Yohanes 13 (MAD2T*Pagi*10 Feb*Tahun 1)

Yohanes 13

Penjelasan Singkat
Kerendahan hati Kristus

Isi Pasal
Paskah terakhir. Yesus membasuh kaki murid-murid. Pengkhianatan diberitahukan, demikian juga penyangkalan Petrus.

Judul Perikop
Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (13:1-20)
Yesus memperingatkan Yudas (13:21-30)
Perintah baru (13:31-35)
Yesus memperingatkan Petrus (13:36-38)

Tafsiran: Menyadari saat-Nya sudah tiba untuk kembali kepada Bapa (ayat 1, 3), Yesus memusatkan pelayanan-Nya kepada kedua belas murid-Nya (ayat 13:1-17:26), dimulai dengan tindakan yang melandasi segala sesuatu yang akan terjadi berikutnya dalam hidup Yesus maupun para murid. Yesus membasuh kaki mereka. Inilah ungkapan kasih Yesus yang tiada tara: kasih hingga akhir hayat-Nya (ayat 13:1).

Dalam adat Yahudi, membasuh kaki biasa dilakukan orang sebelum masuk ke rumah, setelah menempuh perjalanan penuh debu. Membasuh kaki tidak dilakukan selagi makan. Karena itu, pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus bukanlah kebiasaan sehari-hari, tetapi merupakan tindakan profetik yang melambangkan sengsara serta kematian-Nya.

Perikop ini mengaitkan pembasuhan kaki itu dengan kematian Yesus. Pengkhianatan Yudas (ayat 2, 11) telah merintis jalan bagi penyaliban-Nya. Yesus tahu Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya (ayat 3a), yakni kuasa untuk menyelesaikan misi penyelamatan-Nya. Yesus berkuasa untuk enyelamatkan karena Ia berkuasa untuk menyerahkan nyawa-Nya (ayat 10:17, 18). "Saat-Nya" tiba untuk Yesus kembali kepada Bapa (ayat 1, 3b) melalui kematian-Nya. Kata yang sama dengan "menyerahkan nyawa" dalam 10:17, 18 dipakai untuk "menanggalkan" jubah (ayat 4). Jadi, tindakan Yesus menanggalkan jubah-Nya dapat dilihat secara simbolik sebagai tindakan yang mengacu kepada kematian-Nya. Makna pembasuhan kaki dijelaskan dalam dialog dengan Petrus (ayat 6-10).

Tugas yang dianggap hina dan rendah dilakukan Yesus untuk menubuatkan bagaimana Ia akan direndahkan dalam kematian. Ia perlu mati demi penyelamatan mereka yang percaya kepada-Nya. Dengan jalan inilah Ia memungkinkan kita memperoleh "bagian di dalam Dia" (ayat 8; bdk. Luk. 22:29-30) dan memperoleh "pembersihan" dari dosa (Yoh. 13:10; bdk. 1Yoh. 1:7), asal kita memberi diri kita dibasuh oleh-Nya.

Mengikuti dorongan kasih. Peristiwa pembasuhan kaki yang mengejutkan para murid dapat menjadi sia-sia bila artinya tidak dijelaskan oleh Yesus sendiri. Karena itu, Yesus bertanya sejauh mana mereka mengetahui makna perbuatan-Nya itu (ayat 12). Istilah tahu yang dipakai di sini bukan sekadar pemahaman akali. Yesus menginginkan pengetahuan yang diiringi oleh tindakan sesuai dengan pengetahuan tersebut. Penjelasan Yesus dimulai dengan penegasan kembali bahwa diri-Nya adalah Guru dan Tuhan. Karena itulah Ia kembali mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya, “kembali” ke status-Nya semula sebagai Guru dan Tuhan. Ia ingin para murid memahami bahwa dari status-Nya itulah Ia telah merendahkan diri demi memungkinkan mereka beroleh bagian di dalam-Nya. Kini mereka diajar untuk mewujudkan keikutsertaan mereka dalam Tuhan itu dengan jalan mengikuti teladan-Nya, saling mengasihi dan melayani di dalam kerendahan hati.

Dalam bagian ini, Yesus menggunakan frasa “Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu ….” Kalimat sesudah frasa tersebut, di ayat 16, harus diperhatikan dengan cermat. Di situ Yesus membandingkan antara hamba dan tuan, antara utusan dan pengutus. Semestinya para murid sudah mengetahui tentang hierarki dari hubungan- hubungan ini – hamba pasti lebih rendah daripada tuannya. Lalu mengapa Yesus mengatakannya lagi? Konteks di sini adalah mengenai kasih Kristus melalui penderitaan-Nya. Yesus ingin mengatakan bahwa penderitaan yang akan dialami para murid ketika mengasihi tidak akan sebesar penderitaan-Nya. Jadi, tak ada alasan untuk tidak mengasihi. Di dalam mengasihi, para murid akan mengalami kebahagiaan — suatu istilah yang menunjuk pada kebahagiaan meski keadaan sulit. Kristus akan meninggalkan para murid. Mereka harus belajar untuk mengasihi — itulah misi Kristus ke dunia, mewujudnyatakan kasih.

