KPR 17 (MAD2T*Pagi*03 Maret*Tahun 1)

Kisah Para Rasul 17

Penjelasan Singkat
Paulus dianiaya

Isi Pasal
Berdirinya gereja di Tesalonika dan perlawanan orang-orang Yahudi. Paulus dan Silas di Berea. Paulus di Atena dan khotbah dari atas Areopagus.

Judul Perikop
Keributan di Tesalonika (17:1-9)
Paulus dan Silas di Berea (17:10-15)
Paulus di Atena (17:16-34)

Tafsiran: Kota kedua yang dikunjungi Paulus di daratan Eropa ialah Tesalonika. Sebagaimana di kota Filipi (Kis. 16:13), di sini Paulus masuk ke sebuah rumah ibadat orang Yahudi untuk memberitakan Injil dengan membahas kitab Perjanjian Lama (Kisah Para Rasul 17:1-2). Paulus menjelaskan mengapa Mesias harus mati dan bangkit dari antara orang mati, sebagai intisari Injil (Kisah Para Rasul 17:3). Pemberitaan ini membuat beberapa orang Yahudi menjadi percaya kepada Yesus (Kisah Para Rasul 17:4). Di antara mereka adalah Yason (Kisah Para Rasul 17:7), serta mungkin pula Aristarkus dan Sekundus (Kis. 20:4). Bahkan sejumlah besar orang Yunani dan para perempuan terkemuka pun ikut bergabung (Kisah Para Rasul 17:3-4).

Seperti perikop sebelumnya, pekerjaan Tuhan selalu mengalami gangguan dan rintangan, baik dari luar maupun dari dalam. Di Filipi, orang nonYahudi memusuhi Paulus sementara di Tesalonika, justru orang-orang Yahudi. Mereka mengajak beberapa penjahat dan preman pasar mengadakan keributan dan kekacauan di kota Tesalonika. Mereka bahkan menyerbu rumah Yason untuk menangkap Paulus dan karena tidak ditemukan, Yasonlah yang dijadikan sasaran kemarahan (Kisah Para Rasul 17:5-6). Hanya dengan jaminan Yason, penduduk kota Tesalonika menjadi tenang.

Apa pun situasinya, Paulus dan rekan-rekan pemberita Injil dengan konsisten memberitakan Injil yang intinya ialah Kristus adalah Raja yang harus mati dan bangkit! Meskipun pemberitaan Injil mengakibatkan ada orang yang membenci mereka dan berupaya membungkam pemberitaan Injil, tetapi mereka tidak gentar atau goyah. Mereka tetap teguh dan tegar di dalam menghadapi berbagai ancaman sebagai risiko dalam pelayanan pemberitaan Injil.

Kita juga melihat bahwa Kristus adalah Raja yang jauh lebih berkuasa daripada raja-raja dunia ini, dan kita tidak perlu khawatir terhadap kuasa apa pun di dunia ini, bila kita melayani Kristus. Di dalam setiap pergumulan dan kesulitan yang kita hadapi saat kita melakukan pekerjaan Tuhan, Ia pasti menyertai serta memberikan pertolongan pada waktu-Nya, sesuai dengan kedaulatan kehendak-Nya yang sempurna.

Mengapa ada orang merespons Injil lalu bertobat, sebaliknya ada pula orang yang menutup diri terhadap Injil? Jawabnya terletak pada sikap hati seseorang!

