:14).

Sebagai orang Yahudi, Yesus menjalani tradisi Paskah Seder. Kali ini Yesus membutuhkan ruangan yang besar dan dia telah mempersiapkan semuanya. Ia ingin merayakan Paskah hanya dengan dua belas murid-Nya, sebelum Ia menjalani tugas penebusan-Nya. Ini adalah Paskah terakhir-Nya di dunia (Lukas 22:7-16). Momen ini dipakai Yesus untuk menjelaskan makna baru dari Paskah dan sekaligus mengadakan Perjanjian Baru antara diri-Nya dengan umat Allah yang ditebus melalui kematian-Nya.

Dalam pertemuan itu, Yesus menunjuk secara langsung bahwa diri-Nya adalah Anak Domba Paskah yang harus mati untuk menebus dosa seluruh umat manusia. Roti tidak beragi diartikan sebagai tubuh Kristus (Lukas 22:19). Melalui tubuh Kristus, setiap orang percaya adalah satu Roh (Lukas 22:1Kor. 12:13). Cawan dimaknai sebagai darah Kristus (Lukas 22:17-18, 20). Melalui kayu salib, Kristus melakukan pendamaian antara Allah dengan manusia berdosa. Di sini, Yesus telah meletakkan fondasi Ekaristi yang lebih konkret di mana Roh Allah akan bertakhta dalam diri orang percaya (Yl. 2:28-29).

Pengurbanan Kristus membawa perubahan drastis dalam hukum Yahudi. Sebab, kita tidak hidup di bawah Taurat, melainkan hidup di bawah rahmat Allah. Lewat anugerah, kita menjadi ciptaan baru. Sebagai ciptaan baru, kita tidak hidup untuk diri sendiri, tetapi hidup untuk Kristus. Marilah kita menjadi saksi dari suatu perjanjian baru dalam Kristus.

Dalam Perjanjian Baru, kata "budak dan hamba" sering diterjemahkan sebagai doulos, huperetes, dan diakonos. Doulos diartikan sebagai budak secara kodrat (bond-servant). Huperetes diartikan sebagai hamba dalam kaitan dengan pimpinan (servant-leader). Diakonos diartikan sebagai pelayan dalam hubungannya dengan melayani (deacon). Ketiga kata ini sering dipakai dalam PB silih berganti ketika berbicara mengenai kepemimpinan.

Dalam perjamuan Paskah terakhir kali dengan para murid-Nya, Yesus berbicara tentang topik kepemimpinan. Yesus melihat para murid debat kusir dan bertengkar hebat mengenai siapakah yang terbesar, bila Yesus telah tiada (Lukas 21:23-22:25). Yesus menjelaskan bahwa kodrat sejati kepemimpinan rohani adalah kehambaan. Artinya, kepemimpinan bukan berbicara tentang kekuasaan untuk menaklukkan orang lain (Lukas 22:33, 38), melainkan mengenai melayani orang lain tanpa pamrih. Di sini, Yesus memakai kata "muda" dan "pelayan" untuk memberikan gambaran dari apa yang ia maksudkan tentang figur seorang pemimpin (Lukas 22:26).

Pada masa itu, orang yang paling muda usianya dipandang terendah dalam urutan hierarki keluarga, sosial, dan agama. Pelayan juga dipandang sebagai budak yang tidak memiliki kebebasan dan martabat. Tugas pelayan adalah melayani kebutuhan orang lain. Dalam konteks ini, Yesus menyamakan status-Nya sebagai Raja menjadi hamba dan pelayan di tengah-tengah umat-Nya (Lukas 22:27). Ia datang melayani dan membasuh kaki para murid-Nya. Ia memberi contoh konkret bahwa yang terbesar di Kerajaan Surga rela menjadi kecil dan kerdil (Lukas 22:28). Dengan mengurbankan hidup-Nya bagi penebusan dosa manusia, Yesus memperoleh kuasa dari Bapa Surgawi atas dunia ini. Dengan kuasa itu, Yesus berhak menentukan hak-hak Kerajaan Allah bagi mereka yang berkenan kepada-Nya (Lukas 22:29-30).