Mulai dari ayat 18, Yesus menubuatkan pengkhianatan Yudas terhadap diri-Nya dengan lebih jelas. Namun demikian, Yesus bukanlah korban yang tak berdaya — semuanya harus terjadi agar ke-Allah- an-Nya bersinar cerlang dan manusia percaya kepada-Nya (ayat 19- 20).

Renungkan: Cinta hanya dapat dipahami jika aktif. Berbahagialah mereka yang hidup di dalam cinta Ilahi!

Setelah dua kali menyinggung ada pengkhianat di antara para murid-Nya (ayat 13:10b, 18), kini Yesus menyatakan ada seorang murid-Nya yang akan mengkhianati Dia (ayat 21).

Keseriusan ucapan Yesus ini terlihat dari perkataan yang Ia gunakan. Kata "sesungguhnya," ini menunjukkan Yesus sangat sedih (ayat 16; band. Yoh. 11:33; 12:27). Ia sangat sedih bukan karena takut konsekuensi pengkhianatan itu, bahwa Ia akan ditangkap dan dibunuh. Yesus sangat sedih karena seorang murid-Nya, walau telah lama bersama-sama dengan-Nya, tetap memilih jalannya sendiri. Tanpa menyebut namanya, Ia melakukan gerakan simbolik yang hanya dimengerti oleh Yudas (Yoh. 13:26). Tindakan Yesus yang konfrontatif itu direspons Yudas dengan membiarkan dirinya dikendalikan oleh Iblis (ayat 27).

Perasaan galau Yesus tidak tertangkap oleh murid lainnya. Mereka tidak mampu merasakan keprihatinan-Nya dalam hal ini. Bahkan murid yang paling dikasihi-Nya dan duduk disamping-Nya pun tidak menyadari hal ini (banyak penafsir Alkitab setuju bahwa murid ini adalah Yohanes, penulis injil ini; 24-25). Karena itu, kesebelas murid Yesus beranggapan kepergian Yudas itu untuk membeli keperluan persiapan perayaan Paskah (ayat 29).

Yohanes menuliskan komentarnya tentang Yudas Iskariot secara kilas balik (lihat Yoh.12:4-6; 13:11, 27). Ini memberitahukan bahwa motivasi Yudas mengikut-Nya patut dipertanyakan. Walaupun ia menerima banyak kesempatan untuk mengenal dan memercayai-Nya, namun Yudas tidak menggunakannya. Ia memilih jalannya sendiri. Ini mengingatkan kita bahwa pengkhianat bisa muncul dari umat Tuhan. Waspadailah diri kita sendiri. Hindari menjadi orang Kristen, yang hanya dekat dengan Tuhan sebatas rohani semu atau rohani emosional. Kita harus memberi komitmen penuh untuk percaya Yesus dan setia mengikut-Nya tanpa pamrih.

Apa identitas utama yang membedakan para murid dari dunia? Bukan pemahaman doktrin yang komprehensif dan ortodoks! Ini memang penting, tetapi bukan itu pembedanya. Bisa saja orang dunia punya pemahaman doktrin sedemikian. Bukan pula kemegahan organisatoris dalam bentuk berlimpahnya anggota, dana, dan sarana. Ini memang baik, tapi organisasi dunia pun diizinkan Tuhan memiliki hal serupa.

Yang jadi pembeda para murid dari dunia adalah kasih. Namun kata kasih sendiri kerap dirongrong dan dibiarkan turun tingkat menjadi klise rohani. Kita hanya merasa perlu menyebut atau menyisipkan kata kasih dalam ujaran dan tulisan kita, walaupun dalam realpolitik kehidupan gerejawi, kenyataannya bisa lain. Pertimbangan kegerejaan, organisatoris pelayanan, atau relasi pribadi antarwarga gereja, justru banyak didasari oleh pertimbangan lain: mulai yang bersifat egois seperti ketidaksukaan, kenyamanan pribadi, dendam, hingga yang bersifat pragmatis seperti ketakutan terhadap reaksi pihak luar, persepsi perlu berhemat, dll. Namun tidak bagus jika kita melulu membahas ketiadaan kasih di sini. Masalah utama kita sebagai warga gereja dan murid Kristus adalah, teladan Kristus dan para murid itu terasa begitu jauh dari kita. Kasih terasa makin 'surgawi' alias makin jauh dari bumi, bahkan di antara para murid-Nya.

Kita butuh teladan. Kita butuh contoh. Ketimbang hanya menunggu, mari kita saling jadi teladan bagi satu sama lain. Toh perintah Yesus, Tuhan kita itu, jelas: yang disuruh mengasihi adalah kita. Seiring dengan makin kencangnya laju zaman ini, kita justru makin kesulitan untuk menunjukkan kasih tulus kepada orang-orang yang paling dekat dengan kita: pasangan hidup, anggota keluarga, tetangga, sesama warga jemaat yang berdekatan, rekan pelayanan, dll. Kita perlu menggumulkan lagi kapan dan bagaimana hari ini, besok, dan hari demi hari seterusnya, kita menunjukkan kasih itu. Mari tunjukkan identitas sejati kita.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)