1 Kor 6 (MAD2T*Mlm 25 Maret*Tahun 1)
1 Korintus 6
Penjelasan Singkat
Larangan mengajukan tuntutan hukum kepada saudara seiman
Isi Pasal
Orang-orang kudus dilarang saling menghakimi. Kekudusan tubuh. Tubuh adalah bait Tuhan.
Judul Perikop
Mencari keadilan pada orang-orang yang tidak beriman (6:1-11)
Nasihat terhadap percabulan (6:12-20)
Tafsiran: Menyelaraskan ide dalam sebuah komunitas ternyata tidak mudah. Setiap orang akan berusaha mempertahankan pendapatnya bahkan dengan cara apa pun sehingga teman jadi lawan. Akibatnya pertentangan dan perselisihan terus menerus terjadi. Imbauan agar jemaat Tuhan saling mengasihi, saling merendahkan hati, saling tunduk dan hormat satu dengan lainnya, hanya angin lalu. Bahkan perselisihan ini bisa berujung di meja hijau karena saling menuduh dan saling merasa paling benar tidak terselesaikan.
Keadaan ini akhirnya membuat Paulus menegur jemaat yang menyelesaikan perselisihan di meja hijau atau pengadilan. Menurut Paulus, hal ini tidak akan terjadi seandainya masalah itu diselesaikan secara internal, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan (lih. Mat. 18:15-17). Teguran Paulus ini didasarkan pada dua hal: [1] bahwa adanya masalah "perselisihan" dalam jemaat sebenarnya menunjukkan "kekalahan" karena jemaat Kristen tidak berhasil hidup dalam kasih dan pengampunan; [2] sikap merasa diri paling benar, membuat jemaat Kristen "rela" melakukan ketidakadilan dan merugikan orang lain. Teguran Paulus ini sebenarnya bukan mengajarkan jemaat untuk tidak percaya pada pengadilan dunia dan memberontak terhadap peraturan negara. Paulus menggarisbawahi bahwa saling mengampuni, menghargai, merendahkan diri, dan berlaku adil lebih baik daripada menyelesaikannya di meja pengadilan (bdk. Luk. 12:58).
Orang Kristen yang lebih memilih meja hijau dalam menyelesaikan masalah internal sebenarnya menunjukkan bahwa secara moral jemaat kalah. Ini merupakan tanda bahwa orang Kristen hanya bisa bicara tanpa dapat mengendalikan dirinya dan mengampuni saudaranya.
Renungkan: Perselisihan di antara orang Kristen hanya akan mendatangkan sikap tidak simpatik dan membuat orang semakin alergi terhadap kekristenan.
Sebagian orang memiliki masa lalu yang manis dan indah, sementara orang lain memiliki masa lalu yang getir dan buruk. Yang mana masa lalu Anda?
Jika dilihat dari sudut pandang Allah, kita semua memiliki masa lalu yang teramat pekat. Namun Anda akan segera memprotes. Bagaimana dengan orang yang tak pernah berbuat dosa seperti yang dilakukan orang yang perilakunya biadab mirip binatang? Mereka baik, sopan, rajin beribadah, tekun beramal, tidak mencuri, tidak menipu, tidak memperkosa. Tidakkah hidup demikian relatif baik, indah dan dapat menjadi teladan? Sayang kita terjebak penilaian dunia ini. Menurut penilaian Alkitab, dosa seperti kikir atau memfitnah saja bisa membuat orang tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah. Semua orang sudah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Maka termasuk masa lalu terpuji seperti sikap fanatik Paulus pun, dalam penilaian baru Paulus tidak lebih seumpama sampah (harfiah: kotoran binatang -- Flp. 3:8b).
Masa lalu yang terpuji di mata manusia sekali pun telah cemar oleh egoisme, kesombongan, pembenaran diri. Itulah maksud firman yang mengatakan bahwa yang lama sudah berlalu, yang baru sudah terbit (ayat 17). Sebab itu kita tidak lagi menilai sesama orang beriman menurut kenyataan masa lalunya (entah baik atau tidak), tetapi dari fakta yang Kristus sudah perhitungkan kepada dia (ayat 16).
Seluruh hidup kita adalah milik Kristus. Kristus sudah menebus kita menjadi milik-Nya selamanya. Seluruh segi diri kita, roh, jiwa, tubuh; seluruh ruang dalam diri kita; seluruhnya, sepenuhnya dicintai-Nya dan ingin diisi oleh-Nya saja. Oleh karena karya Roh Kudus di dalam hati kita, kita merespons kasih Kristus. Kita memberi diri diampuni, diselamatkan, disucikan, dikuduskan, dibenarkan-Nya. Akibatnya dosa dan kehidupan lalu sudah berlalu. Dosa bukan lagi kodrat orang milik Kristus. Dosa adalah cerita lama, lembaran lama. Kini kita dipandang sebagai orang baru, dan sedang terus menerus diperbarui-Nya. Maka mengapa berdosa lagi? Bila dosa bukan sifat kita lagi, ia tidak harus menjadi realitas kita. Jika Kristus sudah memasukkan kita ke masa baru-Nya, mengapa masih hidup seolah di masa lalu?
Penguasaan diri makin sulit ditemukan pada zaman ini. Orang Kristen pun banyak yang setir dan rem kehidupannya sudah melenceng dan "blong." Mengapa? Sebab moto hidup ke-banyakan orang zaman ini ada-lah, nikmati apa yang tersedia, turuti apa yang kau inginkan.
Tuhan Yesus berkata: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Mat. 16:24). Paulus menegaskan bahwa penguasaan diri adalah salah satu segi dari wujud hadir dan bekerjanya Roh Allah dalam hidup orang milik Kristus (Gal. 5:22-24). Petrus memaparkan bahwa penguasaan diri adalah salah satu tahap dari pematangan iman orang Kristen (ayat 3-8). Jelas kita harus menguasai diri, dan karena itu kita berbeda dari orang kebanyakan yang tidak mengenal Yesus. Jadi bila selama ini kita lepas kendali, kita perlu memohon pengampunan-Nya. Kita perlu mohon Roh-Nya bekerja kuat di dalam hidup kita agar penguasaan diri terwujud.
Paulus menyoroti dua hal yang tentangnya kita paling mudah lepas kendali. Makanan dan seks. Bisa kita tambahkan dalam konteks kini: belanja, hiburan, dan semacam itu. Makan dan seks adalah kebutuhan tubuh. Keduanya berbentuk hasrat atau dorongan kuat yang dalam kondisi tubuh tertentu bisa sangat kuat dan mendesak agar dipuas-kan. Celakanya orang di Korintus beranggapan bahwa seperti halnya rasa lapar mendorong orang cari makan, munculnya hasrat seks pun membuat orang dapat dibenarkan untuk mencari pemuxasan juga. Dalam kasus di Korintus, mereka bisa pergi ke ritual di kuil-kuil berhala Yunani yang menyediakan pelacur bakti. Paulus menolak cara berpikir demikian. Selain perut tidak identik dengan seks, keduanya harus tunduk pada Tuhan yang menciptakan hasrat badani dengan mak-sud dan aturan masing-masing.
Bagaimana kita bisa belajar menguasai diri? Pertama, ingat meski semuanya ok, tetapi tidak semuanya berguna. Kedua, meski ok, tetapi kita tidak boleh mengijinkan hasrat dan kebutuhan memperbudak kita. Mengapa? Karena kita milik Tuhan. Seluruh hasrat badani kita harus seirama hasrat rohani kita, yaitu mengalami kendali Tuhan yang memberi arti dan memuliakan tubuh.