Kita telah melihat contoh teladan seorang pemimpin yang melayani. Harapan-Nya agar setiap pengikut-Nya menjadikan prinsip melayani dengan kerendahan hati sebagai model kepemimpinan dan gaya hidup.

Yesus menuju Bukit Zaitun, tempat yang biasa Ia kunjungi (Lukas 21:37- 38). Yudas, sang pengkhianat mengenal benar tempat itu. Terlihat di sini bahwa Yesus tidak berniat melarikan diri. Jika Kerajaan Allah segera didirikan, maka peperangan dengan penguasa kegelapan harus dilakukan. Tiba di sana Yesus memerintahkan para murid untuk berdoa agar tidak jatuh dalam pencobaan; karena Iblis telah menyusun seluruh kekuatannya dan bergabung dengan manusia berdosa untuk menentang terwujudnya kehendak Allah. Pencobaan itu ingin menghindari peperangan, ingin menyerah, ingin melarikan diri, dan tidak mau melakukan kehendak-Nya.

Setelah itu Yesus menjauhkan diri dari murid-murid-Nya. Apa yang dilakukan Yesus menunjukkan dengan gamblang, pusat peperangan ketika masa depan seluruh ciptaan dipertaruhkan. Ini suasana yang sangat genting. Hasil dari peperangan itu tergantung penuh pada diri-Nya. Jika Ia gagal maka seluruh ciptaan akan terhilang selamanya; jika Ia berhasil, kemenangan mutlak akan dipetik. Kemudian Dia berlutut. Inilah pemandangan yang indah dan kemenangan besar. Ia berlutut di Bukit Zaitun. Beberapa hari yang lalu Dia datang ke bukit yang sama, dan Ia dielu-elukan sebagai Raja (lih. 19:35-38) Sesampainya di Yerusalaem Ia mendapati bahwa Yerusalem sudah berada di tangan para pemberontak Allah, Bait Allah sudah dipenuhi dengan perampok. Bagaimana mereka dapat diselamatkan dari murka Allah dan dipulihkan kembali kepada ketaatan dan penyembahan kepada Allah yang benar?

Upacara keagamaan tidak mampu mengubah seorang pemberontak menjadi kudus. Jika Yerusalem dan seluruh dunia dibawa kembali kepada Allah, semuanya bermula di Bukit Zaitun. Sang Mesias harus menegakkan kehendak Allah di bumi dengan jalan mentaatinya terlebih dahulu. Kristus mentaati kehendak Allah meminum cawan itu meskipun pahit. Ketika ditangkap, Yesus menghadapinya tanpa pedang. Ia paham, yang dihadapi bukanlah kekuatan fisik.

Renungkan: Masalah kejahatan di dunia tidak dapat diatasi dengan taktik politik dan konflik senjata, namun hanya dengan ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa. Semuanya bermula di Getsemani dan harus menyebar ke seluruh pelosok dunia. Di mana Kristen berada di situ kehendak Allah harus ditegakkan dan diwujudnyatakan.

