KPR 18 (MAD2T*Pagi*04 Maret*Tahun 1)

Kisah Para Rasul 18

Penjelasan Singkat
Paulus memberitakan Injil/berkhotbah di Korintus

Isi Pasal
Paulus di Korintus. Galio yang sembrono .Paulus menyumpahi seorang Yahudi. Apolos di Efesus.

Judul Perikop
Paulus di Korintus (18:1-17)
Paulus kembali ke Antiokhia (18:18-23)
Apolos di Efesus (18:24-28)

Tafsiran: Dalam perjalanan pelayanan yang membahayakan, Allah tidak pernah meninggalkan Paulus sendirian. Pada saat-saat tertentu Allah menyatakan pimpinan-Nya. Ini dialami Paulus ketika ia berada di Korintus.

Setelah Paulus mengalami perlawanan (Kisah Para Rasul 18:6) dan sukacita karena ada orang-orang yang memercayai pemberitaannya (Kisah Para Rasul 18:8), Allah menyatakan diri kepada Paulus melalui penglihatan (Kisah Para Rasul 18:9). Allah menyuruh Paulus untuk tetap memberitakan Injil di Korintus. Selain itu Allah memberikan konfirmasi mengenai kehadiran dan perlindungan-Nya selama Paulus berada di Korintus (Kisah Para Rasul 18:9-10). Khusus untuk di Korintus, Allah memberi jaminan bahwa tak seorang pun yang akan menganiaya dia. Ini tidak berlaku umum, karena di tempat lain Paulus harus mengalami penderitaan fisik. Hamba Tuhan memang tidak dijamin untuk selamat secara fisik, begitu banyak hamba Tuhan yang bahkan harus terbunuh karena kesaksian mereka. Namun kita tahu bahwa tidak seorang pun dapat menyentuh kita tanpa sepengetahuan Allah. Dan ini nyata waktu orang-orang Yahudi menggugat Paulus karena penginjilan yang dia lakukan (Kisah Para Rasul 18:12-13). Ingat, bahwa Allah hanya menjanjikan Paulus tidak akan mengalami penganiayaan, tetapi Dia tidak menyatakan bahwa Paulus tidak akan mengalami perlawanan. Sebab itu meski Paulus digugat oleh orang-orang Yahudi, Allah menyatakan perlindungan-Nya melalui gubernur Galio yang menganggap hal itu sebagai urusan internal kaum Yahudi yang harus diselesaikan sendiri (Kisah Para Rasul 18:14-15).

Melayani Allah dan hidup sesuai kehendak Allah memang akan memunculkan pertentangan dari dunia. Akan ada larangan untuk beribadah atau mendirikan rumah ibadah, atau larangan untuk bersaksi, atau berbagai tekanan yang disampaikan secara halus. Belajar dari kisah Paulus, selama Allah menyatakan kehendak-Nya mengenai apa yang harus kita lakukan maka lakukanlah. Karena apa yang terjadi sebagai akibat dari hal itu, Allah sendiri yang akan berperkara. Hanya saja kita harus setia!

Relasi antar manusia seharusnya menempati urutan pertama di dalam pelayanan, agar kesatuan dan keutuhan tubuh Kristus dapat terus dipertahankan. Namun harus diakui bahwa ada harga yang harus dibayar seperti kelelahan fisik, kehilangan kesempatan bagi pengembangan pelayanan, atau bahkan kehilangan posisi dalam pelayanan.

Paulus, Priskila, dan Akwila adalah model pelayan Kristus yang begitu menghargai dan memelihara relasi antar manusia. Setelah tinggal beberapa hari di Korintus, ia memutuskan untuk pergi ke Siria sesudah mencukur rambutnya. Pencukuran rambut ini menandai bahwa Paulus sudah berhasil memenuhi nazarnya (Bil. 6:5) yaitu menunaikan tugas pelayanan. Yang menarik adalah Paulus tidak langsung mengembangkan pelayanannya walaupun kesempatan jelas terbuka di Efesus (Kisah 18:19-21). Kemana Paulus akan pergi? Dikatakan bahwa setelah sampai di Kaisarea, ia naik ke darat dan memberi salam kepada jemaat Yerusalem. Jarak Korintus ke Yerusalem sekitar 900 kilometer, ini ditempuh Paulus hanya untuk memberi salam kepada jemaat dan kemudian pergi lagi ke Antiokhia. Tidakkah ini suatu pemborosan waktu, tenaga, dan biaya? Bagi Paulus tidak. Ia melihat adanya nilai lain yang lebih berharga dari apa pun yang akan didapat dengan melakukan kunjungan ke Yerusalem, karena pada mulanya jemaat Yerusalemlah yang mengutusnya (Kisah 15:22).

Priskila dan Akwila juga memperlihatkan penghargannya atas relasi antar manusia. Mereka bisa saja menjatuhkan Apolos di depan jemaat karena walaupun ia pandai berbicara dan mahir dalam Alkitab, pemahamannya kurang benar. Namun itu tidak mereka lakukan. Sebaliknya mereka mengundang Apolos ke rumah dan menjelaskan pengajaran yang benar. Mereka tidak mau Apolos tersinggung karena direndahkan di depan umum, sehingga relasi antar mereka akan putus. Sebaliknya mereka sangat sensitif di dalam menjaga relasi agar kesatuan tubuh Kristus tetap terpelihara. Dampak yang dihasilkan tidak hanya itu, karena Apolos akhirnya menjadi pekerja yang sangat berguna bagi orang percaya.

Renungkan: Itulah kekuatan relasi antar manusia yang dipelihara. Hal-hal apa lagi yang dapat Anda lakukan untuk menghargai relasi antar manusia di dalam gereja atau pelayanan yang Anda lakukan kini?

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)