1 Kor 11 (MAD2T*Pagi*28 Maret*Tahun 1)
1 Korintus 11
Penjelasan Singkat
Aturan mengenai ibadah yang ilahi
Isi Pasal
Urutan orang Kristen dan perjamuan Tuhan. Arti perjamuan Tuhan.
Judul Perikop
Hiasan kepala wanita (11:2-16)
Kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam perjamuan malam (11:17-34)
Tafsiran: Perempuan dengan rambut digerai dan acak-acakan serta laki-laki dengan kepala botak biasa terdapat dalam ibadah ekstatik terhadap dewa-dewa Timur. Ini kontras dengan perempuan Yahudi yang menutup kepala dengan tudung.
Kehidupan baru dalam Roh membawa kemerdekaan dan kesederajatan bagi laki-laki dan perempuan untuk sama-sama berpartisipasi aktif dalam komunitas Kristen mula-mula. Namun, dalam rangka pemberitaan Injil, Paulus menganjurkan perempuan supaya tidak sama dengan perempuan dalam ibadah ekstatik yang memberi kesan kegilaan dan kemabukan. Tujuan Paulus ialah ketertiban dan sifat misioner komunitas Kristen.
Paulus menyoroti soal rambut di kepala perempuan bukan karena persoalan gender atau karena peraturan Kristen, tetapi untuk kepentingan pekabaran Injil oleh gereja mula-mula. Ibadah Kristen harus berlangsung dengan tertib dan teratur supaya tidak menjadi sumber penolakan bagi orang Yahudi terhadap Injil Kristus. Untuk mempertegas tentang rambut perempuan supaya sungguh-sungguh mendapat perhatian, Paulus memakai contoh hubungan Allah-Kristus, dan laki-laki-perempuan. Allah dan Kristus berada dalam hubungan setara, demikian pula laki-laki dan perempuan. Keduanya saling memberi kemuliaan oleh yang satu kepada yang lain (1 Korintus 11:2-10, 13-16). Laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan menurut gambar Allah dan keduanya berasal dari Allah (1 Korintus 11:11-12).
Nas ini bukan ditujukan hanya kepada para perempuan, tetapi kepada semua orang Kristen. Konteks zaman itu berbeda dengan konteks sekarang. Waktu itu rambut perempuan dapat menjadi masalah dan batu sandungan. Perhatikanlah konteks sekarang! Apa sajakah hal-hal di sekitar kita yang dapat mengganggu ketertiban dalam ibadah serta dapat menjadi sumber penolakan orang kepada Kristus? Kesaksian kita merupakan bagian penting dari ibadah. Kesaksian iman kita dapat menjadi sandungan bila jatuh menjadi kesombongan iman. Maka berhati-hatilah, jangan sampai menghalangi orang datang kepada Kristus!
Berbagi hidup merupakan salah satu bentuk solidaritas menghadapi berbagai macam tantangan. Suatu komunitas masyarakat menjadi sejahtera karena dibangun dari kemauan berbagi hidup. Mereka berbagi informasi, pengetahuan, keterampilan, keuntungan, bahkan berbagi kerugian. Kemiskinan dan ancaman kebinasaan di dunia ini pun dijawab oleh Yesus Kristus dengan membagi hidup-Nya bahkan menyerahkan tubuh-Nya. Yesus membagi kemuliaan-Nya supaya manusia menjadi mulia. Namun, kita kadang melupakan perbuatan Yesus, sehingga kita menjadi egois dan hanya memuaskan diri sendiri.
Sejak semula, perjamuan dalam jemaat Kristen ditandai dengan berbagi makanan dan minuman. Namun di jemaat Korintus sudah bergeser. Kebiasaan perjamuan makan bersama sebelum perjamuan kudus berubah menjadi menikmati makanannya sendiri (1 Korintus 11:17-22). Yang miskin pun semakin tersingkir. Padahal, perjamuan kudus merupakan jalan untuk mengingat dan memberitakan solidaritas Kristus melalui kematian-Nya bagi keselamatan dunia (1 Korintus 11:23-26). Yesus menjadi miskin supaya kita menjadi kaya. Yesus mati supaya kita hidup. Pengakuan akan tubuh dan darah Kristus ditandai dengan sikap menghormati perjamuan kudus. Makan pada Perjamuan kudus tanpa mengakui tubuh dan darah Kristus sama dengan mengundang hukuman bagi diri sendiri (1 Korintus 11:27-34).
Sesungguhnya, tidak ada perjamuan tanpa kebersamaan. Makan sendiri dalam sebuah acara perjamuan bersama hanya mendatangkan keburukan bahkan perpecahan dalam komunitas. Orang yang sedang lapar dan tidak punya makanan akan merasa minder dan tersisih apabila orang yang berpunya tidak berbagi makanan. Tuhan Yesus Kristus membagi kasih dan kemuliaan-Nya kepada dunia ini, dan Ia tidak pernah kekurangan kasih dan kemuliaan-Nya. Ketika kita berbagi dengan sesama, hal itu tidak akan membuat kita berkekurangan. Sebab itu, buanglah keegoisan, kepentingan diri, dan kepuasan diri dalam perjamuan kudus atau perjamuan kasih. Wujudkanlah kasih Kristus!