Yohanes 10 (MAD2T*Mlm*08 Feb*Tahun 1)

Yohanes 10

Penjelasan Singkat
Kristus gembala yang baik

Isi Pasal
Percakapan tentang Gembala yang Baik. Ketuhanan Yesus ditegaskan.

Judul Perikop
Gembala yang baik (10:1-21)
Yesus ditolak oleh orang Yahudi (10:22-39)
Yesus di seberang sungai Yordan (10:40-42)

Tafsiran: Yehezkiel pernah menyampaikan khotbah keras yang menuding para pemimpin Israel sebagai gembala jahat karena berlaku zalim, bukan menjadi pelindung umat Tuhan (Yeh. 34:1-31). Pada saat itu, Allah menjanjikan akan membangkitkan gembala yang baik dari keturunan Daud yang akan menyelamatkan dan memelihara domba-domba Allah dari kejahatan para pemimpin mereka (ayat 23-24).

Tuhan Yesus adalah gembala yang baik itu. Dia datang kepada milik kepunyaan-Nya untuk melindungi dan memelihara mereka. Tuhan Yesus menjanjikan hidup yang berkelimpahan kepada setiap domba-Nya (Yoh. 10:10b). Ia mengenal setiap domba-Nya, demikian juga setiap domba mengenal Dia (ayat 3). Dia akan menuntun mereka menuju surga mulia (ayat 4). Siapakah pencuri dan perampok? Dari perikop-perikop sebelum ini, jelas para pemimpin agama Yahudi yang bertentangan dengan Tuhan Yesuslah yang disindir oleh perumpamaan ini. Mereka adalah gembala yang jahat, yang menguasai umat Tuhan bukan untuk kesejahteraan mereka melainkan untuk keuntungan dan kepentingan pribadi para pemimpin umat tersebut. Tuhan Yesus berkata, "Akulah pintu menuju domba-domba itu" (ayat 7). Semua pemimpin agama yang mengklaim diri sebagai gembala yang benar, namun tidak berasal atau tidak diutus Tuhan Yesus adalah pencuri dan perampok (ayat 8). Tujuan mereka hanya untuk menarik keuntungan dari umat Tuhan dan membinasakan mereka (ayat 10a). Ajaran mereka harus ditolak. Hanya ada satu pintu menuju pada keselamatan, yaitu melalui Tuhan Yesus (ayat 9).

Dengan menyebut diri gembala yang baik, Yesus mengklaim keilahian untuk diri-Nya. Dialah Sang Mesias, melalui siapa penyelamatan dan pemeliharaan Allah menjadi kenyataan. Oleh karena itu, Ia mengundang Anda untuk menjadi bagian dari kawanan domba-Nya. Sudahkan Anda menerima panggilan-Nya itu?

Mazmur 23 melukiskan Allah sebagai Gembala baik bagi umat-Nya, Israel. Gembala yang baik menyediakan semua kebutuhan domba-domba-Nya dan memelihara serta melindungi mereka dari segala mara bahaya. Dalam perikop yang kita renungkan hari ini, Gembala baik itu mengurbankan diri-Nya bagi keselamatan domba-domba-Nya.

Tuhan Yesus mengklaim diri sebagai Gembala yang baik, yang memelihara dan melindungi domba-domba gembalaan-Nya dengan rela mati demi keselamatan mereka (ayat 11, 15). Kematian Tuhan Yesus demi menyelamatkan manusia adalah atas kehendak Allah Bapa dan kerelaan Tuhan Yesus (ayat 17-18). Kasih Ilahi mendasari karya penyelamatan Tuhan Yesus. Sikap seperti ini jelas berbeda dari sikap para upahan, yang bekerja hanya atas dasar upah sehingga waktu bahaya datang ia akan menyelamatkan diri sendiri bukan menjaga domba-domba itu (ayat 12-13). Gembala yang baik mengasihi, memedulikan, dan mengenal semua domba-Nya karena semua domba itu berasal dari Bapa (ayat 14a). Itu sebabnya, domba-domba itu mengenal Gembala mereka (ayat 14b). Domba-domba itu dimengerti sebagai umat Israel. Namun, oleh karena rencana keselamatan Allah juga mencakup bangsa-bangsa lain, Ia mengutus Yesus untuk menjadi Gembala bagi bangsa-bangsa tersebut (ayat 16). Baik orang Israel maupun bangsa-bangsa lain yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah domba-domba milik Allah yang dipercayakan kepada sang Gembala.

Kita patut bersyukur kepada Allah sebab kita pun domba-domba yang dimaksud ayat 16 itu. Di dalam Tuhan Yesus, kita telah dipersatukan dengan umat Allah baik Israel maupun bangsa-bangsa lain dan menjadi satu kawanan domba milik Allah. Kita patut menghayati dalam keseharian kita nikmat penggembalaan-Nya bagi kita. Kita patut memperlihatkan kesukaan pengalaman digembalakan oleh Kristus itu sebagai kesaksian kepada orang-orang lain.

Pernyataan "Aku dan Bapa adalah satu" (ayat 30) mempertegas hubungan Yesus dengan Bapa-Nya sekaligus membuat orang-orang Yahudi mau melempari Yesus dengan batu (ayat 31). Mengapa mereka begitu marah? Karena bagi mereka pernyataan Yesus itu berarti penyamaan diri-Nya dengan Allah. Mereka tidak mau percaya kepada Yesus yang adalah Anak Allah (ayat 36).

Bagi Yesus, kesatuan-Nya dengan Bapa-Nya sangat jelas. Ini menandakan adanya hubungan yang sangat erat antara Yesus dan Bapa. Hubungan ini menjadi analogi hubungan Yesus dengan orang-orang percaya. Yesus mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya mengenal Yesus (ayat 27 band. 14). "Mengenal" menandakan adanya relasi yang sangat intim dan bersifat pribadi. Relasi ini sedemikian intimnya sehingga kedua pihak yang saling mengenal dapat dikatakan sejiwa (satu). Karena Yesus dan Allah saling mengenal secara sempurna maka Yesus menyatakan diri-Nya satu dengan Allah dalam arti: yang melihat Yesus berarti melihat Allah.

Kualitas hubungan yang demikian ini terjadi juga di antara orang-orang percaya sebagai milik Yesus dengan Yesus sendiri. Ini sekaligus menjadi jaminan bahwa siapa menjadi milik Yesus sekaligus milik Bapa, dipelihara oleh kedua-Nya dalam kemahakuasaan Anak dan Bapa, dan dalam kekekalan (ayat 28-29). Kualitas hubungan seperti itu akan menjadi kesaksian bagi orang lain bahwa di dalam Yesus dan di dalam Bapa ada kasih sejati yang mempersatukan dan yang intim.

Seperti Yesus yang selalu menyatakan Allah dan pekerjaan-pekerjaan-Nya di dalam hidup-Nya (ayat 37-38), demikian juga seharusnya kita. Hidup kita harus menjadi kitab terbuka, di mana orang-orang lain dapat melihat kasih dan pekerjaan-pekerjaan Allah dalam hidup kita. Kalau kesatuan Yesus dengan Bapa-Nya nampak dalam kehidupan Yesus, apakah kedekatan kita dengan Yesus selalu nampak dalam segenap aspek kehidupan kita?

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)