Yohanes 19 (MAD2T*Pagi*13 Feb*Tahun 1)
Yohanes 19
Penjelasan Singkat
Kematian Kristus dan penguburannya
Isi Pasal
Pilatus membawa Yesus ke hadapan orang banyak. Penolakan Juruselamat dan penyaliban. Penguburan-Nya.
Judul Perikop
Yesus disalibkan (19:16-27)
Yesus mati (19:28-30)
Lambung Yesus ditikam (19:31-37)
Yesus dikuburkan (19:38-42)
Tafsiran: Pilatus sadar ia telah melakukan kesalahan fatal dengan mengompromikan kebenaran (ayat 18:39). Namun, ia tidak mau mengaku salah. Ia berupaya membujuk orang Yahudi supaya Yesus dibebaskan dengan cara menyesah-Nya (ayat 19:1). Ketika Pilatus tidak berhasil meredakan amarah mereka (ayat 4-7), ia berbalik membujuk Yesus agar mengaku bersalah agar Ia terhindar dari kemungkinan penyaliban. Pilatus mengingatkan Yesus bahwa sebagai wakil kaisar Romawi, ia memiliki kuasa atas nasib Yesus (ayat 10). Namun sekali lagi, Yesus memojokkan Pilatus dengan menyatakan bahwa Pilatus tidak memiliki kuasa apa pun baik untuk menyatakan Yesus salah atau benar maupun untuk memvonis Yesus bebas atau mati. Kuasa itu hanya ada pada Allah Bapa (ayat 11). Dan kuasa itu hanya dinyatakan pada orang-orang yang menerima kebenaran sejati.
Sebenarnya Yesus sudah menyatakan bahwa bila Pilatus berani membela kebenaran maka ia lebih baik daripada para musuh Yesus yang menyerahkan Yesus kepadanya (ayat 11b). Sayang sekali, Pilatus memilih menyelamatkan kedudukan daripada menegakkan kebenaran. Daripada terancam dianggap memusuhi kaisar (ayat 12b), ia memilih menyerahkan orang tidak bersalah untuk dihukum. Pengadilan Pilatus tidak lebih daripada pengadilan boneka karena tidak ada otoritas, kuasa,keadilan dan kebenaran di dalamnya. Pengadilan yang seharusnya menjadi tempat orang berharap kebenaran ditegakkan, telah berubah menjadi tempat orang tidak bersalah dibantai demi kedengkian orang banyak dan keamanan pribadi Pilatus.
Orang yang berpegang pada kebenaran sejati akan diberi kuasa oleh Allah untuk berani menegakkan kebenaran apa pun konsekuensinya. Seharusnya kita yang sudah dibenarkan dalam Kristus menjadi orang-orang yang menyaksikan kebenaran sejati itu.
Tibalah saatnya Anak Manusia akan disalibkan. Ia harus minum dari cawan penderitaan yang telah Dia terima. Dia menanggung hukuman yang seharusnya dijatuhkan atas manusia.
Kematian Kristus di kayu salib memperlihatkan karya penebusan dan pendamaian yang Dia lakukan. Dengan penebusan, rantai perbudakan dosa yang membelenggu manusia diputuskan. Dengan pendamaian, hubungan yang rusak antara pendosa dengan Allah dipulihkan. Pendamaian harus dilakukan karena murka Allah yang telah bangkit akibat dosa manusia. Murka Ilahi ini hanya dapat dipuaskan dengan keadilan, yakni pelaku dosa harus dihukum. Kematian Kristuslah yang kemudian memuaskan keadilan dan kekudusan Allah. Maka ketika dosa dibereskan, pembatas antara manusia dengan Allah telah dirobohkan. Kuasa dosa telah dikalahkan, dan kita diselamatkan dari murka Allah (Rm. 6:8-9).
Dengan demikian, di salib kita tidak hanya melihat kebesaran kasih Allah, tetapi juga panasnya murka dan penghakiman-Nya. Bagi kita yang berpikir bahwa Allah tidak terlalu serius memandang dosa, marilah kita menghitung-hitung harga yang harus dibayar oleh Kristus untuk melunasi hutang dosa itu. Itulah yang akan mendorong kita menentukan pilihan saat datang pada salib Kristus. Tidak bisa tidak!
Salib memang memberikan gambaran sempurna tentang Manusia yang rela mengorbankan diri-Nya bagi manusia lainnya (Yoh. 15:13). Juga menggambarkan kebesaran kasih seorang suami pada istriya (Ef. 5:25-27). Namun berhadapan dengan salib, seharusnya bukan hanya membuat Anda mengambil gambaran teladan saja. Anda harus memilih: percaya pada Kristus yang menyelamatkan Anda atau menolak Dia dan kemudian menanggung murka-Nya. Salib tidak membiarkan manusia berada dalam posisi netral atau abu-abu. Kita percaya pada Yesus atau sebaliknya, mengambil posisi sebagai musuh-Nya. Kiranya Allah memampukan Anda untuk merespons dengan benar.
Kematian hanya meninggalkan jasad tak bernyawa. Begitu pula yang terjadi pada Yesus. Tinggal jasad-Nya yang tergantung di kayu salib. Orang-orang Yahudi yang menginginkan kematian-Nya, mungkin sudah puas sebab mereka tidak merasa terancam lagi. Namun demikian, mereka tetap harus melaksanakan hukum Taurat yang mereka junjung tinggi. Menurut Taurat, jasad orang yang dihukum salib harus dikuburkan pada hari itu juga (Ul. 21:22-23). Apalagi keesokan harinya adalah hari Sabat, mereka tentu tidak ingin menajiskan diri karena berurusan dengan mayat.
Memang ironis. Di satu sisi, mereka memperhatikan kesucian ritual (band. Yoh. 18:28). Namun di sisi lain, mereka tidak sadar atau malah tak peduli bahwa konspirasi untuk menghabisi nyawa Yesus berlawanan dengan kesucian dan Hukum Taurat yang menjadi orientasi hidup mereka. Karena hanya memperhatikan kesucian lahiriah itulah maka mereka meminta tentara Roma untuk mempercepat kematian orang-orang yang disalib dengan mematahkan kaki mereka. Namun karena para tentara melihat Yesus sudah mati, maka kaki-Nya tidak dipatahkan. Hanya salah satu tentara menikam lambung-Nya (ayat 33-34). Sesungguhnya, tindakan para tentara itu menggenapi nubuat tentang Yesus (ayat 36-37).
Berlawanan dengan dua kelompok tadi, Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus tampil untuk menguburkan jasad Yesus. Keduanya adalah pemimpin agama Yahudi, tetapi mengikut Yesus secara diam-diam. Meski tindakan mereka menggambarkan ketidaktahuan tentang kebangkitan Yesus, tetapi memperlihatkan keberanian untuk menyatakan bahwa mereka berpihak pada Yesus. Ini berbeda dari sikap para murid yang tidak lagi kelihatan batang hidungnya.
Menyatakan iman dengan ancaman terhadap popularitas, kedudukan, atau nyawa, tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Sedih mendengar makin banyak orang menyangkali Kristus karena sesuatu yang lain. Kualitas kasih macam apakah yang kita tunjukkan kepada Kristus?