Yohanes 12 (MAD2T*Mlm*09 Feb*Tahun 1)

Yohanes 12

Penjelasan Singkat
Kristus memberitahukan kematianNya

Isi Pasal
Perjamuan di Betania. Masuk dengan dielu-elukan. Jawaban Yesus kepada orang-orang Yunani.

Judul Perikop
Yesus diurapi di Betania (12:1-8)
Persepakatan untuk membunuh Lazarus (12:9-11)
Yesus dielu-elukan di Yerusalem (12:12-19)
Yesus memberitakan kematian-Nya (12:20-36)
Mengapa orang Yahudi tidak dapat percaya (12:37-43)
Firman Yesus yang menghakimi (12:44-50)

Tafsiran: Yudas tergolong murid Yesus, tetapi Yudas ternyata tidak percaya kepada Yesus. Ia tidak menunjukkan perilaku pengikut yang benar-benar menerima Yesus, yang melayani Dia (seperti Marta dan Lazarus), membuat banyak orang lain percaya kepada Yesus (seperti Lazarus), dan bahkan ikut berperan untuk mempersiapkan kematian-Nya (seperti Maria). Yudas mencoba menipu dengan berpura-pura membela 'kebaikan' (ayat 4-6). Ia tidak lebih baik dari para pemimpin Yahudi yang kini juga menargetkan Lazarus (ayat 10).

Semua hal ini kembali menunjukkan kepada kita bahwa murid Yesus sejati menampakkan kesejatiannya melalui tindakan nyata, bukan sekadar pembelaan prinsip yang 'baik'. Tindakan-tindakan Marta, Lazarus, dan Maria menunjukkan kesesuaian dengan rencana yang hendak diwujudkan Allah melalui Yesus. Sebagai murid-murid Yesus, kita pun ditantang untuk menunjukkan kesehatian kita dengan rencana Allah, seperti yang diteladankan Maria. Pergumulan, rasa syukur, relasi, dan penundukan diri Maria sebagai murid Yesus membuahkan tindakan yang bersesuaian dan tepat dengan rencana Tuhan, dan bahkan dihargai-Nya. Jauh berbeda dari tindakan Yudas yang katanya demi prinsip yang 'baik' padahal didasari kepentingan egosentris.

Kita dipanggil untuk meneladani ketiga orang ini, khususnya Maria. Sebagai murid, tindakan kita seharusnya bukan sekadar demi membela prinsip 'benar', melainkan dilandaskan oleh kebenaran firman, relasi yang hidup dengan Tuhan, ketaatan, dan penyertaan kuasa Roh Kudus. Agar peka seperti Maria, kita perlu sungguh-sungguh belajar firman Tuhan dengan rendah hati. Jangan berhenti sebatas pengertian, melainkan dengan hati menerima kehendak-Nya lalu dengan taat dan semangat mewujudkannya dalam tindakan nyata. Tuhan dipermuliakan dan sesama diberkati. Dengan sikap seperti ini, kita akan dijauhkan dari godaan untuk memanipulasi hal baik untuk kepentingan sendiri semata-mata.

Nas ini membuktikan bahwa kebangkitan Lazarus mengandung makna lebih dalam dari sekadar mukjizat. 'Tanda' kebangkitan Lazarus menyampaikan berita bahwa sang Raja yang telah dinubuatkan Perjanjian Lama, kini telah datang (ayat 19), bahwa nubuat-nubuat Perjanjian Lama sedang digenapi, bahwa sang Terang itu sungguh-sungguh datang ke dalam dunia kepada Israel, milik-Nya sendiri. Ia kini datang ke Yerusalem! Orang banyak menyambut Yesus dengan sambutan khas bagi Mesias Israel, seiring dengan penggunaan kutipan dari Mzm. 118:26 dan Za. 9:9 (walau beberapa waktu kemudian sebagian dari mereka berteriak keras-keras, "Salibkan Dia").

