Lukas 23 (MAD2T*Pagi*03 Feb*Tahun 1)
Lukas 23
Penjelasan Singkat
Kematian Kristus dan penguburannya
Isi Pasal
Yesus di hadapan Pilatus dan Herodes. Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum. Penyaliban dan penguburan.
Judul Perikop
Yesus di hadapan Pilatus (23:1-7)
Yesus di hadapan Herodes (23:8-12)
Yesus kembali di hadapan Pilatus (23:13-25)
Yesus dibawa untuk disalibkan (23:26-32)
Yesus disalibkan (23:33-43)
Yesus mati (23:44-49)
Yesus dikuburkan (23:50-56)
Kebangkitan Yesus (23:56--24:12)
Tafsiran: Mahkamah Sanhedrin memutuskan untuk menghukum mati Yesus. Tetapi mereka tidak memiliki kekuatan hukum untuk melakukannya. Hukuman mati adalah hak pemerintah. Inilah alasannya mengapa mereka membawa Yesus ke pada Pilatus. Tetapi apa tuduhannya? Jika tuduhan teologis tentu Pilatus tidak mau campur tangan. Akhirnya, pemimpin agama Yahudi membawa Yesus ke hadapan Pilatus dengan tiga tuduhan: Pertama, menyesatkan bangsa Yahudi. Dengan tuduhan ini pemimpin agama Yahudi melaporkan kepada Pilatus bahwa telah terjadi kekacauan dan ketidakpastian di tengah masyarakat. Mereka melaporkan adanya kegelisahan masyarakat. Masalah agama sedikit banyak berpengaruh pada stabilitas politik.
Kedua, melarang membayar pajak pada kaisar Tiberius. Tuduhan ini berkaitan dengan relasi Yesus dan negara. Menurut mereka Yesus mengajarkan masyarakat untuk tidak membayar pajak. Tugas utama Pilatus sebagai wakil kaisar adalah memungut pajak dan menyerahkan pada pemerintah Romawi. Relasi Pilatus dan kaisar Tiberius diekspresikan melalui pajak. Semakin banyak pajak disetor, semakin tinggi loyalitas pada kaisar. Tetapi tuduhan ini tidak benar. Dalam 20:25 Yesus tidak menolak pembayaran pajak kepada kaisar.
Ketiga, pengakuan Yesus bahwa Dia adalah Raja (ayat 2). Tuduhan ini berhubungan dengan relasi Yesus dan Pilatus. Tuduhan politis ini dilontarkan agar Pilatus merasa terancam sehingga bersedia menjatuhkan hukuman mati pada Yesus. Sebenarnya tuduhan ketiga ini terlalu mengada-ada karena Pilatus tidak menerima laporan tentang munculnya pemberontakan. Meski demikian Pilatus perlu mengkonfirmasi Yesus apakah benar Ia Raja Yahudi (ayat 3). Pada akhirnya Pilatus menyimpulkan bahwa ketiga tuduhan itu tidak dapat dibuktikan kebenarannya (ayat 4).
Renungkan: Kebencian agama sering diplintir menjadi masalah politik.
Pilatus menyadari bahwa Yesus berasal dari Galilea. Kebetulan pada saat itu Herodes sedang berada di Yerusalem (ayat 7). Pilatus mengirim Yesus kepada Herodes. Ini tindakan untuk lepas tangan. Namun tindakan ini sekaligus juga mendamaikan permusuhan Pilatus dan Herodes (ayat 12). Setelah diperiksa, Herodes mengirimkan Yesus kembali kepada Pilatus karena tidak ada bukti yang dapat menghukum Yesus (ayat 14-15).
Di hadapan massa Pilatus memutuskan untuk mencambuk Yesus dan kemudian melepaskan-Nya (ayat 16). Ia berharap tindakan demikian akan memuaskan hati pemimpin agama Yahudi dan rakyat, dan simpati mereka kepada Pilatus tidak luntur. Namun, massa kembali bereaksi ketika Pilatus menyatakan bahwa sama sekali tidak ada alasan untuk menghukum Yesus. Massa menyadari bahwa Pilatus hendak melepaskan Yesus. Suasana menjadi tidak terkendali (ayat 18). Massa memutuskan untuk menempuh jalur di luar hukum. Tindakan massa ini tidak membuat Pilatus mengubah paradigmanya bahwa Yesus tidak bersalah (ayat 20). Kembali massa berteriak menolak tawaran Pilatus (ayat 21). Untuk ketiga kalinya Pilatus menyatakan bahwa tidak ada dasar hukum untuk mengadili dan menghukum Yesus (ayat 22), tetapi tetap mendapatkan respons yang sama (ayat 23). Kali ini mereka lebih keras berteriak mendesak Pilatus. Akhirnya Pilatus menyerah. Pilatus menyerah kepada teriakan bukan kepada aturan hukum. Apa teriakan mereka? Salibkan Yesus dan bebaskan Barabas! Siapa Barabas? Lukas menjelaskan bahwa Barabas adalah seorang pembunuh. Atas dasar teriakan massa Barabas sang pembunuh dilepaskan sementara Yesus sang Sumber Hidup dibunuh. Hukum dan keadilan tidak berlaku. Teriakan massa menjadi hukum (ayat 25). Inilah pengadilan rakyat. Tidak ada hukum. Yang ada hanya teriakan.