Bila sebagian orang Yahudi di Tesalonika menutup diri terhadap Injil sehingga mereka membenci kekristenan, maka orang-orang Yahudi di Berea sebaliknya. Mereka memang tidak langsung percaya, namun mereka tidak menolak. Mereka justru menyelidiki Perjanjian Lama untuk mengetahui apakah ajaran Paulus benar. Sikap hati seperti itu membawa dampak ganda. Pertama, kebenaran tentang Yesus dalam Injil mereka terima sehingga pertobatan pun terjadi (ayat 12a). Kedua, kesediaan menerima Injil menjadi kesaksian bagi orang-orang non Yahudi. Akibatnya orang-orang nonyahudi pun menjadi percaya dan bertobat (ayat 12b). Sayangnya, sukacita ini terusik oleh perbuatan oknum dari Tesalonika. Provokasi mereka menjadikan penduduk Berea curiga akan maksud Paulus memberitakan Injil (ayat 13). Mungkin orang percaya Berea mengetahui peristiwa di Tesalonika, sehingga mereka pun mengungsikan Paulus. Paulus akhirnya meninggalkan Berea, namun Silas dan Timotius tetap tinggal untuk membina kerohanian mereka (ayat 14). Ini membuktikan kesungguhan hati orang percaya Berea yang rindu untuk bertumbuh dalam Tuhan.

Banyak orang menyambut Injil bila disampaikan sebagai janji pengampunan dan berkat semata-mata. Karena itu, saat kita mengabarkan Injil hendaknya juga disertai penggalian firman yang benar dan tepat. Para pendengar Injil harus mendengar perintah untuk bertobat sebelum mendapatkan anugerah keselamatan. Dengan demikian akan nyata sikap hati yang sesungguhnya, yaitu apakah terbuka untuk bertobat dan mau diselamatkan atau menolak Injil dan mencemooh kebenaran.

Berdoa: Mohonlah agar Roh Kudus menyiapkan hati orang yang akan Anda injili hari ini, supaya mereka terbuka dan menerima kebenaran.

Dalam bagian firman Tuhan ini kita akan menelusuri jejak Paulus yang kali ini tidak disertai rekannya, Silas dan Timotius, yang masih tinggal di Berea. Bagian ini dimulai dengan kesedihan hati Paulus tatkala melihat bahwa kota Atena ternyata penuh dengan patung-patung berhala (Kisah Para Rasul 17:16)

Hal ini memotivasi Paulus untuk memberitakan firman Tuhan dengan cara bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, bahkan dengan orang yang setiap hari dijumpainya di pasar (Kisah Para Rasul 17:17). Perjumpaannya dengan beberapa ahli pikir Yunani dari golongan Stoa maupun Epikurus (Kisah Para Rasul 17:18), membuahkan kesempatan bagi Paulus untuk berbicara di depan sidang terbuka Areopagus, yaitu semacam DPRD-nya kota Atena.

Peluang emas ini dipakai Paulus untuk menjelaskan secara tuntas mengenai Allah sebagai Pencipta, yang juga Tuhan atas ciptaan-Nya, serta tidak tinggal dalam kuil buatan tangan manusia (Kisah Para Rasul 17:22-24). Allah sedemikian tidak dilayani oleh tangan manusia sebaliknya Dialah pemberi dan penopang kehidupan manusia (Kisah Para Rasul 17:25). Paulus kemudian mendorong semua pendengarnya agar mereka mencari Dia seraya mendoakan agar mereka dapat menjamah dan menemukan Dia yang tidak jauh dari mereka (Kisah Para Rasul 17:25-27).

Masalah muncul ketika dalam penutup khotbahnya, Paulus mendorong mereka bertobat dengan tidak memperlakukan Allah seperti berhala sebelum penghakiman Allah diberlakukan atas mereka (Kisah Para Rasul 17:29-31). Kaum terpelajar Yunani yang tidak memercayai adanya kebangkitan orang mati langsung bereaksi menolak Paulus. Namun, ada juga yang percaya kepada pemberitaannya, termasuk salah seorang anggota Areopagus.

Mari kita tarik sejumlah pelajaran. Pertama, kita harus memiliki kepekaan seperti Paulus untuk melihat setiap peluang sebagai kesempatan berharga untuk memberitakan Injil. Hal ini tidak terlepas dari kepedulian dan belas kasihan melihat begitu banyak jiwa yang membutuhkan Injil. Kedua, kita belajar dari konsistensi Paulus memberitakan kematian dan kebangkitan Kristus yang merupakan intisari Injil.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)