Yohanes 1 (MAD2T*Pagi*04 Feb*Tahun 1)
Yohanes 1
Penjelasan Singkat
Keilahian Kristus
Isi Pasal
Ketuhanan Kristus. Pelayanan Yohanes Pembaptis. Yesus dinyatakan sebagai Anak Domba Allah, dan murid-murid-Nya yang pertama.
Judul Perikop
Firman yang telah menjadi manusia (1:1-18)
Kesaksian Yohanes tentang dirinya sendiri (1:19-28)
Yohanes menunjuk kepada Yesus (1:29-34)
Murid-murid Yesus yang pertama (1:35-51)
Tafsiran: Bagaimana mengenal Allah? Injil Yohanes dibuka dengan penegasan bahwa Yesus adalah Allah dan manusia. Rasul Yohanes mempergunakan istilah logos (firman) guna mengungkapkan keberadaan dan kehadiran Yesus di luar ruang dan waktu (ayat 1). Yesus adalah Pencipta segala sesuatu (ayat 3, 10). Yohanes tidak hanya memakai istilah logos, namun juga istilah terang (ayat 4, 5). Kata 'terang' yang dipakai Yohanes dikaitkan dengan keberadaan dan kehadiran Yesus di dalam ruang dan waktu (ayat 5, 9). Yesus bukan hanya Pencipta, tetapi juga Penyelamat. Tanpa Yesus, manusia akan hidup dalam kegelapan.
Bagaimana mengenal Allah? Allah hanya dapat dikenal melalui kesaksian. Rasul Yohanes mempergunakan istilah saksi guna mengungkapkan keberadaan dan kehadiran Yohanes Pembaptis di dalam ruang dan waktu (ayat 7). Sebagai saksi, Yohanes diutus Allah (ayat 6). Inilah sumber otoritas kesaksiannya. Isi kesaksiannya adalah tentang Yesus (ayat 7, 8). Tujuan kesaksiannya adalah agar manusia percaya pada Yesus (ayat 7). Yohanes Pembaptis hidup di dalam dunia untuk bersaksi bagi Yesus. Dari Yohanes, kita belajar bahwa percaya pada dan bersaksi bagi Yesus merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Kedua hal ini merupakan jawaban terhadap pertanyaan mengapa dan untuk apa kita hadir dan berada di dalam dunia.
Renungkan: Allah ingin dan rindu agar manusia ciptaan-Nya mengenal-Nya dan bersekutu dengan-Nya. Allah tidak mengutus malaikat- malaikat untuk memperkenalkan-Nya. Ia justru mengutus manusia-manusia berdosa. Setiap manusia yang telah mengenal- Nya diutus-Nya menjadi saksi-Nya. Apakah tujuan hidup Anda?
Siapa yang berhak menyelamatkan manusia berdosa? Bukankah manusia berdosa seharusnya dihukum Allah? Lalu, mengapa Tuhan Yesus mau menyelamatkan manusia sehingga manusia tidak binasa?
Bila pada pasal 1:1-9, Yohanes menegaskan keilahian Kristus maka pada bagian ini kemanusiaan-Nya yang ditekankan. "Firman itu telah menjadi manusia," tinggal dan melayani di tengah-tengah manusia (ayat 14a). Tuhan Yesus adalah manusia sebagai perwujudan Allah secara sempurna (ayat 18). Hanya Dia yang bisa mewakili Allah di dunia ini, sebab Dia berasal dari Allah dan Dia adalah Allah (lih. ayat 1-2). Itulah sebabnya, orang yang tinggal bersama-sama dengan Dia melihat kemuliaan-Nya sebagai kemuliaan yang berasal dari Allah Bapa (ayat 14b). Kemuliaan-Nya itu dimanifestasikan dalam kasih karunia dan kebenaran. Artinya, melalui Kristus anugerah keselamatan diberikan kepada setiap orang yang percaya (ayat 12) dan mereka yang percaya dibenarkan Allah (band. Rm. 5:1-2). Yang dulu dinanti-nantikan oleh umat Israel melalui Hukum Taurat Musa, kini digenapi oleh kasih karunia di dalam Kristus (ayat 16). Jadi, Tuhan Yesus bisa dan berhak menyelamatkan manusia dari murka Allah yang membinasakan! Namun, fakta membuktikan bahwa tidak semua orang menyambut gembira kedatangan Kristus (ayat 10-11). Mereka menolak Kristus karena tidak mau mengubah hidup mereka yang sudah nyaman dalam dosa dan tidak mau tunduk ke bawah otoritas Allah.