Renungkan: Jalan yang kelihatannya tidak adil dan merupakan kekalahan bagi manusia ternyata merupakan jalan kemenangan bagi Allah.
Perjalanan ke penyaliban dilukiskan Lukas dengan jelas sekali (ayat 26-32). Perjalanan Yesus ke tempat penyaliban terhenti oleh dua peristiwa. Yesus sudah tidak mampu memikul kayu salib-Nya, sehingga tentara Romawi memaksa seorang bernama Simon yang berasal dari Kirene memikul salib itu (ayat 26). Peristiwa kedua adalah percakapan Yesus dengan perempuan-perempuan (ayat 28-31). Menyusul narasi perjalanan adalah narasi penyaliban (ayat 33-38), narasi dialog dua penjahat dan Yesus (ayat 39-43) dan narasi respons alam dan manusia terhadap kematian Yesus (ayat 44-49).
Di tempat penyaliban bernama 'Tengkorak' Yesus disalibkan. Bersama Yesus turut disalibkan dua orang penjahat (ayat 33). Meski disalibkan dengan tidak adil Yesus mengampuni orang-orang yang menyalibkan-Nya. Tindakan demikian merupakan demonstrasi nyata pada apa yang Yesus ajarkan sebelumnya (Luk. 6:29,35). Di bukit “Tengkorak” itu tentara-tentara memperebutkan jubah Yesus (ayat 34) dan orang banyak mengolok-olok-Nya (ayat 35-38). Tiga kali olokan yang mengejek ketidakmampuan Yesus menyelamatkan diri sendiri ditujukan kepada Yesus (ayat 35,37,39). Kebutaan rohani menyebabkan pengejek tidak melihat karya keselamatan yang dilakukan Yesus. Orang banyak tidak dapat menerima bahwa Sang Mesias harus mati di kayu salib. Ejekan ketiga datang dari salah seorang penjahat yang turut disalibkan bersama Yesus (ayat 39).
Penjahat ini setuju dengan ejekan orang banyak yang didengarnya. Penjahat yang lain menyadari bahwa Yesus disalib meski tanpa kesalahan apapun. Penjahat itu menyadari ketidakadilan yang dialami Yesus sehingga ia menegur penjahat yang mengejek Yesus. Terhadap ejekan orang banyak ia tidak memberi respons. Tetapi kepada ejekan penjahat yang satunya ia memberi respons yang tegas. Lalu, ia memohon kepada Yesus untuk mengingatnya (ayat 42).
Camkanlah: Yesus telah mendemonstrasikan kasih sempurna. Kasih yang memaksa Yesus untuk tetap tinggal di kayu salib.
Bacaan ini berkisah tentang penguburan Yesus. Namun ada satu pertanyaan yang menarik, dimanakah Petrus yang dulu menggebu-gebu membela Yesus (bdk. Mat. 16:22). Dimanakah orang-orang yang telah mendapatkan pertolongan dan mukjizat-Nya? Mengapa mereka tidak tergerak untuk menguburkan Yesus secara layak?
Kita lihat siapa yang digerakkan Allah untuk mengubur Yesus. Dia adalah Yusuf dari Arimatea, seorang yang baik, benar, dan memiliki reputasi bersih karena kebajikan dan kesalehannya (Lukas 23:50). Ia adalah seorang kaya sekaligus terpandang karena ia juga anggota dari Majelis Besar Yahudi. Injil Yohanes mencatat bahwa ia adalah murid Yesus, tetapi secara sembunyi-sembunyi (Yoh. 19:38).
Apa yang dilakukan oleh Yusuf dari Arimatea ini? Ia pergi menghadap Pilatus, hakim yang telah menghukum Yesus, untuk meminta mayat Yesus. Setelah mendapatkan izin, ia menurunkan mayat Yesus, lalu mengapaninya dengan kain lenan. Selanjutnya menjelang hari Sabat, Yesus di kuburkan di sebuah kuburan baru. Kuburan itu belum pernah digunakan sebelumnya. Dalam ayat 55, kita bisa melihat siapa saja yang menghadiri acara pemakaman tersebut. Namun tidak satupun dari murid-murid-Nya hadir disana. Hanya perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea. Dengan mengikuti penguburan tersebut, perempuan-perempuan Galilea itu dapat mengetahui secara pasti tempat Yesus dikuburkan.
Sebagai orang percaya, ada kalanya kita merasa tidak berdaya seperti Yusuf Arimatea, yang berada di tengah kumpulan Majelis Besar. Ada kalanya kita merasa sendirian dan terjepit untuk menyatakan iman kita kepada Tuhan Yesus. Sehingga tidak banyak yang bisa kita lakukan bagi Dia. Namun kita dipanggil agar dapat memanfaatkan setiap kesempatan yang Dia berikan dan melakukan apa yang bisa kita lakukan.Jangan malah menghabiskan waktu untuk mengkhawatirkan apa yang tidak dapat kita lakukan. Selamat berkarya bagi Yesus Kristus di tengah kesempitan!