KPR 14 (MAD2T*Pagi*28 Feb*Tahun 1)
Kisah Para Rasul 14
Penjelasan Singkat
Paulus dirajam batu
Isi Pasal
Pekerjaan Injil di Ikonium, Derbe, dan Listra. Orang yang lumpuh di Listra disembuhkan. Paulus dilempari batu. Penatua-penatua ditetapkan di gereja-gereja.
Judul Perikop
Kembali ke Antiokhia (14:21-28)
Tafsiran: Mukjizat bisa membuat orang menjadi percaya, bisa juga sekadar terpesona. Respons lain terhadap mukjizat ialah banyak orang akan cenderung mengagungkan si pelaku daripada Allah, sang Pembuat mukjizat. Sesudah melakukan mukjizat penyembuhan kepada orang lumpuh, Paulus dan Barnabas mendapat simpati besar, bahkan dianggap sebagai dewa. Pujian dan simpati jemaat itu tidak membuat Paulus dan Barnabas menyombongkan diri. Allah memberikan kuasa dan wewenang kepada Paulus dan Barnabas untuk mengadakan mukjizat demi meneguhkan kesaksian mereka.
Penderitaan adalah konsekuensi pemberita Injil. Tanda lain yang mengiringi pemberitaan Injil adalah semakin besarnya penderitaan yang dialami pemberita Injil. Bagi mereka yang sungguh-sungguh menjalankan panggilan bersaksi dan setia, penderitaan bukanlah penghambat kesaksian Injil. Keadaan itu justru mendorong semangat memberitakan Kristus ke dunia yang menolak-Nya. Sebaliknya, mereka yang tidak sungguh-sungguh bersaksi dan setia, akan menilai lain terhadap penderitaan. Orang-orang seperti ini mudah berkompromi dengan dunia dan mengobral Injil secara mudah dan murah, demi kesenangan dunia. Firman Tuhan mengingatkan: "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan".
Maju terus, pantang mundur! demikianlah kira-kira semangat Paulus dan Barnabas dalam pemberitaan Injil. Penganiayaan yang mereka telah alami tidak membuat mereka trauma. Setelah dari Derbe mereka masih saja berani kembali ke Listra, Ikonium, dan Antiokhia (Kisah Para Rasul 14:21). Itulah gambaran diri hamba Tuhan sejati. Apa lagi yang dapat kita lihat mengenai gambaran hamba Tuhan dalam diri mereka?
Sebagai hamba Tuhan, mereka menguatkan hati orang yang telah percaya Tuhan agar tetap setia bila mengalami sengsara (Kisah Para Rasul 14:22). Tuhan mengizinkan musuh iman menghadang kita agar kita belajar bagaimana menggunakan senjata Allah dan tetap tegak dalam iman. Melalui pencobaan kita belajar berserah pada Allah dan tak bergantung pada diri sendiri.
Sebagai hamba Tuhan, Paulus dan Barnabas menolong jemaat untuk hidup sebagai komunitas orang beriman yang terorganisir di bawah kepemimpinan penatua (Kisah Para Rasul 14:23).
Sebagai hamba Tuhan, mereka bertanggung jawab kepada jemaat yang mengutus mereka di Antiokhia. Mereka melaporkan segala sesuatu yang Allah telah lakukan bersama mereka (Kisah Para Rasul 14:26-27). Sungguh mengagumkan mendengar kisah bagaimana Allah membuka kesempatan bagi orang non-Yahudi.
Sebagai hamba Tuhan, mereka memuliakan Allah atas segala sesuatu yang Allah telah lakukan melalui mereka. Mereka pergi karena kasih karunia Allah dan karena kasih karunia pula mereka dapat menyelesaikan tugas mereka.
Seorang hamba Tuhan juga tahu kapan ia harus beristirahat dan mengisi kembali "baterai" rohaninya. Lukas mencatat bahwa Paulus dan Barnabas lama tinggal bersama-sama murid-murid Tuhan yang lain (Kisah Para Rasul 14:28) sebelum mereka harus pergi untuk pelayanan yang berikut.
Setiap orang beriman tentu harus memiliki hati seorang hamba Tuhan, walaupun kita tidak bekerja di bidang kerohanian. Belajar dari Paulus dan Barnabas, milikilah sikap bertanggung jawab terhadap apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Dan muliakanlah Allah melalui apa yang kita lakukan.