Yohanes Pembaptis mengambil posisi sebagai saksi Kristus bagi dunia ini. Ketegasan ini diperlukan agar fokus keselamatan tidak bergeser dari pembawa berita kepada Sang Kabar Baik itu sendiri. Demikian pula tugas kita adalah memberitakan Kristus, Dia adalah Gambar Allah yang sempurna, yang satu-satu-Nya yang dapat memberikan kuasa kepada manusia menjadi anak-anak Allah.
Renungkan: Hanya Kristus yang berhak dan berkuasa mengubah hidup seseorang menjadi seorang anak Allah.
Pemahaman akan jati diri membuat orang mengerti peran dan posisinya di hadapan orang lain. Yohanes Pembaptis menggenapi misinya sebagai pemberi kesaksian bagi Sang Firman, dengan terlebih dulu menyatakan di depan publik, jati dirinya yang berada di bawah otoritas Yesus.
Yohanes Pembaptis diutus Allah untuk memberi kesaksian mengenai terang (ayat 6-8). Yohanes paham bahwa ia hanyalah saksi dan tugasnya adalah bersaksi. Ia sadar bahwa dirinya tidak lebih tinggi dari Pribadi yang mengisi kesaksiannya. Pelayanan Yohanes sebagai saksi begitu berpengaruh hingga ada orang-orang yang menjadi pengikutnya. Ini menggelisahkan para pemimpin agama Yahudi. Mereka menginvestigasi identitas dirinya (ayat 19). Mereka ingin tahu mengapa dia begitu populer (ayat 19-23). Mereka memperkirakan empat kemungkinan mengenai jati diri Yohanes. Pertama, dia adalah Mesias (ayat 20). Kedua, dia adalah Elia (ayat 21; band. Mal. 4:5). Ketiga, dia adalah nabi yang sudah dinubuatkan akan datang (ayat 21; band. Ul. 18:15). Keempat, dia adalah nabi palsu (ayat 25). Lalu Yohanes menjelaskan identitasnya dalam kaitan dengan Yesus. Yohanes menyatakan bahwa dia adalah nabi yang menyiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan (ayat 23). Tuhan yang dia persiapkan kedatangan-Nya, jelas lebih tinggi dari dia (ayat 15). Dia hanyalah "suara" (ayat 23) yang menunjuk pada Mesias, agar orang mengikuti Dia. Panggilan Allah bagi Yohanes juga memberi dia kuasa untuk membaptis (ayat 25-27). Meski di dalam kuasa yang demikian besar, Yohanes tetap sadar bahwa ia tidak lebih tinggi dari Yesus.
Pemahaman dan kesadaran diri seperti yang dimiliki Yohanes, perlu dimiliki oleh orang yang melayani Yesus. Bila orang tidak melihat jati diri dalam kaitan dengan Yesus, maka ia hanya bisa melihat kemampuannya. Orang semacam ini tidak akan rela direndahkan di dalam pelayanannya. Namun bila kita berhadapan dengan Kristus, maka keangkuhan dan sifat mementingkan diri sendiri akan meluruh, meski mengalami perlakuan yang merendahkan diri sendiri.
Kadang ada orang bercerita tentang kehebatan sesuatu dan begitu membanggakannya di hadapan orang lain. Padahal belum tentu cerita itu berdasarkan pengalaman langsung, melainkan karena membaca atau mendengar dari sumber-sumber lain. Gereget cerita itu tentu berbeda jika kehebatan dari sesuatu itu dialami secara langsung.