Nas ini menunjukkan kepada kita bahwa panggilan kita sebagai murid-murid Tuhan berkaitan erat dengan rencana Allah yang telah dan terus Dia wujudkan sejak era Perjanjian Lama, bahkan sejak "pada mulanya." Kita juga perlu memahami nubuat-nubuat yang mendasari karya-Nya. Langkah ini bukan sekadar tindakan intelek. Pengertian kita tentang kesejatian Yesus sebagai Raja dan Mesias terbentuk karena iman yang didasari karya Roh Kudus. Untuk itulah Injil Yohanes dituliskan, yaitu supaya kita memahami dan percaya kepada Yesus sebagai Mesias yang menggenapi PL, bukan hanya karena Ia mampu melakukan mukjizat. Pemahaman seperti ini kita peroleh dari interaksi dengan Tuhan, firman-Nya, serta sesama saudara-saudari seiman yang memperlengkapi kita.

Sangatlah berbahaya jika kita hanya mau menerima Yesus sebagai 'Tuhan' yang berkuasa, tetapi mengabaikan begitu saja fakta bahwa Ia pun datang sebagai Raja dan Mesias Israel. Kedua fakta ini membuat kita sadar bahwa, pertama, karya Tuhan masih terus berlanjut, dan kedua, bahwa kita menjadi bagian darinya. Tuhan bukan cuma datang untuk memenuhi kebutuhan kita pribadi. Ia datang bagi dunia ini, sebagai Mesias Israel. Kita para murid-Nya pun adalah utusan-Nya, di dalam dunia ini.

Kehadiran orang-orang Yunani, yang semula menolak Yesus, ternyata tidak mengganggu sukacita dan kegirangan yang telah tercipta. Bahkan para murid yang biasanya emosional, kali ini bersikap wajar. Justru kedatangan mereka melihat Yesus dan kemudian bergabung bersama-sama orang Yahudi yang juga percaya kepada Kristus, dianggap Yesus Kristus sebagai waktu yang paling tepat untuk mengabarkan berita kematian-Nya. Ketika semuanya datang kepada-Nya, ketika itu pula semua terlibat mendengarkan berita penggenapan rencana Allah dalam diri-Nya.

Waktunya sudah dekat. Mengapa Yesus tidak gentar menghadapi kematian-Nya meski Ia tahu bahwa waktunya sudah dekat? Pertama, Yesus mempercayakan diri kepada Allah dan menyadari bahwa tujuan kematian-Nya adalah untuk kepentingan keselamatan umat manusia (Yohanes 12:27). Kedua, melalui kematian-Nya hubungan manusia dan Allah dipulihkan. Peristiwa inilah yang nantinya akan menjadi puncak perwujudan rencana agung Allah.

Renungkan: Persiapkan diri Anda menyongsong waktu-Nya!

Doa: Tuhan, berikanlah kami kekuatan untuk selalu bergantung dan percaya kepada-Mu, walaupun kami berada dalam ketakutan dan situasi yang tidak pasti.

"Tetap tidak percaya sekalipun telah melihat banyak mukjizat!" Kutipan Yesaya 6:10, seolah-olah menimbulkan kesan bahwa Allah sendirilah yang merencanakan pemberontakan dan penolakan percaya kepada-Nya. Benarkah demikian? Pada bagian ini dikatakan bahwa ketidakpercayaan manusia merupakan bagian dari rencana keselamatan Allah. Namun hal ini terjadi bukan karena kesalahan atau kegagalan Allah melainkan karena manusia sendiri yang memilih untuk tidak percaya. Manusia lebih memilih dan menjunjung kehormatannya, daripada kehormatan Allah (Yohanes 12:43).

Percaya atau tidak percaya. Setelah mendengar, memahami dan meyakini segala perkataan dan perbuatan Yesus dalam pasal-pasal sebelumnya, Kristen saat ini, diperhadapkan pilihan, percaya kepada Yesus yang diutus oleh Allah atau tidak percaya. Firman Tuhan jelas menyatakan bahwa percaya kepada Kristus adalah jaminan memperoleh hidup kekal. Sebaliknya, tidak percaya kepada Kristus membawa kita pada penghakiman, dan kebinasaan kekal.

Renungkan: Bila hati nurani Anda meyakini kepastian percaya kepada Kristus, itulah pilihan Anda, pegang teguh, jangan goyah!

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih bahwa Engkau menciptakan kami dengan baik dan sempurna. Tolong kami untuk senantiasa berjalan dengan-Mu.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)