Yohanes 9 (MAD2T*Pagi*08 Feb*Tahun 1)
Yohanes 9
Penjelasan Singkat
Orang Buta disembuhkan
Isi Pasal
Menyembuhkan orang yang buta sejak lahir. Penemuan kesalahan orang-orang yang tidak percaya.
Judul Perikop
Orang yang buta sejak lahirnya (9:1-41)
Tafsiran: Yesus menjawab masalah penderitaan. Tuhan Yesus dan murid-murid melihat orang buta sejak lahirnya. Masyarakat melihat bahwa orang ini menjadi buta karena dosa (ayat 2-4). Masyarakat menganggap bahwa penderitaan adalah akibat dosa. Ini bisa benar. Namun, penderitaan dapat juga tidak ada hubungannya dengan dosa. Kedua hal ini merupakan ajaran Kitab Suci.
Tuhan Yesus melihat penderitaan yang dialami oleh orang buta ini bukanlah disebabkan oleh dosa. Tuhan Yesus melihat rencana yang lebih besar. Penderitaan orang buta sejak lahir akan menjadi sarana untuk menyatakan pekerjaan Allah (ayat 3). Maka, Yesus meludah ke tanah, dan adukan tanah bercampur ludah disapukan pada mata orang buta (ayat 6). Lalu Tuhan Yesus memerintahkan orang buta ini pergi ke kolam Siloam untuk membersihkannya (ayat 7). Jelas bukan air kolam Siloam yang mencelikkan mata orang buta ini, melainkan perkataan Tuhan Yesus. Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah.
Ketika matanya dicelikkan, orang buta ini segera pulang ke rumahnya (ayat 7). Kelihatannya ia lupa mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yesus yang telah menyembuhkannya. Mungkin ia terlalu takjub melihat bentuk orang, matahari, rumah, dsb. yang belum pernah dilihatnya. Ketika tiba di rumahnya, tetangga-tetangganya bukannya memberinya suatu pesta ucapan syukur, malah meragukannya (ayat 8-9). Bahkan mereka membawanya ke hadapan para pemimpin agama karena peristiwa celik matanya terjadi pada hari Sabat (ayat 13,14).
Renungkan: Yesus menghentikan rantai masalah penderitaan dengan memasukkannya ke dalam konteks rencana Allah yang agung. Namun, mengalami pekerjaan Allah tidak secara otomatis membawa orang kepada iman dalam Yesus. Tetapi, iman kepada Yesus akan membawa orang untuk mengalami pekerjaan Allah.
Pada penilaian orang Yahudi paling sedikit telah terjadi tiga pelanggaran terhadap peraturan hari Sabat karena tindakan Tuhan Yesus terhadap orang buta itu. Tindakan Tuhan Yesus menyembuhkan orang buta itu, mengaduk tanah dengan ludah, serta menyuruh orang buta itu pergi membasuh diri di kolam Siloam adalah ketiga pelanggaran tersebut.
Dari nas ini, kita belajar tiga respons yang diberikan oleh berbagai kelompok mengenai mukjizat ini. Pertama, respons orang-orang Farisi. Sebagian mereka menganggap Tuhan Yesus sebagai orang berdosa karena melanggar peraturan hari Sabat yang melarang orang bekerja pada hari itu (ayat 16a). Sebagian Farisi lainnya mempertanyakan bagaimana mungkin orang berdosa menyembuhkan dengan mukjizat (ayat 16b). Akhirnya, mereka berupaya membuktikan bahwa tidak pernah terjadi mukjizat seperti itu (ayat 18). Kedua, respons orang yang disembuhkan matanya. Ia menyatakan bahwa Tuhan Yesus pasti seorang nabi yang datang dari Allah (ayat 17). Inilah respons dari orang yang sudah mengalami anugerah Allah. Ketiga, respons orang tua dari orang yang mengalami anugerah Allah. Mereka takut dikucilkan oleh para pemimpin agama Yahudi sehingga orang tua dari orang yang disembuhkan itu mengelakkan diri menjadi saksi perkara mukjizat yang terjadi pada anak mereka (ayat 20-23). Sayang sekali, kesaksian yang indah ini ditenggelamkan oleh kepentingan dan sikap mencari aman sendiri. Orang-orang ini telah melihat mukjizat Tuhan, tetapi mereka menolak mengakuinya.
Hanya orang yang sudah mengalami anugerah Allah bisa merespons dengan tepat kebaikan Allah tersebut. Oleh karena itu, kita yang sudah mengalami anugerah Allah, harus menjadi saksi-saksi Tuhan Yesus, bahwa Dia adalah Juruselamat dan Mesias yang diutus Allah untuk menyelamatkan umat manusia dari kebutaan rohani yang membinasakan. Maukah Anda menjadi saksi-saksi-Nya?
Ketika si buta dibuka matanya oleh Sang Pencipta, ia bersaksi "aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat." Tetapi ketika ditanya proses kesembuhannya, ia mengatakan bahwa mereka tidak akan mau mendengar penjelasannya. Karena itu, ketika ditanya oleh mereka tentang mukjizat yang dialaminya, ia menegaskan bahwa hanya seorang yang berasal dari Allah yang berkuasa memelekkan mata orang yang lahir buta. Orang itu melihat kebenaran, namun Tuhan Yesus mengatakan mereka buta. Sebaliknya, si buta yang dibukakan matanya, mampu melihat kebenaran yang sejati di dalam Dia.
Yang melihat si Buta. Tuhan Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Anak Manusia, yang membuka mata buta dan yang menghakimi mereka yang menganggap diri melihat, tetapi sebenarnya mereka "buta." Mata yang dibukakan hingga dapat melihat terang adalah karya ilahi. Tak seorang pun dapat melihat kebenaran melalui Taurat Musa dengan usahanya sendiri. "Mata buta yang terbuka adalah mukjizat Tuhan, Sang Pemberi Hukum, yang berkenan membukakan diri-Nya untuk dilihat si buta." Apa yang dimengerti orang Farisi tentang "buta" dan "melihat" adalah dalam pengertian hurufiah, sedangkan yang dimaksudkan Tuhan Yesus adalah makna rohani.