Yesus ditangkap dan dibawa ke rumah imam besar (ayat 54). Petrus yang sebelumnya mengatakan berani mati bersama Yesus (ayat 22:33), hanya berani mengikuti Yesus dari jauh. Jangankan mati bersama Yesus berada dekat dengan Yesus saja tidak berani. Lukas melaporkan bahwa peristiwa penyangkalan Petrus tidak berlangsung lama, kira-kira satu jam (ayat 59). Peristiwa tersebut terjadi di halaman rumah di tengah suasana api unggun (ayat 55). Ada tiga orang yang mengenali Petrus. Pertama, seorang hamba perempuan menyatakan Petrus adalah seorang yang bersama Yesus (ayat 56). Petrus menyangkal. Kedua, seorang laki-laki mengenali Petrus sebagai salah seorang murid Yesus (ayat 58). Apa yang dikatakan hamba perempuan mendapat perhatian dari orang-orang yang berada di halaman rumah tersebut. Jika hamba perempuan mengenali Petrus sebagai orang yang bersama Yesus, maka orang kedua mengenali Petrus sebagai salah seorang murid-Nya. Orang kedua menekankan bahwa Petrus adalah salah satu murid Yesus. Sekali lagi Petrus menyangkal. Ketiga, seorang lain datang mendekati Petrus dan menegaskan bahwa Petrus adalah murid Yesus. Jika orang pertama dan kedua tidak dapat memberikan bukti, maka orang ketiga ini memberi pernyataan dengan bukti. Dari tutur kata Petrus jelas sekali terlihat bahwa ia berasal dari Galilea (ayat 59). Orang Galilea berbicara dengan aksen yang khas. Ini tidak dapat disangkal.

Meski sudah terbukti bahwa Petrus berasal dari Galilea yang berarti sedaerah dengan Yesus, Petrus tetap menyangkal. Bahkan kali ini ia lebih keras menyangkal. Kerasnya penyangkalan Petrus direkam oleh Matius (ayat ##A Lukas 26:74). Ayam berkokok. Segera Petrus mengingat apa yang telah dikatakan Yesus sebelumnya (ayat 61). Petrus menyadari kegagalannya. Petrus menangis dengan sedih (ayat 62). Penyesalan selalu terlambat datangnya.

Renungkan: Mudah sekali menyatakan setia sampai mati kepada Yesus semudah menyangkal-Nya mati-matian.

Kini musuh-musuh Yesus meminta penjelasan dari Dia mengenai kemesiasan-Nya (Lukas 22:67). Pertanyaan itu muncul bukan dari keingintahuan yang tulus. Itu sebabnya Yesus mengatakan bahwa mereka sesungguhnya bukan peduli akan kebenaran kesaksian-Nya (Lukas 22:67-69). Karena motivasi mereka bertanya adalah ingin mencari-cari kesalahan dalam perkataan Yesus lalu menuduh Dia dengan tuduhan subversif. Mereka tidak akan menanggapi dengan benar pernyataan maupun pertanyaan Yesus tersebut (Lukas 22:67-68). Tidak akan ada pernyataan apapun yang berlaku sebagai kebenaran bagi mereka. Oleh sebab itu Tuhan Yesus menyatakan diri sebagai Anak Manusia yang akan duduk di sebelah kanan Allah yang Mahakuasa (Lukas 22:69). Pada kedatangan-Nya kedua kali nanti, Ia akan menghakimi mereka yang menolak Dia.

Ironis sekali! Ucapan Yesus yang merupakan nubuat penghakiman akhir zaman malah mereka tangkap sebagai pernyataan yang mereka tunggu-tunggu untuk menyalahkan Yesus. Dia yang akan datang sebagai Hakim, yang memang sejatinya adalah "Aku adalah" yaitu Allah yang menyatakan diri kepada Musa, malah mereka hakimi. Sesungguhnya pernyataan mereka di ayat 71 sepatutnya Yesus tujukan terhadap mereka sendiri.

Sampai sekarang pun makin banyak orang mengeraskan hati melawan dan mendakwa Yesus. Pemberontakan dan perlawanan mereka sesungguhnya akan mendatangkan hukuman atas diri mereka sendiri. Bagaimana dengan kita? Seandainya pun ada penderitaan yang kita tanggung, kiranya itu disebabkan oleh pelayanan dan kesaksian kita. Andaikan kita mengalami penderitaan sebagai akibat pelayanan dan kesaksian kita tentang Yesus, ingatlah bahwa Dia telah terlebih dulu menderita di kayu salib untuk menebus kita dari dosa.

Ingatlah: Jangan takut menderita karena kesaksian bahwa Kristus adalah Allah, karena Dia telah menderita bagi kita lebih dulu.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)