1 Kor 14 (MAD2t*Mlm*29 Maret*Tahun 1)
1 Korintus 14
Penjelasan Singkat
Mengenai orang-orang yang mempunyai bahasa lain
Isi Pasal
Nubuat dan bicara dalam bahasa lidah. Aturan tentang pelayanan karunia ini di dalam gereja.
Judul Perikop
Sekali lagi tentang karunia Roh (14:1-25)
Peraturan dalam pertemuan Jemaat (14:26-40)
Tafsiran: Dalam surat Korintus ini ada sembilan karunia rohani. Yaitu kata-kata hikmat, kata-kata pengetahuan, iman, karunia-karunia untuk berbagai kesembuhan (keduanya jamak dalam bahasa Yunani), kuasa-kuasa berbagai pekerjaan ajaib, nubuat, membedakan roh-roh, berbahasa roh, dan menafsirkan bahasa roh. Dalam bagian lain tentu ada lagi karunia lain, tetapi karunia rohani yang dipaparkan di sini rupanya yang sangat umum dalam kehidupan gereja di Korintus. Sebagian dari karunia itu juga sangat diminati pada masa kini.
Selain pertanyaan motivasi dan tujuan, ada lagi pertanyaan penting tentang karunia-karunia rohani. Yaitu bagaimana aturan penggunaannya? Tujuan utama dan alasan utama karunia-karunia harus memengaruhi pengaturan penggunaannya. Kasih adalah karunia yang utama, yang sekaligus menjadi energi yang mendorong penggunaan karunia-karunia. Dalam pasal ini Paulus hanya menyoroti dua karunia yaitu karunia bahasa roh (dan terjemahannya), yang rupanya sangat dipentingkan jemaat di Korintus, dan karunia bernubuat yang menurut Paulus lebih penting untuk dikejar sebab sifatnya jelas untuk dipahami dan membangun keutuhan gereja (ayat 4).
Karunia-karunia harus digunakan dengan cara yang memberi makna bagi jemaat. Letak masalah karunia bahasa roh adalah bahasa itu tidak dipahami orang lain, kecuali jika diterjemahkan. Maka bahasa roh tidak boleh dilakukan dalam ibadah umum kecuali ada yang menerjemahkan. Maka karunia lain juga harus digunakan dengan cara yang bermakna. Salah satu sifat kasih pun adalah melakukan hal-hal bermakna bagi orang lain, baru akan berdampak membangun. Karunia kata-kata hikmat, pengetahuan, iman, karunia kesembuhan, dlsb. pun akan bermakna jika dilakukan sesuai kebutuhan orang yang dilayani. Karunia kesembuhan tentu tidak dapat digunakan untuk menyembuhkan jika tidak ada yang sakit. Atau jika penyakit meliputi jiwa atau mental di samping fisik, maka kesembuhan harus dilayankan kepada kedua aspek tersebut.
Karunia rohani harus digunakan dalam semangat melayani, membangun keutuhan jemaat, dan memberi jawaban bermakna bagi kebutuhan jemaat.
Apa tujuan diadakannya aturan-aturan dalam hidup manusia? Ketertiban, keteraturan, kesopanan, dan seterusnya. Jelas bahwa aturan diadakan agar segala sesuatunya berjalan tertib dan teratur, tidak serampangan. Tetapi dalam kenyataannya kita sering menjumpai peristiwa-peristiwa yang "mengenaskan" yang terjadi karena aturan yang ada tidak diberlakukan semestinya. Misalnya, para wakil rakyat di MPR dan DPR yang bersikap brutal selama persidangan (seperti baku pukul). Dari contoh ini kita dapat menilai bahwa aturan diadakan untuk dilanggar!
Friksi yang terjadi di jemaat Korintus sudah tidak dapat disembunyikan. Karena persaingan itu dinyatakan secara terang- terangan dalam pertemuan ibadah jemaat. Semua kelompok ingin sekali menonjol dengan cara yang meremehkan serta mengganggu kelompok lainnya. Kelompok yang satu ingin mendominasi sementara kelompok yang lain juga tidak mau mengalah. Orang berbahasa roh tidak lagi memedulikan apakah orang lain mengerti atau tidak (ayat 27). Kelompok yang memiliki karunia bernubuat juga tidak bisa menahan diri. Semua ingin memperoleh kesempatan dan waktu yang sama untuk menyampaikan kehendak Tuhan (ayat 29-33). Ditambah lagi dengan kehadiran kelompok perempuan -- yang rupanya di masyarakat Yunani-Romawi tidak pernah mendapat peran, perhatian serta menjadi kelompok yang harus selalu bungkam. Mereka juga menuntut kesempatan untuk tampil di pertemuan jemaat (ayat 34,35).
Pertemuan jemaat yang mestinya berpusat kepada Allah, dan seharusnya orang hadir dengan sikap takzim, sekarang sudah berubah menjadi ajang manusia menampilkan diri. Bukan kesejahteraan dan berkat yang mereka terima tetapi sikap bermusuhan yang menyakitkan.
Renungkan: Sikap beribadah yang tertib dan sopan menjadi salah satu petunjuk bahwa kita sungguh-sungguh menghormati Tuhan kita.