Yohanes 18 (MAD2T*Mlm*12 Feb*Tahun 1)

Yohanes 18

Penjelasan Singkat
Yesus dikhianati

Isi Pasal
Pengkhianatan terhadap Yesus dan penangkapan Yesus. Penyangkalan Petrus. Yesus dihukum dan Barabas dibebaskan.

Judul Perikop
Yesus ditangkap (18:1-11)
Yesus di hadapan Hanas -- Petrus menyangkal Yesus (18:12-27)
Yesus di hadapan Pilatus (18:28-38)
Yesus dihukum mati (18:38--19:16)

Tafsiran: Sebelumnya, Yesus selalu menghindar dari orang-orang yang berusaha menangkap Dia karena waktunya belum tiba (Yoh. 10:39-40, 11:53-54). Namun saat itu tibalah waktunya untuk menggenapi kehendak Allah (bdk. Yoh. 17:1).

Maka kita melihat bahwa Yesus tidak menghindar ketika sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi datang bersama Yudas (Yohanes 18:3). Sebagai murid Yesus yang telah mengikuti Dia selama tiga tahun, Yudas tentu tahu betul tempat-tempat yang sering didatangi Yesus bersama murid-murid-Nya (Yohanes 18:2). Pasukan itu membawa lentera dan suluh, mungkin karena menduga bahwa Yesus akan sembunyi saat mereka mencari Dia. Mereka juga membawa senjata, mungkin untuk menghadapi orang-orang yang berusaha menghalangi rencana penangkapan Yesus. Yudas sendiri hanya bertindak sebagai pemandu, karena ia tidak berotoritas atas mereka.

Meski di mata pasukan itu, Yesus adalah seorang buruan, tetapi kalau kita lihat peristiwa selanjutnya maka nyata bahwa bukan mereka yang mengendalikan situasi. Mereka tidak perlu bersusah payah menginterogasi karena Yesus sendiri langsung menyatakan diri-Nya. Pengakuan Yesus tentang diri-Nya juga ditujukan untuk melindungi murid-murid-Nya (Yohanes 18:8-9).

Namun Petrus bertindak gegabah dengan memutus telinga hamba Imam Besar (Yohanes 18:10), walau ia mungkin bermaksud membela Yesus. Maka Yesus menegur Petrus, meski tindakannya dilakukan atas dasar loyalitas kepada Gurunya (Yohanes 18:11). Sebab tindakan Petrus sesungguhnya merupakan perlawanan terhadap kehendak Allah. Tindakan Petrus menunjukkan kegagalannya memahami bahwa kematian Yesus sangat penting bagi dunia.

Bagi Yesus, salib adalah tujuan kedatangan-Nya ke dunia dan Ia telah berkomitmen untuk menanggungnya. Ia harus meminum cawan murka Allah agar manusia ditebus dan diselamatkan. Apa yang Yesus alami bukanlah kekalahan, melainkan langkah awal menuju kemenangan atas dosa, maut, dan Iblis.

Dalam perikop ini, penulis memaparkan dua adegan yang berbeda, tetapi dijalin menjadi satu. Satu berlatar di dalam gedung dan yang lain di luar gedung.

Dalam adegan pertama, para prajurit menangkap dan membawa Yesus menghadap mantan Imam Besar, yang adalah mertua Kayafas. Dialah Hanas, yang secara tidak langsung pernah menubuatkan kematian Yesus (Yohanes 18:14). Hanas menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan ajaran-Nya. Menyangkut ajaran-Nya, Yesus mengatakan bahwa ajaran-Nya secara terbuka telah disampaikan di hadapan publik. Hanas dapat menanyai para pendengar-Nya mengenai kebenaran ajaran-Nya itu. Namun, Hanas tidak melakukannya. Ia malah membiarkan Yesus diperlakukan secara kasar oleh seorang penjaga. Menyangkut murid-murid-Nya, Yesus memilih diam karena melindungi mereka.

Namun, bagaimana dengan Petrus dalam adegan kedua? Petrus menyangkal Yesus, Gurunya, dan berbohong demi keselamatan diri sendiri. Padahal ia pernah sesumbar, "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak" (Mat. 26:33) dan "Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu" (Yoh. 13:37). Paling sedikit ada tiga penyebab kegagalan Petrus. Pertama, ia membawa diri ke dalam pencobaan yang tidak dapat dia hadapi yaitu di tempat musuh Yesus, padahal Yesus telah meminta murid-murid-Nya untuk pergi (Yoh. 18:8). Kedua, ia tidak berjaga-jaga di dalam doa. Ia terlalu mengandalkan kekuatan sendiri daripada mengandalkan Allah sehingga gagal dalam ujian iman. Ketiga, ia takut menghadapi konsekuensi bahwa ikut Yesus kadang harus menderita. Ia menyangka bahwa mengikut Yesus itu mudah dan akan mendapatkan posisi yang tinggi dalam Kerajaan Allah. Maka ketika menyaksikan Yesus ditangkap, ia tidak siap mengalami nasib yang sama.

Mengikut Tuhan memang tidak mudah, dan kadang harus pikul salib. Namun, ingatlah akan pengurbanan Kristus yang telah dinyatakan di kayu salib. Hal ini harus mendorong kita untuk tetap setia mengikuti Dia sampai akhir hidup kita.

Dengan tekad hendak membunuh Yesus, para musuh-Nya menggiring-Nya ke hadapan Pilatus, yang mewakili pengadilan Romawi. Mereka tidak peduli apakah mereka dapat membuktikan kebersalahan Yesus sebab yang terpenting bagi mereka adalah Yesus harus mati.

Sayang sekali, Pilatus yang seharusnya menegakkan keadilan tidak berani mengambil keputusan, padahal ia memiliki otoritas sebagai wakil pemerintah Romawi. Ia mencari kesalahan Yesus dengan mengajukan tuduhan para musuh-Nya, "Engkau inikah raja orang Yahudi?" (ayat 33). Pada ayat ini kita melihat, siapa yang sebenarnya pegang kendali. Yesus membalikkan pertanyaan Pilatus dengan menantangnya akan kebenaran tersebut. Secara implisit Yesus mengakui bahwa Dialah raja orang Yahudi dan Ia menuntut pengakuan Pilatus. Akan tetapi, Pilatus mengelak tuntutan Yesus dan mempersalahkan para musuh Yesus yang telah mengatakan tuduhan palsu terhadap-Nya. Yesus pun secara eksplisit menyatakan diri sebagai raja dari kerajaan yang berbeda dengan kerajaan dari dunia ini. Oleh karena itu, Ia tidak perlu membela diri-Nya di hadapan para musuh-Nya. Sebaliknya, Yesus mengulangi menantang Pilatus untuk mengakui Dia sebagaimana realitas kebenaran yang diungkapkan-Nya (ayat 37). Pilatus justru menolak menyatakan komitmennya untuk menegakkan kebenaran (ayat 38a). Ia justru memilih jalan kompromi untuk membebaskan Yesus (ayat 38b-39). Penolakan Pilatus untuk tegas dalam kebenaran menyebabkan ia menyerahkan Yesus untuk disalib.

Pilatuslah yang teradili oleh ketidakmauannya menegakkan kebenaran. Ia menolak Kristus, secara tak langsung ia bertanggung jawab atas kematian-Nya. Saat kita menolak mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Raja kita, kita sama seperti Pilatus yang terhakimi oleh kebenaran sejati!

Renungkan: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga (Matius 10:32).

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)