Di nas sebelumnya Yohanes menegaskan kepada orang Yahudi bahwa Yesuslah bintang utama dari karya keselamatan Allah, bukan dirinya. Di sini penegasan itu makin ditonjolkan oleh pernyataan bahwa Yesus adalah "Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yohanes 1:29). Yohanes mengakui bahwa pengetahuannya tentang diri Yesus tidak terlalu banyak (Yohanes 1:31, 33), tetapi ada dua hal penting dari apa yang ia sampaikan tentang Yesus yang perlu kita perhatikan. Pertama, Sang Bapa telah mengutus Yohanes untuk membaptis dengan air. Sang Bapa juga telah berfirman kepadanya tentang Yesus (Yohanes 1:33), sebagaimana yang telah diantisipasi di ayat 6-8. Kedua, dan inilah poin terpenting dari nas ini, Yohanes telah melihat langsung bagaimana firman Sang Bapa kepadanya tentang Yesus itu telah digenapi, secara khusus tentang bagaimana Roh Kudus turun dan tinggal di atas Yesus (Yohanes 1:32-33). Peristiwa yang telah dilihat secara langsung itulah yang mendasari kesaksian Yohanes, bahwa Yesus adalah "Anak Allah!" (Yohanes 1:34). Kesaksian ini tak hanya didasarkan dari apa yang didengar atau dibaca secara tidak langsung, tetapi dari apa yang ia alami dari terlaksananya rencana keselamatan Allah.
Nas ini kembali memberikan kepada kita teladan dari Yohanes Pembaptis. Sebagai murid-murid Kristus, kita pun dipanggil untuk bersaksi (bdk. Yoh. 15:27). Namun isi kesaksian itu mestinya bukanlah sekadar konten traktat penginjilan yang kita hafal begitu saja, tetapi belum kita alami. Kita semestinya bersaksi tentang bagaimana karya keselamatan Allah itu terlaksana di dalam diri Yesus, Anak-Nya, karena karya keselamatan itu pun sedang terlaksana di dalam diri kita, sebagai orang-orang yang diri dan kehidupannya telah dibaptis dengan Roh Kudus oleh Sang Anak Allah.
Kecenderungan manusia adalah melibatkan diri di dalam kegiatan yang menguntungkan dirinya. Seseorang memilih sekolah bagi pendidikannya, dokter bagi kesehatannya, dan gereja bagi pertumbuhan rohaninya.
Ketika Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama, Ia diperkenalkan penulis Injil Yohanes bukan sebagai pemimpin besar yang sukses melainkan sebagai Anak Domba Allah. Istilah Anak Domba berkaitan dengan kurban. Itu sebabnya, pertama, menjadi murid Yesus bukanlah menjadi pengikut pemimpin "besar" yang sukses. Mengikut Yesus adalah mengikuti orang yang tujuan hidupnya menjadi kurban. Murid Yesus harus siap menderita bahkan sampai mati. Meskipun ada sukacita di dalamnya, namun kerelaan untuk menderita seperti Yesus adalah kualifikasi utama menjadi murid-Nya. Kedua, dalam interaksi dengan para murid-Nya, Yesus adalah guru yang baik. Andreas (ayat 40), Filipus (ayat 45), dan Natanael (ayat 49) mengatakan bahwa mereka telah menemukan Mesias yang dinubuatkan PL. Murid-murid itu mengenali identitas gurunya. Yesus bukan hanya mengajar, namun secara mengejutkan Ia mengajak murid-murid itu tinggal bersama-Nya untuk menyaksikan seluruh kehidupan-Nya (ayat 39). Dalam pemuridan, pengetahuan tentang iman penting, tetapi tanpa keteladanan berarti sia-sia. Ketiga, Yesus aktif mencari murid (ayat 43). Yesus mengamati dan memperhatikan sebelum Ia memilih (ayat 48). Keempat, pemuridan yang sukses terjadi jika ada pelipatgandaan. Yesus memuridkan Andreas, lalu Andreas membawa Simon dan Filipus membawa Natanael. Pemuridan melatih orang memuridkan orang lain, bukan menjadikannya pengikut pasif.
Kita telah menjadi murid Tuhan karena para pendahulu kita menerapkan prinsip pemuridan. Sekarang obor tugas pemuridan itu berada di tangan kita untuk disampaikan kepada penerus kita.
Renungkan: Sudahkah Anda menjadi murid Yesus yang memuridkan orang lain?